Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
Frustasi


__ADS_3

" Dia berselingkuh dan saat ini sedang hamil, pa, " terang Bimo.


Tuan Alwan terbelalak kaget, ternyata putrinya yang telah melakukan kesalahan. Pria itu menarik Heni agar mendekat kepadanya. Anaknya menunduk dengan berurai airmata.


" Benar yang dikatakan Bimo?? " tanya tuan Alwan. Heni mengangguk.


" Oh tidak ya Tuhan, " gumannya. Tuan Alwan mengepalkan tangan ke udara. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Zidan yang merasa tidak enak, pamit undur diri.


" Kenapa kau melakukannya Heni?? " tanyanya tidak percaya anaknya telah melakukan hal yang dibenci dalam ikatan pernikahan.


" Maafkan aku, pa. Aku khilaf, " jawabnya. Jawaban netral untuk menutupi kesalahannya. Bimo yang muak pun bangkit, dia benci melihat maupun mendengar alasan yang terlontar dari istrinya. Dia sudah tidak percaya dengan istrinya karena menurutnya sudah terlalu banyak berbohong. Bahkan jika itu kebenaran sekalipun, dia sudah tidak peduli.


" Sekarang apa maumu Hen? " tanya tuan Alwan melunak. Dia juga menatap menantunya dengan penuh rasa iba. Sang menantu memang masih menahan amarah, kekecewaan juga terpancar dalam gestur tubuhnya yang terus berpaling ke arah lain.


" Aku ingin meminta maaf pada mas Bimo, pa, " jawabnya perlahan.


" Ya sudah, minta maaflah padanya. Papa tunggu di mobil. Lebih baik kau ikut papa pulang dulu, " ujarnya.


Tuan Alwan meninggalkan rumah itu menuju ke mobil. Heni segera mencari keberadaan suaminya. Dilihatnya sang suami duduk diranjang tempat tidur. Heni mendekatinya, bersimpuh meminta maaf.


" Maafkan aku, mas. Aku benar-benar menyesal, tolong jangan turuti permintaan papa. Beri aku kesempatan sekali lagi, " pintanya.


Bimo hanya sekilas menatapnya lalu membuang muka ke arah lain. Dadanya masih bergemuruh menahan sakit atas pengkhianatannya. Tangannya terayun ingin memukul lagi, Heni yang sempat melihat menutup mata. Dia pasrah jika itu hukuman yang pantas diterima dari suaminya. Namun tangan itu tertahan di udara, sudah cukup aku menyakitinya, pikirnya.


" Kenapa mas? pukul aku jika itu hukuman darimu yang pantas aku terima. Aku ikhlas, " pinta Heni. Sebenarnya dia takut Bimo akan melakukan kekerasan lagi, tapi dia sudah tidak peduli. Dia ingin rumah tangganya utuh dan baik-baik saja.


" Pergilah, pulang ke rumah orangtuamu. Hubungan kita sudah berakhir, " ujarnya lirih. Dia sangat enggan melihatnya meski hatinya tidak rela melepaskan. Kecemburuannya yang besar membuatnya ingin Heni hilang dari pandangannya dan melepas ikatan pernikahannya.


" Tapi mas, tolong beri aku satu kesempatan. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, " Heni masih memohon, tapi Bimo sudah sangat muak. Didorongnya tubuh Heni menjauh darinya. Lalu dia pergi meninggalkan Heni ke kamar lain dan menguncinya. Heni berusaha mengejar, digedor-gedornya pintu.


" Mas, buka. Aku mohon maafkan kesalahanku, "


Bimo tidak menjawab, dia menutup kedua telinganya dengan bantal. Dia sudah kecewa teramat dalam, hatinya remuk redam.

__ADS_1


Sang sopir mendatangi Heni, dan memintanya untuk segera naik ke mobil. Dengan langkah berat dia pun meninggalkan rumah. Dia masuk ke mobil sembari terus menatap rumah kontrakannya. Rumah yang memberinya banyak cerita. Rumah sederhana dengan dua kamar, meski kontrakan. Dimana hanya ada mereka berdua, tanpa campur tangan pihak ketiga. Dimana tempat itu menjadikannya pribadi yang lebih sederhana, sabar, dan seorang pekerja keras.


Mobil melaju terus menjauhi rumah itu. Heni tersedu- sedu disamping ayahnya. Tuan Alwan hanya diam dan menghembuskan napas kuat-kuat. Dia tidak mau berkomentar banyak, baginya Heni mau ikut dengannya pulang cukup membuat hatinya bahagia. Jika perpisahan memang jalan terbaik, dia akan mendukungnya.


Selepas kepergian Heni, Bimo kembali mengamuk. Dilemparkannya semua barang yang nampak oleh netranya. Bahkan ranjang yang terbuat dari kayu juga dirusak dengan menggunakan parang. Setelah puas dia terduduk, menangis dan menjerit. Dia sangat frustasi. Istrinya telah terjamah orang lain, memberikan tubuhnya yang hanya sah untuknya. Begitu rendahnya? apakah demi uang????


Bimo meredakan amarahnya. Dia akan mencari Tama, menghajarnya bahkan jika perlu akan dibunuhnya lelaki itu. Dia bangkit, dan pergi dengan mengendarai motornya.


Bimo sudah sampai dirumah sakit tempat istrinya bekerja dulu. Dia tahu jika tempat itu milik keluarga Tama. Segera dia menanyakan keberadaan Tama kepada satpam.


" Maaf pak, saat ini tuan Tama sedang dirawat dirumah sakit lain, " terangnya. Bimo mengernyit, lalu menanyakan alasan kenapa sampai dirawat?


" Dia mengalami kecelakaan pak, " terangnya lagi.


" Bisakah kau memberitahu dimana rumah sakit itu? " tanya Bimo dengan wajah memelas. Awalnya satpam itu tidak mau menjawab, tapi karena desakan Bimo dan terus memohon akhirnya satpam itu mau memberitahu karena kasihan. Dia menjelaskan letak rumah sakit itu panjang lebar, Bimo mengangguk paham.


" Tapi tolong pak, jangan bawa nama saya, " pintanya.


Tidak lama kemudian, dia sampai ditempat yang diberitahu oleh satpam tadi. Dia memarkir motor dan memasuki rumah sakit. Dia menyusuri koridor dengan tenang, padahal dalam hatinya badai kemarahannya sangat bergemuruh hebat. Jika bukan ditempat umum, mungkin semua benda didepannya itu dirusakkannya.


Kini dia sudah berdiri menatap ruangan Tama dari kaca tembok. Dilihatnya lelaki itu sedang bermain ponsel, keningnya diperban, ditangannya juga terpasang infus. Rasa iba terbit saat mengintipnya tapi ketika dia mengingat Heni yang mengandung buah cinta bersamanya, seketika rasa iba itu menguap. Dia kembali marah. Setelah memastikan kondisi aman, dia masuk. Tama terkejut dikunjungi olehnya. Dia berusaha bangkit dan tersenyum,


" Bimo, ? " sapanya. Bimo tersenyum kecut, dia berdiri tidak jauh darinya.


" Rupanya kau disini? sejak kapan kau berhubungan dengan Heni? " tanya Bimo. Tama menggeleng perlahan. Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya karena Heni sudah meninggalkannya.


" Apa yang kau tanyakan? aku tidak mengerti, Bimo? " tanyanya berbohong. Sinar mata Bimo berkilat.


" Katakan sejak kapan kau menjalin cinta dengannya? " tanya Bimo sekali lagi. Namun masih sama, Tama hanya menggeleng. Bimo melayangkan bogem ke wajah Tama. Tama terkejut karena mendapat serangan itu. Dia meringis,


" Bajingan, kau lelaki brengsek. Lucknut, Perebut istri orang!! " geram Bimo. Wajahnya merah padam, Tama kebingungan. Dia celingukan berusaha meminta pertolongan. Dia menyesalkan tindakannya kenapa tadi menyuruh Dean pergi untuk jalan keluar?


Bimo semakin kalap, dia berusaha mencari sesuatu ditempat itu. Tama meminta agar dia pergi dan jangan bertindak buruk padanya. Tapi Bimo tidak menanggapi permintaannya, tekadnya sudah bulat, dia ingin menghabisi lelaki selingkuhan istrinya itu. Diambilnya bantal kecil yang berada disofa, lalu dia melangkah mendekati Tama dengan menyeringai.

__ADS_1


" Tolong Bimo pergilah, aku akan memberikan apa pun yang kau mau. Asalkan kau tidak menyakitiku, " pintanya menyayat hati. Bimo segera menutup wajah Tama dengan bantal itu, dia menggelepar-gelepar seperti ikan kepanasan. Bimo tertawa bahagia, sebentar lagi musuhku akan ke akhirat, pikirnya.


Kedua tangan Tama terayun-ayun ke udara, Bimo menekan bantal semakin kuat. Tiba-tiba dari belakang seseorang menarik bahu Bimo sampai pegangannya ke bantal terlepas. Bantal pun terjatuh ke sembarang tempat, Tama tidak bergerak. Dia pingsan karena kehabisan udara,


" Apa yang kau lakukan terhadap adikku? " tanya Dean. Dia menarik Bimo segera keluar ruangan.


" Dokter, suster cepat tolong adik saya!!! " teriaknya panik.


Dean mencengkeram kemeja Bimo agar tidak kemana-mana. Lalu dia melayangkan tinju ke wajah lelaki bertubuh gempal itu. Tak mau kalah Bimo juga membalas apa yang dilakukan Dean hingga mereka saling baku hantam. Para pengunjung yang ketakutan ada yang melapor ke satpam, ada juga yang berteriak agar berhenti.


" Siapa kau, jawab! kenapa kau lakukan itu pada adikku? " tanya Dean menghapus darah segar yang keluar dari hidungnya.


" Aku adalah suami dari wanita yang dicintainya. Dan sekarang dia hamil karena ulahnya. Biarkan aku membunuhnya!! " teriak Bimo.


" Jangan menyalahkan adikku. Kau harus introspeksi kenapa istrimu sampai berbuat hal itu! " jawab Dean, pun dengan berteriak. Dia tidak terima begitu saja sang adik dihujat olehnya.


Mereka saling berpandangan menetralkan amarah didalam dada. Tiba-tiba beberapa satpam dan pria datang menangkap Bimo karena beebuat kerusuhan, Bimo segera lari terbirit-birit. Dean berusaha mencegah agar yang lain tidak ikut mengejar karena bersimpati dengan Bimo. Lalu dia segera masuk ke ruangan adiknya. Nampak beberapa perawat dan dokter mengerumuni Tama.


" Bagaimana dok? " tanya Dean.


" Syukurlah dia hanya pingsan. Untung kau datang cepat kalau tidak, saya tidak bisa menjamin, " terangnya. Dean terduduk lesu, dia menyesal telah meninggalkan adiknya.


Tama kau memang brengsek, mencintai istri orang? Harusnya kau mencari gadis lain yang masih single. Apa istimewanya sih Heni. Aku benar-benar tidak habis pikir. Kau bodoh atau tidak waras sih? Dimana otakmu terpasang?


Dean geleng-geleng kepala lalu tidur disofa. Karena kata dokter kemungkinan Tama segera sadar. Pasti saat sadar, adiknya akan memanggil namanya, pikirnya lalu memejamkan mata.


Paginya madam Roxanne datang bersama suaminya. Dean yang menyuapi adiknya tertahan karena kedua orangtuanya terus mencecar banyak pertanyaan atas kejadian semalam.


" Bukan siapa-siapa mi, " jawab Dean menutupi identitas Bimo. Tama memandang kakaknya dengan heran, tapi dia mengikutinya saja.


" Aku gak kenal mi, " jawab Tama saat tuan Hendri bertanya padanya. Dia ikut-ikutan kakaknya.


" Papi akan sewa bodyguard agar menjagamu saat Dean lengah, " ujarnya sembari menatap tajam Dean. Dia marah karena Dean meninggalkan adiknya begitu saja. Dean memalingkan muka mengerti nada ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2