Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
menyelidiki


__ADS_3

Bimo terpaku dengan memandang nomor plat mobil yang membawa istrinya itu. Dia berpikir dan menduga-duga, siapa pemilik mobil itu? wanita apa seorang lelakikah? Kenapa tidak menjemput dirumah saja? Kenapa harus dijalan? Sungguh pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Heni saja. Hendak kemana Mereka? apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku, heni? batin Bimo kesal. Dia pun berjalan pulang dengan banyak pertanyaan di pikirannya.


.....


Besoknya, Bimo berangkat kerja tanpa pamit. Dia masih bersikap dingin terhadap istrinya. Tanpa berkata apapun dia langsung tancap gas menuju tempatnya bekerja. Sementara Heni masih sibuk mencuci, dia meminta temannya untuk masuk shift malam. Dia menyadari kelakuan suaminya tetapi tidak menghiraukan nya, dia sudah terbiasa. Sikapnya akan hilang jika Heni menyapanya terlebih dahulu. Untuk saat ini Heni malas, dibiarkannya suaminya dengan sikapnya itu. Setelah mencuci dia membuka laci tempat suaminya memberi uang. Namun isinya masih sama, kosong. Dalam sebulan bisa dihitung berapa kali suaminya memberinya nafkah. Akhirnya dia berbelanja dengan uangnya, seperti yang sudah-sudah.


Dia berbelanja di warung bu Tatik langganan nya, selain menyediakan warung juga melayani jasa laundry. Terkadang saat Heni malas mencuci, dia sering menggunakan jasa itu. Banyak ibu yang juga tengah asyik memilih aneka sayuran untuk dimasak. Mereka juga saling bertegur sapa.


" Mbak, kemarin tahu mobil yang parkir didepan gang itu nggak? " tanya bu Nur kepada bu indah. Bu indah menggeleng, dia masih asyik memilih.


" Sepertinya yang punya mobil itu menjemput tetangga kita, " tambahnya seraya melirik ke arah Heni. Heni yang menyadari hal itu nampak tenang. Dia sudah mengira jika bertemu dengannya pasti akan disindir. Karena wanita bertubuh gemuk itu melihatnya masuk ke mobil.


" Sepertinya tetangga kita jadi panggilan om-om, " tambahnya lagi. Telinga Heni terasa panas tapi dia masih bisa menahan amarah. Baginya hanya sindiran saja, kalau mengolok pasti akan dilawan. Kenapa sih peduli dengan kehidupan orang lain? Hidup sendiri saja belum tentu benar. Nyatanya dia juga sering kawin cerai hingga menjadi janda lagi untuk kesekian kalinya. Wanita itu terus menyindirnya dengan halus meski yang lain tidak begitu menanggapinya. Setelah membayar apa yang dibeli, Heni segera pulang untuk memasak. Entah dimakan atau tidak oleh suaminya yang sedang marah, dia tetap menyediakannya.


Dirumah dia segera mengiris lalu mencuci sayuran yang dibelinya. Suara panggilan dari pintu membuatnya menghentikan aktifitasnya itu. Dia melangkahkan kaki menuju ke depan. Dilihatnya mertuanya datang, kali ini dia membawa dua kresek merah. Ditaruhnya disampingnya lalu duduk. Heni menawari mertuanya untuk minum. Mertuanya tersenyum lalu mengiyakan.

__ADS_1


" Dimana putraku? " tanyanya dengan mengedarkan pandangan ke segala penjuru.


" kerja bu, " jawab Heni.


Dia lalu pamit kepada mertuanya untuk meneruskan acara memasaknya setelah menyajikan minuman untuknya. Mertuanya mengikutinya sampai ke dapur. Dia menatap dengan nanar, namun Heni tidak peduli. Heni menyalakan kompor lalu segera memasak sayuran yang sudah diiris dan dicucinya.


" Kau masak apa? putraku tidak suka masakan pedas-pedas, jangan masak itu yang lain saja, " ujarnya mengingatkan. Heni mematikan kompor lalu menatap wajah sang mertua.


" Bu, mas Bimo sudah terbiasa makan ini juga, " sahutnya. Sudah biar aku saja yang masak untuk putraku tercinta, hardiknya. Heni mundur, untuk kesekian kalinya dia tidak mau berdebat hanya masalah makanan. Dia hanya bisa diam saat semua bahan yang hendak dimasaknya dibuang begitu saja oleh mertuanya. Lalu menggantinya dengan bahan yang dibawanya sendiri. Heni pergi duduk diruang televisi. Dia merasa kesal, dikeraskannya volume televisinya. Karena letaknya dekat dengan dapur, mertuanya keluar untuk menegurnya.


" jangan mentang-mentang kau nikah dengan putraku, kau berlagak seperti tuan ratu, nona, " ujarnya dengan emosi.


" Terserah mau ibu apa? " Heni bangkit lalu keluar rumah, sungguh rumah terasa sesak jika wanita itu datang. Dia terus berjalan tanpa arah, baginya dia harus segera menjauh dari wanita itu. Langkahnya mengarahkannya ke sebuah gang sempit menuju ke jalan besar. Dia tersadar saat mendengar deru kendaraan yang lalu lalang dihadapannya. Dia mundur. Hampir saja dia ditabrak motor. Pengendara itu berhenti dan mengomelinya dengan banyak umpatan karena kesal. Heni berlalu setelah meminta maaf, karena dia menyadari memang itu kesalahannya.


" Untung, aku tidak tertabrak. Gimana sih kakiku ini mau ngajak kemana?? " tanyanya pada diri sendiri. Dia berdiri disebelah tiang listrik yang tidak jauh darinya. Pandangannya jauh ke jalan raya. Aku ingin pulang ke rumah mama, batinnya. Dia melihat penampilannya, hanya memakai celana pendek dan kaos oblong serta celemek yang masih terpasang didadanya. Dia menggerutu, kenapa tidak dandan tadi? kalau sewaktu-waktu mertuaku datang aku bisa pergi, batinnya lagi. Dia berjalan menuju ke rumah lagi, hendak mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Sesampainya dikontrakan, sang mertuanya masih sibuk memasak di dapur. Seperti biasa dia selalu masak besar jika datang, dan itu hanya diperuntukkan untuk Bimo saja. Bagian Heni hanya beberapa lauk saja yang sudah dipisahkan. Bimo juga hanya diam mengetahui perlakuan ibunya kepadanya. Sikapnya yang cuek membuat Heni geram, tak jarang dia selalu ' ngungsi jika mertuanya berkunjung. Dia merasa di ' orang asingkan. Sungguh membuatnya muak.


Heni segera mandi kilat, bergegas berganti pakaian lalu melesat keluar rumah. Panggilan mertuanya menghentikan langkahnya yang sudah sampai dijalan gang. Heni menoleh dengan malas,


" Ada apa bu? " tanyanya ketus. Mertuanya mendatanginya dengan raut wajah menghiba,


" Jika kau pulang, mintakan sebuah perhiasan dari mama mu, " ujarnya. Heni terbelalak, sungguh wanita yang tidak tahu malu. Apa jika aku pergi dari rumah saat dia datang, dia selalu menganggap aku pulang ke rumah orangtuaku? meski kenyataannya benar, tidak bisakah dia tidak meminta apapun dariku? dan ini sudah kelewat batas, dia meminta perhiasan dari mama ku? ini tidak boleh didiamkan.


" Ibu, mintalah sendiri ke mama ku. Kau salah orang, " jawabnya ketus. Heni sudah tidak bisa meredam emosinya. Dia sudah muak dijadikan bahan kesalahan dan selalu berusaha memeras orangtuanya melalui dirinya.


" Kau mulai berani membantah? " tanyanya. Wanita itu heran dengan penolakan menantunya yang dulu selalu mengabulkan permintaannya itu. Apapun yang dimintanya saat dia pulang ke rumah mewahnya selalu terpenuhi meski hanya sapu lidi sekalipun.


" Aku sudah capek bu menuruti permintaanmu yang aneh-aneh, " jawab Heni. Dia sudah tidak mau lagi menanggapi permintaan ibunya yang kedua itu. Selain tidak pernah dihargai juga tidak pernah menganggapnya sebagai menantu. Dia sudah lelah.


" Kalau kau capek dengan aku, pisah saja dengan putraku. Kau menantu tidak berguna, " umpatnya di sisi jalan. Heni menunduk berusaha menahan air matanya yang hendak lolos tanpa ijin. Sementara tetangga yang mendengar umpatan mertua Heni, pura-pura tidak mendengar dan terus berlalu tanpa menyapanya. Heni malu, dia melangkahkan kakinya tanpa pamit dengan mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2