Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
saling sindir


__ADS_3

Madam Roxanne menjaga sikap yang tadinya hendak marah. Wanita itu bersikap anggun lagi dan tak mengalihkan pandangannya ke Heni yang sibuk membujuk bayinya agar tidak rewel. Bayi itu seperti merasa aura negatif yang mulai berpecikan diruangan itu.


" Oh ya dia sudah mati? " tanya wanita itu dengan sibuk mengusap rambutnya yang berwarna kelabu.


" Iya, hati nuraninya yang mati. Padahal dia seorang wanita dan juga seorang ibu, " tutur Heni. Dia masih berusaha menyindir wanita itu secara halus.


" Yang seharusnya jiwa keibuannya tinggi tanpa batas, " tambahnya.


" Oh ya, kau yakin? tak semua yang kau maksud sesuai dengan pemikiranmu. Banyak kejadian diluar yang meninggalkan bayinya dengan memasukkannya di kantong kresek dan membuangnya ditempat pembuangan atau disungai karena bayi yang berlabel ha*** dari hubungan gelap. Pemikiranmu tak sesuai dengan realita yang ada dan terjadi, " ujarnya makin bersemangat menanggapi penuturan Heni. Heni menatapnya sembari tersenyum.


" Jadi anda menyamakan bayi cantik saya dengan label itu? tak bisakah anda merubah stigma negatif untuk bayi yang jelas mengalir setetes darahmu? " tanyanya. Madam Roxanne menatap sekilas lalu membuang muka.


" Kau bisa mengambil kesimpulan sendiri, " jawab wanita itu dengan wajah tenang.


" lalu apa pendapat anda jika sekarang putra anda ingin menikahi saya dan menghapus label itu? " tanya Heni lagi. Madam Roxanne menatap Tama yang masih asyik makan tanpa peduli dengan sindir menyindir mereka. Sementara tuan Hendri makan dengan terus menyimak maksud dari keduanya.


" Menghapus tak semudah membalikkan telapak tangan, semua juga tetap memberi label itu, " ujarnya untuk kesekian kali.


" Masa bodoh dengan label tak bermoral itu. Yang jelas jika ada yang menyakiti bayi ini, yang menjadi garda terdepan adalah saya, " ujar Heni.


" Dan aku heran begitu mudahnya putraku dibodohi dengan bayi yang tak jelas asal usulnya itu. Pelet apa yang kau gunakan untuk menarik simpati anakku? " tanyanya mulai tersulut emosi.


Tuan Hendri dan Tama terkejut mendengar perkataan Madam Roxanne. Mereka berdiri meletakkan sendok dengan cukup keras ke piring. Heni makin tersinggung.


" Tidak jelas asal usulnya? apa anda lupa jika anda juga mengetahui latar belakangnya dengan amat jelas, NYONYA? dan berhasil menyakitiku dengan perbuatanmu yang tak manusiawi itu. Bahkan seorang induk ayampun tak akan mau melakukan hal itu. Selamat malam, " ujar Heni lalu berdiri meninggalkan ruangan makan yang mulai menguarkan udara panas di hatinya. Tama tak terima begitu saja. Dia berlari menyusul Heni.


" Aku membencimu, mi!! " teriaknya. Tuan Hendri menatap istrinya dengan marah. Perkataan Heni berhasil membuatnya menarik kesimpulan.


" Jadi kau tahu anak siapa itu? " tanyanya menatap curiga. Dia mulai berpikir bahwa istrinya pernah bertemu dan telah mengetahuinya jauh sebelum Tama dekat dengan Heni lagi.


Madam Roxanne mulai jengah, dia tak menjawab pertanyaan suaminya. Malah melangkah pergi ke kamar dan membanting pintu.

__ADS_1


" Semua benar-benar memusingkan, " gerutu tuan Hendri dan duduk di kursi malasnya sampai tertidur.


Tama mengejar Heni yang setengah berlari dengan menggendong Tania. Dia sudah memprediksi penolakan yang akan diterimanya lagi. Penolakan darinya, sang calon mertua. Dia benci mengulang nasibnya yang jelas didepan mata. Yang dia inginkan hanya hidup bahagia tanpa penekanan pihak ketiga.


" Berhenti Heni. Kumohon, " ujar Tama. Lelaki itu berhenti dengan napas ngos-ngosan. Lalu berjalan mendekati Heni yang membelakanginya. Dia menatap dalam wajah Heni yang marah.


" Aku tak peduli dengan mamiku. Bahkan jika anak ini anak Bimo sekalipun. Aku tetap mencintaimu dan akan menikahimu. Kau bisa pegang janjiku, " ujarnya dengan napas tersengal. Hati Heni menghangat, dia tersenyum. Tangannya memeluk Tama, membenamkan kepalanya ke dada bidang lelaki itu tanpa menunggu persetujuan darinya. Aroma keringatnya tercium, tapi tak membuat Heni risih. Dia semakin merasa nyaman dipelukannya. Menit kemudian, Heni merasa ada tetesan air mengenai tengkuknya. Semakin lama semakin menetes cepat. Dia baru menyadari jika tengah gerimis. Tama panik, dia merangkul Heni mencari tempat untuk berteduh. Tak jauh darinya ada sebuah rumah kecil tanpa pagar dan jadi tujuannya karena memiliki teras yang melindungi dari serangan hujan. Memang ini adalah awal musim penghujan.


" Sudah aman, " ujar Tama lega.


" Pulanglah, aku akan memesan taksi online. Aku sudah tak apa-apa, " ujarnya Heni dan mulai mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya. Tama malah ikutan duduk di kursi panjang yang ada diteras itu.


" Jangan pulang sayangku. Lebih baik kau menginap di apartemenku saja, " ujarnya tersenyum. Heni menggeleng.


" Tenanglah, aku janji tidak akan nakal, " ujar tama dengan mengedipkan sebelah mata.


" Tingkahmu sudah menunjukkan semuanya, " ujar Heni.


" Baiklah, tapi jika kau tak memegang perkataanmu, aku tak mau menikah denganmu dan pergi meninggalkanmu lagi. Awas saja! " ancam Heni. Tama tergelak dan memeluk Heni dari samping.


Tama bahagia malam ini bersama Heni, wanita yang selalu jadi tujuan hidupnya. Dia juga bersyukur memiliki Tania sekaligus, meski Heni tak pernah mengungkapkan kebenaran kepadanya. Tak ada lagi penghalang yang berarti. Sang mami hanya tokoh sampingan saja, dialah tokoh utamanya.


Tak lama kemudian, taksi via online pun tiba. Dengan memayungi Heni dan Tania dengan melebarkan kedua telapak tangannya, mereka segera masuk. Taksi meluncur menyibak derasnya hujan yang disertai kilat.


Mereka sampai ditempat tujuan. Tama meraih Tania dalam gendongannya. Mereka menuju ke lift dan menekan angka lantai, tempat apartemen Tama berada. Sebenarnya Tama memang berniat mengajak Heni ke rumah keduanya itu sepulang dari rumah kedua orang tuanya. Begitu didepan pintu apartemen, Tama segera memutar kunci dan membuka pintu. Heni mengikutinya dengan was-was.


" Mandilah jika kau mau. Aku sudah menyiapkan banyak pakaian untukmu dilemari, " tunjuk Tama. Heni mendekati lemari besar yang terletak dekat pembaringan. Benar, banyak pakaian wanita yang tergantung.


" Kau yakin ini untukku? bukan bekas kekasihmu? " tanya Heni curiga.


" Coba kau ambil satu, bahkan banderol harganya saja belum sempat aku copot, " terang Tama dan tertawa mengingat kelakuannya yang absurd saking bahagianya Heni mau menerima cintanya lagi. Dia membaringkan Tania dengan perlahan. Menurutnya bayi ini sangat pengertian dengan banyaknya tidur. Dia mendekati Heni yang masih bingung memilih pakaian didepan lemarinya. Kedua tangannya melingkar di perut Heni dan kepalanya bersandar dibahu sang kekasih.

__ADS_1


" Apa yang kau bingungkan? semua pakaian itu cocok untukmu. Apa kau tak suka? Aku bisa membelikannya lagi untukmu, " ujar Tama.


" Tidak, bukan begitu. Aku hanya bingung memilih untuk kupakai tidur, " terangnya. Tama meraih sebuah setelan kupu-kupu yang agak terbuka bagian atasnya. Dia ingin mengeksplore bagian atas Heni meski hanya melihat saja?


" Itu terlalu terbuka, " ujar Heni dan meletakkan kembali antara lainnya. Ekor matanya melihat sebuah kaos putih bergambar hello kitty dan diraihnya. Ternyata itu juga setelan, bawahnya celana panjang dengan gambar yang sama.


" Ayo kita mandi sama-sama sayang, " rengek Tama.


" Ogah, sana jagain Tania saja, " pinta Heni. Akhirnya Tama hanya bisa manut dan berbaring disisi Tania.


Disentuhnya kaki bayi itu yang tertutup celana panjang. Kaos kaki bergambar kartun juga diamatinya. Hidungnya mencium bau yang tidak sedap pada bagian bawah sang bayi.


Mungkin bayi ini minta ganti popok.


Tama melepas celana Tania perlahan dan membuka popok sekali pakai itu. Dia benar-benar abai dengan benda itu. Dia ambil popok dari tas Heni bermaksud memakaikannya karena tak sabar menunggu Heni yang masih mandi. Dan yang diinginkan pun terjadi, Tania membuka mata setelah meregangkan kedua tangan. Tama cepat-cepat merapikan popok memakaikan kembali celananya dan mengajaknya bicara. Dia juga membuat wajah aneh agar bayi itu tertawa.Berhasil... bayi itu tertawa, Tama senang bukan kepalang. Dan ruangan yang kini sepi pun ramai dengan tawanya.


Heni telah usai mandi dan berganti sekalian. Dia heran karena terdengar suara Tama dan tawa yang menggema ke seluruh ruangan. Saat didapatinya Tama membuat wajah aneh demi bayinya, dia terenyuh lagi. Lelaki ini memang tulus meski awalnya menjengkelkan hatinya. Dia duduk di samping Tama dan memeluknya dari belakang.


" Aku mencintaimu Tama, " ujarnya lirih dan sontak membuat kedua mata Tama membulat.


" Katakan aku tak dengar apa pun, " ujar Tama. Heni tersipu, dia membuang muka. Hatinya berdebar-debar. Dia cubit pinggang Tama dan membuat lelaki itu meringis manja. Tama menahan serangan Heni yang terus dilancarkannya. Dia meraih tangan wanita itu dan memeluknya.


" Aku juga mencintaimu sayang. Dari dulu kau selalu menempati tahta tertinggi dihatiku, " ujar Tama.


" Ih gombal, " ujar Heni dan berdiri hendak berbaring disisi lain ranjang.


" Kenapa kau dulu mau bertunangan dengan Mona? " tanyanya mencoba mengungkap tabir hubungan keduanya yang hampir menikah.


" Hanya bertunangan saja, tapi cintaku tetap untukmu sayang, " bujuk Tama.


" Aku kasihan dengannya. Kenapa kau tak menikahinya, kulihat dia gadis yang manis dan baik, " ujar Heni perlahan. Dadanya terasa sesak tapi dia mencoba berkompromi dengan baik jika Tama tidak benar-benar ingin memilikinya. Dia tak suka dikasihani dengan bayinya.

__ADS_1


" Aku hanya ingin denganmu. Mona teman baikku, tak lebih, " terangnya. Berikutnya Tama terdiam. Tak tahu saja Heni setelah memasang cincin pertunangan di jari manis Mona, dia mulai melakukan hal gila. Dia bahkan sempat dirawat oleh seorang psikiater akibat jiwanya yang terganggu karena obsesinya yang kuat. Ya, dia masih terobsesi dengan Heni yang meninggalkannya begitu saja.


__ADS_2