
Mereka telah sampai di rumah, Heni segera turun. Ibu Ratih sedang bermain ponsel diruang tamu. Sekilas matanya menatap tajam ke arah menantunya. Kenapa dia lagi? oh Tuhan aku membencinya,
" Dasar manja, sakit segitu doang langsung nyusu ke induknya, " gerutunya. Heni mendengar dengan jelas. Hatinya terasa sakit, sakit tak berdarah.
Dia menuju ke kamarnya, meletakkan tas dan duduk memandang halaman dari jendela. Tiba-tiba dia teringat suatu benda didalam tasnya. Benda yang membuat keyakinannya bertambah kuat. Dia ambil benda itu, disembunyikannya disaku. Lalu berjalan ke kamar mandi dengan membawa sebuah benda cekung.
Heni buang air kecil, sedikit urine nya ditampung dibenda cekung tadi. Selesai membersihkan diri, dia melakukan tes kehamilan mandiri dengan membalik alatnya. Jantungnya berdebar-debar kencang. Dia terus berdoa semoga ucapan sang dokter terbantahkan. Alat pun diangkat setelah beberapa menit, dia gemetar.
Bismillahir rohmanir rohim, ucapnya sembari membalikkan alat tadi dihadapannya. Dua garis merah terlihat jelas, Heni pasrah. Ya Tuhan jika memang kau menitipkan janin ini kepadaku, aku akan berusaha ikhlas. Ampuni kekhilafanku ya Tuhan, dan bantu aku menghadapi semua ini. Selesai berdoa, dia keluar dengan lesu.
" Kenapa? kau masih sakit?harusnya tidak usah pulang, kau mau membuat anakku khawatir begitu? manja amat?? " tanya ibu Ratih sembari menepuk bahunya. Heni terkejut bukan kepalang. Aku sudah sembuh, jawabnya lalu segera masuk ke dalam kamar. Dia kunci pintu, menatap lagi hasil tes tadi.
Iya aku hamil.
Heni menyimpan alat sederhana tadi dibawah kasur. Dia bangkit mencari makanan di dapur. Dan seperti biasa makanan untuknya sudah dipisah oleh mertuanya. Dia mendengus kesal, seperti anak tiri saja? Dia meraih piring dan mengambil makanan lalu segera makan dengan lahap. Mualnya hilang karena datang saat dini hari. Ibu Ratih mendatanginya dan menatap dengan nanar. Dia tidak suka menantunya berleha-leha dirumah saja. Sementara anak semata wayangnya mencari nafkah.
" Kau tidak kerja?? " tanyanya ketus. Heni menggeleng.
__ADS_1
" Kau tidak kasihan Bimo? Setelah menjemputmu dia langsung berangkat kerja untuk dirimu. Harusnya bantu dia, kok malah nyantai-nyantai?? " gerutunya. Lagi-lagi Heni mendengus.
Bimo bekerja untuk dirinya?? apa tidak salah pendengarannya? selama ini gajinya selalu diminta olehnya, apa wanita ini hilang ingatan? Sampai mengontrak harus meminta bantuan dari mamanya. Dan semua keperluan rumah Heni yang menyukupinya. Pengenku sumpal tu mulut, gerutunya dalam hati.
Dengan sabar Heni menjelaskan tentang dirinya yang sudah mengundurkan diri. Tapi dia berjanji akan segera mencari pekerjaan lagi. Mertuanya masih memberengut menatapnya. Bagi wanita itu bukan sekedar ucapan tapi juga harus dibuktikan dengan tindakan.
" Kau itu bodoh atau dungu sih? bukankah ditempatmu bekerja gajinya besar? kenapa kau keluar begitu saja, kau mau membunuh anakku perlahan-lahan dengan membanting tulang sendiri?! " umpat mertuanya. Heni meletakkan sendoknya, nafsu makannya mendadak hilang menguap begitu saja. Dia berdiri hendak membuang sisa makanannya.
" Ee..ee mau kau kemanakan makanan itu? habiskan jangan dibuang! susah payah aku masak tinggal makan doang dilepeh?? " tanya ibu Ratih. Tapi Heni tetap melakukannya. Lalu dia berjalan menuju ke kamar dan menguncinya. Sungguh wanita itu sangat menyebalkan. Apa mungkin aku menikah dengan Bimo untuk membunuhnya perlahan? ucapan macam apa itu?
Hari sudah sore, Heni terbangun. Dia melepas kedua earphonenya dan menyimpan ponselnya. Saat membuka pintu, suaminya sudah berdiri dihadapannya. Wajah Heni langsung pias. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya. Bimo langsung memegang wajah istrinya untup menatapnya. Sebuah kecupan mendarat dikeningnya.
" Aku mencintaimu Heni. Aku ingin menyelesaikan masalah kita. Apa yang sebenarnya tengah kau sembunyikan dariku? " tanya Bimo. Heni mundur, dia mulai gugup. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Langkahnya tertahan oleh ranjang, dia terduduk. Bimo duduk sembari terus menatap sang istri.
" Jawablah Heni, kalau kau berselingkuh dengan Tama, jujurlah padaku, " Bimo memelas meminta penjelasan dari istrinya yang masih diam seribu bahasa.
Jujur berselingkuh? Siapa yang bisa melakukannya? seribu satu orang didunia ini yang melakukannya.
__ADS_1
Heni masih membisu, Bimo bangkit. Dia mulai bersikap agresif. Diciumnya sang istri dengan kasar, Heni menahan dada bidang suaminya yang berusaha memeluknya. Dia ketakutan jika suaminya bertindak terlalu jauh. Sebab dirahimnya ada janin yang masih sangat rentan dengan hal itu.
" Jangan mas, " mohon Heni. Bimo tidak peduli, tubuhnya sudah berada diatas istrinya. Heni meronta-ronta, sebuah ide terlintas dipikirannya.
" Aku halangan, " ujarnya dengan terengah-engah. Bimo menghentikan aksinya, dia segera beranjak meninggalkannya. Semburat kecewa yang teramat dalam tergambar diwajahnya. Heni memberosot sampai ke lantai, dia tersedu-sedu. Maafkan aku mas, maaf. Aku tidak bisa, ucapnya berulangkali.
Sementara diruang tamu, ibu Ratih melihat anaknya yang cemberut. Wanita itu mengelus bahu sang putra kesayangannya. Dia tahu yang membuatnya seperti itu tidak lain pastilah Heni, menantunya yang mandul dan tidak tahu diri. Lihat saja besok, aku akan menegurmu Hen. Kau harus tahu jangan sembarangan dengan putraku. Karena aku membesarkannya dengan tidak mudah, umpatnya dalam hati.
" Ada apa? " tanyanya. Bimo menggeleng. Jika dia menjawab karena Heni pasti ibunya berkoar-koar panjang lebar. Hari sudah mulai malam, waktunya untuk beristirahat melepas penat tubuh dan pikiran. Bukan untuk berdebat kusir yang tidak ada gunanya.
" Ini uang yang ibu minta, " ujarnya. Bimo menyerahkan sebuah amplop coklat untuk sang ibu. Ibu Ratih langsung sumringah, dia peluk anaknya. Pikirannya langsung tertuju akan daftar kebutuhannya yang sudah dia tulis diselembar kertas.
" Terima kasih putraku, ibu sangat menyayangimu, " ujarnya. Dia langsung menyembunyikan amplop itu dari sang menantu yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
Dia tidak mengetahui jika Heni sudah hafal dan tidak pernah menanyakan tentang nafkah dari Bimo. Dia sudah bisa menyukupi kebutuhannya dengan caranya sendiri. Tapi wanita itu tidak pernah mau tahu perasaan sang menantu, baginya gaji dari Bimo untuk dirinya. Maka setiap menjelang akhir bulan dia selalu datang.
Heni bangkit dari duduknya, dia mengusap kasar sisa airmatanya dikedua pipi. Hatinya terluka telah menyakiti sang suami dengan penolakannya. Dia bergegas segera mandi tanpa mempedulikan pembicaraan suami dan mertuanya diruang tamu yang sempat terdengar olehnya. Meski kecewa dengan sikap Bimo tapi dia berusaha terus tegar dan melapangkan hati. Gaji itu tidak seberapa. Kau masih bisa mencari uang sendiri Heni. Untuk apa menadahkan tangan jika suamimu saja tidak berperasaan? Kau harus bangkit. Lupakan Tama dan kebencianmu terhadap mertuamu. Kau tidak boleh menyerah begitu saja dengan keadaan, demi calon anakmu, pikirnya. Energi positifnya memenuhi seluruh raganya. Esok dia akan mencari kerja
__ADS_1