Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
Tidur dengan malu


__ADS_3

Setelah kepergian Tama, hatinya berdebar-debar. Heni berusaha menepis rasa yang menyergap dan menghakiminya. Rasa rindu, cinta sekaligus rasa bersalah merusak ikatan pernikahannya sendiri. Dia galau lagi?


Bercerai? memang seharusnya, tapi kenapa mas Bimo tak pernah menalakku? lebih baik saling mencari kebahagiaan masing-masing saja. Dia juga sudah berubah saat aku kembali kepadanya, pikirnya.


Terdengar seseorang masuk, Heni mengira itu adalah sang ibu. Tapi ternyata....


" Mamamu pulang karena repot jadi aku yang akan menemanimu disini. Kemungkinan papamu nanti sore baru kesini, atau juga tidak. Tapi jangan khawatir karena aku sudah menyanggupi untuk menemanimu, " terangnya.


Heni menatapnya sekilas, lalu melengos. Dia tidak tahu harus menjawab ya atau jangan. Dia merasa malu. Menunjukkan dia berbaring dan meminta belas kasihan bukanlah dirinya. Tama juga diam setelah mengucapkan kata itu. Dia menunduk bermain ponsel, meski sesekali mencuri pandang ke arah Heni.


Kenapa dia harus menemaniku? Aku malu. Oh Tuhan cepat sembuhkan aku, aku ingin pergi jauh dari lelaki ini. Apa dia sudah gila? istrinya masih disini juga? Atau dia ingin selingkuh denganku seperti yang pernah aku lakukan? pikiran Heni berkecamuk.


Tama meletakkan ponselnya lalu berjalan mendekatinya. Tangannya mengusap puncak kepala Heni. Tatapannya terus ke arah Heni yang tidak meresponnya. Mona masuk, dia tahu apa yang dilakukan oleh Tama. Gadis itu nampak biasa saja, dia malah asyik duduk melihat pemandangan setengah mesra yang tercipta diruangan itu.


" Ehm.., "


Tama menoleh, dia tersenyum lalu melakukannya lagi. Lelaki itu juga menganggap biasa saja kehadiran Mona. Heni sedikit malu dan tegang, ditepisnya kasar tangan Tama.


" Ada istrimu, " ujarnya. Tama dan Mona saling berpandangan lalu tertawa.


" Istri? siapa? yang mana? " tanyanya. Mona mendekati mereka. Heni semakin tegang menyadari Mona yang mendekati mereka.


Oh Tuhan, kok jadi nimbrung disini? aku ingin istirahat sendiri. Cepat pergilah dari sini semua!!


" Istrimu Mona, bukan? " tanya Heni. Netranya menatap ke arah Mona yang masih tertawa renyah disamping Tama.

__ADS_1


" Bukan, " jawabnya singkat.


Jawaban apa itu? pasti bohong.


" Kami tidak menikah, tapi kami berteman baik. Benarkan Mona? " tanya Tama. Mona mengiyakan.


" Kau salah sangka Hen, " ujar Mona membenarkan ucapan Tama. Gadis itu memang pernah mencintai Tama tapi setelah dia menjadi saksi hidup kecelakaan yang hampir merenggut nyawa mereka, dia mundur. Meski dia harus beradu argumen dengan orang tua Tama.


Ponsel Mona berbunyi, dia pun menjauh dari Tama dan Heni. Lalu asyik berbicara dengan benda pipih itu ditempat duduk. Tama masih menatap Heni, tatapan yang sulit diartikan. Lelaki itu masih sama.


" Jangan menatapku seperti itu. Pergilah dari sini, kumohon, " pinta Heni.


" Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku mencintaimu Heni, "


" Kau tidak ada pasien pak dokter? " tanya Heni dengan maksud mengusirnya.


" Ada, " jawabnya.


" Terus kau tidak segera menangani dan merawatnya? kenapa disini? " tanyanya kesal.


" Kau pasienku, dan sekarang aku sedang merawatmu. Kau paham, " terangnya tegas.


Heni menutup mulutnya lagi. Sia-sia berbicara dengannya. Tama akan terus menjawab dan membuatnya kalah telak. Akhirnya Heni menyerah, dia mencoba memejamkan mata dengan hati yang masih ingin melompat saja karena bahagia. Ternyata sosok Tama masih menari-nari disudut hatinya. Oh Tuhan???


Tak lama kemudian Heni pun tertidur. Tama berjalan mendekatinya lagi, menatapnya dalam. Pikirannya mulai mengingatkan lagi saat dia terbaring dirumah sakit akibat kekonyolan yang dibuatnya lagi. Dia menggoreskan cutter dipergelangan tangannya dan mengancaam sang ibu, menolak pernikahannya dengan Mona. Madam Roxanne terus menitikkan airmata dan memohon kepadanya agar menghentikan apa yang tengah dilakukannya.

__ADS_1


" Sudah hentikan sayang, " ujarnya histeris.


Tapi Tama telah terlanjur menggoreskannya dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Kedua orang tuanya mendekatinya ingin meraih benda itu. Tama yang setengah tak berdaya pun lemas. Dia bersikeras menolak sang ibu untuk menjauh karena harus menuruti kemauannya. Dalam hitungan menit dia pun tak sadarkan diri dan langsung dibawa ke rumah sakit untuk menghentikan pendarahan di pergelangan tangannya.


Setelah sadar dan berhasil diselamatkan, sang ibu pun membatalkan pernikahannya dengan Mona dan menyerahkan jodoh ditangannya sendiri. Wanita itu tak mau Tama benar-benar meninggalkannya untuk selama-lamanya. Mona hanya mengangguk saja saat membatalkan pernikahan yang akan segera digelar pekan depan. Karena Mona tahu Tama tak pernah sedikit pun membuka hatinya untuk dirinya. Memang dia sempat patah hati tapi dia berusaha melupakan Tama.


Menjadi teman baik sudah cukup bagi Mona. Jika harus nyawa melayang karena keegoisannya? untuk apa. Dia juga pasti tidak bahagia jika harus menikah karena paksaan. Tama juga tetap berusaha bersikap baik kepadanya sampai saat ini.


.......


Tuan Alwan menghubungi seorang pengacara agar membantu perceraian sang anak cepat selesai meski tanpa kehadirannya. Dia sangat ingin masalah ini segera tuntas. Seorang pria dengan gelar pengacara mendatanginya. Mereka terlibat pembicaraan serius dengan minum kopi disebuah kafe.


" Tolong bantu saya, " pinta tuan Alwan. Pengacara itu manggut-manggut mengerti. Dia pun pamit selesai membahas yang berkaitan dengan hal itu.


Tuan alwan mencurigai Bimo sebagai dalang dari hilangnya Heni beberapa hari yang lalu. Tapi istrinya berusaha jangan menuduh sembarangan jika tidak ada bukti. Heni juga tetap tidak mau mengatakan siapa orang yang telah menculik dan menyekapnya. Dia masih bungkam. Baginya dia sudah kembali itu lebih baik, tidak usah mempermasalahkan hal lainnya.


" Siapa yang menculik, menyekap dan menganiayamu Heni? kenapa kau masih menutupinya? " guman tuan Alwan seorang diri.


Sore itu dia masih dalam perjalanan pulang. Diambilnya ponsel untuk menelepon sang istri menanyakan keberadaanya. Dia terkejut karena Heni ditinggal bersama dengan tama. Tapi dia juga menyadari Tania juga membutuhkan sang nenek dirumah, tidak mungkin mengandalkan baby sitter saja.


Mobil yang mengantarkannya ke rumah sakit pun tiba. Tuan Alwan segera turun dan menuju ke ruangan sang anak. Saat kakinya melangkah hendak masuk dia mencoba mengintip di jendela kaca. Nampak Heni tengah disuapi oleh Tama, lelaki yang baru dikenalnya itu. Tuan Alwan tertegun, mereka seperti sudah lama saling kenal. Sesekali Tama melemparkan lelucon dan Heni tersenyum sembari terus mengunyah makan malamnya.


" Ada apa ini? aku seperti tengah memergoki anakku berpacaran dengannya saja? atau mungkin memang mereka sedang berpacaran? " lirihnya lalu masuk ke ruangan Heni.


" Ehm..." tuan Alwan berdehem agar mereka tahu kedatangannya. Heni menoleh dengan malu. Dia segera meminta Tama untuk menjauh. Tapi Tama tak peduli, lelaki itu tetap duduk dengan piring ditangannya sementara sendok ditangan satunya. Menampakkan kesibukan dihadapan pria paruh baya itu.

__ADS_1


__ADS_2