
Heni sudah bersiap, dia hendak pergi untuk bekerja. Saat melewati ruang tamu, suaminya masih tertidur pulas. Dia ragu untuk membangunkannya, dipandanginya wajah yang dulu membuatnya jatuh cinta karena pernah menyelamatkan nyawanya saat itu. Ya, dia pernah hampir tertabrak sebuah kereta api yang tengah melintas karena ' meleng. Dia tertekan saat itu. Kakak satu-satunya meninggalkannya karena suatu penyakit hebat dan kedua orangtuanya yang mengajaknya pindah dikota yang sangat jauh dari kota kelahirannya karena suatu hal. Dimana dia harus berusaha beradaptasi dengan keras. Karena dia sangat sulit membaur dengan teman-teman barunya. Dia merasa gagal, malu, sedih bercampur aduk menjadi satu. Ingin berbagi dia merasa tidak punya siapa-siapa. Hingga akhirnya pada suatu hari dia keluar dari rumah dan terus berjalan tanpa menyadari telah berada di tengah-tengah rel kereta api. Dia terus berjalan dengan pikiran yang kacau, di ujung rel ada kereta yang hendak melintas. Semua orang berteriak menyadarkannya tapi nihil hingga seorang lelaki yang tak lain adalah Bimo menarik lengannya agar keluar dari rel dan terjatuh disisinya
Sejak saat itu benih-benih cinta mulai tumbuh diantara keduanya. Mereka juga sering bertemu karena tempat sekolah dan bengkel, tempat bekerja Bimo juga berdekatan. Akhirnya mereka sepakat menjalin kasih. Terkadang Bimo mengantarnya pulang dengan meminjam motor kawannya saat sopir kekasihnya itu tak menjemputnya. Heni tersenyum mengingat itu semua.
Dia urungkan niatnya untuk membangunkan suaminya. Namun saat kakinya melangkah hendak keluar tangannya dipegang oleh Bimo. Heni terkejut, dia menoleh menatap suaminya yang sudah duduk.
" Darimana semalam? " tanyanya parau. Heni duduk disebelahnya tanpa menatap suaminya.
" Mengambil motor, " jawabnya. Ups, dia lupa kali belum mengambilnya. Segera dia meralatnya dengan lupa. Bimo menatapnya heran, apa maksudnya? Kemana saja dari sore sampai malam?
Heni segera menceritakan kemana dia pergi semalam. Dia datang ke acara ulang tahun seorang temannya. Tapi tidak mengatakan bahwa itu adalah Tama. Dan acaranya berlangsung sangat meriah karena diadakan di sebuah hotel berbintang. Bimo mengangguk membuatnya tersenyum lega. Hilang sudah kerisauan dihatinya. Dia masih berusaha menutupi yang sebenarnya karena berniat untuk meninggalkan selingkuhannya yang kini mulai terobsesi padanya.
" Maafkan aku, Hen, " ujarnya parau. Heni terkesiap, dia tidak mengerti dengan ucapan suaminya.
" Aku belum bisa menunaikan kewajiban ku kepadamu, " tambahnya lirih. Heni masih mendengarkan dengan seksama.
" Tapi aku berjanji padamu, aku akan mengubah kelakuanku yang buruk. Aku janji Hen, " ujarnya lagi. Dia juga menambahkan akan mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih besar agar bisa diberikan kepadanya. Dia merasa malu karena selama ini hidup dengan biaya dari sang mertua dan istrinya.
" Iya mas. Tidak apa-apa. Mas mau cari pekerjaan apa? " tanyanya karena dia tahu suaminya hanya lulusan sekolah menengah pertama dan keahliannya mengutak-atik mesin. Bimo menggeleng, lalu bangkit menuju ke kamar mandi. Heni masih duduk setia menunggu karena suaminya yang akan mengantarkannya sampai ke tempat kerjanya.
Beberapa menit kemudian, Bimo sudah siap. Dia keluarkan motornya lalu menyuruh istrinya untuk segera bergegas naik. Dia mengantar sembari melihat-lihat kalau ada lowongan pekerjaan di toko pinggir jalan.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat Heni bekerja. Bimo menuntun sepedanya menuju tempat parkir. Dia terkejut tatkala dilihatnya motor sang istri juga berada ditempat yang sama. Motor itu terlihat sangat kotor. Tapi dia mengurungkan niatnya untuk mendekatinya karena Heni memanggilnya.
" Mas, ayo kita sarapan dulu. Kau mau apa? " tanyanya. Bimo meminta kopi pahit saja. Mereka beriringan menuju ke kantin. Ibu kantin dan suaminya menatapnya dengan tatapan heran. Lalu menanyakan siapa lelaki yang dibawa oleh Heni. Karena hampir tidak pernah dia mbawa lelaki itu ke tempat mereka. Yang mereka tahu hanya Tama Prasetya.
__ADS_1
" Suamiku mbak, " ujarnya. Berdua mereka menyiapkan apa yang diminta oleh Heni dan suaminya. Kemudian menyajikan di meja mereka. Sebuah panggilan membuat Heni terkejut. Mati aku, batinnya. Tama memanggilnya dan mendekati mereka berdua. Nafsu makan Heni langsung menghilang. Kenapa dia selalu muncul di saat yang tidak tepat?? pikirnya.
Bimo juga terkejut karena lelaki yang baru berkenalan dengan mereka sudah kelihatan sangat akrab dengan sang istri. Apalagi mereka juga bekerja ditempat yang sama. Kecurigaannya mulai muncul meski ditutupinya dengan sebuah senyuman.
" Mas juga disini? " tanyanya. Bimo mengiyakan dan menjelaskan bahwa dia hendak mencari pekerjaan. Heni menyenggol sikutnya untuk tidak berbicara banyak kepadanya. Lalu Tama menawarkannya untuk bekerja ditempatnya tapi diluar kota.
" Bekerja sebagai apa? " tanyanya. Tama menjelaskan bahwa pekerjaan itu ada hubungannya dengan banyak anjing. Tugasnya memandikan dan memberi makan anjing-anjing itu. Ditempat itu juga ada temannya yang berjumlah tiga orang. Tempat itu adalah sebuah klinik hewan kepunyaan kakak Tama yang bekerja sebagai dokter hewan. Hewan yang sakit harus menginap untuk beberapa hari sampai sembuh total. Dan diharuskan menginap karena berada diluar kota. Dalam sebulan libur dua kali.
Bimo menatap istrinya meminta persetujuan, namun Heni menolak. Dia terus menggeleng. Tapi Tama berusaha membujuknya dengan iming-iming gaji yang besar.
" Tama, pekerjaan lain saja jangan diluar kota, " pinta Heni. Dia takut lelaki itu akan lebih menggila jika suaminya pergi.
" Jadi OB mau? " tanyanya. Bimo masih menyimak agar Tama menjelaskan lebih detail.
" Ditempat ini, " tawarnya. Heni menolak, dia takut suaminya mengetahui tentang perselingkuhannya. Memang ditempat itu sedang membutuhkan banyak karyawan untuk ditempatkan sebagai ob. Namun Heni tidak memberitahukan suaminya.
" Di perusahaan temanku saja jadi OB, gimana mau? " tanyanya. Lalu dia menjelaskan tempatnya tidak jauh dari rumah sakit ini berada. Dia akan mengantarkan sekaligus mengenalkannya kepada temannya itu. Mereka sepakat. Heni lalu pamit kepada suaminya untuk masuk ke rumah sakit menuju tempatnya bekerja karena waktunya juga sudah mepet. Bimo mengiyakan, berdua mereka masuk. Meski tidak bergandengan tangan tapi dia merasa sesak melihat kedekatan mereka. Dia pun pergi dari tempat itu karena Tama berjanji mengantarkannya masih beberapa jam lagi. Di parkiran dia mendengar tiga orang berbicara, meski dengan berbisik tapi Bimo mendengarnya. Salah satu dari wanita itu sempat menyebut istrinya. Saat dia hendak menanyakan lebih lanjut mereka sudah beriringan masuk ke tempat itu. Akhirnya Bimo menuntun motornya untuk pulang sembari menunggu panggilan dari Tama.
Didalam rumah sakit, Heni mencecar Tama dengan banyak pertanyaan salah satunya mengapa menawari suaminya bekerja? Dia tahu Tama sangat membencinya, dia takut Tama akan berbuat aneh misalnya dengan mencelakai nya?
" Buang pikiran burukmu tentangku. Kau harusnya berterima kasih karena aku membantunya, " ujarnya. Heni masih tidak mempercayainya. Setelah dari dekat dengan tempatnya yang penuh dengan obat, dia segera masuk namun Tama menghentikan langkahnya dengan menarik tangannya.
" Ada apa lagi? Aku mau kerja, " ujarnya. Tama mendaratkan sebuah ciuman dipipi kekasih gelapnya itu. Heni langsung menarik dirinya masuk karena malu. Tama hanya tersenyum simpul.
"Pak Tama pasien kemarin sudah siap operasi dalam beberapa menit lagi, " ujar salah seorang perawat. Tama mengiyakan lalu bergegas menuju ruangan operasi.
__ADS_1
" Kau sangat beruntung dicintai dua lelaki, sementara aku? Lihatlah tidak satupun yang mendekatiku? " ujar Siwi. Heni hanya tersenyum getir. Jauh dalam lubuk hatinya terdalam dia merasa sakit karena mengkhianati suaminya. Dia juga sudah berusaha memutuskan hubungan dengan Tama, namun lelaki itu masih bersikukuh ingin terus dengannya. Beruntung memang kelihatan dari luar saja.
" Suatu saat pasti akan ada seorang pangeran berkuda mendatangimu, " ujar Heni menguatkan temannya itu. Dia tertawa lepas. Jaman sekarang tidak ada yang namanya pangeran berkuda adanya pangeran bermobil.
" Sudah ayo kerja, " ajak Heni. Dia senang temannya itu sudah tertawa. Bukannya tidak ada yang mau mendekat tapi karena dia memiliki standart yang cukup tinggi mengenai kriteria lelaki yang harus menjadi kekasihnya.
.....
Bimo melajukan motornya ditempat yang telah disepakatinya dengan Tama. Dimana dia akan diantar ke tempat temannya yang sedang membutuhkan karyawan sebagai OB. Sesampainya disana Tama segera mengajaknya untuk berangkat bersama dengan naik mobil. Bimo mengiyakan, motornya dia titipkan di restoran cepat saji itu.
" Apa kau sudah mengenal lama istriku? " tanya Bimo memecah kesunyian didalam mobil Tama yang masih melaju dengan kecepatan rata-rata. Tama tersenyum.
" Iya, dulu dia adalah kakak kelasku, " jawabnya. Oooh..... Pikir Bimo. Dia diam lagi tidak mau terus menanyakan soal itu. Sudah jelas berarti dia lebih mengenal sang istri daripada dirinya.
Di sebuah gedung bertingkat mobil Tama berhenti. Mereka memasuki gedung itu. Dia lobby seseorang melambaikan tangan ke arah mereka. Tama mendekat lalu merangkul dan berjalan ke arah Bimo yang masih berdiri mematung. Tama mengenalkan sosok lelaki itu. Lelaki itu adalah temannya sekaligus pemilik perusahaan itu. Bimo pun mengenalkan diri, dia malu karena hanya berpakaian seadanya. Namun lelaki itu terus bersikap ramah kepadanya. Selain sikapnya yang membuat Bimo nyaman juga dia bisa mulai bekerja besok. Bimo gembira, dia akan segera mengabarkan istrinya bahwa dia diterima bekerja.
Tama mengantarkannya lagi ke tempat menitipkan motor lalu bergegas kembali ke rumah sakit lagi. Dengan uang yang ada di sakunya, dia masuk ke sebuah toko membeli cemilan untuk merayakannya bersama Heni dirumah nanti. Dia akan bekerja dengan giat, dan akan mewujudkan cita-citanya, membeli sebuah rumah untuk keluarga kecilnya. Pasti Heni akan senang. Aku juga akan segera menafkahinya setiap bulan. Akan aku suruh berhenti saja bila saatnya tiba, gumamnya.
Dirumah sakit Tama mendatangi Heni yang sedang duduk di kursi antrian loket. Dia hendak beristirahat sebentar. Tama menjejeri dan merangkulnya.
" Tak bisakah kau bersikap biasa saat disini? " tegurnya.
" Suamimu sudah mulai bekerja besok. Dan aku meminta upah atas jasa ku, " ujarnya. Heni terbelalak. Dia tidak mengira pertolongannya meminta upah. Dia berdiri menatap lelaki itu tajam. Pasti upahnya itu aneh-aneh?
" Nanti malam kita makan bersama, kau harus mau, " ujarnya. Heni menggerutu lelaki ini lama kelamaan mulai mengaturnya sesuka hati. Dia menggeleng, dia berbalik meninggalkan Tama namun lelaki itu mencegahnya dengan berdiri dihadapannya.
__ADS_1
" Aku tidak peduli kau menolakku, yang pasti aku akan menyuruh seseorang datang ke rumahmu nanti malam untuk menjemputmu, " ujarnya sembari meninggalkannya.