
Heni mempercepat langkah kakinya saat memasuki klinik, tempat Bimo diperiksa. Dia juga bertemu dengan beberapa tetangga yang mengantar.
" Ada apa? Bagaimana kata dokternya? " tanya Heni.
" Kami juga sedang menunggu, sabar lah. Duduklah dulu, "
Seorang dokter keluar dan menanyakan siapa dari mereka adalah keluarga dari pasien. Heni mendekati dokter itu, dokter paruh baya bertubuh subur.
" Dia demam dan lambungnya bermasalah. Saya beri obat jalan dulu. Jika belum sembuh dalam waktu tiga hari, segera bawa kesini lagi, " terang dokter itu. Heni mengerti, dia masuk ke ruangan pemeriksaan dan menatap suaminya yang menampakkan wajah pucat. Senyum tersungging di bibirnya.
Maafkan Aku, suamiku.
Namun perkataan itu hanya disimpannya didalam hati. Dia usap wajah lelaki yang bergelar suaminya itu dengan lembut. Buliran bening menetes disalah satu sudut matanya. Dia benar-benar menyesal, mendiamkannya dan tidak memperhatikan Bimo.
" Heni, ayo kita pulang, " ajaknya.
Bimo bangkit dibantu oleh Heni dan tetangga. Lalu menuju ke motor untuk dibawa pulang. Sementara Heni naik taksi ditemani wildan pulang. Wildan juga seorang tetangganya yang masih kuliah.
" Apakah ibu mertuaku masih dirumah, wil? " tanyanya kepada Wildan. Dia pun mengangguk.
" Kapan wanita itu pulang? " tanya Heni.
__ADS_1
" Aku tidak tahu kak hen, " jawab Wildan.
Pasti saat sampai dirumah wanita itu akan menceramahinya dengan banyak suku kata. Kalimat per kalimatnya juga mengandung ribuan kata mutiara. Dan per bab nya jika dikumpulkan akan menjadi sebuah judul ' menantuku sangat tidak baik dalam merawat putra kesayanganku dan sangat tidak berguna menjadi seorang istri idaman. Dan pasti jika diangkat dalam layar kaca akan mendapat rating tertinggi.
Terserahlah, biarkan saja dia mengemukakan pendapatnya yang ' tidak berperikebaikan, yang isinya menjatuhkan mental orang. Kenapa harus melihat sisi buruk saja? cobalah lihat juga sisi yang lain. Bukankah lebih baik menilai seseorang juga perlu dari banyak aspek?
Heni terus berpikiran buruk didalam taksi sampai tidak menyadari telah sampai di tujuan. Wildan menyadarkannya kembali ke alam nyata dan mengajaknya segera turun. Bimo sudah masuk diantar yang lain. Heni melangkah masuk ke rumah dengan sangat amat malas. Tiba-tiba saja terdengar suara benda pecah dilempar ke udara dan menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Heni terkejut, yang lain segera berhamburan pulang ke rumah masing-masing. Tidak mau melibatkan diri pada urusan orang lain. Sudah bukan hal baru jika ada ibu Ratih pasti dirumah itu sering terjadi keributan. Heni mencoba menajamkan telinganya, tangannya masih membuka bungkus makanan yang dibelinya sebelum ke klinik. Obat dari dokter tergeletak disampingnya.
" Kenapa kau tidak bisa mengurus putraku dengan baik, Hen?!! " teriak ibu Ratih. Heni menghentikan apa yang hendak dia lakukan. Dia sudah bisa membaca situasi ini sebelumnya. Dia sentuh dadanya agar sakit yang ditimbulkan dari perkataan wanita itu tidak terlalu dalam menancap di hatinya yang rapuh.
" Putraku sakit, kau malah enak-enakan dirumah sakit. Kurang ajar sekali Kau, ?!! " teriaknya lagi.
" Sudahlah bu, aku tidak apa-apa. Jangan menegurnya dengan berteriak seperti itu. Malu didengar tetangga, " ujar Bimo parau.
" Pantas kau tidak bisa mempunyai anak, kelakuanmu saja seperti ini. Tidak hormat dan tidak menunaikan kewajibanmu, harusnya kau bisa menjaganya dengan baik. Menyesal ibu memberi restu padamu, " tambahnya lagi. Heni sudah sangat meradang, dia bangkit menuju ke kamar tempat mertuanya berada. Anak lagi?
" Sudah bu, cukup. Memang benar semua perkataanmu, lebih baik urus sendiri saja putra tunggalmu itu, " tegas Heni. Entah kali ini dia sudah tidak bisa meredam gejolak amarah dalam hatinya. Dia jawab saja. Biar sakit hati semua, untuk apa hanya aku yang rasakan? pikirnya.
Ibu Ratih melotot mendengar bantahan dari menantunya. Karena selama ini menantunya tidak pènah menjawabnya selain pagi tadi dan malam ini? Apa dia sudah mulai berani kepadaku? Dia membawa putraku dan mendzoliminya. Ibu Ratih benar-benar murka, amarahnya memuncak sampai ke ubun-ubun. Dia melayangkan sebuah tamparan untuk Heni, namun tangan besar memegang dan menahannya,
" Sudah, bu. Aku mohon, jangan melakukan kekerasan terhadap istriku, " ujar Bimo. Dia sudah berdiri disamping ibunya. Tidak peduli rasa sakit di kepala dan lambung nya. Karena keadaan semakin tidak terkendali.
__ADS_1
" Kau mulai melawan ibumu? " tanya ibu Ratih. Tatapannya beralih ke sang putra semata wayangnya tersebut yang nampak masih sangat pucat. Dia mengelus kepada Bimo,
" Kau mulai berubah nak? Apa karena kau sudah diguna-guna oleh Dia?! " tuduhnya ke arah Heni yang masih terpaku di sisi pintu kamar.
" Sudah, bu. Kalau ibu masih berkata seperti itu cepat pulang dan bawa putramu sekalian. Rawat sendiri, " tegas Heni. Dia sudah sangat muak jadi bahan kesalahan mertuanya.
" Kau yang keluar dari sini. Ini rumah putraku, kau tidak berhak, " ujarnya balik.
" Sudah, bu. Cukup, " ujar Bimo. Dia meminta Heni untuk meninggalkan kamar. Sementara ibu Ratih masih menatapnya dengan tajam. Kebenciannya semakin menjadi-jadi. Bimo menutup pintu kamar dan menyimpan kuncinya. Ibunya melotot tajam atas perbuatannya. Bimo melerai dengan caranya. Dan sekarang dia berdua dengan sang ibu dikamar berukuran kecil itu. Sementara istri yang dikasihinya berada diluar kamar.
" Kau mengunci ibu disini? " tanya ibu Ratih.
" Ini sudah larut bu. Diam dan tidurlah diranjang, Aku di lantai saja. " ujar Bimo dan tangannya meraih sebuah karpet yang tersimpan diatas lemari di sudut kamar.
Bimo menggelar karpet sebagai alas tidurnya. Dia sudah cukup pusing mendengar adu argumen antara ibu dan istrinya. Sebuah selimut dipakainya dan dalam hitungan detik, dia sudah terlelap. Kepalanya langsung bersahabat dengan bantal karena masih terasa pening. Dia juga melupakan obat yang seharusnya segera diminum. Menghentikan kekacauan yang ditimbulkan ibu dan istrinya jauh lebih penting daripada dirinya.
Heni berjalan ke ruangan tamu. Makanan yang ada di meja yang hendak dimakannya tidak jadi. Nafsunya sudah lenyap ditelan amarah. Dia memandang jauh ke depan jalanan rumah kontrakannya. Meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh tapi masih terlihat ramai dari hilir mudiknya motor kaum milenial yang begadang. Dia duduk diteras.
Dia termangu ditemani malam. Meski dingin menusuk ke tulang karena menjelang musim hujan tak dirasakannya. Amarahnya menghangatkan tubuhnya. Sudah puas dia menjawab perkataan kuntilanak yang diberi gelar mertua olehnya. Meski disisi lainnya dia seperti membantah ibu kandungnya sendiri. Tapi sesekali atau mungkin seterusnya, harga diri juga perlu dibela. Agar tidak selalu terjajah. Bukankah kemerdekaan sudah diraih? diri pun juga sama halnya, meski berbeda cara dan situasi.
Tanpa sadar dia tertidur di sofa. Dia sama sekali tidak ingat bagaimana dia bisa tertidur. Setelah amarahnya reda, dia menutup pintu dan duduk di sofa tamu. Tangannya masih lincah bergerak diatas layar ponsel. Membaca aneka berita di situs favoritnya.
__ADS_1
Heni bangkit, dia usap air liurnya sisa tidur malamnya. Lalu menuju ke kamar mandi. Saat melewati kamar utama, sayup-sayup dia mendengar mertuanya meminta Bimo untuk segera membukakan pintu. Heni langsung mempercepat langkahnya. Dia segera mandi dan ingin cepat pergi dari rumah. Dia sudah tidak kerasan. Saat wanita itu keluar, dia akan masuk mengambil baju dan kunci rumah pemberian papanya. Mungkin untuk sementara waktu dia akan tinggal disana saja. Dia juga lupa memberitahu keberadaan rumah itu kepada suaminya. Sebenarnya jauh hari, dia ingin mengajak suaminya untuk pindah dan menempati rumah itu. Tapi karena kesibukan membuatnya melupakan rencana tersebut. Dan terakhir diingatnya dia tengah perang dingin lantaran perihal cincin yang dikenakannya. Lumrah jika suaminya bertanya tapi dia terkesan menutupi. Dan menimbulkan percikan dalam hubungan mereka.