
Bimo telah menyiapkan semua di meja. Dia ingin merayakan bahwa besok mulai bekerja meski dengan sederhana. Dia ingin merubah diri dan nasibnya. Meski mungkin terlambat? Dia menonton televisi seraya menunggu Heni, pulang kerja. Tak lama kemudian, dia pulang. Suara motornya terdengar dari halaman. Bimo segera bangkit menghampirinya. Istrinya terlihat sangat kelelahan. Saat melewati ruang tamu, dia menatap heran karena meja telah terhidang banyak cemilan.
" Ada acara apa? " tanyanya. Bimo tersenyum simpul. Dia memeluk istrinya dan berbisik mengatakan bahwa dia sudah diterima bekerja. Lalu dia menyuruhnya untuk segera mandi dan duduk bersamanya menikmati cemilan sore itu. Heni pun menurut. Dia mandi lalu menghampiri suaminya di ruang tamu. Mereka duduk bersama. Mereka menikmati aneka cemilan itu dengan menatap keindahan senja yang mulai menghias langit, menandakan malam akan segera menjemput.
" Aku senang akhirnya kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini, " sahut Bimo. Heni pun terlihat sangat menikmatinya. Memang dia jarang duduk berdua seperti itu. Karena suaminya pulang tidak menentu, ada saja yang dilakukannya selain di bengkel kala itu.
" Apa kau sudah lama mengenalnya? " tanya Bimo. Heni mengernyit, dia tidak mengerti oleh ' nya yang dikatakan suaminya. Bimo menjelaskan itu adalah Tama Prasetia.
" Bukankah kita baru sama-sama mengenal saat di warung itu? " ujarnya, dia masih berusaha menutupinya. Bimo sedikit kecewa atas jawaban istrinya. Dia bermaksud istrinya akan menceritakan seberapa dekat hubungan mereka.
" Aku tidak tahu kalau dia juga bekerja ditempat yang sama denganmu, " cecar Bimo, ada emosi dibalik ucapannya. Heni menghentikan nyemilnya. Dia tidak suka suaminya harus membahas lelaki itu.
" Bisakah kita membahas tentang pekerjaanmu saja? " ujarnya. Dia merasa moodnya memburuk saat Bimo menyebut nama itu. Heni pun bangkit.
" Mau kemana kau? " tanya Bimo. Heni menjawab bahwa dia ingin mengambil ponselnya di kamar. Suaminya pun mengiyakannya. Heni berjalan menuju ke kamar, lalu mengambil benda itu dari dalam tasnya. Dia terkejut ada beribu panggilan tak terjawab. Dilihatnya dari Tama, dia langsung mengirim sebuah pesan. Jangan ganggu aku. Dia menonaktifkan ponsel itu lalu menemui Bimo diruang tamu lagi.
" Mana ponselnya? " tanya Bimo heran karena istrinya tidak membawa benda itu. Heni pun menjawab, dia sedang malas memegangnya.
Malam pun tiba, Bimo pun berbaring di kursi panjang diruang tamu itu. Sementara Heni menutup pintu namun diurungkan nya saat melihat seseorang datang memasuki halaman rumahnya. Heni mendekatinya, dia tersenyum tatkala dilihatnya itu adalah ibunya. Heni pun mengajaknya untuk masuk ke rumahnya. Bimo sudah tertidur, dia tidak menyadari kedatangan mertuanya.
" Mama sama siapa kesini? " tanyanya.
" Papamu, tapi dia tidak mau masuk, " bisiknya. Heni pun maklum, dia tahu beliau tidak mau masuk karena rumah kontrakannya sangat tidak layak untuk dihuni. Nyonya Alwan menyodorkan sebuah kunci untuknya. Heni menerimanya dengan tanda tanya besar. Kunci apa ini???
__ADS_1
" Papa membelikanmu sebuah rumah di kawasan ****, " jelas nyonya Alwan. Heni tersenyum senang, meski sang ayah sangat keras dan menentang hubungan mereka namun jauh dari lubuk hatinya masih peduli dengannya. Heni terharu.
" Segera kemasi barangmu dan pindah lah dirumah ini. Rumahnya juga jauh lebih besar, " tambah nyonya Alwan. Heni mengangguk, dia mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Lalu beliau pun pamit pulang, karena tidak mau suaminya menunggu terlalu lama. Heni mengantarkan sampai di mobil yang telah menunggu papanya.
" Papa, " panggilnya. Heemm... papanya hanya menjawab dengan deheman tanpa turun dari kendaraannya. Heni mendekatinya dan mencium telapak tangannya. Maafkan aku, pa. Aku memang anak durhaka, tidak bisa menuruti keinginanmu, batinnya.
Tuan Alwan lalu menyalakan mesin segera melajukan mobilnya menuju ke jalan raya. Sementara nyonya Alwan terus melambai kearahnya dan juga berpesan untuk sering-sering pulang ke rumah. Heni mengiyakannya lalu berjalan pulang. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya untuk masuk ke sebuah gang yang minim penerangannya. Heni berteriak namun tangan itu membekap mulutnya agar diam. Heni mencoba memandang wajah orang itu. Seketika darahnya berdesir karena lelaki itu adalah Tama. Dia berdiri dihadapannya.
" Kenapa kau tidak mau datang? " tanyanya. Heni diam.
" Jawab Heni! " hardiknya. Heni terkesiap, sungguh lelaki ini mulai menyebalkan. Heni mencium bibir tipis itu dan menggigitnya. Meski sangat sebal tapi dia berusaha untuk bersabar dengannya.
" Pulanglah, lain kali saja, " ujar Heni. Untuk kali ini dia tidak mau melawan lelaki ini dengan berteriak. Tama menurut, dia berjalan gontai meninggalkan Heni. Heni langsung berlari menuju ke rumah, dia takut akan ada mata yang memandang mereka.
Sesampainya dirumah, dia menutup pintu tanpa menguncinya. Dia segera berbaring dikamar untuk tidur. Namun sampai beberapa menit berlalu, matanya belum bisa terpejam. Kemudian dia bangkit menuju ruang televisi dan menontonnya sampai tertidur.
Paginya sebuah sentuhan dikepalanya membuatnya bangun. Dia melihat keatas, Bimo tengah asyik menatapnya. Heni bangkit dan memeluknya.
" Darimana semalam? " tanyanya. Dia sangat khawatir. Meski dia juga sering berbuat seperti itu kepada suaminya beberapa bulan belakangan. Bimo hanya tersenyum, dia menyuruhnya untuk segera bangun dan bersiap. Dia juga akan berangkat bersama istrinya.
" Ayo mas kita berangkat, " ajak Heni. Bimo memanasi motornya lalu menuntunnya keluar halaman rumah. Dia sangat senang meski kecewa karena telah tahu yang sebenarnya.
Semalam Bimo mengikuti istrinya diam-diam. Dia hampir berteriak saat Heni dibekap oleh seseorang, namun karena jarak pandang yang jauh dan gelap dia tidak tahu siapa lelaki itu. Dia masih menduga-duga dan berniat akan mencari tahunya sendiri. Lalu dia pulang tanpa mengatakan apa pun. Sesampainya dirumah istrinya sudah tertidur pulas, dia berusaha mencari ponsel istrinya. Namun dia kecewa karena benda pipih itu tidak diketemukan nya dimana-mana. Akhirnya dia mencoba tidur meski tidak terlelap sampai pagi menjelang.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka sampai. Heni turun lalu mengatakan jika akan pulang sendiri. Bimo mengiyakannya lalu berangkat menuju tempatnya bekerja. Bimo senang, dia berusaha bersyukur atas apa yang ada. Dia juga mulai memberi uang untuk Heni. Hal yang jarang dia lakukan.
Dirumah sakit, tangan Heni ditarik oleh seseorang. Heni sudah menduga dan dia tidak suka.
" Jangan kasar seperti itu, " ujarnya. Dia mengelus tangannya. Ditatap nya lelaki tampan yang berdiri dihadapannya itu. Dia tetap menawan dan selalu fres. Tapi sikapnya tidak semanis dulu. Dia duduk dan memberikan sebuah kotak kecil kepadanya. Heni menerimanya dan membuka kotak itu. Dia ternganga, sebuah cincin dengan ukiran namanya.
" Apa maksudnya? " tanyanya. Tama tersenyum, sungguh senyuman yang membuat mabuk kepayang bagi yang melihatnya. Dia menjelaskan itu untuk dirinya. Heni pun memakainya. Seperti biasa Tama lalu mengecup pipinya dan berlalu meninggalkannya. Ada kebahagiaan menelusup dihatinya, dia senang lelaki itu selalu bisa membuatnya diatas awan. Dan selalu. Entahlah sampai kapan dia sadar diri.
Setelah kepergiannya, Heni melanjutkan pekerjaannya. Suara yang sangat familiar mengejutkannya. Entah sejak kapan suaminya itu berada tidak jauh darinya. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Beruntung Tama sudah tidak terlihat. Bimo membawakan sebuah kantong berisi makanan. Heni menerimanya, cincin yang melingkar di jari manisnya menjadi pusat perhatian Bimo. Bimo pun bertanya darimana dia mendapatkan benda itu? Karena seingatnya cincin pemberian darinya telah terjual setahun lalu. Itupun dia juga telah berjanji akan menggantinya suatu saat nanti.
" Jawablah dengan jujur, Hen. Apa kau mendapatkan benda itu dari lelaki semalam?? " tanyanya. Dia sudah mulai jengah karena merasa dipermainkan oleh istrinya. Para karyawan yang lalu lalang ditempat itu menatap ke arah mereka. Heni merasa malu, dia berbisik kepada suaminya untuk tidak berbicara dengan nada keras.
" Kenapa, apa kau malu? " tanyanya lagi. Heni hanya menggeleng, Bimo lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Sungguh istrinya yang mulai berubah membuatnya cemburu dan naik pitam. Tidak pernah dia merasa kecewa seperti ini. Dia selalu merasa rumah tangganya baik-baik saja selama ini. Padahal sikapnya yang acuh tak acuhlah yang membuat istrinya seperti itu.
Dirumah Bimo tidak banyak bicara, dia langsung tidur saat mendengar istrinya pulang. Sungguh dia sangat marah. Dalam hati dia akan mencari tahu cincin pemberian siapa yang dikenakan oleh Heni.
Heni juga tidak banyak berkata, dia duduk diruang tamu memandang cincin itu dengan bahagia. Sungguh dia senang menerimanya, dia tidak peduli dengan suaminya. Toh suaminya juga jarang memberinya barang mewah seperti itu. Dia masih teroesona dengan kilauannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia mengangkatnya dan terlihat berbicara agak lama. Setelah itu dia pergi ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian, dia sudah rapi. Dihampirinya suaminya dikamar yang tengah berbaring. Dia berbisik di telinganya; aku pergi ke rumah teman, jangan marah lagi. Tunggu aku pulang atau jangan kunci pintunya jika nanti malam kau sudah terlelap. Lalu dia keluar dengan menugup pintunya perlahan. Bimo duduk, dia menatap Heni melalui jendela kaca yang menghadap ke jalan. Dia menghela nafas berat, sungguh dia tidak mengerti bagaimana dengan rumah tangganya yang hambar dan monoton begitu saja. Istrinya tidak pernah seromantis dulu saat awal menikah. Tidak pernah pergi begitu saja tanpa berpamitan dengannya. Bimo merasa kecewa karena tidak dihargai. Segera dia bangkit berusaha mengikuti Heni diam-diam.
Heni terus berjalan menuju keluar gang, dia berjalan sembari terus mengawasi disekelilingnya. Dia seperti takut jika ada orang yang mengikutinya. Karena nalurinya berpikir seperti itu. Tak jauh darinya sebuah mobil hitam telah terparkir, dia langsung masuk dijok belakang dengan cepat. Mobil pun segera melaju.
Bimo sempat memotret plat nomor mobil itu. Lalu berjalan pulang dengan langkah gontai. Pikirannya berkecamuk, apakah istrinya tengah berkencan dengan seseorang? atau menjadi wanita panggilan? tidak mungkin. Langsung dia buang jauh-jauh semua tuduhannya.
__ADS_1