
" Saya Terima nikah dan kawinnya Heni Susmita Salam binti bapak Alwan Salam dengan mas kawin tersebut dibayar tunai, " ucap Tama lantang dan dalam satu helaan napas.
Riuh para saksi berkata sah, suasana haru dan gembira menguar diruangan ini. Ruangan tamu yang telah disulap sedemikian rupa dengan banyak bunga cantik guna menjadi tempat akad berlangsung. Heni mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia menoleh ke arah Tama disampingnya yang kini telah resmi menjadi suaminya. Tama tersenyum bahagia, dia mencium keningnya.
Selesai akad dan menandatangani surat dan lainnya penghulu pamit undur diri karena sibuk. Sementara lainnya ditahan oleh nyonya Alwan agar mau menyantap hidangan yang telah disiapkan. Mereka pun makan dengan sesekali berbicara satu dengan lainnya.
Heni beranjak menuju ke kamar, ingin melepas semua yang dikenakannya. Tama mengikutinya dari belakang tanpa sepengetahuan dirinya. Saat pintu tertutup, dia terkejut dan menoleh. Tama sudah berdiri dengan senyum mengembang.
" Aku tak tahu kau mengikutiku, sayang, " ujar Heni dengan manja. Tama tercekat, tenggorokannya seakan berat. Dia sangat senang mendengar Heni menyebutnya sayang. Itu berarti jika dia menghargainya sebagai suaminya.
" Aku juga ingin ganti, " ujarnya. Dia memeluk Heni. Lalu menatapnya, wanita yang selalu jadi obsesinya dan kini telah jadi miliknya utuh. Dia menunduk dan menghujani Heni ciuman di wajahnya.
" Sudah Yang, jangan childish seperti ini, " ujar Heni dan berusaha menepis tangan suaminya yang ingin menjelajah area lainnya.
" Aku memang childish, tapi sama kamu aja Yang, " ujar Tama masih ingin gelendotan di lengan Heni. Heni menatapnya pasrah dan mengajaknya duduk di tepi ranjang. Mereka saling berpandangan, menyelami hati masing-masing selepas acara sakral yang semakin menautkan mereka hingga maut memisahkan.
" Kau bahagia? " tanya Heni.
" Bahagia sayang, sangat. Apa kau tak bahagia? " tanya Tama menelisik wajah cantik istrinya. Setetes buliran bening menetes di sudut matanya. Tama segera menghapus buliran bening itu dengan jemarinya.
" Aku bahagia, sampai aku ingin menangis diruangan tadi, " ujar Heni dengan suara bergetar.
Dia bersyukur lelaki ini sangat mencintai dirinya yang tak sempurna, meski kadang bersikap kekanak-kanakan. Tapi kini dia bisa merasakan hal yang sama dengannya. Rasa cinta yang tengah berpendar menghangatkan hatinya. Dia tatap pantulan Tama dicermin sembari melepas satu persatu pernik yang menghiasi rambutnya. Kini lelaki yang sempat dilupakannya telah menjadi suaminya.
...........
Setelah akad, mereka menempati rumah Heni yang sempat terbengkalai. Rumah pemberian papanya dulu. Rumah itu sudah lengkap dengan isinya, yang rencananya dulu hendak pindah dengan Bimo. Namun tak jadi karena terlupa akan kesibukannya. Seusai menutup pintu utama, Tama memeluk Heni. Dia cium aroma tubuh istrinya yang menurutnya bertambah seksi itu. Sementara baby sitter dan Tania sudah pergi ke kamar yang diperuntukkan oleh bayi tersebut.
__ADS_1
Heni mendorong tubuh suaminya agar menjauh dan menepis wajah Tama yang semakin dalam mendaratkan ciumannya hampir di separuh dadanya. Dia risih karena Tama melakukan bukan ditempat yang semestinya. Tapi Tama tak peduli, dia seperti sedang sakau.
" Tahanlah, ini bukan dikamar, " ujar Heni melepas pelukan suaminya.
" Aku sudah tak tahan sayang, " rengek Tama manja.
Heni melangkah menuju ke kamar yang terletak di samping ruangan tamu. Ruangan yang sebenarnya khusus untuk kerabat yang ingin menginap. Tapi Tama sepertinya sudah dipuncak bira**. Begitu masuk dan mengunci pintu, Tama segera melepas dress yang membalut tubuh sang istri, dan mencium Heni bertubi-tubi. Dia juga meninggalkan bekas kepemilikan diarea leher putih sangat istri. Heni merasakan senyar geli yang sulit diartikan. Tubuhnya juga bereaksi dengan sentuhan liar suaminya dengan terus menegang. Dadanya membusung saat Tama memilin dan mengis** bagian sensitif itu. Mereka melangkah perlahan hingga sampai disisi pembaringan. Heni berbaring dengan Tama yang berada di atasnya dan memejamkan mata. Tama mendekatkan bibirnya, memagut sang istri dengan lembut. Dia sudah tak sabar menahan nafsu yang membara di tubuhnya. Dia lepas semua pakaian yang menempel sampai tak bersisa. Dia tarik selimut dan bergumul didalam kain lebar itu.
Puas memagut istrinya, dia beralih ke bagian bawah dan melakukan hal sama hingga Heni mende**. Tama memasukkan bagian sensitif nya kedalam liang milik sang istri. Dia mengernyit karena masih sempit dan agak sulit ditaklukkan. Hingga beberapa detik, dia berhasil memasukkannya. Heni sudah tidak merintih, dia merasa nikmat dan memeluk erat Tama mengikuti gerakan teratur lelaki itu agar semakin nikmat didapatkan. Mereka memadu kasih dengan hasrat yang menggelora. Dua insan yang kini telah resmi menjadi pasangan suami istri. Betapa Tama sangat menginginkan Heni sepenuh jiwa raganya. Hingga saat mencapai puncak, Tama melakukan pelepasan dengan memeluk pinggang istrinya. Heni juga menyusul melepaskan cairan yang membuat tubuhnya kembali rileks. Dia memeluk erat Tama sampai Tama tersengal-sengal. Lelaki itu tersenyum sangat manis, dia berharap semoga benih yang dilepaskan dalam liang hangat istrinya membuahkan hasil agar semakin sempurna kebahagiaan mereka. Heni menatap dalam manik mata suaminya yang kini disampingnya.
" Sepertinya aku benar-benar mencintaimu saat ini. Ternyata kau tulus dan sungguh-sungguh mencintaiku. Maafkan aku, dulu aku sangat jahat dengan mempermainkan cintamu padaku, aku benar-benar jahat, " ujar Heni.
" Jangan mengingat masa lalu, itu hanya menjadi beban saja di kemudian hari. Kau tidak seperti itu, yang pasti perasaanku tak pernah pudar untukmu. Malah semakin lama semakin subur, mungkin aku bisa gila jika tak memilikimu, " ujar Tama. Heni mencium Tama. Lelaki yang rupawan tapi masih childish. Mungkin sikapnya itu yang membuat Heni berasa remaja dan membuatnya menolak tua.
Kemudian Heni bangkit berniat membersihkan sisa nafsu gelora cinta mereka. Tama menatapnya dengan bahagia dengan masih berselimut. Manik matanya menatap tubuh istrinya yang hanya menutupinya dengan selimut tipis menuju ke kamar mandi.
" Nanti malam saja, ini masih terlalu pagi, " bujuk Heni. Dia juga belum memasak, melihat Tania, yang benar saja?
Didalam kamar mandi, Heni merasakan sakit dibagian kewanitaannya. Bagian yang telah dirasakan oleh Tama. Memang bagian itu masih utuh karena dia melahirkan caesar. Dia guyur dengan air dan mandi sekalian. Ketukan di pintu membuatnya mematikan keran.
" Ya, ada apa sayang? " tanya Heni dengan mengusap rambutnya dengan pencuci rambut.
" Kita mandi sama-sama, " jawab Tama. Selain mandi berdua, Tama juga masih ingin melakukannya dikamar mandi?
" Ogah, tunggu dulu. Aku tak akan lama, " terangnya dan menyalakan keran lagi. Dia tak mempedulikan Tama yang masih menggedor pintu mengganggunya.
" Ayolah sayang, kita mandi berdua, " bujuknya. Tapi Heni tak bergeming dan masih mandi. Akhirnya Tama kembali ke sisi pembaringan dan duduk. Dia meraih ponselnya diatas nakas tak jauh darinya. Beberapa pesan ucapan selamat dari rekannya sesama dokter membuat senyumnya merekah. Diantara mereka juga menyemangatinya dimalam pertama. Tak lupa juga menyarankannya agar minum penambah vitalitas agar semakin ' greng menjebol gawang. Jemari Tama lincah diatas layar ponsel membalas pesan rekannya yang hampir semuanya konyol, hingga tanpa sadar Heni sudah duduk disampingnya melihat apa yang tengah dia lakukan. Aroma shampo menggelitik hidungnya, dia menyenderkan kepalanya didada sang istri.
__ADS_1
" Sudah sana bersihkan diri, aku mau melihat Tania dan masak. Kau tahu kan aku belum masak, kita juga tak punya asisten, " ujar Heni mendorong kepala suaminya.
" Sebentar dong sayang, aku masih pengeeeeennn.... " rengek nya.
" Nanti saja, " tolaknya dan bangkit.
Tapi Tama memang masih ingin mengulang. Hingga dia menarik paksa Heni, merebahkan lagi di pembaringan, dengan tergesa-gesa dia melakukan lagi. Dia maju mundurkan dan memasukkan bagian sensitifnya sampai melakukan pelepasan lagi membuat Heni merem melek menikmati walau sempat menolak. Masalahnya dia sudah bersih dan harus mengulang lagi?
" Sayang.. sudah.. aku mau masak, " ujar Heni dengan napas tersengal-sengal. Tama memeluk istrinya lagi.
" Aku sangat bahagia sayang, " ujarnya mengungkapkan lagi perasaannya yang meluap bisa memiliki Heni. Heni pasrah, dia sudah hampir kehabisan tenaga. Suaminya benar-benar menghajarnya di kasur. Tama bangkit menuju ke kamar mandi.
Sampai dia selesai mandi dan berganti pakaian, Heni masih berbaring. Dia menghampiri istrinya dan mengelus rambutnya yang masih setengah basah. Dia sangat memuja wanita itu sampai kapan pun.
" Katanya mau masak? kok??? " tanya Tama. Heni mengerjap-ngerjapkan mata membuat Tama gemas.
" Gara-gara kamu, pesan saja. Aku masih lemas, " jawab Heni. Dia juga masih telanjang dibalik selimut. Meski mengulang pun Tama masih menginginkanya dalam keadaan tanpa helai pun. Tama menatap Heni dengan sorot mata nakal.
" Kau masih ingin mengulang? baiklah abangmu ini masih kuat kok mau minta ronde berapa lagi? " tanyanya.
" Sudah, sudah. Aku bangun, " ujar Heni menolak. Mau lagi? oh tidak rasanya dia sudah tak sanggup. Berjalan pun juga mungkin nanti sulit, rasanya sangat sakit.
Dan benar saja begitu ingin melangkah, Heni terhuyung-huyung hampir jatuh. Tubuhnya serasa tak bertenaga sama sekali. Dia memegang tembok, Tama berlari ke arahnya dan memegangnya.
" Ya Tuhan, kau benar-benar lemas sayang. Lebih baik berbaring saja, aku akan melihat Tania dan memesan makanan, " ujar Tama dan meraih Heni dalam gendongannya membaringkan kembali sang istri.
Tama keluar dari kamar menghampiri Tania bersama baby sitternya. Diraihnya bayinya dan mengajaknya diruang tamu dengan memesan makanan via ponsel. Usai melakukan hal itu, dia menyimpan ponselnya disaku celananya dan menunggu sembari menonton televisi.
__ADS_1