Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
pengungkapan


__ADS_3

Heni baru sampai di lobby perusahaan bersama sang ayah sore itu, setelah seharian berkutat untuk mempelajari usaha keluarga yang esok akan beralih ke dirinya jika sang ayah pensiun. Seorang lelaki yang dikenalnya tengah melempar senyum kepadanya. Heni menatap sang ayah guna meminta ijin untuk bersama lelaki itu karena sudah terikat janji makan malam. Tuan Alwan mengangguk. Dihampirinya lelaki itu dan mendekatkan diri. Sementara Heni diam menunggu reaksi papanya. Dia cemas pria itu akan mengusirnya tanpa tedeng aling-aling.


" Jangan sakiti dia, " ujarnya. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Heni terhenyak, rupanya sang ayah menyetujuinya.


Tama tersenyum dan menghampiri Heni yang masih diam sembari memperhatikannya beberapa senti jaraknya. Lelaki itu menarik tangannya memasukannya ke dalam lengannya. Lalu melenggang bersama menuju ke tempat mobil berada. Begitu sampai mereka segera masuk ke kendaraan Tama yang berwarna hitam. Tama menginjak pedal gas dan melajukannya menuju ke jalan raya.


" Kau mau makan dimana? " tanyanya. Lelaki itu sangat antusias, dia mengenakan kemeja lengan pendek dipadu padankan celana hitam. Rambutnya disisir rapi agak klimis. Dia nampak sangat tampan.


" Mana saja yang penting enak, " jawab Heni.


Dia mulai membiasakan diri berdamai dengan Tama, masa lalunya itu yang terus berputar saja dalam circle kehidupannya. Tak ada dalam bayangannya akan bersamanya kembali setelah berpisah dengan suaminya. Bahkan mengimpikan lelaki itu selalu ditepisnya berulang kali. Dan saat keinginan melepaskan begitu kuat, lelaki itu masih saja berjuang untuk mendapatkan hatinya lagi dan lagi. Dia menatap Tama dengan hati yang berdebar-debar. Nyatanya dia juga masih merasakannya, sejuta rasa yang menghadirkan bahagia. Senyum tercetak diraut wajah Tama yang merasa terus diperhatikan dibelakang kemudi.


" Apa kau baru sadar kalau aku rupawan? " tanyanya mengagetkan Heni.


" Iya, " jawab Heni sembari mengulum senyum. Narsis sekali? tapi kau memang rupawan, gumamnya.


Tama menepikan mobilnya ditempat yang agak sepi. Setelah berhenti, dia melepas kemudi menatap wajah ayu sang pujaan hatinya yang menatap heran. Sesaat gairahnya menusuk sanubarinya bersama wanita itu. Wanita yang namanya selalu berada dipuncak singgasana cintanya. Jakunnya naik turun ingin mencium bibir ranum Heni yang saat ini bergincu merah muda. Dia tahan keinginannya itu tapi masih jiwanya berontak, tubuhnya juga sama halnya hingga tanpa sadar dia mendekatkan diri perlahan sampai wajahnya sangat dekat dengan Heni. Tangannya menangkup leher wanita itu agar tak bergerak. Heni pun tak berpaling dari lelaki itu, lelaki yang masih sangat terobsesi dengannya. Dia menutup kedua matanya atas àpa yang akan dilakukan Tama kepadanya. Jantungnya berdetak kencang. Tama mendaratkan ciumannya yang basah. Disesapnya bibir itu dan menggigitnya perlahan. Mereka berciuman untuk beberapa saat lamanya. Heni juga membalas pagutan dari Tama. Mereka pun saling menikmati bibir mereka yang menyatu.


Selang menit kemudian Tama melepas pagutannya dan menatap Heni yang menunduk karena malu. Dia mengangkat dagu Heni agar menatapnya.


" Aku mencintaimu Heni, " lirihnya.


Lalu melanjutkan melajukan kendaraan ke tempat dimana restoran yang enak. Tama mengemudikan mobil dengan rasa yang meletup-letup karena bahagia. Keinginannya telah terpenuhi bersama Heni. Wanita itu telah menyerahkan hati dan dirinya, menapaki kerikil kehidupan bersama sampai tiba saat menua.

__ADS_1


Disebuah restoran mereka berhenti. Tama turun dan segera membukakan pintu untuk kekasih tercinta. Mereka masuk, duduk dan Tama memesan makanan. Heni menatapnya tanpa henti. Dalam hatinya dia kagum dengan lelaki itu yang masih mendambanya meski dia sudah memiliki anak. Jika suatu saat dia tahu status anak itu pasti Tama akan semakin erat menggenggam mereka dalam dirinya. Aku akan memberitahumu pada saat yang tepat, batinnya.


Saat pesanan tiba, mereka pun makan sembari saling mencuri pandang. Ketika tatapan mereka beradu, mereka tersenyum malu-malu kucing bak remaja yang baru saling mengenal cinta monyet. Tama sangat menikmati malam itu berdua dengan Heni, tanpa gangguan hati lain yang harus dijaga saat wanita itu masih menjadi istri sah Bimo dulu. Mereka makan dengan nyaman, senyaman hati Tama yang terus merekah bak bunga bermekaran kala musim semi tiba.


...........


Tania menggeliat lalu menangis. Heni yang tidur disampingnya terbangun. Dia melihat jam dinding, masih pukul satu dini hari. Dia segera membuatkan susu untuk bayinya. Sang mama pun turut bangun membantunya, diraihnya bayi itu dalam dekapannya sembari menunggu susu jadi.


" Anak cantik kesayangan oma, jangan nangis. Tunggu mommy mu, " ujar nyonya Alwan menenangkan. Heni datang dan memberikan sang bayi dot. Bayi itu pun mulai menyusu dengan kuat.


" Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan lelaki itu? siapa namanya? " tanyanya.


" Tama, ma. Ya biasa ma, " jawabnya dengan mendekap sang bayi yang mulai terlelap lagi.


" Sabarlah ma, " ujar Heni.


" Kau terlalu lama, " sungutnya.


Wanita yang disebut mama oleh Heni itu pun meraih Tania ke dalam dekapannya. Dia sangat menyayangi cucunya yang cantik itu. Apa yang dibutuhkan bayi itu semua dipenuhinya. Tak pernah dia menanyakan tentang bapak kandungnya ketika Heni hamil diluar nikah dulu. Karena sang anak terus saja diam seribu bahasa, dia ikut tak begitu mempedulikannya. Tapi begitu mengetahui Tamalah lelaki itu, wanita itu sangat bangga karena calon menantunya bukan kaleng-kaleng. Makanya dia ingin Heni segera menikah dengannya. Status jandanya yang dipandang sebelah mata oleh para tetangganya bisa berganti gelar sudah menjadi istri sah orang.


" Sudahlah ma, aku ngantuk. Jagain Tania ya, besok pagi sekali aku harus segera bersiap. Papa mau ngajak aku survey ke suatu tempat, " ujarnya lalu merebahkan diri diranjang oversize nya yang sebenarnya diperuntukkan khusus untuk sang bayi. Nyonya Alwan mencebikkan mulut karena kesal dengan sikap sang anak yang masih berusaha menghindar saat membahas Tama. Sepertinya memang benar sang anak masih mengulur waktu yang tak tahu akan berujung kapan. Dia sudah tak sabar lagi menunggu akhir cerita yang dibuat oleh Heni.


Baiklah jika itu maumu anakku. Mama akan mengatakannya, agar dia tahu Tania adalah anak kandungnya. Aku tak bisa membiarkan lelaki itu jika suatu saat berpaling ke orang lain yang lebih muda darimu. Agar dia bertanggung jawab atas perbuatannya karena telah ikut andil dalam perpisahanmu dengan Bimo.

__ADS_1


Melihat bayi itu sudah terlelap, diletakkannya perlahan disamping Heni. Wanita itu bangkit untuk meraih ponselnya diatas nakas. Matanya mencari sebuah nomor dikontaknya dengan nama Tama lalu mengirim sebuah pesan. Beruntung karena dulu sempat meminta nomor lelaki itu.


Ada yang ingin tante sampaikan kepadamu. Besok temui tante di cafe yang dekat dengan rumah. Akan tante kirim lokasinya saat kau membalas pesan ini.


Usai melihat status pesannya yang tercentang dua, wanita itu mengambil tempat mengapit sang cucu lalu tertidur kembali. Meski belum terbaca, dia sudah lega. Dia harus mengungkap kejujuran terlepas dengan reaksi dari Tama nantinya. Lelaki itu harus tahu dan bertanggung jawab sebelum dia berpaling ke hati lain.


Pagi pun tiba, sang baby sitter telah datang. Heni segera bangun dan bersiap. Sementara papanya tengah menghabiskan sarapan. Nyonya Alwan sudah sibuk berkutat didapur membantu asistennya.


Tak lama kemudian, suami dan anak perempuannya itu pun berangkat ke kantor. Nyonya Alwan segera melihat ponselnya, sudah terbaca. Wanita itu segera mengirim lokasi pertemuan. Dia beranjak untuk menyiapkan diri, akan diajaknya Tania beserta sang baby sitter.


Disebuah cafe nyonya Alwan mengedarkan pandangannya mencari sosok Tama. Tania tidur dalam stroller yang didorong oleh baby sitter. Mereka hanya berjalan menuju ke tempat itu karena memang dekat dengan rumah. Tama tersenyum. Nyonya Alwan segera menghampiri lelaki itu.


" Ada apa tante? " tanyanya ragu. Karena dalam pikirannya dia takut wanita ini akan memutuskan hubungan dengan anaknya. Dia sudah lama memperjuangkan cintanya sampai detik ini. Tak akan dibiarkannya siapa pun menghalanginya.


Seorang pramusaji datang dan meletakkan pesanan Tama ke meja. Nyonya Alwan menyebut dua latte untuk dirinya dan baby sitter yang mengiyakan minuman itu. Nyonya Alwan menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


" Sebenarnya ini adalah sebuah rahasia besar, dan menyangkut tentang dirimu, " ujarnya mengawali pengungkapan Tania menit berikutnya. Tama menatap serius nyonya Alwan yang hampir mirip dengan pujaan hatinya. Dia ikut penasaran dan harap-harap cemas jika yang ada dalam pikirannya menjadi sebuah kenyataan.


" Tania adalah anak kandungmu, " ujarnya perlahan.


Seketika tubuh Tama menegang, tatapannya beralih ke bayi yang tengah terlelap di stroller tak jauh darinya. Bayi yang mengusik relung jiwanya selama ini, karena Bimo berpisah dengan ibunya. Bagaimana esok dia tumbuh tanpa figur ayah? bagaimana esok dia menjalani hari dimana semua orang menanyakan ayahnya? semua pertanyaan itu sempat memporak porandakan hatinya dan semakin menguatkan cintanya untuk Heni. Harapannya agar Heni membalas cintanya dan mau menerima lamarannya yang rencananya akan dilakukannya pekan depan. Dia ingin menjadi figur ayah bayi itu. Tapi tak menyangkanya sama sekali jika kenyataannya dialah ayah kandung bayi cantik itu. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tak mau menumpahkannya begitu saja. Karena dia lelaki yang menyembunyikan segala kelemahannya bukan dengan menangis.


" Apa yang tante inginkan? " tanyanya.

__ADS_1


" Segera lamar Heni dan nikahi dia, " ujarnya tegas membuat Tama semakin bahagia.


__ADS_2