Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
Reaksi Heni


__ADS_3

Setelah mengetahui keganjalan sang ibu, Tama terus memperhatikan wanita itu secara seksama saat dirumah. Dia cenderung diam dan langsung menghindar saat tatapannya beradu dengan Tama. Tama semakin yakin jika benar ibunya tercinta menyembunyikan sesuatu yang tak diketahuinya. Entah itu apa?


Tama belum juga bisa menghubungi Heni, mengatakan bahwa dia sudah tahu perihal Tania yang sebenarnya. Selain karena tak punya ponsel, seakan-akan wanita iu memang sengaja memutus akses baginya untuk berkomunikasi. Jika dia ingin menemuinya, dia harus menuju ke kantor atau datang ke rumah. Itulah opsi yang diajukan Heni. Dia ingin menikmati hidup tanpa ponsel untuk sementara waktu, itu alasannya. Keinginan Tama yang bisa melihat dan mendengar suaranya setiap waktu pun sirna berganti dengan kecewa yang dalam. Tapi itu tak menyurutkan langkah kakinya untuk terus merebut hati wanita itu, apalagi dia juga sudah memberinya seorang bayi mungil nan cantik dan menggemaskan. Meski berulang kali Heni berusaha menghindar jika dia membicarakan topik tentang Tania. Dia seolah tak bosan menutupi jati diri sang bayi. Hingga dia memutuskan untuk janjian dengan Heni via ponsel nyonya Alwan. Dia harus mengkonfirmasinya dengan tatap muka.


Tante tolong bujuk Heni untuk menemuiku di kafe jl Bambu jam 4 sore, terima kasih.


Tama tersenyum saat pesan itu telah terbaca dan menampilkan tiga emoji jempol. Mertuanya itu sangat mendukung hubungannya. Tak tahu bagaimana dengan tuan Alwan yang masih belum bisa ditemuinya. Tapi dari gelagatnya pria paruh baya itu juga memberinya sinyal hijau. Tinggal menunggu Heni yang masih diam ditempat. Ingin rasanya dia culik wanita itu dan mengikatnya. Lalu memaksanya duduk didepan penghulu dan menikahinya dengan agak ekstrem. Tapi dibuangnya pikiran itu.


Sorenya Heni tengah duduk dengan bosan menanti kedatangan Tama. Akhir-akhir ini lelaki itu selalu ada dalam pikirannya. Rasanya ingin meledak saja membuang ribuan voltase yang terus menggaung-gaungkan namanya. Dada pun demikian juga, selalu berdebar tak karuan jika menunggu karena lama. Apakah aku sedang jatuh cinta lagi kepadanya? pikirnya berulang kali sampai dia tak sadar jika tama sudah duduk manis dihadapannya dengan senyuman yang terbit diwajah rupawannya yang semakin mempesonanya saja dari hari ke hari. Apakah ini efek jatuh cintanya? perasaan kemarin-kemarin tak seheboh ini dirinya jika akan berjumpa dengan lelaki ini. Tama membaca menu dan mengatakannya kepada sang pramusaji yang berdiri dihadapan mereka. Sementara Heni tidak tambah pesanan, dia sudah kenyang antara perut, pikiran dan hatinya yang sudah mobat mabet menunggu Tama yang lelet.


" My sweatheart kau tak makan? " tanyanya heran karena hanya segelas lemon tea saja di mejanya.


" Aku sudah kenyang, " jawabnya. Tama mengulum senyum menatap intens sang kekasih yang memasang wajah cemberut karena dia telat dari kesepakatan. Dia sengaja karena memang masih mencari sesuatu untuk Heni.


" Kenapa kau tak berterus terang tentang Tania? " tanyanya langsung ke inti. Heni terhenyak.


" Apa maksudmu? Tania apa? aku gak ngerti ucapanmu Tam? lalu kenapa kau telat? " tanyanya mengalihkan topik bahasan tentang sang bayi, lagi? Tama melonjak kaget karena Heni masih saja mengaburkan bayi itu mengingatkannya kepada sosok sang ibu. Sikap yang sangat dibencinya.

__ADS_1


" Tania anak kandungku bukan? kenapa kau menutupinya? Kau benar menyiksaku Hen, " terang Tama. Heni menatapnya tajam, rupanya dia sudah tahu? darimana? pasti dari mamaku? oh tidak lalu apa reaksinya? gumamnya.


" Aku ingin menikahimu Hen. Kita hidup bersama dengan Tania. Jangan pisahkan aku dengannya, aku mencintai dan menyayangi kalian, " ujarnya sendu. Sisi melankolisnya memancar lagi. Sungguh lelaki ini wataknya menggelikan bagi Heni. Melankolis dramatis mana sisi kelaki-lakiannya? oh Tuhan?? gumamnya lagi.


" Iya sudah jangan alay. Kau berlebihan, " ujarnya santai.


" Berlebihan? Heni kau bersikap seolah aku tak berhak tahu rahasia ini? oh Tuhanku apa maksudmu? " tanyanya cemas. Lelaki itu menggenggam erat jemari wanita itu. Berusaha menyelami makna yang tersirat dibalik ucapannya. Dia hanya tak tahu saja maminya telah menolak dan melarangnya untuk mendekati bahkan menjalin hubungan sekaligus dengan Tama sedari awal kehamilannya.


" Aku memang tak berniat memberitahumu bahkan jika bisa kita tak sedekat ini. Aku tak berniat menikah denganmu meski mungkin ingin, " terangnya menggantung.


" Aku tetap akan menikahimu, aku akan memaksamu dengan seribu alasanmu yang tak masuk akal itu, " ketusnya.


" Apa yang membuatmu tak ingin menikah denganku? apa ini ada hubungannya dengan mamiku? tunggu, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku? kau pernah bertemu mamiku disuatu tempat dan dia mengancammu? " cecarnya.


Heni melirik Tama tajam. Dia mencoba menetralkan dadanya yang mulai sesak, diteguknya minumannya. Dia masih mengingat jelas semua perkataan wanita anggun itu. Dan botol yang disodorkannya untuk membunuh janin yang lama dinantikannya. Semua tergambar jelas dan seakan-akan baru saja terjadi. Tiba-tiba saja dia menutup kedua telinganya dan memejamkan mata.


" Ada apa Heni? kau kenapa? " tanyanya. Lelaki itu mendekati dan memeluk Heni yang menampakkan ketakutan.

__ADS_1


" Jangan bunuh bayiku, aku tak mau. Lepaskan, aku tak akan bersama putramu! " teriaknya hingga seluruh pengunjung kafe menatapnya. Tama berusaha menghentikan kepanikan Heni.


" Hen, Heni, aku bersamamu. Tenanglah, " ujar Tama. Butuh waktu lama membuatnya tersadar, hingga akhirnya dia membuka matanya mengawasi keadaan disekitarnya. Tama masih memeluknya dengan erat dan wajahnya seketika merona malu luar biasa karena semua pengunjung menatap kemesraan mereka. Heni segera melepas pelukan Tama. Dia merapikan rambutnya yang sempat teracak karena menempel didada bidang Tama.


" Lebih baik aku pulang, " ujarnya lalu bangkit.


Dia hendak melangkahkan kaki tapi pergelangan tangannya dipegang oleh Tama hingga langkahnya tertahan.


" Siapa yang kau maksud barusan? papi atau mamiku? " tanyanya penuh selidik. Heni menoleh dan menggeleng.


" Lupakanlah, aku sedang tak enak badan. Lebih baik aku pulang, " ujarnya.


" Akan ku antar, " ujar Tama dan mengejar Heni, tak lupa beberapa lembar uang berwarna merah diletakkannya dimeja sembari melambai ke arah pramusaji.


Sesampainya dirumah, Tama segera melesat mencari Tania. Lelaki itu selalu ingin melihatnya guna memastikan dia baik-baik saja. Andai Heni tahu apa yang dirasakannya saat di kediamannya, hatinya tersiksa menahan rindu terhadap mereka berdua. Dia selalu menelepon video call nyonya Alwan guna melihat senyum menawan sang bayi. Bayi itu tengah terlelap di tempat tidurnya yang berwarna pastel. Melihatnya dia sangat bahagia.


.......

__ADS_1


Dikamar berukuran luas yang menghadap ke kolam renang, seorang wanita tengah berdiri di balkon. Ingatannya kembali ke tempat dimana dia mengancam Heni yang sedang hamil muda. Dia tahu tentang kehamilannya dari orang suruhannya. Ide untuk menggugurkan bayi itu langsung menyeruak agar dia tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Tama, putra bungsunya yang diharapkan bisa terus menjadi apa yang diinginkannya. Dia sudah tak berharap pada sang kakak yang selalu membangkangnya sedari kecil. Dean sangat keras dan kaku.


Sang kakak malah terang-terangan pernah menolaknya mengakui sebagai ibu kandungnya karena sikapnya yang cenderung egois dan otoriter. Sejak kecil dia selalu dikunci digudang gelap karena tak menuruti apa yang diminta sang ibu. Sementara Tama sosoknya yang pendiam dan penurut menjadi kebanggannya tersendiri. Tapi saat mengetahui hubungan terlarangnya dengan karyawannya dirumah sakit dan telah bersuami membuatnya sangat kecewa. Dia mencari cara agar melepaskan ikatan semu itu meski tahu jika Tama sangat memuja wanita yang lebih pantas disebutnya kakak. Dan saat terakhir ide nekat itu muncul, segera dia melakukannya agar terbebas dari Heni. Tapi untuk kesekian kalinya dia tertampar kenyataan, wanita itu datang lagi menjemput Tama. Berkasih-kasih lagi, dia tahu apa yang dilakukan oleh sang anak dibelakangnya. Tinggal menunggu hari H saat Heni dan bayinya datang menemuinya. Karena kesal dengan sang anak, dia mencoba menghubungi Mona agar datang menjemputnya. Wanita itu masih sangat berharap pada bahu gadis itu untuk menjadi menantunya kelak.


__ADS_2