
Bimo sedang dipantry saat beberapa staf tengah berbincang tentang seseorang yang dikenalnya. Dia memasang telinga untuk mencuri dengar,
" Beruntung sekali ya si Tama, teman bos kita, "
" Ya, aku juga iri dengannya. Tapi denger-denger dia gak cinta lho sama tunangannya, "
" Gila kali tuh Tama. Gadis bohai kayak gitar spanyol itu dia gak cinta? buta kali matanya tuh. Aku aja mau Ha...ha..ha, "
" Hei mau kau kemanakan si Gita? kau mau selingkuh darinya? "
" Tidak sob, aku hanya canda doang kali, "
" Tama sudah jatuh cinta dengan orang lain dan mirisnya lagi, kau mau tahu gak?? "
" Ya, siapa? "
" Dia jatuh cinta dengan istri orang, "
" Apa? gila tu orang. Dia sudah buta pastinya, "
" Ya, cinta memang buta, "
Perbincangan itu terhenti, karena mereka telah pergi. Bimo tersadar. Saat ini dia sedang membuatkan dua cafe latte untuk dua staff disalah satu divisi di tempatnya bekerja. Dia segera mengantar minuman itu.
" Kenapa lama sekali? " tanya seseorang dengan kesal. Diraihnya cafe latte di nampan dengan kasar.
" Jangan kasar-kasar dong. Makasih ganteng, " ujar temannya dengan nada ngondek. Bimo langsung meninggalkan tempat. Dia juga ingin beristirahat seperti yang lain.
Tama siapa yang mereka maksud? apakah Tama prasetya, dokter itu? jadi dia sudah bertunangan?
__ADS_1
Bimo masih menduga didalam hati.
..........
Tit...ponselnya bergetar. Heni menatap layar ponsel, sebuah pesan. Sebuah nomor baru tertera yang isinya memintanya untuk bertemu disebuah tempat. Heni menanyakan siapa pemilik itu dengan mengirimkan pesan kembali. Namun jawabannya ; nanti kau tahu siapa aku. Dia menyimpan kembali ponselnya, rasa penasaran terbit dipikirannya.
Saat yang ditunggu tiba, Heni segera menuju ke tempat yang tersimpan diponsel. Dia masuk menghampiri seorang wanita yang tengah terduduk di meja yang di tunjukkan oleh seorang karyawan resto. Dia terkejut bukan kepalang melihat wanita yang tidak lain adalah madam Roxanne. Wanita blasteran, ibu Tama. Wanita itu duduk dengan sangat anggun. Punggungnya lurus dengan raut wajah menatap kaku ke depan, seakan menghunjam ke arah Heni.
" Andakah yang meminta bertemu? " tanya Heni dengan ragu. Wanita itu mengangguk, lagi-lagi dengan anggun seperti nyonya bangsawan. Dia mengatur sedemikian emosi yang hendak meledak melihat Heni, lalu menyodorkan sebuah botol kecil tanpa merk di depan wanita yang dicintai sang putra.
" Maaf apa ini nyonya? " tanya Heni. Sebenarnya wanita itu biasa dipanggil madam tapi tidak bagi Heni. Nyonya tidaklah buruk untuk didengar?
" Aku tahu dibalik alasanmu mundur dari rumah sakit. Minumlah ini, semua masalahmu akan tuntas, " ujarnya dengan mengkode botol berukuran beberapa mili itu dengan kerlingan matanya.
" Maaf saya tidak mengerti maksud ucapan anda. Dan lagi masalah saya cukup banyak tidak mungkin hanya dengan botol itu, " terang Heni. Wanita itu berdehem lalu melanjutkan maksudnya.
" Aku tahu, saat ini kau sedang mengandung benih cinta putraku, bukan? " tanyanya. Heni terkejut, betapa wanita ini sangat mengetahui dirinya melebihi orang terdekatnya. Mata wanita ini sangat banyak? pikir Heni.
haram yang ada dirahimmu. Karena aku tidak mau suatu saat kau mendatangi Tama dengan alasan ' meminta pertanggung jawaban darinya. Dia sudah bahagia dengan Mona, sadarlah dirimu, " terangnya lagi. Dia berkilah dengan menunjukkan wajah bangga bermenantukan Mona, padahal dia tahu jika Tama belum bisa melupakannya.
Heni berdiri terkejut bukan kepalang. Sungguh ide gila. Wanita di depannya ini memintanya untuk menggugurkan kandungan yang masih dalam hitungan trimester awal? Dimana hati nuraninya sebagai seorang ibu?
" Anda betul-betul wanita kejam, aku tidak akan melakukan apa yang anda pinta, " tolak Heni.
Wanita itu lalu mengeluarkan sebuah cek dari tas branded keluaran dari luar negeri. Dia menyodorkannya kepada Heni yang kesal.
" Tulis nominal yang kau mau, dan jangan menampakkan diri dihadapan anakku, " ujarnya. Heni tidak bergeming, matanya nanar ke arah cek itu. Sejak lahir dia sudah bergelimang harta dari orangtuanya. Cek itu tidak ada artinya.
Heni segera beranjak dari tempat itu. Airmatanya meleleh perlahan. Dia kecewa dan sakit hati. Keberadaannya yang tidak dihargai oleh ibu Ratih, dan madam Roxanne ingin dia melenyapkan janin yang lama diimpikannya? Betapa menyakitkan. Keanggunannya yang sempat menyihir ketakjuban Heni di pagi itu seketika redup karena kekejamannya.
__ADS_1
Heni mengusap airmatanya, dia muak dengan wanita itu. Dia menangis sembari terus mengumpat. Sakit sekali mendapatkan perlakuan tidak bermoral dari ibu Tama. Menggugurkan janin bukanlah ide yang tepat, justru itu akan menambah dosanya. Bukankah janin itu juga benih cinta dari putranya? dan dia juga bukan mata duitan. Cintanya tulus untuk Tama bukan untuk mengejar materi.
Saat tengah menyusuri trotoar dengan hati yang remuk redam, seseorang menarik tangn Heni. Dia meringis karena kesakitan. Ditolehnya orang yang melakukan hal itu.
" Kau?? " tanyanya. Lelaki yang masih menggenggam pergelangan tangannya itu menatap dengan mimik serius.
" Ikut aku, " ujarnya dengan terus menarik tangan Heni. Heni mengikutinya dengan sedikit berlari. Ada perasaan meletup dihatinya, bahagia. Energi positif dari rasa itu menjalar sampai menambal sakit dari permintaan madam Roxanne.
Lelaki itu membawanya ke dalam mobil. Setelah menutup pintu, dia segera masuk dan menyalakan mesin. Mobil segera melaju dengan kendaraan lainnya menuju ke suatu tempat.
Heni merasakan debar-debar didadanya. Rasa rindunya melebur saat dia mencuri pandang. Lelaki yang membawanya itu adalah Tama. Jambang tumbuh di area wajahnya yang nampak tirus. Dia kelihatan kurus dan tidak terurus. Padahal dia sudah bersama dengan Mona. Gadis yang sangat menjaga penampilannya selalu sempurna.
Didepan gedung bobrok, mobil berhenti. Tama menatap Heni tanpa berkedip. Lelaki itu masih berusaha menyadarkan dirinya jika wanita disampingnya itu adalah Heni. Heni salah tingkah, dia memalingkan muka keluar kaca mobil.
" Aku merindukanmu, " ujarnya parau.
Dia hampir terisak, hatinya terasa sakit melihat kekasih hatinya yang masih diam membisu dan mengabaikannya. Dia tidak tahu Heni sedang menahan tangisan yang ingin segera lolos tanpa ijin darinya. Dia menangis bahagia karena rindunya telah terobati. Ingin dia memeluk Tama, tapi saat teringat dengan Mona, dia buang keinginannya itu.
" Kau tidak merindukanku? " tanya Tama.
Tangannya menangkup wajah Heni agar memandangnya. Tak ada kata keluar hanya pandangan mata yang beradu memancarkan kerinduan yang sama memuncak karena situasi. Airmata Heni lolos tidak terbendung, dia memeluk Tama dan menangis karena rindu. Tama mengeratkan pelukannya menenangkan Heni. Ada bahagia dan sesak dihatinya.
Setelah puas menumpahkan airmatanya, Heni mendaratkan sebuah kecupan di pipi tirus Tama. Lalu dia keluar tanpa berbalik. Tama terus memanggil dan mengejarnya.
" Kau mau kemana? " tanyanya terengah-engah karena Heni terlalu cepat. Heni tersenyum, tapi tidak berkata apa-apa. Baginya sudah cukup, hubungan ini harus berakhir.
" Aku turut berbahagia kau sudah bertunangan dengan Mona. Akhiri saja semua hubungan semu ini. Lupakan aku, " pamit Heni. Tama menolak, dia berujar akan membatalkan pernikahannya.
Tapi Heni sudah tidak berharap, dia terus melangkah meninggalkan tempat itu dan Tama. Dokter itu terus menatap kepergiannya dengan sendu. Tubuhnya terasa mati rasa, untuk beberapa lamanya dia masih mematung. Sebuah ide buruk melintas dipikirannya. Dia masuk ke mobil, menyalakan mesin. Dengan kecepatan tinggi dia melaju ke jalan raya. Dan naas keinginannya tersampai, mobilnya ditabrakkan ke truk. Dia melakukan percobaan bunuh diri karena kecewa.
__ADS_1
Tuan Hendri prasetya sedang meeting, saat telepon selulernya berbunyi. Pria itu meminta maaf kepada peserta meeting untuk mengangkat panggilan terlebih dahulu.
" Iya, saya sendiri, " jawabnya. Semburat wajah terkejut tergambar diwajahnya. Lalu dia segera meninggalkan rapat menuju ke rumah sakit tempat Tama dirawat.