
Heni menghentikan sebuah taksi, lalu segera masuk dan menyebut sebuah alamat yang langsung meluncur dari ucapannya. Saat tersadar, dia terkejut karena tempat yang disebutnya adalah rumah sakit. Dia menimbang-nimbang beberapa saat, tapi ya sudahlah. Meski masih beberapa jam lagi kerja, aku main dulu di rumah Dinara.
Didepan rumah sakit, taksi pun berhenti. Heni keluar setelah membayar ongkos. Dia berjalan beberapa meter ke sisi utara rumah sakit menuju sebuah kompleks perumahan elite. Dia menuju ke rumah temannya sembari menunggu jam kerja. Dinara adalah temannya saat masih sekolah dulu.
Beberapa menit kemudian, sampailah dia di sebuah rumah berpagar besi. Heni menelponnya untuk keluar. Setelah mendapat jawaban, dia menunggu dengan risau. Karena dia merasa seseorang tengah mengamatinya dari jauh. Dia menoleh kesana-kemari tapi tidak nampak orangnya. Mungkin hanya perasaanku saja, batinnya. Dinara keluar dengan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya ala iklan komersil di televisi. Heni menyambut dengan hal serupa. Dibukanya pagar lalu mengajaknya untuk masuk ke rumah dua lantainya.
" Ada apa? tumben mau mampir? tapi aku senang. Bagaimana kabar mu? " tanyanya.
" Baik, ya gini, " jawabnya singkat. Kemudian mereka pun asyik berbincang ngalor ngidul menghabiskan waktu. Dinara juga terus- terusan mengusap perutnya yang membuncit. Maklum dia tengah hamil tua. Kakinya juga nampak membengkak. Heni menjadi gemas tatkala tahu temannya itu sedang hamil. Karena dia hanya berkomunikasi via grup sekolah saja. Dan baru kali ini menginjakkan kakinya dirumah nya. Heni menatapnya setengah iri temannya itu. Dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa tapi sangat bahagia. Tidak nampak beban hidup yang dia tunjukkan di hadapannya. Wajahnya terus sumringah meski anak sulungnya yang baru berumur tiga setengah tahun sesekali datang dengan merengek manja minta diperhatikan.
" Sini ikut duduk di pangkuan tante, " ujar Heni. Namun anak Dinara hanya diam saja sembari terus menatapnya tajam. Heni tersenyum dibuatnya, tingkahnya masih sangat polos.
" Kau sudah punya anak berapa? " tanyanya. Tapi dia langsung menutup mulutnya dan mengucap maaf. Dinara lupa jika Heni tidak akan pernah punya anak, selain mengadopsi. Dia tahu dari seorang teman dekat Heni.
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud bertanya hal itu. Sungguh, " ujarnya. Heni mengangguk, dia paham. Tapi tidak dapat dipungkiri, hatinya terasa sangat perih mendengar pertanyaan itu. Bukan sekali, dua kali dia mendapat pertanyaan itu bahkan beribu kali dari orang lain. Dan hasilnya juga sama seperti menancapkan sebuah paku di hatinya.
" Aku pamit dulu ya, setengah jam lagi aku kerja, " pamit Heni. Hal itu membuat Dinara tidak enak hati. Pasti karena ucapannya tadi membuatnya tersinggung. Aduh kenapa sesal selalu datang diakhir? pikirnya.
" Maafkan aku, Hen. Kau tersinggung ya, aku benar- benar minta maaf, " ujarnya.
__ADS_1
" Tidak, aku tidak apa-apa. Lihatlah jam itu, " ujar Heni menunjuk jam dinding berhiaskan kaligrafi di dinding tamu Dinara. Dia pun paham lalu mengantarnya sampai keluar pagar.
" Aku janji suatu saat akan datang lagi, " ujar Heni. Dinara mengangguk paham.
Heni melangkahkan kaki keluar dari kompleks perumahan itu. Dia menuju ke rumah sakit untuk bekerja. Sebuah tangan menarik pergelangan tangannya membuatnya menoleh. Dia meringis kesakitan akibat tarikan orang tersebut. Dia melotot tajam kepada lelaki yang berdiri dibelakangnya itu.
" Bisakah kau bersikap lembut padaku? " tanya Heni ketus. Lelaki itu bergelayut manja kepada Heni. Meski terus ditampiknya karena marah, tapi dia tidak peduli.
" Darimana kau? " tanyanya.
" Ke rumah temanku, " jawab Heni singkat.
" Aku kerja, lain waktu saja, " tolak Heni. Dia tidak suka lelaki itu selalu seenaknya sendiri. Mengajaknya keluar saat jam kerja? meski tempatnya bekerja milik keluarganya dan menjalin hubungan istimewa bukan berarti harus bersikap seenaknya saja.
" Ayo lah sayangku, aku akan memintakan ijin kalau kau sakit hari ini, " tawarnya. Heni tetap menolak. Dia melepas pegangan tangan lelaki yang tidak lain adalah tama. Dia heran, kenapa lelaki yang kemarin sudah berkencan dengannya mengajaknya kencan lagi? seperti tidak ada bosannya?
" Ayo lah sayang, aku rindu sekali denganmu, " rayunya. Dan seperti yang sudah-sudah Heni akan menurut, tapi kali ini tidak. Dia akan bekerja. Dia malu sering bolos hanya karena menuruti anak pemilik rumah sakit. Meski yang lain paham, belum tentu dengan lainnya? Tatapan para karyawan yang seolah iri dan mencemoohnya, seakan terasa dari waktu ke waktu karena dia mendapat perlakuan ' istimewa dari Tama. Heni tidak pernah mendapat teguran sama sekali Meski seminggu hanya masuk dua hari saja dengan embel-embel ijin ' berkencan dengan Tama?
Heni meneruskan langkah menuju ke tempat obat, dia lalu masuk. Sementara Tama terus berada dibelakangnya. Lelaki ini seperti sudah sangat bucin kepadanya. Dia heran sendiri, Tama masih ' orisinil kenapa tidak mencari yang juga sama dengannya. Bukan dengan dirinya yang bersuami? dan pertanyaan itu hanya berputar-putar saja di pikirannya tanpa mendapat jawaban.
__ADS_1
Heni sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Tidak diperlukannya keberadaan Tama yang masih setia menunggunya. Seorang dokter menemuinya dan meminta racikan obat darinya. Dokter itu menyapa Tama dan terlibat percakapan basa-basi sampai obat yang dimintanya jadi. Setelah dokter itu pergi, Heni berkacak pinggang ke arah Tama.
" Bisakah kau pergi dari sini? Aku malu, " ujarnya. Tama mendekatinya,
" Kenapa harus malu? semua orang juga sudah tahu sayang, " ujarnya dengan senyum genitnya.
" Aku akan pergi dengan sebuah syarat, " ujar Tama membuat Heni gigit jari. Pasti syaratnya aneh, orang ini mulai membuatku sakit kepala karena tingkahnya, gerutu Heni. Heni mengisyaratkan mata seolah bertanya apa syaratnya?
" Beri aku ciuman, " ujarnya dengan kedipan mata nakal. Heni pun pasrah, dia mengira pasti mencium kening saja? apa susahnya. Heni memejamkan mata. Terdengar pintu ditutup oleh Tama membuatnya terkejut. Tak urung dia membuka mata hendak bertanya kenapa menutup pintu ruangannya? tetapi sebelum kata- kata itu meluncur Tama sudah mendaratkan ciumannya ke bibir Heni. Sementara tangan Tama melingkar di pinggangnya menariknya mendekat sampai menempel ke tubuh lelaki itu. Tama ******* dan menggigit bibir berwarna nude kekasihnya. Heni menarik tubuhnya agar tidak menempel tapi sia-sia. Semakin dia berontak semakin liar saja ciuman dari Tama.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar. Tama melepas ciumannya dan keluarlah rentetan gerutu seperti orang yang kalah tawar-menawar di pasar. Heni bernapas lega, akhirnya dia bisa terlepas dari Tama meski sempat menikmatinya dalam kesempitan????
" Apa yang kau lakukan disini, Tama? " tanya seorang wanita dari balik pintu.
" Tidak apa-apa mami, " jawabnya membuat Heni terkejut sekaligus malu. Wanita itu adalah madam Roxanne adriani, orang yang telah melahirkan selingkuhannya. Wanita itu masuk menatap Heni dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya seolah menyelidiki dirinya sepersekian detik.
" Namamu Heni, bukan? " tanyanya. Tama menjawab iya dan berusaha mencegah agar ibunya tidak terlalu banyak bertanya terhadap Heni.Dia merangkul mengajaknya untuk segera keluar dari ruangan yang penuh dengan obat itu. Tetapi madam Roxanne menolak,
" Kenapa kau terus berhubungan dengan putraku? urus suamimu dirumah. Atau keluar saja dari tempat ini, " ujarnya tegas.
__ADS_1