Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
Kedatangan ibu Ratih


__ADS_3

Sejak Heni meninggalkan rumah, Bimo selalu uring-uringan. Semakin hari suasana hatinya semakin memburuk. Dia mengalihkannya dengan minum minuman keras. Sepulang kerja, dia nongkrong dengan temannya yang suka mabuk-mabukkan, baru dinihari dia pulang. Dia berusaha melupakan kekecewaannya, dengan cara yang salah. Heni juga tidak pernah sekalipun menghubungi, Bimo tidak mau ambil pusing. Dia letakkan ponselnya disembarang tempat, dia tidak peduli. Dia sudah memutuskan ingin bercerai seperti permintaan mertuanya. Meskipun disisi lainnya dia tidak rela, tapi mengingat istrinya mengandung benih dari Tama, dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan wanita itu. Wanita yang amat dicintainya. Dia percaya dibalik kesulitan pasti ada kemudahan meski berat diawal.


Bimo juga nampak kurus, pipinya nampak tirus, dan berat badannya turun drastis karena masih memendam sakit hati. Makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak itu yang dia rasakan berhari-hari, sampai dia mengkonsumsi obat tidur. Kerja pun juga sering bolos karena benci mengingat dimana tempat itu adalah rekomendasi dari Tama. Dan para karyawannya yang kadang membahas tentang pria itu, sungguh memuakkan. Dia benci Tama, Heni dan semua orang. Dan lebih menyakitkan lagi dia benci hidupnya saat ini. Pada akhirnya, dia lebih banyak menarik diri dari keramaian. Minum alkohol dan melamun, itulah kesibukannya selain bekerja.


Suatu pagi, dia terbangun karena mendengar ketukan yang cukup keras dari pintu utama. Dia bangkit setelah meregangkan tubuh. Dibukanya pintu, nampak ibunya berdiri dan tersenyum. Bimo hanya melengos lalu masuk tanpa menyapa ibunya. Ibu Ratih mengelus dada,


" Kau baru bangun? " tanyanya dengan heran. Bimo tidak menjawab. Dia melangkah menuju ke kamar mandi diiringi tatapan ibunya. Tak lama kemudian, terdengar suara keran diputar menandakan Bimo mandi. Ibu Ratih pergi menuju ke dapur. Dia mengernyit heran. Dapur sangat berantakan, piring dan gelas kotoran terbengkalai ditempat cucian, sampah berserakan dimana-mana. Dia berniat membersihkan dapur dan memasak. Pertama dia mencuci piring dengan menggerutu,


" Dasar si Heni, malas amat sih jadi perempuan? Sudah mandul, jorok sekali. Kemana sih tu orang? menantu tak becus! kenapa dulu aku membiarkan anakku menikah dengannya? tidak tahu adat, " gerutunya. Dia tidak tahu jika menantunya tidak akan kembali. Saat keluar dari kamar mandi, Bimo mendengar gerutuan sang ibu. Dia berhenti sebentar, lalu pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Gerutuan ibunya terus terngiang-ngiang ditelinganya sampai dia selesai memakai pakaian. Dia hampiri sang ibu didapur.


" Bisakah ibu tidak menggerutu? " tanyanya datar. Ibu Ratih membuang muka karena kesal. Apa hebatnya wanita itu? terus saja dibela? pikirnya. Dia mengerucutkan bibir, tanda tidak suka atas teguran Bimo.


" Kalau ibu datang untuk menggerutu, lebih baik pulang saja. Aku tidak mau mendengarnya, " terang Bimo kesal. Gerutuan ibunya benar-benar membuatnya mengingat Heni. Saat mengingat kembali, bayangan Tama pun ikut menyertai, membuat darahnya semakin mendidih. Dia tidak mau berbuat nekat lagi. Karena satpam dan orang yang menangkapnya dirumah sakit telah memperingatkannya untuk tidak mengulangi kejadian serupa. Jeruji besi siap menunggu atas dasar percobaan pembunuhan. Beruntung kakak Tama tidak menuntutnya karena simpati.


" Aku sudak tidak tahan lagi Bim, ceraikan dia. Menantu tidak berguna, merepotkan saja. Ibu akan mencarikan penggantinya yang jauh lebih baik darinya, " ujar ibu Ratih. Bimo yang sedang mengikat tali sepatu berhenti. Dia menoleh ke arah ibunya yang duduk di kursi tidak jauh darinya.


Bercerai saja, itu lebih baik. Karena selama ini mungkin ibuku turut andil membuatnya sakit hati. Sehingga dia berselingkuh dan mengkhianatiku. Mungkin inilah salah satu penyebabnya? oh Tuhan, tunjukkan jalanmu, doa Bimo.


" Iya bu, akan aku lakukan. Tunggulah, " ujar Bimo.

__ADS_1


Mendengar perkataan sang putra semata wayangnya, dia tersenyum merekah. Sungguh jika tidak ada Bimo disitu, pasti dia sudah salto kegirangan. Hatinya merasa sangat puas, keinginan yang ditunggunya selama ini akhirnya terwujud. Anaknya akan terlepas dari belenggu si Heni. Wanita yang tidak bisa memberikannya keturunan, hanya modal cantik saja? Namun dia heran, menunggu apa lagi? bercerai kan tinggal ambil berkas nikah terus bawa ke kantor urusan agama lalu memohon perceraian, kan beres. Ada apa ini? pikirnya bingung.


" Menunggu apa Bimo? " tanyanya. Sungguh putranya sulit dimengerti. Dia sangat menyayanginya setulus hati, karena memang putra satu-satunya. Dia juga selalu mengupayakan agar Bimo selalu bahagia. Tapi dalam pernikahannya, dia menilai jika anaknya tidak pernah bahagia. Makanya dia berusaha untuk selalu ikut campur. Dia tidak mau anaknya menderita karena ulah sang menantu.


" Dia sedang hamil, bu. " ujar Bimo lirih.


Pyaarrr.....ibu Ratih yang tengah memegang gelas terjatuh karena terkejut. Netranya melotot ke arah Bimo, seakan-akan mau keluar dari tempatnya. Wanita yang selama ini dia sebut mandul itu ternyata bisa hamil? lelucon apa ini?


" Benarkah itu Bimo? " tanyanya. Kebahagiaan menelusup dihatinya. Panas kepalanya karena dapur yang berantakan musnah seketika. Yang dirasakannya hawa damai dan tenteram.


" Oh aku akan segera punya cucu? kenapa kau ceraikan dia? jangan Bimo. Aku akan menjadi nenek yang baik. Aku janji Bimo tidak akan mengatakan hal buruk lagi tentang Heni, " bujuk sang ibu. Bimo trenyuh melihat perubahan sikap ibunya. Wanita yang telah melahirkannya itu benar-benar menginginkan seorang cucu. Bimo menghela napas perlahan, matanya menatap jauh ke depan.


" Maafkan Bimo, bu. Sebenarnya Heni wanita yang sempurna. Akulah yang mandul, bu. "


Ibu Ratih menatap sang anak dengan kecewa. Lidahnya terasa kelu. Anak yang dibanggakannya selama ini mandul? tidak akan pernah bisa memberinya cucu sampai akhir hayatnya? dan Heni yang selalu dihinanya memilih menyelingkuhi putranya demi orang lain? permainan hidup macam apa ini, Tuhan?


Bimo merasa lega, apa yang disembunyikan dari ibunya selama ini sudah terungkap meski tidak percaya. Dan hatinya kembali terasa perih mengucap tentang perselingkuhan istrinya. Ibu Ratih mendekati anaknya dan mengusap punggungnya. Tidak lama kemudian wanita itu pingsan.


" Bu, bangun. Ada apa bu? tolong sadarlah bu, " panggil Bimo berulangkali. Dia menepuk-nepuk pipi ibunya yang terpejam karena tidak kuasa mendengar kenyataan pahit dari putranya.

__ADS_1


...............


Nyonya Alwan mendekati Heni yang masih duduk dengan tatapan kosong. Dia merasa iba atas apa yang dialami putrinya. Rumah tangga yang dibinanya hancur karena perbuatannya sendiri. Dia elus bahu Heni, mencoba menguatkan.


" Makanlah nak, ibu mohon. Pikirkan janin yang berkembang dirahimmu. Dia butuh nutrisi, " bujuknya. Heni menoleh, nampak kedua matanya sembab, wajahnya juga sangat pucat. Dia melemparkan senyum kepada ibunya yang khawatir.


" Aku memang bersalah, bu. Maafkan aku, " lirihnya. Nyonya Alwan memeluk putrinya, berusaha menenangkan.


" Semua sudah digariskan oleh yang diatas. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani dan tabah. Percayalah semua akan baik-baik saja, " ujar ibunya bijak.


Heni menatap ibunya sendu, airmatanya kembali menetes. Dia sudah berusaha melupakan cintanya terhadap Tama. Namun semesta bertindak lain dengan menghadirkan janin dirahimnya. Itu memang kesalahannya. Dan yang membuatnya menyesal karena Bimo sudah tidak mau memberinya kesempatan. Dia patah hati untuk kedua kalinya. Dia menangis dipelukan ibunya.


" Sekarang pikirkan calon buah hatimu. Kau menyayanginya bukan? " tanya nyonya Alwan dengan tersenyum. Diusapnya perut Heni, didekatkannya wajah ke perut itu.


" Baik-baik cucuku ya, jangan nakal. Kasihan mommy mu, "


Heni tersenyum mendengar ucapan ibunya. Betapa ibunya sangat bahagia mengetahui kehamilannya. Memang lebih baik dia fokus terhadap calon bayinya. Dia bangkit menggandeng ibunya mengajak turun. Dia ingin makan.


Diruang makan, telah nampak berbagai hidangan yang menggugah selera. Heni bingung mau mencicipi yang mana dulu, dia nampak rakus. Nyonya Alwan tersenyum bahagia, putrinya sudah melupakan kekecewaannya. Semua akan baik-baik saja. Hanya waktu yang bisa memulihkan rasa ini.

__ADS_1


__ADS_2