
Esoknya, Heni bangun awal. Dia segera mandi berganti pakaian dan berusaha mencari pekerjaan. Sebenarnya dia tidak perlu bersusah payah. Tinggal menghubungi papanya dan meminta posisi di perusahaan miliknya. Namun dia menolak karena menghargai suaminya yang tidak mau bergantung dengan orangtuanya. Bimo terus menekankan agar mandiri. Tapi Bimo sendiri lupa, jika dia melupakan kewajibannya sebagai suami.
" mas, aku mau cari kerja. Doakan semoga dapat, ya. " pamit Heni kepada suaminya. Bimo mengernyit.
" Kenapa kau cari kerja? dirumah saja. Aku yang akan menafkahimu, " sahutnya. Heni ganti menatap heran suaminya. Apa dia lupa jika semalam semua gajinya sudah diberikan kepada ibunya? Heni mencoba menadahkan tangan meminta uang. Bimo merogoh saku celananya. Tidak ada uang sepeser pun, dia tersenyum kecut.
" Maaf sayang, aku akan meminjam uang kepada temanku untukmu. Kau tidak usah kerja ya, " pintanya membujuk sang istri. Ibu Ratih yang melihat mereka memberengut,
" Gimana sih Bim, biarkan saja dia kerja. Untuk apa kau biarkan dirumah? jadi orang itu harus berguna, " ujar ibu Ratih. Seperti biasa Bimo diam. Entah kenapa dia tidak berani membantah padahal jauh hari dia sudah bertekad ingin melindungi istrinya dari sang ibu. Bibirnya terasa kelu saat ingin mengucapkan bantahan.
Heni hanya bisa maklum maksimal, dia menarik tangannya. Dia sangat mengerti bakti Bimo sebagai anak jauh lebih tinggi dibanding kewajibannya untuk menafkahi. Heni melangkah keluar rumah, Bimo berlari mengejar. Dia tidak tega tapi tidak bisa berbuat banyak. Dia juga tahu istrinya memendam kekecewaan karena sikapnya. Suaminya begitu lembek terhadap ibunya dan acuh terhadap Heni, wanita yang menjadi tanggung jawabnya.
" Kau naik apa? naik motormu saja. Aku akan naik motor bututku, " bujuknya. Heni menoleh dan tersenyum, dia menggeleng. Suaminya lebih baik menggunakan motor itu karena kelengkapan suratnya. Ibu Ratih tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Wanita itu selalu ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Heni memalingkan muka saat mengetahui mertuanya datang.
" Bimo, biarkan dia naik angkutan. Kenapa sih kau mengkhawatirkan dia? urus dirimu, cepat segera berangkat nanti telat lho, " ujar ibu Ratih.
Wanita itu menampakkan wajah yang sangat khawatir. Dia tidak suka anaknya begitu memperhatikan istrinya. Heni menarik napas panjang, lagu lama, pikirnya. Dia melangkah pergi meski tanpa ijin dari Bimo. Ibu Ratih cemberut karena anaknya masih mematung memandang punggung istrinya sampai hilang dari balik tikungan.
" Bu, bisakah tidak mencampuri urusanku dengan Heni? " tanya Bimo.
__ADS_1
Dia sudah mulai jengah. Keberaniannya mulai nampak disorot kedua matanya. Ibu Ratih terkejut atas protes sang anak. Wanita itu berkacak pinggang kepada Bimo,
" Apa maksudmu? ibu melahirkanmu dengan susah payah lalu membesarkanmu juga tidak mudah. Sekarang kau berani membantah ibu??? " tanyanya hampir berteriak.
" Bukan begitu bu, maksudku lebih baik ibu diam jika aku sedang berbicara dengan Heni, " terang Bimo. Dia merasa dilema. Ingin membahagiakan istri tapi sang ibu selalu ingin diutamakan. Sementara sikap ibunya selalu berusaha menjatuhkan Heni.
" Kau tahu wanita itu harus bekerja, aku tidak mau kau terlalu lelah menafkahinya, " ujar ibu Ratih.
" Tapi aku tidak pernah menafkahinya cukup bu, ibu selalu meminta gaji dariku. Dia selalu mencukupi kebutuhannya sendiri selama ini, " ujar Bimo.
" Sudah cukup, Bimo. Kau mulai perhitungan dengan ibu? Ini uang darimu, ibu kembalikan. Kau memang anak durhaka, " ujar ibu Ratih sembari melempar amplop dari Bimo. Dia segera merapikan semua barangnya, memasukkan ke dalam tas, berniat pulang ke tempatnya. Saat melintasi Bimo, dia menangis tergugu. Wanita itu memasang wajah yang menyayat hati seperti sangat tersakiti. Dengan perbuatannya itu biasanya Bimo akan luluh lalu meminta maaf. Anak semata wayangnya itu akan menahan kepergiannya. Tapi harapannya lain, ternyata Bimo diam saja.
Dasar kau Heni, kau membuat anakku durhaka dan berani kepadaku, kesal ibu Ratih.
" Jangan datang lagi, " ujar Bimo. Dan perkataan itu bagai petir menyambar sekujur tubuhnya.
Sementara ditempat lain, Heni terus berjalan disepanjang area pertokoan. Dia mengamati di setiap dinding toko jikalau ada tulisan ' dicari atau ' dibutuhkan. Tulisan yang baginya seperti sebuah mantra penyelamat dirinya saat ini. Tidak dihiraukannya mualnya yang sempat datang melanda. Tiba-tiba dia melihat lelaki yang lama dirindukannya. Ya, dia adalah Tama Prasetya.
Lelaki itu bergandengan tangan dengan Mona, gadis cantik dengan rambutnya yang diikat ekor kuda. Mereka tengah masuk ke sebuah butik tidak jauh darinya berdiri. Heni segera mengendap-ngendap untuk melihat apa yang tengah mereka lakukan. Beruntung di butik itu ada sebuah jendela besar dari kaca yang tembus pandang, dia berdiri disisi kaca itu. Dia mengintip. Nampak Mona sibuk memilih sebuah gaun ' limited edition dengan harga fantastis, sementara Tama hanya duduk menunggu. Gadis cantik itu berulangkali menoleh ke arahnya, mungkin menanyakan kecocokan gaun dengan dirinya. Tama hanya menggeleng dan mengangguk saja.
__ADS_1
Aku merindukanmu Tama. Apa kau sudah melupakanku? Jika ya, semoga aku juga bisa melakukannya. Lalu apa kalian sudah menikah? kudoakan kalian bahagia sampai maut memisahkan.
Pandangannya tiba-tiba beradu pandang dengan Tama. Beberapa menit pandangan itu seperti menyampaikan kedua perasaan masing-masing yang terpisah oleh kaca. Lelaki itu masih menatap Heni dengan seksama. Begitu keyakinannya kuat, dia bangkit menuju ke tempat Heni berdiri mengintip. Heni yang ketahuan basah, segera mencari tempat untuk menyembunyikan diri. Dia tidak mau keberadaannya menjadi pemisah antara Tama dengan Mona. Walaupun dia sangat ingin bertemu melepas rindu. Setelah mencari cukup lama, akhirnya dia menemukan tempat persembunyian. Dia bersembunyi dibelakang pintu besar sebuah bekas toko yang terbengkalai. Bulu kuduknya yang sempat meremang ditempat itu sirna saat Tama didekatnya. Heni merapatkan tubuhnya ke dinding, napasnya pun juga sempat tertahan karena takut.
" Dimana dia? aishhh....kenapa dia pergi? aku tahu itu dia, Heni kau dimana? aku merindukanmu, " ujarnya. Tama membuang dengan kasar semua benda yang ditemuinya. Harapannya hanya satu bertemu dengan Heni. Namun sia-sia wanita pujaan hatinya itu tidak berhasil diketemukannya. Dengan gontai dia pergi mencari Heni ke tempat lain.
Heni berdesir mendengar ucapan Tama. Tapi dia meyakinkan diri, jika Mona lebih pantas untuk lelaki itu. Airmatanya jatuh menetes melepas rindu dan cintanya untuk lelaki itu. Mungkin ini adalah kali terakhir dia melihat wajah tampan itu. Terima kasih Tama, kau pernah singgah dihatiku. Semoga kau bahagia. Dia elus perutnya, doakan mama kuat nak. Mama berjanji akan terus berusaha untukmu. Mama menyayangimu.
Heni keluar dari tempat persembunyiannya. Dia melangkahkan kaki kembali meneruskan pencarian kerjanya yang tidak mudah. Panas terik matahari yang membakar tubuhnya tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berusaha, demi dia dan calon anaknya.
" Hen, " terdengar suara memanggilnya. Heni berhenti, tapi dia tidak menoleh sedikit pun sampai suara itu kembali terdengar. Itu adalah suara papanya, tuan Alwan. Heni berbalik. Nampak tuan Alwan berdiri tidak jauh darinya bersama mang dedi, sopirnya. Heni tersenyum dan mendekatinya. Raut bahagia dia perlihatkan diwajahnya. Sang papa pun tersenyum.
" Kau sedang apa? " tanyanya.
" Aku sedang menikmati jalan-jalan siang, " kilahnya. Tuan Alwan menggandeng putrinya dan mengajaknya ke suatu tempat. Mereka terus berjalan dan berhenti di depan restoran cepat saji.
" Papa sangat lapar dan butuh teman untuk menghabiskannya, " ujar tuan Alwan. Kali ini Heni tidak menolak. Dia juga rindu papanya. Pria yang sangat menyayanginya dan membencinya sekaligus karena telah memilih Bimo.
" Apa kau sakit? badanmu sangat kurus nak, " ujarnya. Heni menggeleng perlahan.
__ADS_1
" Sebentar biar papa pesan makanan dulu, " ujarnya. Pria itu memesan makanan yang cukup banyak. Dia harus dibantu dibawakan oleh pelayan di restoran itu.
" Banyak sekali pa? " tanya Heni. Biar kau gendutan, begitu jawaban dari tuan Alwan. Mereka lalu menyantap makanan bersama.