
Tama masuk karena pintu utama setengah terbuka. Dia mengira jika sang ibu kedatangan seorang tamu. Dia langkahkan kaki ringan menuju ke kamarnya di lantai dua, namun saat melewati ruang baca langkahnya tertahan. Dia mendengar suara Mona, gadis cantik berkaki jenjang yang pernah menjadi tunangannya.
" Bagaimana bayi itu Mona? tidak kurang suatu apa bukan? " tanyanya sang ibu.
" Tenanglah tante, dia bahkan sangat cantik dan wajahnya hampir mirip Tama, " bisiknya.
Tama yang mencoba mencuri dengar tak dapat suara yang jelas akhirnya memilih menuju ke kamarnya saja. Dia sangat lelah. Tapi dia puas bisa mampir ke rumah Heni demi melihat, memangku dan menggendong putri mungilnya.
" Tante, sudahlah terima Heni menjadi menantumu. Semua akan baik-baik saja, " jamin Mona. Gadis itu sebenarnya perih saat menyebut nama Heni, tapi mau bagaimana lagi lelaki yang dicintainya sangat menggilai sosok itu. Bahkan telah memiliki anak darinya.
Mona duduk disebelah madam Rosi panggilan wanita itu. Tangannya terus menggenggam erat seakan menit ini mereka akan berpisah. Mona mengangguk perlahan, mengisyaratkan wanita itu dia tak akan pernah berubah meski putranya memilih orang lain. Karena jujur Mona sudah menganggapnya sebagai ibu keduanya. Sementara ibunya jauh di luar pulau.
" Kau tidak apa-apa? " tanyanya lagi. Hanya gelengan saja. Dia sebenarnya sedang menahan panas dilehernya yang akan menjebol rongga itu. Lalu naik merambat ke sudut matanya untuk mengeluarkan kristal bening demi Tama. Dia tahan itu semua, dengan menjawab semua pertanyaan madam Rosi kepadanya. Kesedihan dan putus asanya yang melimpah di urat nadinya membuatnya hampir lunglai dan menangis tapi dia masih bertahan menutupinya dari sang mertua yang kini telah jadi mantan.
Perlahan gadis itu melepas genggaman wanita itu dan berdiri. Tatapannya dia lemparkan ke luar pintu baca yang masih terbuka. Dia sudah tak kuasa menahan tsunami airmatanya yang akan menjebol pertahanannya sebentar lagi. Dia mulai melangkahkan kaki tanpa mengucap kata.
" Tunggu, sebentar, " ujar madam Roxanne menahan langkah kaki jenjang Mona. Wanita itu mengambil sebuah kotak beledu berwarna biru tua didalam laci. Kemudian sedikit berlari dia berdiri didepan Mona yang wajahnya masih nampak tegar. Diletakkannya kotak itu ditangan Mona yang terbuka.
" Ambil dan pakailah ini. Aku sangat menyayangimu, " ujarnya tulus. Mona melihat kotak itu. Tangannya membuka penutup beledu untuk melihat isi didalamnya. Sebuah kalung berliontin diamond. Dia terharu betapa wanita ini sangat menyayanginya meski sang putra tak pernah bergetar sekalipun dengannya. Tanpa sadar pertahanannya jebol, dia menitikkan airmata. Rasa kecewa, tak dianggap Tama dan rindu yang membara pada sang ibu nun jauh disana mengalir deras. Dia memeluk madam Roxanne erat melepas kesedihannya. Wanita itu tak tinggal diam, diusapnya punggung gadis itu menenangkan dirinya yang terguncang untuk kesekian kali.
" Jangan pernah pergi dari hidupku Mona. Aku sangat menyayangimu, kau sudah kuanggap sebagai anak perempuanku, " ujarnya. Tangis Mona kian menjadi. Dia menangis terisak-isak sampai tubuhnya bergetar mengeluarkan segala keperihan dihatinya karena patah hati.
Mona menangis hampir setengah jam lebih, suara panggilan dari ponselnya yang ada ditas selempangnya menghentikan sesenggukannya. Dia melepas pelukan sang madam, lalu mengangkat sambungan telepon di ponsel canggihnya.
__ADS_1
" Iya,..." jawabnya serak. Dia usap kasar airmatanya disudut mata maupun dipipi. Riasannya mulai memudar.
" Saya akan kesana dalam setengah jam lagi, " ujarnya. Sambungan pun terputus. Mona memasukkannya beserta kotak beledu yang membuatnya terharu terbawa suasana ikut dimasukkannya ke dalam tas.
" Madam, saya harus pergi. Ada salah satu pasienku yang tengah menunggu, " pamitnya.
" Tak bisakah kau menolaknya? " tanya madam Roxanne kecewa. Rasa simpatinya yang besar sungguh telah mencuri hati wanita ini sejak lama. Hingga akhirnya dia ingin sekali bermenantukan dia. Hanya saja Tama tak pernah mau membuka matanya lebih lebar demi mengenalnya luar dalam. Disisi dia juga memiliki rupa yang cantik jelita.
" Dia pasienku madam. Dan sangat membutuhkan keberadaanku saat ini, "
Usai mengucapkan kata itu, dia langsung melesat pergi dari rumah menuju ke rumah sakit. Profesinya menyembuhkan dan merawat pasien adalah hal utama dalam hidupnya meski saat ini jiwanya tengah tertusuk cinta sebelah tangan. Dia selalu bersikap profesional dan harus perfect, menampilkan dirinya dokter yang tak pernah punya kesedihan.
Saat makan malam, Tama menghampiri kedua orang tuanya yang telah duduk di ruang makan. Tama sangat bahagia, dia ingin menyampaikan pada ayah tercinta bahwa dia telah memiliki seorang bayi yang cantik. Dia tak peduli ibunya yang mencegah untuk memberitahu sang ayah perihal berita itu.
" Ya, apa? beritahukanlah jika itu membuatmu bahagia, " ujarnya sembari terus memasukkan suapan makan malamnya.
" Ternyata aku sudah punya anak pi, " ujarnya riang. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan yang besar. Madam Roxanne menunggu tanggapan suaminya yang sempat terkejut dan menghentikan kunyahannya untuk beberapa detik. Dia cemas karena suasana tiba-tiba saja mencekam.
" Siapa namanya? dari kekasihmu yang mana? " selidik tuan Hendri. Dia melanjutkan lagi suapannya seolah berita itu tak memberinya pengaruh apa pun, baik marah atau bahagia.
" Namanya Tania, dia sangat cantik pi. Heni yang memberinya pi, " terang Tama. Alis tuan Hendri menaut, dia tak mengerti ucapan sang putra. Setahunya Tama telah lama tak bertemu dengan mantan karyawannya itu sejak memutuskan berhenti kerja. Atau mereka sering bertemu tanpa sepengetahuannya? entahlah.
" Heni memberimu anak? kau mengadopsi anaknya? " tanyanya. Ada sesal dibalik ucapannya. Betapa sang anak masih menyebut nama itu di pendengarannya.
__ADS_1
" Dia anak kandungku pi. Besok akan aku bawa kemari mereka berdua. Dan satu hal pi, aku ingin melamarnya, " ujar Tama masih dengan ekspresi yang sama. Madam Roxanne tersedak. Membawa ke rumah untuk mengenalkannya? wanita tak tahu malu itu?
.....
Keesokannya Tama bangun, mandi dan memilih pakaian santai tapi menarik. Sebuah kaos biru dipadu padankan celana jeans jadi andalannya. Dia juga memakai gel untuk rambut dan menyisirnya rapi. Semua bulu yang menghiasi wajahnya juga dibabatnya habis dengan pisau cukur. Senyumnya mengambang saat mematut diri dicerminnya. Sudah rupawan, gumamnya memuji diri sendiri. Sudah sangat lama dia tak memperhatikan penampilannya. Tapi kali ini lain, karena bisa disebut kencan plus liburan dengan keluarga kecilnya.
Dia keluar dari kamar menuju ke garasi. Dia masuk ke mobil hitamnya, menjemput Heni dengan alasan kencan bertiga. Tania rupanya tengah membuka mata lebar dan terus tersenyum saat Tama mengajaknya berbicara dan bercanda. Bayi itu seolah mengerti akan diajak menghabiskan akhir pekan bersamanya. Heni tak tahu jika Tama juga akan membawa mereka pulang untuk menemui kedua orang tuanya. Dia merasa aneh bercampur bahagia semobil dengan Heni dan putri mungilnya. Perasaan tenang dan damai melihat mereka berdua menyelimuti sanubarinya.
Beginikah rasanya berkeluarga? Aku ingin membahagiakan mereka selamanya.
Di sebuah taman mereka berhenti, Heni turun diikuti Tama disampingnya. Mereka menuju ke salah satu bangku yang kosong dibawah pohon rindang.
" Kau mau makan apa? akan aku belikan untukmu. Disana banyak sekali pedagang kaki lima, atau kau mau ikut? " tanya Tama. Heni melihat arah yang ditunjuk oleh Tama. Benar sekali banyak pedagang kaki lima yang menjual baik makanan maupun pernak-pernik. Heni menyebut makanan beserta minumannya. Tama mengingat pesanan darinya dengan baik dan melesat untuk membelikannya.
Heni menepuk-nepuk pantat bayinya yang mulai rewel. Dia juga mendekatkan botol susu ke mulutnya. Badannya juga bergoyang ke kanan dan ke kiri menenangkan si bayi. Tama berlari menghampiri dengan membawa sekeranjang banyak makanan untuk menemani mereka berbincang menghabiskan waktu. Tama terus menatap ke arah Heni, wanita yang selalu membuatnya candu itu. Dia semakin cantik saja meski telah melahirkan seorang bayi. Wanita yang sempat hilang jejaknya, tapi selalu menduduki tahta tertinggi dalam hatinya. Wanita yang selalu bersikap dingin tapi sebenarnya sangat manis di matanya. Ingin sekali saat ini direngkuhnya wanita itu ke dalam pelukannya untuk merasakan rasa cintanya yang masih besar dan terawat.
" Kau pasti capek, dini aku gantikan menggendong Tania. Eh tapi namanya kok seperti perpaduan nama kita ya? apa kau sengaja atau hanya kebetulan saja ya?? " tanya Tama mengingat. Heni mengulum senyum, dia mengedikkan bahu.
" Tak tahu, " ujarnya dengan terus tersenyum. Kau memang benar. Kenapa kau bisa sedetail itu ya? atau karena kau terbiasa dengan hal itu jadi kau berusaha menterjemahkan nama anakku? atau lebih tepatnya anak kita?
" Cocok gak namanya? " tanya Heni. Tama menghentikan kegiatannya menyanyikan lagu nina bobo untuk Tania yang kini berada dalam pangkuannya. Dia menatap Heni, sang kekasih yang duduk disampingnya. Sesaat sorot mata keduanya saling beradu. Heni berdesir, tangannya gemetar karena gugup. Dia malu. Akhirnya dia membuang muka ke arah lain untuk menutupi kegugupannya. Sungguh dia juga masih memiliki rasa itu. Rasa berpendar yang mendatangkan kebahagiaan.Rasa yang memantik berletupan laksana kembang api yang tengah dinyalakan. Rasa yang bermekaran menghadirkan kenyamanan yang tiada terkira. Oh inikah rasanya jatuh cinta untuk kedua kalinya? dia remas jemarinya menetralkan suasana hatinya yang seakan berperang tiada akhir. Tama melihat itu semua.
" Aku tahu kau masih mencintaiku bukan? "
__ADS_1