
Tangan heni mulai bergerak perlahan, kelopak matanya membuka. Dia mencerna keberadaannya diruangan serba putih ini. Netranya menatap sang ibu yang tertidur disisinya. Diusapnya sang ibu. Tubuhnya terasa pegal semua, dia mencoba duduk. Tapi perutnya terasa ngilu membuatnya kesakitan. Ibunya membuka mata dan melihat Heni sudah sadar.
" Jangan duduk, berbaring saja. Kau masih belum pulih setelah operasi, " terangnya. Heni melihat perutnya yang terasa kempis. Dia menyadari jika bayinya sudah lahir.
" Dimana bayiku, ma? " tanyanya. Nyonya Alwan menerangkan bahwa bayi itu berada di ruang perawatan bayi. Dia juga masih harus di inkubator.
" Kau mau apa? mama ambilkan, " ujarnya. Heni menunjuk botol mineral. Diambilkannya lalu diberikan kepadanya. Tangannya kemudian meraih makanan dimeja. Lalu menyuapkannya ke mulut sang anak yang masih nampak pucat.
" Bagaimana keadaan bayiku ma? aku ingin melihatnya, " ujar heni di sela makan. Nyonya Alwan menggeleng lalu melihatkan sebuah foto bayi di ponselnya. Heni menatap dengan terharu.
" Kenapa dia kecil sekali ma? " tanya Heni dengan sesal.
" Bayi prematur Hen, ya memang dia masih segitu, tapi dia sehat kok. Bertambah bulan, dia juga akan bertambah gemuk, " terangnya umum, tidak perlu mendetail. Wanita itu takut anaknya akan khawatir dan nekat melihatnya.
" Kau mau beri nama dia siapa? " tanyanya memecah keheningan. Karena Heni hanya makan dengan diam. Pikirannya masih sibuk mencerna peristiwa yang hampir merenggut nyawanya tempo hari. Entah dia harus berterima kasih atau tidak terhadap si penabrak karena terpaksa bayinya harus dilahirkan lebih awal.
" Siapa ya? " tanyanya balik. Pandangannya menerawang jauh ke depan. Tiba-tiba dia teringat Tama, pria yang adalah bapak biologis bayi itu yang kini entah berada dimana? rasa rindu itu muncul kembali.
" Aku hanya ingin huruf depannya t, terserah mama, " ujarnya. Dia ingin mengenang huruf awalnya saja? salahkah?
" T ya? tiara? tina? terry? tivya? tissa? " ucapnya mengeja mencari yang bagus. Heni nampak berpikir keras. Entah mengapa sosok bayi yang belum dilihatnya itu terus mengingatkannya kepada Tama. Dia mencoba menampik ingatan tentang pria itu dengan terus mengucap ' aku benci kau ' didalam hatinya.
" Tania saja ma, " jawabnya. Nama perpaduan antara Tama dan Heni. Hatinya tergelitik mendengarnya, dia tersenyum. Hanya nama saja??? toh sekarang dia juga sudah menikah dan mungkin punya anak dari Mona?
" Terus belakangnya? " tanya nyonya Alwan memastikan.
" Terserah mama, " jawabnya lagi.
" Yakin? " tanyanya penasaran. Heni mengangguk kuat-kuat lalu melanjutkan makan yang tertunda.
__ADS_1
.............
Tiga hari sudah Heni dirumah sakit. Sebenarnya dia sudah merasa sehat, tapi sang dokter menyarankannya untuk masih dirawat. Sementara bayinya diharuskan masih dirawat seminggu atau sampai beberapa minggu lagi sampai bayi itu benar-benar sehat. Tuan Alwan juga sering mengunjunginya, tak lupa sang cucu juga dilihatnya melalui jendela kaca. Ruang itu memang selalu dibuka gordennya pada jam tertentu saja. Memudahkan para pasien atau keluarga untuk melihat.
Karena merasa sangat bosan Heni memutuskan ingin jalan-jalan keluar ruangan. Dia memaksa agar ibunya mengijinkannya. Dia memasang wajah memelas.
'' Ayolah ma, aku benar-benar bosan, " ujarnya. Nyonya Alwan akhirnya menuruti permintaan anak perempuannya itu. Dia menuntun Heni dan mendorong infus yang terpasang di tiang besi, yang digunakan untuk menggantungkan alat itu.
Keluar dari ruangan, Desta, kenalan nyonya Alwan tersenyum dan menyapa mereka. Disebuah kursi panjang yang kosong mereka pun duduk sembari menatap lalu lalang orang karena tepat dihadapan mereka ada koridor, disepanjangnya terdapat bangunan ruangan lain yang beejejer. Semilir angin sepoi-sepoi menerpa wajah Heni. Akibatnya rambutnya ikut terurai karena tidak diikat. Heni merasa kesulitan karena sebagian wajahnya tertutupi olehnya.
" Ma, ambilkan pengikat rambut dan sisir. Bantu rapikan rambutku, " pintanya. Nyonya Alwan lalu masuk ke ruangan mengambil apa yang dimintanya. Setelah kepergian ibunya, Heni diam termangu.
" Kasihan sekali bayi itu sudah meninggal, "
" Bayi yang mana? "
" Bayi prematur perempuan yang sangat cantik itu, "
Deggg....jantung Heni berdesir, dia teringat bayinya yang belum dilihatnya sama sekali. Refleks dia berdiri ingin melihat dan memastikan keadaan bayinya. Dia berusaha bangkit dan melangkahkan kaki. Seseorang menegurnya, dia beralasan mau ke kamar mandi.
Heni terus menelusuri koridor mencari tempat ruangan bayi berada. Dia kesal karena tak kunjung menemukannya. Tubuhnya serasa remuk redam. Karena sudah tak sanggup berjalan, dia duduk dan ingin bertanya kepada perawat. Netranya menatap seorang perawat yang tengah berjalan ke arahnya.
" Mbak permisi, saya mau tanya. Dimana letak ruang bayi ya?? " tanyanya. Perawat itu menunjukkan dengan dibantu isyarattangan agar lebih jelas. Heni mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia bangkit lagi. Rasa penasarannya yang tinggi membuatnya kuat seketika. Beberapa menit kemudian, dia sudah berdiri di ruang perawatan bayi. Dia menatap dari kaca tembus pandang. Nampak tak jauh darinya seorang bayi tengah tertutup kain diseluruh tubuhnya. Heni merasakan getar kesedihan dalam dirinya. Airmatanya pun menetes. Tubuhnya memberosot sampai ke lantai, dia menangis tersedu-sedu.
" Tidak mungkin itu bayiku, " gumamnya disela tangisnya. Entah mengapa dia merasa bahwa itu adalah Tania, bayinya. Padahal dia belum melihatnya karena tubuhnya masih sangat lemah. Sang ibu yang menemukannya terduduk di situ, bernapas lega tapi dia heran kenapa putrinya menangis. Dia tidak ingin melihat airmatanya lagi. Kesedihan sudah berakhir.
" Ada apa? Kenapa kau menangis anakku? mama disini nak, " ujarnya lembut. Heni menatap ibunya dengan marah, dia menunjuk ke arah bayi.
" Kau ingin melihat bayimu? " tanyanya.
__ADS_1
" Dia sudah tidak ada ma, " terang Heni. Nyonya Alwan terkejut, tidak mungkin. Pagi tadi dia masih bergerak dengan lincah diinkubator, pikirnya menepis perkataan buruk anaknya.
" Kau ngomong apa? dia sehat kok, " ujar nyonya Alwan dan mengangkat anaknya agar berdiri. Disamping mereka beberapa orang masuk ke ruangan itu dengan menangis. Seorang wanita yang memakai jarit berteriak histeris sembari menatap bayi yang telah tertutup kain itu. Rupanya mereka keluarga si bayi yang meninggal. Tidak mau ruangan dipenuhi oleh banyak pengunjung dan ada keributan, tiga perawat menegur mereka dan berusaha membubarkan. Mereka keluar dengan sumpah serapah karena kecewa.
" Itu bukan bayimu tapi yang disana, " terang nyonya Alwan dan menunjuk bayi yang berada nomor empat paling ujung. Heni segera masuk ke ruangan itu dengan alasan ingin melihat padahal belum jam berkunjung masih dua jam lagi. Heni terus memohon agar diberikan pengecualian, akhirnya seorang perawat memberinya ijin hanya lima menit saja.
Heni menatap bayinya yang masih tergolek lemah. Bayi itu masih berwarna kuning disekitar tubuhnya. Dia membuka mata seperti menyadari kedatangan ibunya. Bayi itu menatap Heni meski terhalang kaca tebal yang melapisi inkubator itu.
Nak, ibu pengen lihat kamu.
Bayi itu seolah-olah mengerti, dia tersenyum sangat menggemaskan meski badannya kecil. Seorang perawat datang dan memintanya agar segera keluar.
Sementara itu dirumah, Bimo membanting ponselnya. Dia marah-marah karena ayah mertuanya memintanya segera mengurus surat perceraian melalui vc. Karena Heni sudah melahirkan. Yang dia sesalkan ayah mertuanya itu masih mengingat janji itu.
" Sialan si tua sombong itu. Padahal aku masih ingin menyiksa anaknya. Kenapa disuruh cerai? Brengsek!!! " umpatnya.
Rasa cintanya terhadap Heni telah pudar seiring berjalannya waktu. Ditambah dia juga tidak pernah bertemu sejak kepergian sang istri meninggalkan rumah. Akhirnya dia berniat pergi mencari kawannya yang sering mengajaknya pesta alkohol untuk melupakan kekesalannya. Diraihnya kunci motor, distarter lalu segera tancap gas malam itu.
Motornya berhenti didepan rumah Asep, tempat yang biasa digunakan untuk bermain judi dan pesta alkohol. Bimo masuk, sudah ada banyak orang didalam. Canda tawa menguar memenuhi ruangan tamu. Asep yang melihatnya langsung melambaikan tangan. Bimo menghampiri dengan menyibak lainnya. Didepan Asep sudah banyak deretan alkohol dari berbagai merk. Dia juga dikelilingi banyak pria yang sudah mabuk akibat minuman sesat itu. Dia sendiri yang baik-baik saja karena tidak minum. Ibarat seorang bartender yang hanya menyediakan minuman untuk para pelanggannya.
Bimo memberinya beberapa lembar uang kepadanya, karena tidak enak selalu diberi minuman lucknut gratis itu setiap datang. Sedangkan yang lain selain minum juga berjudi.
" Pengecualian untukmu, " ujarnya menenangkan Bimo.
Bimo menenggak segelas minuman yang sudah disajikan dari Asep. Lalu mengamati saja setiap aktifitas dirumah petak itu. Padahal mereka pernah digerebek tempo hari tapi dibuka kembali tempat ini beberapa bulan setelah ditutup. Sepertinya Asep mempunyai bekingan cukup kuat hingga tidak ada penggerebekan lagi.
Dari awal dia hanya berniat minum segelas saja tapi candunya sudah mengaliri urat nadinya. Dia minum lagi sampai hampir habis beberapa botol. Melihat Bimo yang hampir tak terkendali karena minuman itu, Asep menghentikannya. Dia takut temannya itu merusak tubuhnya karena terlalu banyak minum. Dia merangkul temannya itu untuk segera keluar. Bimo menepis tangannya dan pergi sendiri dengan marah. Dia melangkah menyusuri jalan yang gelap karena rumah Asep hampir ditengah sawah jauh dari tetangga. Dia juga melupakan motornya yang masih berada dihalaman rumah Asep.
Tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan membuatnya menutup kedua matanya. Rupanya cahaya itu berasal dari lampu belakang mobil seseorang. Si pengemudi keluar dan menghampiri Bimo yang mabuk berat. Setengah sadar Bimo melihat wanita itu seperti Heni.
__ADS_1
" Kau Bimo kan? " tanyanya meyakinkan.
Bimo tidak menjawab. Banyaknya alkohol yang diserap oleh tubuhnya mematikan daya kontrolnya. Dia menceracau tak jelas. Wanita itu paham lalu segera menarik Bimo untuk masuk ke jok belakang mobilnya.