
Heni duduk di ruangannya, sesosok bayangan Tama berkelebat dari kejauhan. Heni menutup wajahnya dengan tangan. Dia menunduk agar terlihat lebih sibuk dari biasanya. Namun lelaki itu terus menghampirinya dengan memakai baju berwarna hijau. Meski wajahnya sebagian tertutup oleh masker tapi dia tahu betul siapa lelaki itu.
" Sayang, selamat pagi, " sapanya. Heni mengangguk perlahan sembari terus menunduk. Tangannya masih mencoret pengadaan persediaan obat yang menipis.
" Sayang, tataplah aku. Aku merindukanmu, " ujarnya. Namun Heni tetap tak bergeming. Dengan gemas kedua tangan lelaki tampan itu menangkup wajah Heni agar menatapnya. Mau tidak mau Heni pun menatap lelaki muda itu. Nampak sinar hangat cinta dari hatinya memancar ke kelopak mata Heni. Heni berkedip menetralkan degup jantungnya yang berdebar. Dia tahu dengan pasti betapa lelaki itu sangat mencintainya dan menaruh harapan besar kepadanya.
" Hari ini aku akan melakukan operasi. Doakan semoga berhasil, " ujarnya. Heni heran, terus apa hubungannya dengan dirinya? kenapa tidak minta didoakan ibunya? bukankah doa seorang ibu lebih mustajab daripada dirinya? aneh. Tapi keanehan memang sering diwajarkan oleh kekasih gelapnya itu.
" Operasi apa? " tanya Heni. Sebenarnya dia berniat diam tapi reaksi otak satunya yang menangani masalah ' perkepoan berontak dan akhirnya berbuat demikian.
Tama nampak senang mendengar pertanyaannya. Itu berarti jika pujaan hatinya sudah tidak marah lagi. Dia menjawab jika akan melakukan transplantasi jantung dan menjelaskan secara panjang lebar.
Heni bergidik ngeri, dia menghentikan Tama agar berhenti menjelaskannya. Nalurinya menolak hal yang berkaitan bedah organ dalam manusia. Juga simpatinya meledak saat mendengar penjelasan dari Tama jika pendonor jantung itu berasal dari seorang remaja yang meninggal akibat kecelakaan. Orangtuanya yang berinisiatif mendonorkannya.
" Ya sudah sayang aku akan segera masuk ke ruang operasi, " pamitnya. Karena dia melihat dari seorang dokter yang berpakaian sama dengannya telah melambaikan tangan mengisyaratkan bahwa operasi segera dilakukan. Dia mengecup kening Heni lalu setengah berlari menuju ke ruangan operasi di sisi paling ujung ruangan dahlia.
Heni terus memandangnya dengan termangu. Dia berpikir bagaimana cara melepaskan lelaki itu? jelas-jelas ibunya sangat tidak bersahabat dengannya dan mengetahui jika dia adalah istri orang. Tidak sepatutnya memiliki hubungan diluar logika dengan putra keduanya itu. Mereka dari kalangan atas dan berpendidikan pasti tidak sebanding dengannya. Heni merasa sangat kecil hati. Mendadak dia amnesia jika dia juga anak dari orang kaya raya pemilik salah satu perusahaan ternama di kota itu. Hidupnya yang selalu sederhanalah yang menjadikannya seperti itu. Jauh hari sebenarnya tuan Alwan melarang untuk bekerja dirumah sakit, beliau ingin dia meneruskan usaha keluarga.Tapi dia terus memaksa. Dia ingin mandiri, berdiri tegak dengan kakinya sendiri. Dengan berat hati akhirnya tuan Alwan menyerah. Kemudian pikirannya teralih ke suaminya dan bayangan ibu Ratih langsung memenuhi singgasana hatinya. Pening melanda secara instan mengingat wanita itu. Wanita yang penuh dengan kebencian dan mulutnya yang sangat pedas membara.
" Jika kuntilanak itu tidak ada, pasti hidupku damai, " bisiknya. Ups....dia keceplosan. Apa-apaan aku mendoakan jelek untuk mertuaku. Astaghfirullohal adzim.....dia terus meralat ucapannya. Tangannya menepuk-nepuk mulutnya agak keras.
__ADS_1
" Ada apa?" tanya Sella. Heni menoleh. Tidak ada apa-apa, jawabnya dengan terbata. Setelah meyakinkan dirinya bahwa Heni baik-baik saja, dia ikut mengecek ketersediaan obat membantu rekannya.
Tit....sebuah notifikasi masuk. Heni melihat ponselnya. Notifikasi whats app dari suaminya. Heni membacanya, dia tersenyum. Suaminya menulis kalimat: i love you. Kalimat yang sangat amat jarang terungkap dari suaminya yang tidak romantis itu. Atau mungkin kalimat itu sudah basi maknanya karena sering bersua?
Heni membalas: i love you too.
Aku akan pulang nanti dan memintanya segera pindah. Pasti dia senang. Apalagi mertuaku, kemewahan pasti membuatnya menyukaiku sebagai istri dari putranya nan agung. Aku sudah tidak sabar, pikirnya
Jam pulang pun tiba, Heni meraih tasnya dan segera pulang. Dia akan mengajak suaminya pindah meski jangka untuk membayar belum jatuh tempo. Dia juga ingin berganti suasana. Sebelum melaju ke rumah, dia ingin mampir dulu ke rumah barunya.
Dia bertanya kepada satpam perumahan, dimana letak detailnya. Satpam menjelaskan secara rinci diikuti gerakan tangan agar semakin mudah mencarinya. Heni manggut-manggut paham dengan penjelasannya yang mudah gampang dicerna karena pikirannya sudah mulai capek dijejali beragam nama obat di rumah sakit. Panas yang membakar tubuhnya juga ikut andil membuatnya jadi tambah sangat letih.
Heni melajukan motornya terus lurus sampai mentok lalu berbelok ke kanan sampai ada tiang listrik besar belok kiri nomor sesuai yang tertera di ponselnya. Begitu sampai, dia bernafas lega. Karena jiwa dan raganya ingin segera di ' charge dengan istirahat.
Dia rebahkan dirinya ke kasur busa yang dia bersihkan ala kadarnya tadi. Dia pun memejamkan mata mengistirahatkan tubuhnya agar fungsinya optimal saat menuju ke kontrakannya nanti.
Sebuah sentuhan membuatnya tersentak, dia segera membuka mata. Melihat apa yang menyentuh jemarinya. Seorang lelaki duduk disampingnya memandanginya dengan geli. Heni kesal dia mengambil jarak agak jauh darinya.
" Kenapa kau mengikutiku sampai ke sini? " tanyanya geram. Kilat matanya yang marah terpancar ke arah lelaki tampan itu.
__ADS_1
" Sudah kubilang aku merindukanmu cintaku, " ujarnya. Tatapannya menyapu ke segala ruangan. Dia lantas bertanya rumah siapa ini?
" Ini rumahku. Aku akan pindah kesini, " terang Heni bersemangat. Benar-benar amnesianya belum hilang sebagai turunan orang kaya. Rumah besar dan luas itu seperti pertama kali dia rasakan. Berulangkali dia tersenyum dan takjub. Dia tidak menyangka akan segera meninggalkan rumah kontrakannya yang kecil. Benar kata papanya, sahutnya lirih.
" Kapan kau pindah? aku akan membantumu, " tawarnya semangat. Tama juga sama, tingkat kesadarannya dibawah nol koma. Jika dia membantu bagaimana bila bertemu dengan Bimo dan menanyakan alasan dibaliknya? sungguh dua insan yang kehilangan kesadaran karena cinta?
" Gampang aku akan menghubungimu, " sahut Heni tetap dengan semangat yang menggebu-gebu.
Perbincangan mereka terhenti untuk sesaat. Bimo memeluk Heni sebagai ungkapan rindunya. Heni tersenyum.
" Sebaiknya kita jangan sering bertemu seperti ini, " ujar Heni.
" Kenapa? " tanya Tama. Dalam hati dan pikirannya hanya Heni seorang saja. Dia tidak suka mendengar ucapan itu.
" Kau masih muda, jalan hidupmu masih panjang. Jangan terlalu berharap kepadaku. Aku mohon, " pinta Heni menghiba. Tama memandang dengan kecewa.
" Benar kata ibumu, harusnya aku mengurus suamiku. Bukan denganmu, " terang Heni. Tama bangkit,
" Aku tidak peduli dengan ibuku. Aku peduli dengan diriku, dan aku bahagia bersamamu, " ujarnya lembut.
__ADS_1
" Ibumu ingin yang terbaik untukmu. Dan itu bukan aku, " terang Heni. Entah hatinya terasa sedikit sesak dan terhimpit mengucapkan kata itu. Dia merasa kehadirannya adalah beban untuk orang lain.
" Terserah kau mau berkata apa aku tidak peduli. Saat ini aku mencintaimu, pliss jangan bahas ibuku, "