
Setelah memastikan kegugupannya reda, Heni menatap Tama lagi. Tapi hatinya masih sama, berdebar. Wajahnya juga merona bak kepiting rebus. Akhirnya dia tersenyum kepada Tama.
" Nah bener kan? aku tahu meski kau tutupi dengan cadar sekalipun? " ujarnya terkekeh. Heni semakin tersipu. Bersama lelaki ini dia merasa tersihir oleh sikapnya yang lembut.
Dia mengalihkan dengan memperhatikan Tania.
" Sepertinya dia gak mirip sama kamu, " ujar Tama. Masih sempatnya dia memperhatikan Tania dan membandingkannya dengan Heni.
" Terus mirip siapa? " tanya Heni. Jemarinya mengusap wajah lembut bayinya.
" Mirip daddy nya lah, " ujarnya bangga. Heni mencebikkan mulut. Tama malah mendekatkan kepala Heni agar bersandar di bahunya. Heni manut, dia juga melingkarkan tangannya dipinggang Tama.
" Mari kita nikah. Aku ingin hidup bersama kalian berdua, " cetus Tama.
" Ehmm..." jawab Heni.
" Apa maksudmu? oke sudah kucatat berarti kau setuju, lalu kita bikinkan adek buat Tania. Biar dia punya teman bermain, " ujar Tama. Heni makin tersipu, dia mencubit pinggang Tama.
" Aaww..." jerit Tama manja. Heni malah geli, dan mencubitinya lagi. Karena badan Tama bergoyang tak beraturan, Tania pun terbangun dan menangis. Mereka jadi panik, dan perhatian pun tertuju pada bayi itu.
" Sepertinya kita salah ngajak kencan Tania, " ujar Tama disambut tawa Heni.
Tapi mendadak wajah Tama menjadi muram. Lelaki itu merasakan sesak didadanya yang teramat dalam. Dia menatap Heni dengan sendu. Heni terkejut.
" Ada apa? " tanyanya. Tama menggenggam tangan Heni erat.
" Maafkan aku. Karena aku tak bisa bersamamu saat masa kehamilanmu. Saat melihat bayi ini tumbuh dalam rahimmu dari bulan ke bulan. Sungguh aku tak tahu kau mengandung benih cintaku, Heni, " ujar Tama. Dia mengatakan dengan suara tertahan.
" Dan saat kau mengalami kecelakaan aku juga tak tahu. Pasti kau mengalami hari terberat dengan anak ini. Sungguh aku manusia yang tak berperasaan, " ujarnya. Tanpa sadar sebulir bening airmata Heni pun jatuh.
Tama bangkit dengan Tania yang masih dalam gendongannya lalu menjatuhkan diri dihadapan Heni. Dia menekuk lutut dengan kepala yang menunduk.
__ADS_1
" Maafkan aku Heni. Aku sangat berdosa kapadamu, membiarkanmu sendiri dengan bayi ini. Sementara aku wara-wiri tak jelas dengan Mona. Aku memang kejam, " terangnya masih dengan suara parau. Heni terenyuh, dia berusaha agar Tama bangkit dengan memegang kedua bahunya. Tama menatap dalam manik mata Heni. Tangannya yang tak memegang Tania merogoh sesuatu disaku celananya dan meletakkannya di depan Heni. Sebuah kotak berwarna merah. Heni membekap mulut, dia tak percaya Tama tengah melamar pribadi dirinya.
" Mari kita menikah, aku ingin membahagiakan kalian. Beri kesempatan untukku menebus semua kesalahanku dengan mengikat janji suci denganmu, " ujarnya dengan wajah serius.
" Iya aku mau, " jawabnya terharu dengan kata-kata Tama.
Heni memberikan jemarinya kepada Tama bermaksud agar lelaki itu memasangkannya di cincin manisnya. Tapi Tama diam dengan hampir melotot ke arah Heni.
" Pakai sendiri sayang. Aku gendong Tania nih, " ujarnya. Heni teringat, dia tersipu. Momen yang tak sesuai ekspektasi. Dia meraih kotak itu, membukanya dan memakainya sendiri?
Dan si bayi pun menangis kencang karena ingin bergerak bebas.
.........
Dikediaman tuan Hendri, madam Roxanne sangat ribut. Berulang kali dia mencegah agar suaminya tidak perlu membuat penyambutan meriah untuk Heni. Tapi suaminya itu tak bergeming. Pria yang hampir botak separuh kepalanya itu malah menghiasi tamu dengan aneka balon warna-warni. Sang pembantu juga dimintanya untuk masak aneka hidangan yang menggugah selera. Dia mengira jika Heni datang dengan keluarga besarnya.
Yang ditunggu pun tiba. Deru mobil Tama terdengar memasuki pelataran rumah. Tuan Hendri menarik tangan istrinya ke depan untuk menyambut calon menantunya. Dia sudah buang jauh ketidaksukaannya terhadap Heni. Dia ingin Tama bahagia dengan pilihannya. Meski istrinya masih membencinya sampai ke urat.
Tama turun diiringi Heni dengan menggendong bayinya. Tuan Hendri menampakkan wajah datar meski hatinya sangat ingin melihat bayi yang menurut penuturan istrinya adalah anak kandung Tama. Itu berarti setetes darahnya juga ikut mengalir dalam tubuh bayi itu. Dihatinya ada perasaan meluap penasaran dengan bahagia yang sama besarnya. Tapi istrinya terus saja menyikut lengannya agar tak berlebihan. Alhasil dia berdiri tanpa bisa menyentuh bayi itu seperti yang ada dalam angannya.
Mereka masuk menuju ke ruang tamu yang penuh dengan aneka balon. Tama dan Heni mengernyit bingung.
" Ada yang ulang tahun pi? " tanya Tama. Madam Roxanne menaikkan dagu menunjukkan ke arah bayi yang digendong Tania, pahamlah dia. Kedua orang tua Tama mengikuti mereka dan duduk. Keheningan tercipta. Tuan Hendri mulai membuka percakapan agar suasana menjadi cair.
" Jadi? " tanya tuan Hendri.
" ini anakku pi, mi namanya Tania. Lihat pi, dia mirip sekali denganku, " ujar Tama. Akhirnya tuan Hendri maju untuk melihat wajah bayi itu. Dia tak peduli batasan sang istri. Heni memperlihatkan wajah bayinya. Alangkah terkejut pria itu, karena memang mirip. Mulai dari mata, hidung sampai dagu. Yang membedakan warna kulitnya yang agak putih pucat.
Dan tanggapan selanjutnya tak kalah menariknya, saat pria itu meminta agar bayi itu di pangkuannya. Mau tak mau Heni pun menyerahkannya. Tuan Hendri tersenyum riang,ternyata tak ada yang perlu dikhawatirkan Heni akan penolakan olehnya. Sementara madam Roxanne masih terpaku dengan sikapnya ditempat, dingin dan tak bersahabat. Tapi Heni bangga bayi cantiknya mencuri hati papa Tama.
" Benar itu bayinya Tama, Hen? " tanya madam Roxanne. Dia bertanya dengan arogan agar suaminya tak langsung percaya begitu saja.
__ADS_1
" Benar mi. Kau mau kita tes DNA dan menyakiti bayi ini dengan serangkaian tes itu? " tanya Tama.
" Meski bayi ini bukan darah dagingku sekalipun, aku tetap akan bersama mereka, " ujar Tama. Dan lagi-lagi Heni terenyuh.
" Tapi Tama..." ujar madam Roxanne yang dipotong oleh tuan Hendri.
" Sudah, sudah. Mari kita makan, " ajaknya lalu berdiri menggandeng lengan Heni menuju ke ruang makan. Manik mata Tama menatap tajam sang ibu yang mendengkus kesal. Tapi hati Heni menghangat mendengar pembelaannya. Terbanding terbalik dengan Bimo, yang tak pernah membelanya dihadapan ibunya dulu.
Mereka menuju ke ruangan makan yang telah menyajikan begitu banyak aneka hidangan. Ada ayam, ikan, dan berbagai sayuran.
" Aku kira kau akan datang bersama dengan keluargamu Heni? " tanya tuan Hendri. Pria itu menyilakannya untuk menyantap hidangan yang khusus untuk menyambutnya. Heni ragu, tangan tuan Hendri membalik piring didepan Heni bahkan mengambilkan nasi untuknya. Sungguh calon mertua yang baik. Sementara sang istri melotot akan perlakuan manis suaminya kepadanya. Jauh sekali dari angannya. Seakan memberi restu dia menjadi bagian dari anggota keluarganya. Tama sangat bahagia. Tak hentinya dalam hati dia memuji sang ayah yang sangat bersikap baik pada Heni. Lalu dia juga ikut makan. Tania masih betah dengan tidurnya.
" Jadi kapan kau mengajak kami ke rumahmu? kurasa kau sudah mengerti bukan tujuan Tama kepadamu? " tanya tuan Hendri dan berhasil membuat Heni tersedak karena bingung. Sungguh waktu yang tidak tepat untuk bertanya.
" Iya pi secepatnya kita akan ke sana. Ini masih nunggu hari baik saja. Jadi papi setuju dengan pilihanku? " tanya Tama. Tuan Hendri tersenyum.
" Kau sudah memilih dan sudah siap dengan segala resikonya. Terserah kau saja. Terpenting kau bahagia bersama dengannya, " terang tuan Hendri. Sementara istrinya tetap diam membisu.
Tuan Hendri maklum dengan istrinya dengan sangat baik. Tapi apa mau dikata sang putra sangat mencintai wanita itu. Dilarang pun percuma, dia rela berkorban nyawa berulang kali meski berhasil digagalkan. Bahkan tatapan putranya nampak memuja dan menggilai Heni yang terus mencuri pandang ke arah wanita itu. Dengan Mona tak pernah pria itu melihat tatapan Tama seperti itu. Dia selalu membuang muka. Perbedaan antara Mona dan Heni yang sangat jauh tapi pilihan hati siapa yang tahu dan mengerti. Tama lebih memilih Heni.
" Sebelum kau melangkah lebih jauh, apa skill yang kau punya? apa yang bisa dibanggakan darimu? " tanya madam Roxanne pada akhirnya. Heni menelan ludah perlahan. Tetiba saja dia seperti menelan batu yang membuat tenggorokannya berat seketika.
" Skill apa mi? dia sudah memberiku anak itu sudah lebih dari cukup, " jawab Tama. Lagi-lagi dia membela Heni.
" Tama aku bertanya dengan Heni. Kenapa kau terus saja yang menjawab? " tanya wanita itu kesal.
" Saya tak memiliki skill khusus yang mungkin nyonya maksud, tapi saya memiliki kekuatan agar anak ini tetap hidup. Meski dulu pernah ada seseorang yang menawarkan untuk membunuhnya dengan sadar, " ujar Heni lirih dengan bergetar. Seketika dia mengingat hari itu, dimana dengan sadar wanita itu memberinya sebotol obat penggugur janin. Dadanya sesak dan jemarinya tremor dalam beberapa menit kemudian.
Tama dan tuan Hendri terkejut bukan kepalang mendengar penuturan Heni, bahkan pria botak itu sampai berdiri dan mengagetkan Tania. Bayi itu pun menangis. Sementara madam Roxanne tercekat luar biasa, dia mulai cemas jika menit berikutnya Heni mulai membuka rahasianya. Dia tatap tajam Heni yang meraih Tania ke dalam gendongannya dan memberinya sebotol susu.
" Siapa yang melakukan itu Heni. Katakan aku akan memberinya pelajaran yang tak terlupakan untuknya, " ujar tuan Hendri tak Terima. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa, uratnya sampai menonjol. Heni hanya menggeleng.
__ADS_1
" Katakan Heni, " ujar Tama yang juga tak Terima begitu saja.
" Tenanglah, dia sudah mati, " ujar Heni dan membuat madam Roxanne semakin melotot.