Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
kecelakaan


__ADS_3

Heni sudah tidak pernah menghubungi Bimo. Dia berusaha melupakan suaminya meski masih ada cinta dihatinya. Karena dia juga ingin memutuskan mengakhiri pernikahan atas desakan ayahnya, tuan Alwan salam. Ayahnya tidak mau Heni mendapatkan kekerasan lagi. Dia tidak terima begitu saja. Malah jika Heni masih mempertahankan pernikahannya maka ayahnya akan menuntut Bimo atas tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Tidak mau suaminya mendekam di penjara, akhirnya Heni pasrah dan mengikuti kemauan ayahnya untuk berpisah. Kini hari-harinya dihabiskannya menemani sang ibu dirumah. Dia juga sudah keluar kerja karena efek kehamilannya yang selalu membuatnya sering mengantuk dan mudah lelah. Tidak enak saat melayani pelanggan yang berkonsultasi obat harus sering melihat dia menguap, meski sah saja untuk ibu hamil tapi baginya memalukan.


Dia menikmati masa kehamilannya. Mualnya sudah jarang dirasakan tapi kini nafsu makannya naik dua kali lipat. Dia selalu merasa kelaparan. Sering kali dia membawa banyak makanan dikamarnya. Nyonya Alwan hanya tersenyum saja. Dia elus perutnya yang telah membuncit. Dia juga mulai merasakan pergerakan halus dari perutnya. Dia tersenyum bahagia, sesaat dia melupakan prahara yang menimpanya.


Pagi yang cerah, Heni duduk diteras halaman rumahnya yang luas. Dia rehat setelah menyiram berbagai tanaman milik ibunya. Sang ibu sangat suka bertanam. Ada berbagai jenis tanaman dihalamannya. Dia hanya ingin membunuh kebosanannya dengan melakukan hal itu. Sementara ibunya tengah sibuk membantu bibik didapur. Netranya memandang lurus didepan rumah. Seorang wanita bertubuh gendut dengan menggandeng anak perempuan, berhenti berdiri didepan pagar untuk menyapa Heni. Heni bangkit dan tersenyum,


" Hai Heni, " sapanya sembari melambaikan tangan. Temannya yang lain ikut menyapa,


" Wah kau sedang hamil ya? " tanyanya. Tangannya mengelus perut Heni yang nampak membuncit. Heni mengangguk. Mereka adalah Linda dan Tuti, umurnya hampir sebaya dengan Heni.


" Akhirnya setelah sekian lama, kau hamil juga. Selamat ya, " ucap Tuti. Dia menampakkan wajah sumringah, sementara dia sudah memiliki dua anak.


" Iya, terima kasih. Mampirlah ke rumah, " ajak Heni.


" Kupikir kau tidak bisa hamil Hen? bukankah kau man..." ucapannya tertahan karena Tuti menyikut lengannya keras. Linda langsung diam, dia menatap ke sembarang arah karena ucapan yang begitu saja keluar dari mulutnya. Heni paham maksud pembicaraan itu. Karena dulu mereka pernah berkunjung ke rumah kontrakannya dan mendengar mertua Heni menggerutu dengan ucapan itu. Tuti merasa tidak enak, dia segera menarik tangan Linda untuk pergi.


" Lain kali aku mampir Hen, " ucapnya. Heni memandang kepergian temannya sampai tidak nampak lagi. Lalu dia masuk ke rumah.

__ADS_1


Dasar wanita mandul, tidak berguna. Keberadaanmu tidak lebih baik dari seorang lon** yang masih bisa punya keturunan. Hidupmu hanya merepotkan Bimo saja.


Heni teringat perkataan yang pernah terlontar dimulut mertuanya. Entah kenapa setiap bertemu selalu menjatuhkan mental dan harga dirinya. Sungguh sakit tak berdarah. Seperti tidak ada pembahasan selain itu. Dipikiran wanita itu selalu membanggakan anaknya dan mengaburkan diri Heni. Dia sangat pongah. Beruntung Heni sudah tidak berada dirumah itu dan bertemu dengannya. Entah apa jadinya jika dia mengetahui tentang kehamilannya? dan mengerti jika yang mandul adalah anaknya. Tidak bisa dibayangkan?


Heni menuju ke dapur setelah mencuci tangan. Dia ingin bergabung dengan duo wanita yang tengah sibuk membuat masakan. Bibik sedang menggoreng lauk, ibunya menyiapkan sayuran. Heni duduk disampingnya.


" Tumben kau kesini? kau sudah tidak mual mencium aroma dapur? " tanya ibunya. Heni menjawab dengan senyuman manisnya. Dia berusaha tegar didepan orang meski hatinya masih menyimpan penyesalan kehilangan suaminya. Dia ingin selalu berada dikeramaian agar bisa melupakan suaminya. Bimo yang dicinta dan diselingkuhi. Memang perbuatannya salah tapi tidak adakah kesempatan untuk memperbaiki? suaminya juga sudah melupakannya. Terbukti dia tidak pernah menghubunginya sama sekali. Kebencian pria itu sudah mendarah daging terhadapnya.


" Bukankah hari ini jadwal pemeriksaan kandunganmu? " tanya nyonya Alwan kepada anaknya yang tengah mengiris paprika. Heni menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah ibunya. Dia mencoba mengingat-ingat.


" Ya ma, antarkan aku ya, " sahut Heni.


Setelah melakukan pemeriksaan, dokter memberikan resep untuknya. Heni menerima dan mengucapkan terima kasih. Dia keluar disambut ibunya diluar ruangan.


" Bagaimana? " tanyanya. Sang ibu bangkit untuk menghampirinya.


" Sehat ma, " jawab Heni. Lalu mereka keluar dari tempat praktek dokter itu.

__ADS_1


Mereka hendak pergi ke mall, belanja keperluan bayi. Heni sangat bahagia. Tidak lama lagi dia akan menyandang gelar sebagai seorang ibu. Dia telah menantikannya sekian lama. Aura positif terpancar dari wajahnya. Setelah sampai dimall dia langsung menuju ke tempat peralatan bayi berada. Dia segera mengambil apa yang diperlukan lalu meletakkan di troli. Nyonya Alwan pun juga demikian. Karena ini adalah momen pertama, mereka mencari barang yang berkualitas baik.


Setelah puas membeli apa yang diperlukan, lalu menuju ke kasir dan membayarnya. Karena merasa lapar mendera, Heni mengajak ibunya untuk pergi mencari makan disekitar pertokoan itu. Dia ingin masakan padang untuk memenuhi nyidamnya yang tiba-tiba datang. Tidak lama mencari dengan berjalan kesana kemari, akhirnya mereka melihat sebuah warung masakan padang, mereka pun masuk. Heni merasakan air liurnya hampir menetes karena tidak sabar.


Setelah memesan makanan mereka duduk menunggu pesanan datang. Heni memeriksa ponselnya jika ada notifikasi masuk. Nyonya Alwan hanya diam menunggu. Pandangannya menyapu ke segala penjuru. Warung itu bergaya estetik, ada sepeda tua yang sudah dicat tergantung ditembok. Tidak lama kemudian pesanan pun datang. Mereka segera makan dengan lahap.


Beberapa menit berlalu, mereka sudah menyelesaikan makan dan membayarnya. Mereka berniat untuk pulang. Heni dan ibunya berjalan beriringan hendak menunggu taksi yang melintas. Nyonya Alwan berbalik karena membeli sesuatu yang terlupa disebuah toko barang. Dia meminta sang anak untuk menunggu sebentar. Tinggal Heni sendiri yang berada dipinggir jalan, keluar dari trotoar. Dia berdiri dengan menatap ponsel, dia tidak menyadari bahaya yang tengah mengintainya.


Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh darinya. Si pengemudi mengawasi Heni dengan nanar. Niat jahat muncul dari pikirannya yang dangkal karena suatu alasan. Disebelahnya seorang gadis cantik berusaha menahan agar dia tidak melakukan hal yang merugikan Heni. Namun si pengemudi tidak mengurungkan niatnya. Dia akan melakukan hal diluar perikemanusiaan. Dia menginjak gas kuat-kuat sehingga mobil melaju kencang menuju ke arah Heni. Wajah si pengemudi menyeringai menakutkan dengan memegang kemudi, sementara penumpang disampingnya memegang dashboard mobil dengan gemetar dan berkeringat karena ketakutan atas apa yang akan dilakukan oleh wanita itu.


" Kumohon jangan lakukan itu. Kasihan dia, " pintanya merajuk kepada wanita yang sudah seperti kesetanan itu. Dia tidak peduli, tekadnya sudah bulat ingin mencelakai Heni. Dan dalam hitungan menit, mobil menabrak Heni hingga terpelanting beberapa meter ke depan. Mobil lalu berhenti tidak jauh dari Heni yang meminta pertolongan, si pengemudi hanya menatapnya dengan senyum menyeringai. Lalu segera melajukan mobil pergi meninggalkan Heni dengan puas. Orang-orang yang berada ditempat itu berteriak menyalahkan si pengendara mobil, yang lain membantu Heni.


Heni mengayunkan tangan meminta tolong. Dia terhempas cukup jauh dan mendarat keras di aspal, barang yang dibawanya jatuh berserakan. Kepalanya terasa pusing, pandangan netranya berkabut, dan dari kedua kakinya keluar darah segar. Orang-orang mengerumuni hendak membantu. Ada yang memungut barang, ada yang menghubungi nomor polisi. Tapi ada seseorang yang menyarankan agar Heni segera dibawa ke rumah sakit karena kondisinya sudah kritis.


" Tolong selamatkan saya dan bayi ini, " pintanya lalu tidak sadarkan diri.


Nyonya Ratih keluar dari toko setelah membeli apa yang terlupa. Dia mencari Heni yang sudah tidak ada ditempatnya. Matanya menatap kerumunan orang-orang yang tidak jauh darinya. Karena penasaran dia pun mendekat. Alangkah terkejutnya saat dilihatnya Heni tergeletak dengan bersimbah darah, dia menjerit sekerasnya dan memohon agar anaknya segera dibawa ke rumah sakit. Dia akan memberi imbalan tinggi orang-orang yang membantunya. Sungguh sangat syok, wanita itu ikut pingsan ditempat.

__ADS_1


" Cepat kita bawa mereka berdua ke rumah sakit, " ujar seseorang. Yang lain menghentikan sebuah taksi yang tengah melintas. Beberapa dari mereka mengangkat Heni dan ibunya masuk ke dalam taksi. Dua orang memegang mereka dijok belakang dengan berdesakan. Tiga orang ikut menyertai dengan mengendarai motor dibelakang taksi itu mengantar ke rumah sakit terdekat.


__ADS_2