
Setelah akad, Tama memutuskan tidak pulang. Madam Roxanne sangat marah. Berulang kali dia mencoba menghubungi Tama dan memintanya untuk pulang menemuinya dengan membawa serta Heni. Tapi Tama tak menurutinya. Dia seperti menjaga jarak. Lelaki itu tahu jika dia tak menyukai wanita pilihannya. Dan juga untuk mencari waktu yang tepat.
Madam Roxanne berpikir mencari cara agar bisa mendekati Heni tanpa sepengetahuan sang anak. Tapi dia kesulitan karena belum tahu dimana mereka tinggal. Dia juga bertanya kepada suaminya, tapi hasilnya juga idem. Hingga dia mempunyai sebuah ide akan bertanya kepada salah seorang teman dekat Tama dirumah sakit. Dia bergegas pergi ke rumah sakit diam-diam.
Sesampainya di rumah sakit, Madam Roxanne mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Dia takut jika bertemu dengan Tama yang sudah mengambil alih tempat itu. Di ujung koridor dia melihat Tama yang tengah berjalan menyusuri lorong dengan membawa banyak barang. Rasa rindu di hatinya memudar tatkala melihat sang anak melambai ke arahnya. Ternyata Tama melihat keberadaannya yang sebenarnya ingin bersembunyi. Lelaki itu kini nampak bersih dan terawat, dia memeluk dan mencium pipi ibunya tercinta. Jauh sebelum menikah dengan Heni. Madam Roxanne melihat perubahan itu, memang pengaruh Heni sangat besar untuk sang anak. Tak bisa dipungkirinya itu.
" Aku merindukanmu Tama. Kenapa kau tak mengangkat panggilan dariku??? " tanyanya kecewa.
Dia juga berpura-pura legowo padahal jauh dilubuk hatinya sedang menahan amarah, karena anaknya tetap mengucap ikrar janji dengan Heni meski tanpa restunya. Kebenciannya masih sangat besar terhadap Heni yang menjadi menantunya itu.
" Aku sibuk mi. Mami, apa kabar? " tanyanya balik, diletakkannya barang dilantai.
Lalu mereka duduk di bangku kosong yang tak jauh ditempatnya berdiri. Beberapa perawat dan dokter lainnya yang melewati mereka saling menunduk dan melempar senyum, menyapa petinggi rumah sakit itu.
Mereka berbincang saling melepas rindu. Madam Roxanne juga menampakkan kesedihan yang mendalam karena tidak mau Tama memutuskan hubungan antara mereka secara sepihak. Bahkan dia berjanji akan merubah sikap jika bisa bertemu dengan Heni.
" Nanti ikut aku pulang mi, " ajak Tama. Madam Roxanne kegirangan, dia akan tahu alamat rumah mereka. Dan dia bisa sesuka hati datang dengan tujuan mengganggu menantunya.
.............
Heni bangkit menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Suaminya mengajaknya bercinta lagi semalam bahkan minta diulang. Lelaki itu tak bosannya melakukan hal itu karena menurutnya Heni adalah pembangkit gairahnya. Sungguh jiwa mudanya masih meletup-letup menikmati pasangan pengantin baru padahal sudah jalan hampir dua bulan.
Usai mandi dan berganti pakaian, Heni menghampiri Tama yang masih berbaring dengan bermain ponsel. Heni ikut melihat dan dengan senang hati Tama menunjukkan apa yang dilakukannya dengan ponselnya. Heni ikut tertawa membaca pesan rekan suaminya yang kebanyakan konyol. Ternyata dokter pun juga bisa melontarkan joke?
" Kau tidak kerja? " tanya Heni. Tama meraih kepala Heni dan membenamkan didadanya yang ditumbuhi sedikit bulu. Sesekali Heni menyentuh bulu itu, dia geli.
" Iya sayang, " jawabnya. Dia mencium rambut Heni yang harum habis keramas. Aroma tubuhnya juga tercium olehnya.
" Kau membuatku gila sayang, tetaplah bersamaku, " ujarnya.
Dia bangkit dan meletakkan ponselnya di nakas. Dia tangkup wajah istrinya agar menatap manik matanya. Heni pun melakukannya, dia menatap dalam manik mata suaminya yang memancarkan cinta begitu besar. Tama mendekatkan wajahnya memagut bibir kenyal istrinya yang sudah menjadi kebiasaannya setelah bangun tidur.
" Aku akan pulang cepat nanti. Kita jalan-jalan sama Tania. Kau mau berkunjung ke rumah orang tuaku? " tanyanya.
" Mamiku memintamu datang nanti sebagai gantinya karena kau menjamunya dengan sangat baik pekan lalu, " ujarnya.
__ADS_1
Heni nampak berpikir. Sebenarnya kedatangan wanita itu tak diharapkannya sama sekali. Dia memang bersikap baik tapi saat Tama meninggalkannya, wanita itu menyindirnya dengan menyebutnya wanita murahan. Sungguh seperti bunglon, pandai berkamuflase. Tapi dia tak mengadukan hal itu kepada Tama, mengingat hubungan keduanya yang sempat renggang karena Tama lebih memilihnya.
" Ehm.. gimana ya? dan kau meninggalkanku lagi seperti saat itu? " tanyanya. Dia belum siap berdua saja dengan mertuanya itu. Memorinya seakan memutar lagu lama dengan mantan mertuanya dulu. Sikapnya hampir sama. Kenapa harus drama lagi?????
" Aku akan menjagamu nanti, " jawabnya. Lelaki itu mandi dan segera bersiap untuk bekerja.
Selepas Tama berangkat, Heni mencari anaknya dengan syal melilit di lehernya. Dia tutupi tanda yang ditinggalkan suaminya semalam dari tatapan mata kedua asistennya, meski keduanya telah memiliki pasangan dan mengerti seluk beluk berumah tangga, dia malu. Risih juga jika mereka mengetahui tanda itu meski tak berkata apa pun.
Tania sudah bisa merangkak. Betapa bahagianya Heni. Meski dia sibuk bekerja di tempat ayahnya, tapi dia juga selalu memperhatikan perkembangan bayinya yang kini memasuki usia sembilan bulan.
Pagi ini Heni absen tidak ikut sang ayah. Beberapa hari belakangan dia merasa tidak enak badan. Kepalanya pusing dan mual. Dia juga sering begadang karena tak bisa tidur. Alhasil hampir seharian dia pucat cepat merasa kelelahan. Terlebih dia juga melayani suaminya yang selalu minta haknya tiap malam menambah tenaganya lemah saja. Sang baby sitter memintanya untuk memeriksakan diri, agar tahu penyakit apa yang dideritanya. Tapi Heni hanya menjawab lain kali. Dia merasa sehat meski ada yang aneh di tubuhnya.
Hoekk.... Heni muntah. Bik Siti, asisten rumah tangganya yang usianya hampir sebaya dengan ibunya memijat tengkuknya yang terlilit syal. Dia juga minta maaf karena menggoreng bawang merah tanpa memberitahunya. Benda itulah pemicunya sampai dia muntah.
" Jangan-jangan nyonya hamil? " tanyanya ragu. Senyum terbit di wajahnya kemudian. Dia semakin kuat memijat majikannya itu. Heni meringis kesakitan atas apa yang dilakukannya.
" Pasti dia mirip nyonya kali ini, " ujarnya. Dia sudah sibuk menyamakan kemiripan wajah janin yang masih perkiraan itu.
" Masa sih bik, saya hamil? " tanya Heni balik. Dia lupa saat pertama rahimnya ada Tania karena rasa yang campur aduk kala itu.
Heni bangkit, tapi sedetik kemudian dia muntah lagi karena aroma bawang goreng yang masih menusuk hidungnya.
Asisten rumah tangganya semakin yakin saja jika dia tengah hamil. Juga mau membelikan alat itu di sebuah apotek. Heni segera memberinya uang dan memastikan rasa keingintahuannya yang mulai terpantik akan perkataan wanita itu yang menggebu-gebu. Dia menunggu dengan harap-harap cemas. Bagaimana tidak cemas, anak sulungnya belum genap setahun? dan dia hamil? mbak Dina juga menunggu dengan mengawasi Tania yang sibuk mengeksplore rumah dengan merangkak.
Yang ditunggu pun datang, wanita paruh baya itu menyerahkan kresek hitam berisi beberapa alat tes. Dia sengaja membeli banyak jika alat satunya menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Heni berdebar menerimanya. Dia segera berhambur menuju ke kamar mandi diiringi tatapan kedua asistennya yang menunjukkan suka cita. Tapi tidak dengannya, dia gugup dan panik??
Dan ya, garis dua.
Aku hamil????? bagaimana ini? aku belum siap. Aku harus apa? gumamnya sendiri dikamar mandi.
Heni keluar dan menunjukkan alat itu kepada bik Siti. Wanita itu tersenyum bahagia dan memeluk sang majikan yang dianggapnya seperti anaknya sendiri.
" Selamat nyonya, kau hamil. Aduh nyonya jangan capek-capek. Lebih baik sekarang nyonya rebahan saja, biar semua saya urus, " terangnya. Karena Heni juga turut membantu pekerjaan rumah yang belum dikerjakan oleh sang asisten. Memang dia tak bisa diam. Mbak Dina menyarankan agar segera memberitahu tahu kabar gembira ini kepada tuannya. Dia tahu betul tuannya tengah getol menginginkan bayi karena setiap pagi sering dilihatnya leher nyonya penuh dengan tanda kepemilikan walau tertutupi oleh syal.
" Bagaimana ini, aku takut bik, " ujarnya.
__ADS_1
" Kenapa harus takut nyonya? kan ada tuan dan kami, apa yang ditakutkan? " tanya bik Siti.
Majikannya benar-benar aneh, hamil kok takut. Dia kan punya suami jika single dan hamil, baru sikap seperti itu lumrah.
Heni takut menghadapi kelahiran nanti, itu alasannya. Apakah harus caesar lagi? dan lagi anak pertamanya belum genap setahun. Dia terduduk disamping baby sitternya. Dia juga memanggil Tania agar bayi itu mendekat kepadanya.
Tengah hari, Tama pun pulang. Lelaki itu mencari istrinya dan hendak bersiap pergi mengunjungi ibunya. Matanya membulat saat didapatinya Heni sedang rebahan.
" Apa yang kau lakukan sayang? " tanyanya. Dia heran istrinya bukannya bersiap malah mau tidur.
" Lain kali saja Yang. Aku gak enak badan, " ujarnya. Tama memperhatikan istrinya dengan seksama, dan benar wajah istrinya sangat pucat. Terlebih dia juga belum mengisi perutnya dengan suatu apa pun karena mual.
" Baiklah, aku akan menghubungi mami membatalkan kedatangan kita, " ujarnya. Lelaki itu segera menghubungi ibunya dan membatalkan kedatangannya dengan alasan Heni sedang sakit.
Heni melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya, dia berdebar-debar ingin memberitahukan tentang dua garis merah yang membuatnya panik. Dia mengatur napas.
" Yang antarkan aku memeriksakan diri, " ujarnya. Dia tidak jadi mengungkapkan tes itu malah mengatakan hal lain.
" Kau beneran sakit Yang. Ayo kita periksa sekarang, " ujar Tama. Dia menggendong Heni ala bridal style menuju ke mobil.
Mereka segera berangkat ke rumah sakit milik Tama. Dia akan memeriksakan istrinya dengan salah satu rekan kepercayaannya. Juga lebih baik mengawasi istrinya dirumah sakit sendiri jika harus dilakukan rawat inap.
" Istrimu hamil bos, " ujar dokter yang memeriksa Heni. Tama terkejut. Kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya. Dia segera menghampiri istrinya yang masih berbaring. Dikecupnya kening Heni. Dia mengucap Terima kasih kepada wanita itu dengan suara bergetar. Dan juga mengucap syukur atas kehamilan istrinya yang cepat. Di peluknya Heni dan menciumnya bertubi-tubi.
" Ehm... bos jangan bermesraan disini. Aku masih banyak pasien nih, " ujar dokter itu. Tama menjawabnya dengan tersenyum lebar menunjukkan giginya. Langsung dia memesan makanan online untuk dibagikan kepada seluruh dokter dan karyawan dirumah sakit miliknya sebagai bentuk wujud syukur atas kehamilan istrinya. Beberapa dokter lainnya ikut mengucapkan selamat kepada mereka.
Heni bergandengan tangan dengan suaminya menyusuri koridor dengan wajah yang ramah,meski sulit karena dia terbiasa dengan raut wajah dingin. Kini dia harus ikut menjawab sapaan para dokter yang menjadi karyawan suaminya. Rasa malu menyergapnya, sesekali dia menunduk menghindari tatapan wanita yang iri dengannya karena berhasil mendapatkan Tama Prasetya, dokter tampan yang menjadi idola mereka. Mereka juga tahu tentang Madam Roxanne yang masih tidak memberi restu kepadanya. Dan tentang kehamilan Heni yang juga cepat menyebar luas seantero rumah sakit. Di sebuah bangku kosong mereka berhenti. Tama meninggalkannya sebentar karena seorang staff rumah sakit memberitahukannya ada masalah yang cukup penting sedang terjadi. Heni bingung harus apa, juga karyawan lainnya tak mau menemaninya meski kenal karena dulu tahu Heni pernah menjadi karyawan ditempat ini. Heni menunggu dengan bermain ponsel untuk membunuh kebosanannya.
" Kau Heni kan? " ujar seseorang dari samping Heni. Heni menoleh dan langsung memeluk Sella, rekan nya dulu.
" Denger-denger kamu sudah menikah dengan dokter Tama ya? wah aku ikut senang. Gimana ceritanya sih? " tanyanya kepo. Heni hanya tersenyum.
" Akhirnya kau menikahi dokter Tama, aku turut bahagia dengan kalian. Aku juga kagum dengannya, " ujar Sella.
" Siapa yang kau maksud? " tanya Heni.
__ADS_1
Sella menceritakan tentang Tama yang berulang kali mengakhiri hidup karena depresi. Lelaki itu depresi berat karena ibunya menjodohkannya dengan Mona. Meski itu cerita lama, tapi Sella masih semangat menceritakan seolah kejadian itu baru saja terjadi. Tapi saat mendengar Tama menikahi Heni, sudah tak nampak lelaki itu depresi malah semakin terawat dan bahagia saja jika datang ke rumah sakit. Heni terenyuh mendengar cerita Sella yang dari dulu suka mendekatkannya dengan Tama. Dan dia juga menambahkan jika Tama tak pernah mencintai Mona. Dialah wanita yang diinginkan oleh dokter yang menjadi idola dirumah sakit itu.
" Oh ya dan juga kau sedang hamil kan? " tanyanya dengan menatap ke perut Heni yang masih rata. Heni tersenyum, betapa cepat sekali berita tentangnya menyebar.