Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
kepanikan Bimo


__ADS_3

Kabar kehamilan Heni terdengar sampai di telinga madam Roxanne. Wanita itu sangat geram, dia malas mengakuinya sebagai cucunya. Berbeda dengan suaminya sangat gembira. Pria itu bahkan sering berkunjung ke rumah Heni dan membawakan banyak buah untuk menantunya, biar janinnya tumbuh sehat, ujarnya. Tama juga menjaganya dengan ekstra. Dia meminta agar Heni selalu makan dengan teratur dan meminum vitamin yang diberikan oleh rekannya sesama dokter dirumah sakitnya. Dia sangat bahagia, akhirnya keinginannya menambah momongan terwujud.


Sore itu Tama sedang bercengkrama dengan Heni serta Tania diruang tamu saat pintu diketuk dari luar. Dia membuka pintu dengan menggendong Tania, kedua orang tuanya berdiri diambang pintu dengan tersenyum. Tapi madam Roxanne seperti memaksakan diri, Heni tahu itu. Mereka datang atas kemauan tuan Hendri. Mertuanya itu membawakan buah tangan berupa buah-buahan dan kue. Begitu melihat Tania dalam gendongan daddy nya, tuan Hendri meraihnya dan mengajaknya bermain diruangan lain meninggalkan lainnya. Heni menampakkan wajah ramah kepada madam Roxanne yang hanya memandangnya sekilas. Sedangkan Tama sibuk membalas pesan dari ponselnya dan tak tahu sikap ibunya.


" Nyonya sudah makan? " tanya Heni bersikap ramah. Madam Roxanne hanya mengangguk dan masuk menyusul sang suami. Heni kesal karena merasa tak dianggap. Dia pun mengajak Tama untuk makan. Tama pun mengiyakan. Tama mengajak kedua orangtuanya untuk makan tapi dengan kompak mereka menolak karena masih kekenyangan setelah pulang dari kondangan dirumah salah satu teman tuan Hendri.


Heni makan dengan lahap dan banyak. Mualnya hanya menyerangnya saat pagi menjelang. Dia sangat kelaparan, mungkin juga karena pengaruh kehamilannya. Tama tersenyum dan terus menatap istrinya yang memiliki nafsu makan yang besar.


Tuan Hendri mengawasi Tania yang merangkak, sesekali bayi itu juga mengeluarkan suara yang tak jelas dan tertawa. Tuan Hendri sangat menyayangi cucunya itu, meski tahu istrinya masih tak menganggapnya. Tapi pria itu selalu menasihatinya dengan bijak. Entah sampai kapan wanita itu mau menganggap Heni sebagai menantunya yang kini tengah mengandung buah cinta dari Tama. Dia juga tak banyak bicara saat bersama dua lelaki yang dicintainya itu. Dia takut mereka menegurnya keras jika ketahuan bersikap usil dengan Heni. Maka dia berniat akan seorang diri saja menemui Heni mendatang.


Kedua orang tua itu segera pulang tanpa mau menginap. Padahal diluar hujan turun disertai petir menyambar.


Keesokannya, Tama meminta Heni untuk segera bersiap dan memeriksakan kehamilannya karena hari ini jadwalnya. Heni terlupa dan segera menyiapkan diri. Dia juga mencium kening Tania sesaat sebelum berangkat.


" Yang, jika janin ini tumbuh besar seiring berganti bulan, perutku akan semakin membesar. "


" Iya, kenapa? " tanya Tama heran, kemudian mengalihkan perhatiannya kepada sang istri.


" Dan saat melahirkan perutku akan bergelambir, apa kau tidak jijik? " tanya Heni perlahan.


Tama menatap Heni dengan raut serius, dia mendekati istrinya dengan menangkup wajahnya. Lelaki itu mendekatkan wajahnya, menghapus jarak diantara mereka.


" Kau sudah pernah hamil dan melahirkan Tania ku. Bahkan bekasnya pun juga masih terlihat, apakah aku seperti dugaanmu saat ini? " tanyanya.


Heni menunduk dan tersenyum. Memang lelaki ini tidak seperti prasangkanya. Benar juga yang dikatakannya, bekas operasi caesarnya masih terlihat. Bahkan Tama pernah mengusapnya lembut dan menciumnya sembari mengucap maaf karena tak disisinya saat ada Tania.


" Jangan overthinking, aku akan selalu mencintaimu. Kau belahan jiwaku sayang, " ujarnya dan mendaratkan sebuah ciuman di kening istrinya. Lalu merangkulnya menuju tempat kendaraannya berada. Segera mereka masuk, mobil pun bergegas meluncur ke jalan raya.


Sesampainya diruang obgyn, Heni masuk diikuti Tama. Lelaki ini ingin mengetahui perkembangan calon buah hatinya. Dia nampak gugup dan berkeringat karena ini adalah pengalaman pertamanya melihat calon anaknya. Heni meremas tangan suaminya guna menenangkan lelaki itu. Dokter Anne menunjuk ranjang pemeriksaan. Suster dan asisten segera menyingkap tirai, lalu membimbing Heni untuk duduk dan berbaring di ranjang itu.


Dokter Anne mulai memasang stetoskop dan melakukan pemeriksaan dasar. Dokter itu juga menanyakan apa yang dikeluhkannya selama kehamilan, tangannya bersiap ke alat USG. Dia sudah mengangkat transducer sementara suster mengangkat blouse dan mengoleskan


gel di perutnya. Tama memperhatikan layar, dia terkesima menatap isi dalam rahim istrinya. Sebuah bulatan yang berisi darah, daging dan juga gennya. Perasaan aneh dan meriah meletup didadanya. Dia terharu melihat janin itu. Rasa penyesalan juga melingkupi sudut hatinya melewatkan perkembangan Tania dulu. Tanpa sadar dia meneteskan airmata.

__ADS_1


" Janin ini masih berusia enam minggu. Banyak istirahat dan makan makanan yang sehat, tolong ya pak Tama diperhatikan, " terangnya karena melihat atasannya itu masih tak berkedip melihat foto hasil USG ditangannya. Heni mencubit lengan suaminya.


" Iya, aku pasti memperhatikannya. Kau tak perlu cemas, bukankah begitu sayangku? " kelakarnya, dia juga mencium Heni didalam ruangan yang masih banyak orang. Dokter Anne sekaligus temannya itu hanya menggelengkan kepala.


" Ehm.. pak Tama mohon jangan menunjukkan hal itu di sini. Banyak kaum jomblonya, " ingatnya.


Tapi Tama hanya nyengir dan merangkul istrinya untuk segera keluar dari ruangan itu. Kebahagiaannya terpancar dari wajahnya. Berulang kali dia mengucap maaf dan berterima kasih kepada Heni. Maaf karena melewatkan momen saat kehamilan Tania dan berterima kasih mau mengandung buah hatinya lagi.


................


Madam Roxanne tengah menunggu kepulangan Heni. Dia ingin bertemu dan mengusili menantunya itu. Karena dia tahu saat ini adalah momen yang tepat, suaminya berada diluar kota bersama Tama. Dia menyeringai saat melihat Heni memasuki pelataran rumah.


Alangkah terkejut dia melihat madam Roxanne tengah duduk di sofa dengan menatapnya tajam. Heni menjaga jarak agak mundur.


" Kenapa? kau takut denganku? " tanyanya santai.


" Tidak, bukan begitu nyonya. Saya hanya terkejut saja, " kilahnya.


Heni disergap perasaan was-was bersama mertuanya itu. Apalagi dia sedang hamil, dia takut jika wanita itu akan berbuat yang bukan-bukan kepadanya.


" Saya ada perlu, " jawab Heni masih berusaha sopan walau hatinya serasa ingin melompat karena tersinggung.


Madam Roxanne bangkit dan mendekatinya. Heni menarik napas panjang, pikirannya mulai berprasangka buruk. Benar saja wanita ini menjambak rambutnya dan menghadapkan ke wajahnya.


" Aku sangat membenci wajah sok lugu dan polosmu ini. Sampai kapan pun aku tidak akan mengakuimu sebagai menantuku! " bentaknya.


Usai mengucapkan kata itu dia melepas jambakannya dan mendorong kepala Heni. Heni yang diperlakukan seperti itu tak Terima begitu saja, dia bangkit.


" Kalau kedatanganmu hanya menyakitiku, lebih baik kau pergi dari sini, " usirnya.


Heni mulai emosi dan tersinggung. Madam Roxanne tak puas begitu saja, dia menarik lengan Heni dan menghempaskannya di lantai dengan cukup keras. Heni terjatuh dan berteriak dengan nyaring hingga bik Siti dan mbak Dina mendatangi mereka. Alangkah terkejutnya mereka melihat majikannya tersungkur. Dan Madam Roxanne hanya melihatnya saja dengan tersenyum puas. Wanita itu juga melotot ke arah dua asisten rumah tangga Heni.


" Kau wanita rendahan. Levelmu kalah jauh dari Mona, " sungutnya dan meninggalkannya. Kedua asistennya segera mengangkat majikannya itu dan mendudukkannya disofa, tapi mereka terkejut lagi untuk kedua kalinya. Darah segar mengucur dari sela kedua kaki Heni. Heni berteriak histeris.

__ADS_1


" Bagaimana ini nyonya? kita harus segera ke rumah sakit, " pinta bik Siti.


Saat mereka panik seorang wanita paruh baya ikut berteriak dan menghambur ke arah Heni. Dia juga bertanya apa yang telah terjadi kepadanya. Kedua asistennya menjawab serempak. Wanita itu segera menelepon sang anak dan meminta bantuannya.


" Tolong saya, " ujar Heni lirih. Dia tak menyangka kedatangan wanita yang sudah tak dilihatnya itu juga panik setengah mati mendapati dirinya bersimbah darah.


Seseorang datang dan segera mengangkat Heni dalam gendongannya. Dia mendudukkannya dijok belakang dengan bik Siti dan ibunya. Mobil bergegas menuju ke rumah sakit terdekat.


" Dimana suaminya? hubungi dia agar tahu keadaan istrinya, " ujarnya panik. Bik Siti mengangguk dan mencoba menelpon Tama.


Tangannya mengepal ke udara karena kesal tindakan orang yang berbuat jahat terhadap Heni, mantan istrinya. Dialah Bimo. Betapa Heni kembali mencuri perhatiannya karena sang ibu yang menghubunginya. Dan dia juga emosi saat didapatinya Tama berada diluar kota. Sementara istrinya mendapatkan perlakuan buruk dari orang tuanya.


Meski marah tapi Bimo bersyukur bisa menolong Heni yang mendapat musibah. Berawal dari kemauan Ibunya ingin menemui dan meminta maaf atas perbuatannya selama menjadi mertuanya. Bimo menyarankan agar datang ke rumah kedua orang tua Heni karena dia tak tahu pasti dimana mantan istrinya tinggal setelah menikah. Dia tahu karena Heni sempat mengundangnya saat ijab kabul tapi tak bisa datang lantaran sibuk membantu nikahan adik iparnya. Meski begitu dia mengirim kado sebagai ucapan atas pernikahannya.


Ibunya datang ke rumah kedua orang tua Heni, tapi mereka tak ada dirumah. Hanya penjaga rumahnya yang datang menemui dan memberitahu alamat Heni. Wanita itu segera mendatangi alamat yang tertulis dikertas. Alangkah terkejutnya saat mendapati mantan menantunya duduk dengan darah mengucur disela kedua kakinya. Hingga wanita itu hanya mengingat putranya seorang dan menghubunginya.


Sampai seorang dokter memanggil Bimo, mengira jika dia adalah suami dari Heni. Bimo mendengar penjelasan dokter dengan masih menampakkan kepanikan yang luar biasa.


" Maaf janinnya tidak tertolong. Janin itu luruh karena ibunya terjatuh terlalu keras, " ujarnya. Bimo terkejut dan semakin marah. Dia duduk disamping ibunya sembari menunggu kedatangan Tama. Napasnya memburu dengan matanya yang nyalang karena emosi.


Terdengar langkah kaki dari ujung lorong, Bimo bersiap akan meluapkan kekesalan dan emosinya jika dia adalah Tama. Tapi ternyata itu adalah istrinya, Rahma. Wanita itu menghambur ke arahnya.


" Bagaimana Heni, Bimo. Apa dia baik-baik saja. Sebenarnya apa yang terjadi? " tanyanya dengan raut panik meski juga cemburu mengingat betapa suaminya masih sangat peduli dengan mantannya.


" Dia keguguran, " terangnya. Rahma pias, seketika dia bisa merasakan kepedihan mendalam atas musibah yang menimpa Heni. Dia terduduk disamping mertuanya. Sementara ibu Ratih tertunduk menangis. Dia menyesalkan tindakan orang yang mencelakai mantan menantunya.


Tak lama kemudian, yang ditunggu pun datang. Lelaki itu menghampiri Bimo dengan wajah tak kalah paniknya. Tapi bukan jawaban yang diterimanya dari Bimo melainkan Bogem mentah mengenai wajahnya hingga dia terpental beberapa meter. Ibu Ratih dan Rahma segera menahan bahu Bimo yang ingin melanjutkan tindakan abusive nya kepada Tama.


" Tenang Bimo, " ujar ibu Ratih. Rahma pun demikian terkejut dan takut atas tindakan suaminya kepada Tama. Bimo menunjuk ke arah Tama dengan mata merah menyala.


" Lihat kelakuanmu yang tak menjaga Heni, dia keguguran, " ujar Bimo menahan amarahnya yang masih di ubun-ubun. Tama bangkit dan segera masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya Heni berbaring dengan airmata yang terus menetes. Selang infus juga terpasang di pergelangan tangannya. Tama memeluk istrinya dan mengucapkan maaf.


" Apa yang terjadi? kenapa sampai begini? " tanya Tama. Heni menatapnya sekilas dan membuang muka. Dia semakin meraung-raung. Bimo yang mendengar tangisan Heni dari luar segera masuk dan mencengkeram kerah Tama menariknya keluar. Diluar ruangan Bimo mendorong Tama sampai lelaki itu hampir menabrak dinding rumah sakit.

__ADS_1


" Tanya makmu dirumah gedongnya itu. Dialah penyebab Heni keguguran, tahu kau tak bisa menjaganya tak akan ku ceraikan dia, " sungut Bimo masih emosi. Rahma terkejut mendengar perkataan Bimo tapi dia hanya bisa diam takut Bimo semakin murka. Karena dia sudah hafal watak Bimo yang semakin temperamen jika dibantah.


" Kau yang dipilihnya saat bersamaku, tapi apa balasanmu? dasar lelaki ingusan, " ejeknya. Bimo juga tahu jika usia Tama dibawah Heni sebab itulah dia menyebutnya dengan ingusan. Tama menunduk tanpa bisa menjawab ejekan dari Bimo. Ibu Ratih melerai dua lelaki itu dan menyarankan agar Tama segera menghubungi orang tua Heni.


__ADS_2