
Heni terus berlari menuju ke jalan raya. Tidak dihiraukannya tatapan orang-orang yang melihat penampilannya sangat berantakan. Kemeja yang beberapa kancingnya telah terlepas, rambutnya yang acak-acakan, make up nya luntur karena airmata, dan dia juga bertelanjang kaki. Panasnya jalanan yang terbakar matahari tidak dirasakannya.
Beruntung saat ditepi jalan raya, dia langsung melihat sebuah taksi tengah melintas. Tangannya terulur menghentikan taksi itu. Taksi berhenti beberapa langkah didepannya, dia segera naik dan menyebut alamat rumah kedua orangtuanya. Saat ini dipikirannya hanya pulang ke rumah besar dan megah itu. Dia tidak punya siapa-siapa karena tempat saudaranya berada diluar kota.
Tiba didepan rumah, Heni menatap gamang rumah orangtuanya. Dia teringat betapa dia sangat dimanja oleh ibunya dulu. Sang ibu selalu membela jika ayahnya menegur keras karena sebuah kesalahan yang dilakukannya. Dan sang kakak juga sangat menyayanginya. Buliran airmatanya menetes mengingat hal itu, masa-masa indah yang pernah dia lalui.
Heni melongok melalui celah pagar dan memanggil pak Cipto, satpam rumahnya yang sudah mengabdi puluhan tahun. Pria itu segera berlari ke depan untuk melihat siapa yang datang. Begitu mengetahui bahwa itu adalah Heni, senyum mengambang di bibirnya. Lantas dibukanya pintu pagar. Lelaki itu terkejut melihat penampilannya, sangat tak sedap dipandang mata. Heni celingukan takut jika ibunya melihat.
" Lebih baik non lewat pintu belakang saja, karena saat ini nyonya berada diruang keluarga, " saran pak Cipto. Heni mengangguk takzim. Dia juga mengisyaratkan agar pria itu diam. Memang lebih baik dia masuk melalui pintu belakang menuju dapur lalu segera naik ke lantai dua, karena tepat disamping ruang makan letak tangga berada.
Saat mengendap melalui samping, Heni mengintip melalui jendela besar melihat dalam rumahnya mencari sosok sang ibu. Dia tersenyum lega karena ibunya tidak kelihatan. Dia buka pintu dapur perlahan karena memang tidak pernah terkunci. Melalui pintu itulah Heni selalu menyelinap jika pulang terlambat.
Klik...pintu terbuka. Lagi-lagi Heni tersenyum lega. Karena keadaan pintu itu masih sama, tanpa terkunci. Dia melangkah tanpa menimbulkan suara sama sekali. Namun dia terkejut mendapati ibunya sudah berdiri tidak jauh darinya.
Nyonya Alwan menatap sang anak dengan seksama. Dia begitu terkejut dan terenyuh melihat Heni sangat memprihatinkan. Bukan kebiasaannya sama sekali. Anaknya begitu memperhatikan penampilannya secara mendetail. Dia mendekati Heni,
" Ada apa? Apa yang terjadi padamu? " tanyanya menginterogasi. Tangannya mengusap mulai dari kepala sampai punggung. Heni meringis kesakitan ketika tanpa sengaja ibunya menyentuh bekas pukulan suaminya. Dan saat melihat ada kemerahan di leher anaknya, dia menjerit hampir pingsan.
" Apa yang terjadi Heni? siapa yang melakukan ini? jawab,!! " tanya nyonya Alwan berang. Heni diam, hanya tangisan yang terdengar. Dia bingung harus memulai darimana? Apakah kepulangannya ingin mengadu? bukan itu yang dia inginkan. Dia hanya ingin berlindung dari suaminya yang kalap, itu saja.
__ADS_1
Karena anaknya tidak menjawab, nyonya Alwan berusaha menenangkan dirinya. Dia menyuruh Heni untuk mandi air hangat dan berganti pakaian. Heni menurut. Segera dia menuju ke kamarnya dilantai dua. Dibersihkannya tubuhnya dengan air hangat. Bekas pukulan dari Bimo menimbulkan bekas kemerahan. Jika tersentuh sesuatu sangat sakit.
Selesai mandi, dia berganti pakaian yang tertutup. Ditatapnya dirinya lewat pantulan cermin meja riasnya. Pipinya juga nampak kemerahan meski samar. Dia beralih ke leher, dia berteriak menutup mulutnya. Dia teringat suaminya hendak mengakhiri hidupnya dengan mencekiknya. Sungguh baru kali ini Bimo menampakkan kemarahannya yang besar. Disentuhnya bekas cengkraman tangan besar Bimo, airmatanya kembali meleleh. Kemungkinan dia akan pergi ke dunia lain jika dia tidak meminta hak hidup untuk janinnya. Janin yang sudah sangat diimpikannya sebagai seorang wanita. Diusapnya perutnya, sudah tidak apa-apa nak.
" Heni cepat buka pintu, "
Terdengar suara ayahnya dengan gedoran berulangkali. Heni menatap daun pintu dengan kalut. Sungguh kepulangannya hanya ingin berlindung saja. Tapi sang ibu pasti sudah memberitahunya jika Heni pulang dalam keadaan memprihatinkan. Heni bangkit, dengan ragu dan takut, dibukanya pintu. Sang ayah langsung memeluk putri satu-satunya itu. Saat tubuhnya terkena gesekan tubuh ayahnya dengan keras, dia menjerit kesakitan. Bekas pukulan itu masih terasa.
" Mana yang sakit my little baby?? " tanya tuan Alwan. Heni ingin tertawa mendengar ucapan ayahnya. Selalu jika Heni menangis kesakitan, sang ayah selalu memeluk dan memanggilnya dengan sebutan yang lebih pantas untuk anak kecil itu.
" Tidak ada pa, " jawabnya, namun tangannya refleks memegang letak sumber kesakitannya. Tuan Alwan membuka atasan Heni perlahan. Begitu melihat ada bekas merah seperti guratan terpukul, dia meradang. Sorot matanya berkilat ke arah Heni.
" Siapa yang melakukannya? katakan! " sentak tuan Alwan dengan marah. Dipegangnya lengan Heni untuk mengatakan yang sebenarnya, karena dia masih bersikeras menutupi.
Heni mulai terisak. Dia teringat kembali apa yang terjadi dirumah kecilnya. Saat dimana Bimo begitu tega memukulnya dengan kemoceng dan hampir membunuhnya. Dia merasa trauma mendapatkan kekerasan yang baru dia dapatkan.
" Mas Bi..mas Bimo, " jawabnya. Tuan Alwan terbelalak tidak percaya.
" Dasar brengsek, lelaki tidak tahu diuntung. Tega-teganya dia memukulmu. Sudah miskin, mandul, tidak bisa memberimu kehidupan layak masih berbuat kekerasan kepadamu?! " sungut tuan Alwan dengan geram. Heni menangis terisak-isak, hatinya hancur mendengar ucapan ayahnya. Dia tidak rela begitu saja sang ayah menghujat suaminya yang telah melakukan kesalahan besar. Sungguh dia tidak bermaksud mengadu domba. Ternyata kepulangannya justru menambah beban.
__ADS_1
" Jika dia menyakitimu berarti dia juga menyakitiku. Akan aku balas dia. Menantu kurang ajar!! "
Tuan Alwan beranjak meninggalkan kamar Heni. Heni mengejar, bersimpuh dikakinya agar tidak menegur Bimo. Dia masih berusaha membela.
" Kau membelanya, papa tidak terima!! "
Tuan Alwan menepis tangan Heni yang masih menahan kepergiannya menuju ke rumahnya bersama Bimo. Dia mengejar sang ayah. Tuan Alwan masuk ke mobil dan meminta sopir segera menuju ke rumah Heni. Mobil segera meluncur menuruti sang majikan. Heni mengambil motor digarasi menyusul ayahnya. Sementara nyonya Alwan terus memanjatkan doa semoga tidak terjadi hal fatal.
Tidak beberapa lama kemudian, mobil yang ditumpangi tuan Alwan telah sampai dirumah kecil anaknya bersama sang suami. Dia segera masuk karena melihat pintu setengah terbuka. Bimo menatap terkejut kedatangan mertuanya yang menampakkan kemarahan.
" Apa yang telah kau lakukan kepada putriku?!! " bentaknya. Bimo berpaling, dia tidak mau jika mertuanya ikut campur dalam urusan rumah tangganya bersama Heni. Dia lupa jika ibunya juga selalu melakukan hal yang sama.
" Maaf pak Alwan, mari kita duduk dan berbicara dengan kepala dingin, " saran Zidan. Karena dia masih menemani Bimo selepas kepergian Heni. Dada tuan Alwan naik turun karena gejolak emosinya yang memuncak. Dia melayangkan sebuah bogem mentah ke pipi menantunya. Bimo terhuyung sampai hampir mengenai tembok. Zidan bangkit berusaha menahan agar tuan Alwan tidak berbuat semakin jauh. Heni sampai dan segera berdiri melindungi Bimo yang memegang pipinya.
" Sudah pa, cukup. Biarkan aku yang menyelesaikan masalahku, " ujar Heni dengan terus berlinang airmata.
" Kalau kau benci anakku jangan memukulnya. Kau keterlaluan Bimo. Ceraikan dia, " sungut tuan Alwan. Heni bergidik ngeri mendengar ucapan itu. Dia tidak mengira ayahnya meminta Bimo untuk menceraikannya?
" Aku akan melakukannya setelah dia melahirkan, " ujar Bimo tegas sembari memegang pipinya yang lebam.
__ADS_1
Tuan Alwan terkesiap mendengarnya. Heni hamil? Aku akan mendapatkan seorang cucu? oh apakah ini mimpi? batinnya. Dia bahagia tapi juga bingung.
" Dia berselingkuh dan saat ini dia sedang hamil, pa, " terang Bimo.