
Mobil yang membawa Bimo melaju menembus gelapnya malam menuju ke sebuah rumah mewah, pemilik si pengemudi. Sementara Bimo tertidur dijok belakang. Jalanan terjal membuat mobil berguncang-guncang, wanita yang berada dikemudi menatap Bimo dari kaca spion. Dia tersenyum karena Bimo sama sekali tidak terganggu. Beberapa meter lagi jalanan aspal akan segera menyambut. Dan itu berarti mobil akan meluncur dengan mulus.
Akhirnya sampailah didepan sebuah rumah. Si pengemudi wanita itu turun mengisyaratkan penjaga rumah dan tukang kebun untuk membawa Bimo masuk ke rumah. Keduanya patuh melakukan apa yang diperintahkan. Disebuah kamar Bimo dibaringkan.
" Terus bagaimana lagi non? " tanya mereka.
" Sebentar, "
Wanita itu berjalan ke arah Bimo yang masih terpejam. Lagi-lagi senyum mengembang diwajahnya yang berparas ayu. Sementara kedua pria tadi masih menatapnya kaku di sebelah pintu kamar, penasaran dengan sosok pria yang dibawa pulang anak majikannya. Tangannya mengelus puncak kepala Bimo.
" Bangunlah lihat aku, " ujarnya. Namun Bimo tetap tertidur.
Saat dia bangkit hendak meninggalkannya, Bimo meraih tangan wanita itu. Dia terkesiap dan menoleh ke arah Bimo. Netranya masih terpejam.
" Ada apa? Kau sudah sadar? "
Bimo melepas genggamannya dan berusaha untuk duduk. Tiba-tiba dia muntah. Wanita itu terkejut karena sebagian cairan muntahan Bimo mengenai blouse yang dikenakannya.
" Oh tidak, eww menjijikkan, " sahutnya sembari mengibaskan blouse.
" Tolong bersihkan dia, lepas baju dan sprei itu. Pokoknya tempat ini harus sudah bersih dan wangi saat aku datang, " perintahnya. Kedua orang asisten dirumahnya itu segera melakukannya. Bimo tidur lagi seusai mengeluarkan cairan yang begitu banyak dari perutnya.
Wanita itu pergi menuju ke kamarnya dengan marah-marah. Dia melepas blouse dan celana yang dipakainya lalu mandi. Dia sangat jijik. Setelah penampilannya paripurna dia turun untuk melihat Bimo lagi. Bibirnya tersenyum puas melihat Bimo dan kamar sudah bersih dan wangi.
__ADS_1
Wanita itu mendekati Bimo yang bertelanjang dada, dia lupa menyuruh orang bawahannya memakaikan baju. Ditatapnya lekat-lekat pria yang dikaguminya dikantor selama ini. Badannya gemuk berkulit sawo matang. Didadanya yang bidang ditumbuhi bulu halus, wanita itu menelan ludah karena tergoda.
" Kau sangat seksi tampan, " lirihnya.
Selesai menikmati pemandangan yang menggoda imannya itu, dia melangkah pergi dan menutup pintu kamar.
Keesokan harinya wanita itu sudah berada disamping pembaringan Bimo. Dia terus menatapnya. Ketika Bimo menggerakkan tubuhnya, wanita itu segera berbaring disampingnya dengan sedikit mengacak penampilan. Bimo membuka mata, saat merasakan ada pergerakan orang disampingnya dia sangat terkejut. Dia duduk dan melihat tubuhnya yang setengah telanjang dada. Segera dia berdiri dan menepuk bahu wanita yang memunggunginya.
" Maaf anda siapa? " tanyanya sopan. Wanita itu menoleh dengan mode khas bangun tidur. Bimo terkejut bukan kepalang, ternyata dia adalah salah seorang manager estimate tender ditempatnya bekerja.
" Maaf bu, kenapa saya ada disini bersama ibu? " tanyanya. Bimo mundur saat melihat wanita itu berusaha mendekatinya.
" Kau ada dirumahku, dan semalam kita telah berbuat dosa, " ujarnya dengan ekspresi wajah sedih. Bimo tidak percaya tapi saat dilihatnya dadanya yang telanjang dia sangat syok.
Bimo terus meminta maaf dan akan menebus kesalahannya dengan apa pun. Dia sungguh menyesal meski dalam lubuk hatinya dia menampik. Sama sekali dia tidak mengingat apa yang dilakukannya semalam.
" Aku minta menikahlah denganku, " ujar wanita itu. Bimo terkejut tak menyangka permintaan darinya.
" Saya sudah punya istri, maaf saya tidak bisa, " tolaknya. Wanita itu marah, dia mendekati Bimo.
" Baiklah, aku akan berteriak bahwa kau telah memperkos* dan mencuri dari rumahku, agar semua tetanggaku datang dan menghajarmu, " terangnya. Bimo semakin terpojok, dia mencoba menjernihkan pikirannya yang dangkal secara mendadak. Dia mencoba mengingat semalam, tapi ingatannya hanya tertuju pada jalan gelap saat keluar dari rumah temannya.
Ibu Rahma sangat cantik dan berkelas, tidak mungkin mengajakku menikah. Ini konyol. Apa yang diharapkannya dariku? istriku saja selingkuh dan meninggalkanku. Tapi untuk memberinya uang sebagai kompensasi atas apa yang telah aku lakukan semalam, aku tidak mampu. Bagaimana ini??
__ADS_1
Wanita yang bernama Rahma menatapnya tajam, lalu melangkah mendekatinya. Melepas tali gaunnya untuk menggoda Bimo. Bimo tercekat, dia menelan saliva melihat kemolekan tubuh bu Rahma. Nalurinya sebagai lelaki menyala, dia juga ingin sebuah kehangatan. Wanita itu memeluk dan mencium Bimo yang masih mematung.
" Aku mencintaimu Bim, aku ingin bersamamu, " bisiknya. Dadanya dia usapkan ke tubuh pria itu. Bimo bergelenyar dalam hati. Dia bingung mengkondisikan dirinya. Hingga dengan perlahan, dia mulai mengambil keputusan. Dia melingkarkan tangan dipinggang Rahma berjalan menuju ke kamar tidur. Saat kedua kakinya menyentuh ranjang, Bimo menghempaskan tubuh wanita itu secara lembut. Tubuhnya kini berada diatas. Ditatapnya netra Rahma Ismawati itu seolah meminta ijin atas apa yang akan dilakukannya beberapa menit ke depan, dia mengangguk. Bimo mulai mengalihkan ciumannya ke leh*r sampai dad* meninggalkan tanda kepemilikan. Wanita itu bergelinjang menikmati rasa yang ditimbulkan dari ciuman Bimo. Sesekali terdengar rintihan manja dari bibirnya yang sensual. Kedua tangannya melingkar dileher Bimo. Tapi hal yang tak terduga terjadi, Bimo bangkit dan berdiri.
" Maafkan saya, bu. Saya tidak bisa, " ujarnya lirih lalu meninggalkannya sendiri dikamar.
Rahma sangat kecewa. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia duduk menatap ke pintu yang masih terbuka. Aku akan mendapatkanmu Bimo. Kau tidak boleh menolakku. Cukup sabar aku menantikanmu selama ini.
........
Sementara dirumah kontrakan, tuan Alwan marah-marah sembari terus mencari berkas pernikahan Heni dan menantunya. Dia kecewa Bimo tidak segera mengurus akta perceraian yang sudah dijanjikannya.
" Bimo pasti ingkar janji. Aku tahu seperti apa dia, " gerutunya. Tangannya terus mengacak lemari pakaian yang ada disudut kamar. Matanya melihat sebuah map berwarna biru tua terselip diantara kemeja yang tergantung, diraihnya benda itu. Dia tersenyum lega karena sudah menemukannya lalu pergi meninggalkan rumah dengan keadaan berantakan.
Selang kepergiannya, Bimo pulang. Alangkah terkejutnya dia mendapati rumah dalam keadaan sangat berantakan. Pakaian berserakan diranjang. Dan beberapa kertas berhamburan dari lemari.
" Ulah siapa ini? " gumamnya kesal. Dia membereskan semuanya.
" Apakah ini ada hubungannya dengan papa mertuaku? sialan pria tua itu. "
Selesai meletakkan semua ditempatnya, dia menghempaskan tubuhnya diranjang. Dia tatap langit-langit kamarnya yang sudah mulai berlubang.
Bercerai?
__ADS_1
Kalimat itu terus membuatnya seperti orang gila. Dia memang sama sekali tidak berniat melakukannya. Memang dia benci saat mengetahui tentang perselingkuhan istrinya. Tapi dia ingin sedikit bermain-main dulu' dengan Heni untuk membalaskan sakit hatinya. Dendamnya seolah membara dalam hati. Sementara ibu Rahma yang memberinya opsi untuk menikahinya karena perbuatan yang tidak diingatnya menguap, dia lupa.