
Sepulang dari acara amal, Heni teringat terus akan Adel. Anak yang duduk disampingnya bersama Tama. Dia gemas dengan tingkah anak itu, cukup manis menurutnya.
Saat bekerja bayangan anak panti berseliweran dengan riang gembira terus memenuhi pikirannya. Dia jadi tersenyum-senyum sendiri, membuat Sella geleng-geleng kepala. Mungkin dia sedang bahagia mengingat Tama? tapi itu lebih baik daripada manyun gak jelas, begitu pikirnya.
Tiba-tiba saja dia mempunyai ide ingin mengajak beberapa anak panti ke taman bermain di pusat kota. Pasti mereka senang dan bahagia. Bukankah itu kesempatan yang jarang mereka dapatkan? Heni sudah mengatur rencana, saat hari yang ditentukan.
Tama melangkah menuju ke tempatnya, lelaki tampan berkulit putih dengan senyumnya yang sangat menawan. Sella terus memperhatikan lelaki itu. Memang dia tipe idaman para jomblowati sejati. Sangat sempurna. Tapi kenapa dia jatuh cinta dengan Heni? Seharusnya kau jatuh dipelukanku, honey. Kenapa Heni sih? pikir Sella. Gadis yang hampir seumuran dengan Heni itu memeluk dirinya sendiri sembari memejamkan mata. Membayangkan Tama sedang memeluknya??
" Sel, ngapain sih?? " tanya Heni dengan memegang bahunya. Saat tersadar hanya lamunannya di siang bolong, dia tersenyum-senyum salah tingkah karena Tama berdiri tidak jauh darinya.
" Aku tidak ngapa-ngapain, " jawabnya nyengir. Tama tersenyum melihatnya di sudut ruangan.
" Ada apa? " tanya Heni ketus. Dia tidak suka akan kebiasaan Tama, selalu mendatanginya setiap saat. Seperti tidak ada kesibukan lainnya saja selain itu?
" Nanti malam ikut aku ke suatu tempat, " ajaknya. Sella masih berada diruangan, berulangkali dia bergerak tidak nyaman karena menjadi pendengar mereka.
" Tidak, aku sibuk, " jawab Heni. Entah kenapa dia ingin nanti malam bersama suaminya seorang. Meski cinta mulai tumbuh dihatinya untuk Tama, bukan berarti dengan mudahnya dia bisa melupakan Bimo. Suaminya yang tidak dapat perhatiannya sama sekali karena sibuk meredam kekecewaan hatinya.
" Kau harus ikut, aku akan menjemputmu sendiri. Kau bisa mengajak Bimo, kalau mau? " tambahnya lalu meninggalkan tempat itu.
" Apa-apaan sih dia? seenaknya saja? " tanya Heni kesal. Dan pasti omongan lelaki itu selalu nyata.
" Harusnya kau ngajak aku abang ganteng, " ujar Sella. Kedua wanita itu berpandangan, lalu tertawa. Meski receh, Sella bisa membuatnya sedikit melupakan kekesalannya.
Sepulangnya kerja, Heni bergegas mandi. Lalu berganti sebuah gaun cantik untuk keluar, dia akan mengikuti ajakan Tama. Saat masih memoleskan lipstik ke bibirnya, Bimo terus menatapnya.
" Kau mau kemana? " tanyanya. Heni menatap suaminya lewat pantulan cermin riasnya yang lebar.
" Aku mau keluar sebentar. Aku janji tidak akan lama, " ujarnya. Bimo kecewa, dia ingin menahan kepergian istrinya. Tapi pasti istrinya akan merengek dengan beribu alasan seperti biasa.
" Dengan Tama? " tanyanya. Heni terkesiap, untuk beberapa saat dia terdiam.
" De...de...dengan teman bukan Tama. Tama siapa yang kau maksud? " tanya Heni.
" Kau ada main dengan dia, bukan? " tanya Bimo lagi sedikit menahan emosi. Heni bangkit mendekati suaminya dan berakting seperti biasa. Dia elus pundak Bimo dan mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala sang suami.
__ADS_1
" Tenanglah sayang, aku pasti cepat pulang. Jangan menyebut nama itu, " ujarnya dengan manja. Dia lalu mendekatkan wajahnya kepada Bimo, mencium bibir suaminya dengan lembut. Bimo paham istrinya tengah berbohong, karena secara instan dia begitu manja dan agresif. Hal yang sangat langka dilakukan oleh istrinya yang sangat cuek dan selalu sibuk.
Akhirnya Bimo hanya bisa pasrah atas kepergian istrinya. Sebenarnya dia ingin sekali melarangnya tapi apa daya, dia sudah tersihir oleh kemanjaan Heni. Dia menutup pintu dan tidur di kursi tamu sampai Heni kembali.
Mobil yang dikendarai oleh Tama berhenti disebuah restoran. Tama menatap dalam kedua mata Heni, yang baginya sangat indah dan menarik.
" Aku mencintaimu Heni, " ujarnya. Heni sudah sangat mengerti, tidak perlu pengucapan berulang.
" Mari kita masuk, " ajaknya. Mereka keluar dari mobil bersama. Tama terus menggandeng Heni memasuki restoran. Mereka melewati beberapa pengunjung lain menuju ke sebuah tempat yang agak privasi. Heni terkejut melihat beberapa sosok yang dikenalnya dengan seorang gadis muda. Tama mengisyaraykannya untuk duduk disampingnya. Ketiga orang dihadapannya terus menatapnya, terutama madam Roxanne menunjukkan sorot kebencian yang begitu dalam.
" Apa maksudmu Tama dengan mengajak wanita ini? " tanya madam Roxanne. Nampak jelas wanita itu sangat marah.
" Lalu apa maksud mami mengenalkan dia kepadaku? "tanya Tama balik. Meski santai tapi terkesan mengejek. Heni menunduk, kehadirannya merusak suasana makan malam itu.
" Kenapa kau tidak menuruti mami? Kau membuat mami sangat kecewa, " ujar madam Roxanne. Suaminya, tuan Hendri prasetya hanya diam.
" Hanya berkenalan saja bukan? oke kenalkan namaku Tama Prasetya, sudahkan mi? , " ujar Tama.
" Kau....!!? " madam Roxanne sangat marah. Dia bangkit, tangannya hendak mengambil sebuah minuman dan menyiramkannya ke atas kepala Heni tapi tuan Hendri menahannya.
" Cepat pergi dari sini, tinggalkan tempat ini, Tam. " usir tuan Hendri kepada sang anak karena situasi sepertinya mulai tidak terkendali.
" Aku akan pergi pi. Maaf sampai kapan pun aku tetap memilih Heni, " tegasnya.
" Kau sudah dibutakan oleh cinta. Kau harusnya berfikir, Heni milik orang lain Tam, " ujar madam Roxanne, dia masih berusaha menyadarkan kekeliruan sang anak.
Tama bangkit menggenggam erat jemari Heni lalu pergi. Kedua orangtua dan Mona yang masih syok karena kehadiran Heni hanya bisa menahan kecewa. Kecantikan Mona yang diharapkan bisa menyadarkan Tama berakhir sia-sia. Tama masih belum bisa melepaskan cintanya untuk Heni.
Mobil melaju dengan kencang, Heni terus memohon agar Tama berhenti. Tapi Tama masih sangat marah.
" Berhenti Tama jangan ngebut. Aku takut, " ujar Heni dengan menghiba. Dia sangat ketakutan. Tiba-tiba didepan mereka ada sebuah truk besar sesudah mendahului sebuah mobil pick up, Heni menutup kedua mata dengan tangannya. Mungkin ini adalah akhir hayatku, teriak Heni dalam hati. Tama membanting setir ke kiri dan menghentikan mobilnya. Heni membuka mata dan mengatur napas. Mobil sudah berhenti, dia lega. Aku belum mati, ujarnya masih didalam hati.
" Kau sudah tidak waras! " umpatnya.
" Aku tidak waras karena kau!!??? " teriak Tama.
__ADS_1
" Seharusnya aku tidak ikut denganmu. Aku harus meninggalkan Bimo hanya untuk menyaksikan kegilaanmu?! " teriak Heni.
" Jangan sebut nama itu. Aku benci suamimu??! "
" Lebih baik aku turun?! " teriak Heni, dia membuka pintu mobil. Tapi naas masih terkunci.
" Malam ini kau milikku, " ujar Tama. Lelaki itu mendekati Heni, tangannya terus memegang lengan kekasihnya. Tama menciumi wajah Heni, mulai dari kening, pipi hingga bibir.
" Sudah hentikan Tama, " bisik Heni. Namun Tama tidak mempedulikannya. Sakit hati, kemarahan, rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan membuatnya kehilangan kendali.
" Tama sudah cukup. Hentikan, " ujar Heni. Dia mendorong dada bidang Tama yang menempel ditubuhnya. Tama tersadar, dia menangis. Heni bingung, lalu menepuk-nepuk punggung Tama.
" Kenapa kau menangis? " tanya Heni.
" Aku mencintaimu Heni. Aku sadar jika aku telah patah hati sejak awal aku merasakan getar ini. Namun aku tidak kuasa menghilangkannya hingga semakin hari rasa ini semakin mengakar kuat dihatiku. Setiap hari pikiranku hanya dipenuhi oleh dirimu saja. Aku bingung dengan semua ini, " terang Tama. Dia masih menangis tersedu-sedu.
" Dan mamiku yang terus berusaha menjodohkanku dengan Mona membuatku kesal. Aku benci dia, " ujarnya kesal. Menurutnya sang mami sangat egois.
" Jangan berucap seperti itu. Mungkin itu jalan terbaik untukmu. Besok aku akan mengundurkan diri, " ujar Heni mengejutkan Tama.
" Jangan. Kau jangan berhenti. Aku melarangmu, " pinta Tama. Heni mengernyit, bukankah dengan dirinya keluar Tama bisa dengan mudah melupakannya?
" Dengan begitu kau bisa melupakanku. Hiduplah tanpa aku, jalanmu masih panjang, " ujar Heni seperri hendak berpamitan jauh.
" Jangan mengucapkan kata itu. Aku membencinya, "
" Terserah kau. Sudah aku mau turun sini saja. Lekas kau pulang, " ujar Heni.
" Berani sekali kau berkeliaran ditempat ini? Lihat didepan, kau tahu tempat itu? " Tama menunjuk ke arah yang sangat gelap. Heni menggeleng.
" Disitu tempat pembantaian para korban perang. Banyak hantu yang berkeliaran untuk membalas dendam, konon orang yang lewat di jalan ini ada hantu yang ikut menumpang " terangnya.
" Sok tahu, " ujar Heni. Tapi dia merasa bulu kuduknya meremang.
" Ya sudahlah aku ikut kau saja. Aku takut, " pinta Heni. Tama tersenyum, lalu memanaskan mobil. Dengan perlahan mobil mulai melaju menuju ke jalan raya.
__ADS_1
Heni mengikuti langkah Tama menuju ke apartemennya. Mereka akan memasak dan makan malam bersama.