Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
ku tunggu jandamu


__ADS_3

Tuan Alwan terus memperhatikan antara Tama dengan sang anak. Berharap mereka hanya sekedar teman bukan seperti yang ada dalam prasangkanya. Pria itu takut Heni didekati lelaki yang salah untuk kedua kalinya. Namun Tama tak sungkan sama sekali, dia malah asyik melemparkan lelucon kepada Heni yang sedari tadi kikuk karena keberadaan papanya..


" Sudahlah Tama, ada papaku, " ujarnya lirih. Heni masih ingin menyembunyikan status Tama yang pernah jadi kekasih bayangannya dihadapan orangtuanya. Tapi Tama malah berniat malam ini ingin melamarnya didepan tuan Alwan.


" Jangan gila, saatnya belum tepat. Aku sendiri masih ragu dengan semuanya. Beri aku waktu untuk berpikir, " ujar heni mencoba menahan keinginan Tama. Dia memang masih ragu jika terlalu cepat kembali mengikat jalinan bersama Tama lagi? Lelaki itu memang bak oase ditengah padang pasir, memberinya kesejukan ditengah kekeringan harapannya yang melanda, serta memberinya banyak cinta nan tulus. Dan dia juga masih mempesona dengan kelembutan sikapnya.


" Aku ingin bicara denganmu Tama, " ujar tuan Alwan agar lelaki itu menoleh kepadanya.


" Ya, ada apa om? " tanyanya. Kesibukannya menyuapi Heni telah usai tapi dia tetap duduk disamping wanita yang masih dianggapnya sebagai kekasihnya itu.


" Kita diluar saja, " terangnya.


Tama bangkit dan mengikuti langkah pria paruh baya itu menuju kursi panjang tak jauh dari ruangan Heni. Tuan Alwan mengeluarkan sebungkus rokok menyodorkan kepadanya, tapi Tama menolak. Tuan Alwan pun menyimpannya kembali disaku kemejanya.


" Sejak kapan kau mengenal Heni? " tanyanya mencari tahu. Sorot matanya tengah menyelidiki Tama.


" Sudah lama, om. Ada apa? " tanyanya. Dalam hati Tama ingin menyampaikan perasaannya yang mendalam kepada pria itu tapi sisi lainnya menahan karena memang waktunya belum tepat. Heni masih dirawat akibat penganiayaan dan pasti beban orang tua itu juga berat karena terlalu banyak pikiran.

__ADS_1


" Kau kerja dimana? " tanyanya lagi berusaha menilainya dari segi pekerjaan. Kali ini dia harus benar-benar menyeleksi lelaki yang dekat dengan Heni. Sang anak sudah banyak menderita karena selama berumah tangga dia mencukupi kebutuhannya sendiri dengan alasan suaminya belum mapan dan iba. Meski mungkin hanya sekedar teman, diluaran sana teman juga bisa berubah menjadi kekasih. Dan berakhir di kursi pelaminan.


" Saya bekerja dirumah sakit *** om, " terangnya. Tama menyebut nama rumah sakit swasta terkenal dipusat kota dengan kelengkapan fasilitasnya. Tapi dia tidak mengatakan jika itu adalah milik keluarganya. Tuan Alwan mengingat nama rumah sakit itu seperti tempat dimana sang anak bekerja dulu.


" Bukankah itu tempat Heni bekerja dulu? kau temannya ya? " tebaknya. Tama mengangguk. Dia mengingat masa-masa dimana sering datang untuk melihat Heni guna penambah imunnya bekerja. Tapi karena sikap Heni yang rada judes membuatnya semakin tambah penasaran. Meski dia juga menyadari banyak mata iri ke arahnya yang memberinya tempat spesial dihatinya.


Tama menatap lagi pria paruh baya yang berada disampingnya itu. Tuan Alwan masih mengenakan kemeja, celana dan jasnya. Memang pria itu dari tempatnya bekerja langsung mendatangi Heni, untuk melihat kondisinya. Tapi Tama melihat ada sebuah keganjalan. Pria itu seperti menyembunyikan sesuatu yang lebih penting daripada Heni. Sorot matanya selalu memandang jauh disana. Tama mencoba memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh.


" Ada apa om? sepertinya ada hal yang om cemaskan? " tanyanya. Tama harap-harap cemas jika pria itu tidak mau menjawabnya, mau ditaruh dimana mukanya? sebab pertanyaannya bukan bersifat umum. Apa nantinya jika pria itu menyebutnya tukang ikut campur pribadi orang? tapi tak mungkinlah ya?


" Salahkah aku jika memutuskan pernikahan anakku sendiri? " tanyanya seperti orang yang tengah menggumam sendiri. Tapi Tama mendengarnya walau pelan sekalipun. Dia mencoba mencerna kata-kata itu ke dalam pikirannya.


Jadi mereka hendak bercerai? aku siap menunggu jandamu Heni.


" Maaf saya tidak tahu, karena ini bukan jangkauan saya, " jawab Tama. Lebih baik dia tidak usah ikut campur. Meski prihatin tapi dia bahagia. Heni akan menjadi seorang janda. Dan itu artinya kesempatan untuk mendapatkan hatinya kembali jauh lebih mudah tanpa embel-embel pebinor atau kekasih gelaplah. Dia terpekik kegirangan.


" Jika besok kau sibuk, pulanglah. Biarkan kami yang menemaninya bergantian, " ujar tuan Alwan. Tapi Tama bukanlah seorang lelaki yang mudah dibujuk, dia tetap akan menemani Heni memastikan sampai wanita itu pulih dan pulang.

__ADS_1


" Tidak apa-apa om, saya akan menemaninya selagi mampu, " terangnya.


" Bagaimana dengan pekerjaanmu? kau tidak boleh seenaknya bukan? " tuan Alwan berusaha mengingatkannya. Tama tersenyum dan menggeleng perlahan, baginya ada atau tidak dia dirumah sakit itu tidaklah penting karena masih ada dokter lainnya. Dia hanya sebagai dokter kedua. Sebenarnya dialah esok pemilik rumah sakit itu kelak. Dan dia berusaha mengenal dekat para dokter dan karyawannya.


Heni tidak bisa terlelap, pikirannya masih mengacu kepada dua pria yang tengah berbincang diluar. Jam yang terus berdetak membuatnya sedikit cemas bahkan suaranya sampai memenuhi genderang telinganya. Karena konsentrasinya terpusat pada benda itu. Sudah hampir satu jam dan mereka belum masuk menemuinya. Heni ingin tahu apa yang tengah mereka bicarakan. Dia mengira pasti ada hubungannya dengan rencana Tama ingin melamarnya. Tapi tidak mungkin.


Tidak lama kemudian, Tama masuk dengan tuan Alwan. Tama segera berbaring di karpet yang sudah digelarnya. Dia langsung terlelap, tak mempedulikan tuan Alwan yang masih didalam ruangan. Tuan Alwan mendatanginya sebentar dan berpamitan. Pria itu pulang dan berjanji besok segera datang lebih awal. Heni sebenarnya ingin dialah yang menemaninya dan mengusir Tama pulang. Tapi sang ayah malah menitipkannya kepada lelaki itu.


" Gimana sih papa? Aku dititipkan ke orang lain? " gumamnya.


Tapi kau senang bukan? bisa berdua dengannya diruangan ini? papa juga tidak curiga. Kenapa seperti langsung percaya saja?


Ponsel tuan Alwan berbunyi, segera dirogohnya benda itu didalam saku kemejanya dan berbincang dengan si penelepon di seberang sana. Heni mencoba mencuri dengar. Apa dan siapa yang menghubungi papanya? tapi tuan Alwan malah pergi agak menjauh agar dia tidak bisa mendengarkannya. Sesaat kemudian pria itu pulang, meninggalkan Heni bersama dengan Tama. Heni pun tidur.


Tengah malam Tama terbangun, dia bangkit mendekati pembaringan Heni. Sebuah kursi plastik diletakkan didekat wanita itu. Dia duduk menatap wanita itu tanpa henti. Hatinya terenyuh melihat dirinya yang masih terbaring dengan infus ditangannya. Tapi dia lega, wajah Heni sudah tidak pucat lagi seperti saat pertama ditemukan oleh Mona. Diusapnya puncak kepalanya dengan lembut dan hati-hati. Saat netranya beralih ke mata Heni, dia berdesir. Perasaannya masih sama seperti waktu silam, rasa nyaman dan menentramkan jiwanya. Rasa yang menghapus segala gundah gulananya akan hari esok. Dia memang tak pernah memadamkan api hangat cintanya untuk Heni. Dia masih menjaganya sampai detik ini. Hingga Tuhan mempertemukannya kembali, mungkin untuk mengurai kembali benang yang kusut karena cinta segitiga. Yang tak tahu akan berakhir seperti apa?


Semoga kau cepat menjadi janda my sweatheart. Aku akan menunggu sampai saat itu tiba. Lalu melamarmu dan menikahimu, aku berjanji akan menjadikanmu sebagai ratu dihidupku. Siapapun yang mengganggu hidup kita termasuk mamiku akan aku hadapi. Aku mencintaimu,

__ADS_1


__ADS_2