
Bimo menarik Heni masuk ke kamarnya lagi dan menghempaskannya ke lantai. Dia terjerembab. Tubuhnya serasa remuk dan kepala yang berdenyut. Pandangannya berkabut lalu tak sadarkan diri lagi untuk kesekian kali. Bimo mengangkatnya dan membaringkannya ke ranjang, dia puas melihatnya. Lalu berbaring disebelah Heni.
Tengah malam Heni tersadar. Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Disampingnya Bimo tengah mendengkur. Muncul dibenaknya untuk melarikan diri. Dia bisa gila jika terus dirumah ini dengan perlakuan Bimo yang menyiksanya. Dengan perlahan dia turun dari ranjang.
"Awh...sakit sekali tubuhku, " gumamnya. Lalu berjalan menuju ke pintu dan membukanya perlahan. Netranya menatap awas Bimo, dia masih terlelap. Heni semakin tegang untuk melangkah menuju ke pintu utama. Dia putar kunci, berhasil. Pintu dibukanya. Kegelapan membentang terhampar dihadapannya.
" Sial, aku dimana sih? " pikirnya. Berusaha mengingat jalan tapi tak ingat sama sekali.
Dia menutup kembali pintu, berjalan keluar. Dia sudah tidak peduli tas dan dompetnya yang disita oleh Bimo. Dipikirannya dia harus cepat meninggalkan tempat lucknut itu sebelum Bimo bangun dan menyeretnya lagi. Menit ini dia kalut bercampur tegang. Secercah bahagia meletup-letup dihatinya. Ya dia bisa menghirup udara bebas lagi. Dia terus berjalan tanpa mempedulikan nalurinya yang menolak kegelapan karena takut. Berulangkali kakinya terantuk sesuatu. Tapi tetap sama, dia tak nampak kakinya sendiri karena gelap dimana-mana. Beberapa meter didepannya ada cahaya temaram dari lampu jalan. Dia menghirup napas lega, akhirnya dia bisa melihat sekitarnya.
Tak jauh darinya ada jalan bercabang. Heni bingung mengikuti jalan yang mana. Dia berhenti untuk berpikir mengambil keputusan yang tepat. Dia harus cepat berpikir. Oh Tuhan mana jalan yang harus kupilih?? Heni kebingungan. Dia mengamati jalan itu masing-masing. Disebelah kanannya ada banyak cahaya yang meneranginya dari kejauhan sementara jalan yang kiri hanya kegelapan semata. Akhirnya dia mengambil jalan kanan. Mungkin kanan bisa menuntunku ke jalan raya, pikirnya.
Heni terus melangkah, tanpa sadar keputusannya membawanya ke tempat pemukiman. Lebih mirip sebuah kampung. Heni menatap rumah berderet dikanan kiri jalan. Semua rumah tertutup rapat karena memang masih dini hari. Semakin lama tenaganya semakin berkurang. Heni duduk mengumpulkan sisa tenaganya. Perutnya yang melilit karena kelaparan membuatnya terus memeganginya. Saat kakinya mulai melangkah lagi, tubuhnya sudah tak berdaya, kepalanya pun pening hingga dia tak sadarkan diri.
Sayup-sayup Heni mendengar suara yang dikenalnya. Mama, papa, dan hei benarkah pendengaranku ini? Kenapa dia mau menolongku? Bukankah aku adalah perusak? Jika dia ada disini berarti? Tidak mungkin aku pasti salah mendengar? mungkin dia orang yang lain, yang mempunyai nama yang sama.
" Terima kasih, nak. Kalau tidak ada kau pasti dia dibawa orang jahat lagi, " ujar nyonya Alwan.
" Jangan berkata seperti itu, tante. Saya jadi tak enak. Lagian yang menjemput tante kan, bukan saya, " belanya.
" Pasti ini ulah Bimo. Keterlaluan dia, akan kujebloskan ke penjara jika benar dia, " sungut tuan Alwan.
__ADS_1
Heni membuka mata, menatap mereka bertiga. Oh tidak, mereka berempat. Disebelah kedua orang tuanya adalah mereka. Ya, kenapa mereka ada disini? Tuhan kenapa kau pertemukan aku lagi dengan mereka? aku tidak mau tersakiti dan menyakiti mereka. Heni menatap ke arah lain. Nyonya Alwan yang tahu bahwa Heni sudah sadar segera mendatanginya.
" Heni, apa yang kau keluhkan? ceritakan pada mama, " ujarnya lembut. Heni menggeleng. Bibirnya berusaha menyunggingkan senyum palsu.
" Bimo kan pelakunya? " tanya tuan Alwan marah. Pria itu sangat membenci menantunya yang belum menjadi mantan sang anak.
" Bukan, pa. Orang lain, aku tidak kenal, " sahut Heni cepat. Sudah cukup dia tidak mau melibatkan papanya terlalu jauh. Heni tahu keputusan bercerai juga membuat suaminya berubah kejam dan tak punya hati.
" Katakan kepadaku bagaimana ciri-cirinya? " tanya tuan Alwan masih gemas dan penasaran.
" Sudahlah pa, biarkan Heni memulihkan tubuhnya pasca trauma. Dia juga masih dehidrasi, " tegur sang istri.
" Aku sudah baikan Mona, " jawab Heni ragu. Disamping Mona, pria yang pernah mengisi sedikit ruang dihatinya terus menatapnya tajam. Heni malu dan menghindari tatapan itu. Dia takut jatuh cinta lagi dengannya.
" Terima kasih juga nak Tama, kau segera memberitahu dan menjemputku, " ujar sang ibu. Heni tercekat, kenapa aku harus ditolong olehnya juga? Apa tidak ada orang selain mereka?
Oh Tuhan, kenapa dunia ini begitu sempit? Sesempit inikah??? kenapa harus bertemu kembali? aku tak berdoa seperti itu. Cepat pergilah jangan buat hatiku bergetar kembali. Aku ingin melupakanmu.
Saat Heni tak sadarkan diri di pinggir jalan, Mona tengah berjalan-jalan pagi. Dia sedang berada dirumah saudaranya didekat tempat kejadian. Dia terkejut mendapatinya tergeletak begitu saja dengan keadaan yang mengenaskan. Mona yang seorang dokter langsung membalik tubuh dan menatap wajahnya. Sementara orang disekitarnya yang takut hanya menontonnya saja dari jauh. Mereka mengira jika Heni adalah orang tak waras.
Ketika dilihatnya itu adalah Heni, dia langsung menelepon Tama dan memberitahu kondisinya. Tama segera memintanya untuk membawanya ke rumah sakit. Dia juga langsung memberitahu dan menjemput nyonya Alwan.
__ADS_1
Tama mendekati Heni mengusap tangannya, tatapannya sama sekali tak lepas dari Heni yang terbaring lemah. Pria itu masih sama, hanya kini nampak semakin kurus saja.
" Teri...ma kasih, " ujarnya terbata karena gugup.
Ah memalukan sekali, kenapa kau harus gugup? Tak bisakah kau bersikap normal Heni? Ingat dia sudah beristri. Ibunya juga membencimu. Sadarlah Heni. Tapi kenapa tak ada cincin yang melingkar di jemarinya?
Pikiran Heni terus berperang, hingga akhirnya dia mengusir halus mereka dengan alasan ingin istirahat. Mereka menurutinya kecuali Tama. Pria tampan yang masih mempesonanya itu masih terpaku disampingnya.
" Keluarlah aku ingin istirahat, " pinta Heni parau.
Kenapa dengan hatimu? Apa kau ingin menangisi nasibmu dihadapannya? Kau ingin mengemis perhatiannya? Buang Heni, kau bukan siapa-siapanya. Kau sudah berjanji melupakan dia dan suamimu yang kejam itu, kenapa kau goyah lagi? Sadarlah Heni!!!!
Tama mendaratkan sebuah kecupan dikeningnya lalu pergi meninggalkannya. Heni bernapas lega. Pikiran dan hatinya sudah berhenti berdebat. Memang pria tampan layak diperdebatkan? konyol??
Tapi tunggu dulu, apa maksudnya menciumku? yang benar saja? istrinya ada disini, dan dengan beraninya dia menciumku? apa aku yang berhalusinasi atau memang tadi kenyataan? Aku tambah pusing.
......
Bimo bangun kesiangan, karena semalam energinya terkuras emosi. Dia mencari Heni disetiap sudut rumah, tapi tak ketemu. Dia menepuk jidat, menyesalkan kunci yang masih terpasang.
" Pasti dia berhasil melarikan diri, sialan!! " sungutnya. Lalu dia pergi untuk pulang ke rumah kontrakannya.
__ADS_1