Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
Suasana hati berubah-ubah?


__ADS_3

Setelah kenyang, Heni mencoba untuk berdiri. Tangannya memegang erat kursi kayu yang tak jauh darinya lalu berdiri. Bagus, dia bisa. Dia berjalan tertatih berpegangan dinding menuju ke kamar. Rumah itu terasa menakutkannya karena barangnya yang berserakan dan lampu yang hanya menyala untuk beberapa ruangan saja. Dia baru menyadarinya karena kemarin dia tak sadarkan diri sampai pagi. Lalu saat netranya melihat keluar tambah membuatnya semakin bergidik ngeri. Hanya kegelapan tanpa batas yang nampak. Setelah cukup berjuang, dia pun sampai ke kamar. Dia rebahkan tubuhnya diranjang yang spreinya telah usang.


" Kenapa kau menyekapku ditempat horror seperti ini, mas? Oh Tuhan lindungi aku, "


Lalu dia mencoba memejamkan mata untuk tidur dengan ketakutan. Jika permintaannya diijabah detik ini, dia ingin pingsan saja. Benar-benar dia ketakutan setengah mati. Tanpa sadar dia pun tertidur.


Keesokan harinya dia terbangun, kepalanya terasa pusing. Dia mencoba bangkit, bisa. Dia berjalan tertatih-tatih mencari tasnya disetiap sudut rumah. Dikolong meja, lemari, dapur, semua tempat dijelajahinya. Tapi tidak ketemu, dia menghembuskan nafas kasar. Karena kelelahan, dia putuskan untuk duduk dan menunggu kedatangan Bimo.


Kruuukkk....suara dari perutnya terdengar. Tahan ya, gumamnya. Dia melihat luar rumah dari jendela yang sebagiannya tertutup palang kayu. Kosong, hanya pemandangan sawah menghijau disekeliling rumah.


Kenapa rumah ini dibangun ditengah sawah ya?? juga tidak ada tetangganya lagi? berteriak juga percuma. Tidak ada orang lewat pun?


Heni tidak tahu jika rumah itu milik teman Bimo yang terbengkalai. Mereka pindah karena istrinya tidak betah tinggal disitu. Alasannya karena jauh dari pemukiman warga. Tanah itu dulunya adalah tanah sengketa dan dimenangkan oleh keluarga teman Bimo. Dan didirikanlah sebuah rumah mungil agar jelas batas antara yang bersengketa.


Heni berjalan ke kamar mandi. Meski kotor, keran airnya masih bisa mengalir. Lalu dia membasuh mukanya agar segar. Kini kulit punggungnya sudah tidak terasa panas tapi hatinya dilanda kebosanan karena masih jadi seorang tawanan suaminya. Lalu dia bergegas ke ruang tamu menunggu sang ' penyekap tiba. Dia menunggu dengan gelisah karena kelaparan dan kehausan.


Sore harinya Heni mendengar suara deru motor mendekat. Dia menajamkan telinga berharap Bimo yang datang. Dan dugaannya benar, selang kemudian pintu terbuka.


" Ini makanlah, " ujarnya meletakkan sebungkus nasi dan sebotol air mineral diatas meja. Diraihnya lalu dimakannya dengan lahap. Dua hari dia seperti orang berpuasa tanpa sahur dirumah itu. Dia mencuri pandang ke arah Bimo yang tengah mengisap sebatang rokok. Bimo yang menyadarinya membuang muka. Pria itu tidak mau melihatnya.


Setelah habis, Heni duduk diam tak jauh darinya. Mereka diam, larut dalam pikiran masing-masing. Setelah melihat Heni telah menyelesaikan santap malamnya, Bimo bangkit hendak meninggalkannya, tapi....


" Mas tolong lepaskan aku. Aku ingin pulang, kemarin sudah cukup kau menghukumku. "


Bimo menoleh, tapi tak menjawab. Dia berdiri, berjalan menuju ke pintu. Saat tangannya meraih handle pintu, Heni berkata lagi,

__ADS_1


" Jangan tinggalkan aku disini malam ini. Aku takut mas, temani aku. Kumohon, sekali saja. "


Bimo mengurungkan niatnya, menatapnya sekilas lalu berbaring miring memunggunginya di kursi panjang dihadapan Heni. Heni bernapas lega. Malam ini dia senang karena Bimo tak semarah kemarin meski tak berucap apa pun. Tindakan menemaninya jauh lebih baik. Segera dia menuju ke kamarnya, lalu tidur dengan nyenyak.


Keesokan harinya Bimo membangunkan Heni dengan menepuk pundaknya. Saat wanita itu membuka mata, dia tersenyum lalu menyuruhnya segera makan apa yang ada di meja. Setelah itu dia pergi meninggalkannya lagi seorang diri dengan mengunci pintu utama.


Heni terkejut melihat perubahan Bimo, dia sudah tidak meledak seperti hari kemarin. Dia bangkit mencuci muka lalu melakukan apa yang disuruh Bimo. Apakah dia sudah memaafkan aku? Kenapa dia lembut sekali? Apakah dia masih mencintaiku dan menolak perceraian itu? Tidak mungkin, pasti ada sebabnya dia bersikap seperti itu? Mungkin dia sudah memiliki penggantiku, gumamnya.


Selesai sarapan, dia berusaha mencari lagi tasnya seperti hari kemarin. Barang yang berserakan membuatnya jijik. Kadang ada dalam benaknya untuk membereskan rumah itu untuk membunuh kebosanannya. Tapi tubuhnya yang masih terbatas bergerak, menolaknya. Dan untuk kesekian kalinya karena tak kunjung ketemu apa yang dicari, dia pun merebahkan diri lagi menghabiskan waktu.


Disebuah danau sudah banyak orang berpiknik karena memang hari libur. Bimo mengedarkan pandangan mencari teman kencannya. Seseorang wanita memakai topi melambai ke arahnya. Bimo tersenyum lalu menghampirinya.


" Sudah lama? " tanyanya. Wanita itu menoleh lalu menggeleng. Dia segera memberi tempat untuk pria tersebut dan larut dalam pembicaraan mengenai kelanjutan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.


" Aku akan mengenalkanmu kepada ibuku. Tapi tak usah risau ibuku baik kok, " terang Bimo.


Rahma terus menyunggingkan senyum, sorot matanya yang penuh dengan cinta dan harapan sangat jelas tercetak disana. Berulangkali Bimo salah tingkah dibuatnya karena perbuatan wanita itu. Dia berlatar belakang keluarga kaya, ayahnya seorang pensiunan tentara menerimanya dengan tangan terbuka. Pria yang sudah mempunyai dua cucu itu sangat mendukung mereka untuk segera naik ke pelaminan, mengingat umur Rahma sudah menginjak lebih dari kepala tiga. Tapi Bimo masih harus menyelesaikan perceraiannya dulu bersama Heni yang masih berlarut-larut.


Tanpa terasa senja mulai menyambut, mereka segera pulang. Dengan berat hati Rahma menatap Bimo dengan kecewa karena penolakannya untuk pulang bersama dengan mobilnya. Bimo lebih memilih motornya, lebih efisien ' katanya.


.........


Setelah mengajukan surat pengunduran diri, Bimo masih menunggu panggilan dari si bos untuk mengkonfirmasi surat itu. Dia keluar untuk makan siang bersama seorang rekannya. Di kantin, dia melihat Rahma tengah duduk dengan seorang pria. Bimo heran kenapa Rahma berada ditempat ini? Bukankah dia sudah mengundurkan diri beberapa hari yang lalu? Karena penasaran Bimo berusaha mencuri dengar dengan mengambil tempat duduk tak jauh darinya. Supaya tidak dikenalinya, Bimo memakai masker menutupi sebagian wajahnya.


" Rahma, mari kita menikah sayang, " ujar pria itu. Jemarinya meraih tangan Rahma dan mengusapnya dengan lembut. Tatapan pria itu intens mengarah kepadanya. Namun Rahma tak menjawab, membuat Bimo geram. Dia berdiri lalu meninggalkan tempat itu dengan marah. Rekannya yang sedang makan hanya menatap kepergiannya dengan heran tanpa berkata apa pun.

__ADS_1


Setelah kepergian Bimo, Rahma melepas tangan pria itu. Dia menggeleng perlahan. Cintanya kepada mantan kekasihnya ini sudah habis tak tersisa karena perselingkuhannya. Dia sudah meberikan seluruh ruang dihatinya untuk Bimo seorang. Dia menyesal menuruti permintaannya untuk datang ke kantor itu. Karena pria itu adalah sepupu sang bos. Membuang waktu saja.


" Aku sudah mencintai orang lain, Danang. Maaf, "


Sementara Bimo masih harus membersihkan lantai terakhir, dia mengerjakan dengan cepat. Dia ingin cepat menemui Heni untuk melampiaskan kemarahan didadanya. Dia mengingat kelakuan buruk istrinya saat mencuri dengar tadi. Dan dendamnya pun memuncak kembali. Tak sampai menit kemudian, dia sudah membersihkan semua lantai itu. Dan bergegas menuju keberadaan Heni.


Diputarnya kunci, terbukalah pintu utama. Bimo segera mencari Heni didalam kamar. Betapa terkejutnya Heni melihat Bimo datang dengan cambuk digenggamannya.


" Apa yang mau kau lakukan, mas? " tanyanya.


Heni mulai tegang, dia terus berkomat-kamit membaca doa. Bimo mulai melayangkan cambukan lagi dipunggungnya.


" Aaww...., " pekiknya, tubuhnya menggelinjang karena panas dan sakit merasuk ke kulitnya.


" Ampun mas, jangan cambuk aku. Aku mohon, bebaskan aku dari sini, " pintanya.


" Semua wanita sama saja, munafik. "


Cetar...Bimo mencambuknya lagi. Heni mulai meneteskan airmata. Sungguh betapa kejam pria ini. Pagi tadi dipikirnya dia sudah berubah tapi kenyataannya?


" Mas, ampun. Cukup!!! " teriaknya. Heni sudah sangat kesakitan dan berusaha melawannya malam itu. Bimo mencekal pergelangan tangannya.


" Kau wanita rendahan, aku membencimu Heni!!! " teriaknya.


" Kalau kau membenciku, jangan menyentuhku. Lepaskan aku, " ujarnya. Heni kesal dan marah. Betapa dia bahagia saat Bimo menunjukkan sikap lembutnya tadi lalu berbuat kasar lagi?

__ADS_1


" Kau gila mas, " ujar Heni. Dia mencoba melepaskan cekalan tangan pria itu dan menuju ke pintu. Bimo tak tinggal diam, dia menarik rambut Heni.


" Aawww...mas kenapa kau tarik rambutku? sakit, oh ampun mas, lepaskan aku. " pinta Heni. Seluruh tubuhnya benar-benar kesakitan.


__ADS_2