
Heni masih menatap foto digaleri ponselnya. Dia tersenyum melihat fotonya bersama anak panti yang dipotretnya saat diajaknya ke taman bermain. Anak-anak berpose dengan senyum lebarnya dan gaya yang lucu. Bimo masuk dengan berteriak-teriak membuatnya terkejut. Segera dia menyimpan ponselnya ditempat tersembunyi. Dia mendatangi suaminya yang berada diruang tamu. Aroma alkohol tercium di hidungnya saat mendekati Bimo. Dia terbatuk-batuk karena baunya sangat tajam menusuk hidungnya.
" Mas, kau mabuk?? " tanyanya. Bimo menepis pegangan tangan Heni di bahunya. Dia masih marah dengan Heni yang masih menutupi perselingkuhannya. Dia berdiri dengan limbung, sesekali tangannya memegang dinding agar tidak sampai jatuh. Pandangannya nanar.
" Mas jawab aku, " ujar Heni. Dia bingung harus berbuat apa selain bertanya meski tiada berguna karena pria didepannya sedang tidak sadar karena pengaruh alkohol yang berlebihan.
" Sudah lepaskan aku. Kau sudah tidak mencintaiku lagi, Hen? Kau mencintai dia???!! " teriaknya lagi sembari tangannya menunjuk ke udara mengisyaratkan seseorang yang jauh disana. Jelas dia mengisyaratkan Tama yang kini sudah hilang.
" Sudahlah mas, kau mabuk. Duduklah, aku mohon, " pinta Heni. Airmatanya mulai menetes melihat suaminya yang masih bersikeras menolak uluran tangannya. Pria itu duduk di lantai dengan terus mengomel.
" Kau tidak mencintaiku lagi, aku tahu itu. Tama kau berhasil merebut istriku, wanita yang aku cintai dengan segenap jiwa raga, " ujarnya lagi, kali ini dengan nada melemah. Dia menangkup wajahnya dan menangis di lantai. Heni masih berusaha membantunya agar berdiri berjalan ke tempat tidur. Tapi sia-sia, suaminya masih menepis dengan kasar tangannya hingga menimbulkan goresan kuku Bimo. Heni meringis.
" Sadarlah mas, kau sedang mabuk. Ayo kita ke kamar. Berbaringlah disana, " ujar Heni. Penolakan Bimo tidak mengurungkan usahanya untuk membantu suaminya.
" Aku sudah berusaha, Hen. Kenapa kau begitu tega mengkhianatiku? " tanya Bimo.
" Mas ayo kita ke kamar. Tidurlah disana, " ujar Heni. Bimo masih tidak peduli, dia malah membaringkan tubuhnya dilantai. Tak butuh waktu lama dia sudah tertidur. Heni masih berdiri memandanginya. Sisi lain hatinya terenyuh, dia merasa terhukum. Dia memukul-mukul pahanya.
Tiba-tiba seseorang yang sangat dibenci menegurnya, lantaran sang anak tidur dilantai tamu. Tangannya berkacak pinggang ke arah menantunya agar cepat membangunkan Bimo yang terlelap.
__ADS_1
" Kenapa Bimo tidur disini? Kau tahu dia baru sembuh? Lekas bangunkan dia!!! " ujarnya marah hampir berteriak. Heni menjelaskan jika Bimo sedang mabuk. Ibu Ratih berusaha membangunkan anaknya dengan menepuk-nepuk pundaknya. Bimo menggeliat tapi tidak kunjung membuka mata. Tepukan itu malah membuatnya semakin terlelap.
" Bimo bangun nak, jangan berbaring disini, " ujar ibu Ratih masih mencoba membangunkannya. Heni mundur, tatapannya beralih ke kalender yang terpasang didekat pintu kamar.
Oh akhir bulan pantas dia datang. Mau minta uang? Ya sudahlah, biarlah. Aku tidak akan meminta hakku seperti yang sudah-sudah. Lebih baik aku ke kamar, menetralkan suasana hatiku yang berubah.
Saat beberapa langkah menuju ke kamar, tiba-tiba Bimo muntah-muntah. Dia mengeluarkan seluruh isi perutnya. Ibu Ratih memanggil Heni untuk membersihkan muntah Bimo dilantai. Setelah muntah, ibu Ratih berusaha mengajak Bimo untuk berdiri. Dia berusaha sekuat tenaga, namun karena Bimo bertubuh gempal dia mengalami kesulitan.
" Cepat Hen tolong ibu membawa anak ini ke kamar, " ujar ibu Ratih. Heni mendatanginya dengan tergopoh-gopoh. Sapu dan timba berisi air untuk membersihkan muntah Bimo ditaruhnya sembarang. Mereka merangkul Bimo untuk mengajak tidur dikamar. Setelah Bimo berbaring dengan sempurna, Heni segera membersihkan lantai tamu. Tiba-tiba saja dia merasa mual, perutnya ikut teraduk. Dia ingin muntah. Heni segera berlari ke kamar mandi. Ibu Ratih menggelengkan kepala, mulutnya mulai menyembur marah,
" Malah ikut-ikutan muntah, gimana sih tuh anak. Kenapa gak pernah becus berbuat suatu hal? kenapa dulu dia jadi menantuku?? " sesalnya. Heni mendengar ucapan itu karena cukup keras. Dia terdiam, masih berdiri dibalik pintu, mualnya sudah hilang.
" Hen, cepat kesini. Lama sekali kamu? cepat bersihkan lagi, " teriaknya. Entah kenapa wanita itu jika berhubungan dengan rumah kotor selalu berteriak- teriak. Tidak bisakah berkata lembut??
Heni merasa heran, dia terus merasa ingin muntah. Perutnya juga terasa ditusuk-tusuk dibagian bawah pusar. Ada apa denganku? apakah aku masuk angin? pikirnya.
Heni berjalan menuju ke kamar. Diranjang nampak Bimo mendengkur, Heni berdiri menempel didinding. Pikirannya ikut kacau melihat suaminya seperti itu. Sedangkan ibu Ratih masih mengomel diruang tamu. Entah mengapa jika berada dirumah wanita itu selalu tidak bisa menampakkan ketenangan? yang ada hanya perasaan terluka untuk Heni.
Bau alkohol terasa memenuhi ruangan kamar, Heni merasa jengah. Perutnya pun hendak ingin mengeluarkan ketidaknyamanannya lagi? Heni berlari ke kamar mandi, ibu Ratih jadi enek melihatnya.
__ADS_1
" Kalau kau sakit, lekas periksakan dirimu. Jangan manja, aku tidak bisa mengurusmu. Kau tahu aku sibuk melayani Bimo. Juga cepat sembuh, siapa yang akan mencari uang untuk dapur jika kau ikut- ikutan sakit? merepotkan saja, " tegasnya diluar pintu kamar mandi. Wanita ini sebenarnya tahu, jika selama ini Henilah yang mencukupi keperluan belanja. Lantaran gaji sang anak selalu dimintanya. Tapi dia tidak pernah bersyukur selalu menunjukkan ketidaksukaannya terus kepada menantunya. Heni bangkit dengan susah payah, karena kepalanya juga terasa pening.
Heni berjalan dengan susah payah sampai ke kamar. Lalu dia meraih tas yang sudah berisi dompetnya serta mengambil ponsel. Dia akan memeriksakan diri. Meski sudah tidak bekerja, tabungannya masih cukup untuk beberapa bulan kedepan.
" Kau tahu sikap manja hanya akan membuatmu semakin tidak berguna, " gerutunya lagi melihat Heni berjalan tertatih-tatih. Didalam hati dia kecewa karena mertuanya tidak menunujukkan simpati sama sekali. Dia sentuh hatinya yang bergemuruh menahan kecewa yang sangat. Tanpa sadar dia sudah berada di pinggir jalan. Dia melambai kearah Sani anak tetangganya yang sedang berkumpul bersama dengan temannya. Sani pun datang,
" Ada apa kak? " tanyanya.
" Tolong antarkan aku ke klinik, " pintanya. Sani mengangguk, dia berbalik mengambil motor. Tak butuh waktu lama mereka sudah berboncengan menyisir jalan menuju ke klinik.
Diklinik Heni masih harus menunggu sekitar setengah jam. Dia meminta Sani untuk meninggalkannya. Tak lupa dia juga memberi beberapa lembar uang puluhan ke tangan Sani. Meski sempat menolak tapi diterimanya juga. Dia lega.
Tiba di nomor urutannya, Heni melangkah masuk keruangan pemeriksaan. Dokter segera melakukan pemeriksaan. Dokter itu tersenyum saat mengetahui apa yang terjadi kepada Heni. Dia meminta Heni duduk sembari beliau menjelaskan dan menulis resep untuk ditebus di apoteknya yang merangkap jadi satu. Tangannya terulur seperti orang mengajak bersalaman. Heni menyambut dengan sedikit bingung
" Selamat, kau hamil, " ujar sang dokter. Bagai disambar petir disiang hari bolong. Heni terkejut bukan kepalang. Dia merasa tidak yakin,
" Benarkah yang kau katakan itu dok? " tanya Heni meyakinkan dirinya. Tangannya gemetar hebat dan hatinya bercampur aduk antara senang, bingung, ketakutan menjadi satu.
" Ini vitamin dan obat penambah darah. Minum teratur ya, kau juga bisa membeli susu. Itu baik untuk janinmu, " jelas dokter sembari memberikan Heni secarik kertas resep.
__ADS_1
Heni menerimanya dengan gemetar. Hamil? Apa aku tidak salah dengar? Tama? pasti dia bapak anak ini, dimana dia? apakah aku harus mencarinya untuk meminta pertanggungjawabannya? tidak. Dia sedang bahagia disana, aku tidak boleh mengganggunya. Apakah ini cinta semalam saat itu? Heni terus menceracau dalam hati.
Heni melangkah ke apotek memberikan resep itu. Dia juga membeli test pack dan susu kehamilan. Semua untuk pertama kalinya setelah sekian lama