
Bimo terus melakukan dengan kasar malam itu, sementara Heni merintih kesakitan dibawahnya. Pakaian yang dikenakannya disobek dan dibuangnya sembarang oleh Bimo. Dia tersenyum menyeringai. Heni menangis sembari terus memohon, hatinya sakit melebihi rasa sakit ditubuhnya menit ini. Betapa pria yang dicintainya itu telah berubah karena kesalahannya. Dia ketakutan dan terus menyesali pertemuan dengannya. Tapi Bimo tak peduli. Melihat tangisannya seperti melihat seorang joker yang bersandiwara. Begitu munafik. Bimo mencengkeram pinggang Heni, mungkin kukunya juga telah menggores sedikit kulitnya. Heni meringis. Wajahnya basah dengan airmatanya. Malam itu Bimo belum puas telah menyakiti fisiknya dengan mencambuk, dendamnya belum usai. Hingga sampai dia melakukan pelepasan, dia tak berhenti. Terus dihentakkannya lagi batangnya sampai berulangkali. Entah sampai berapa lamanya?
" Mas, cukup. Hentikan, kau menyakitiku. Kumohon, aku sudah tak kuat, "
Bimo semakin bernafsu dan liar, rintihan kesakitan dari Heni seperti membuatnya semakin beringas. Hingga menit kemudian, Heni tak sadarkan diri, tubuhnya serasa tak bertulang. Bimo menatap wajah cantik itu yang kini dianggapnya sebagai seorang musuh, dikecupnya lagi sampai meninggalkan banyak tanda kemerahan ditubuhnya. Setelah melakukan pelepasan untuk kesekian kali, dia cabut perlahan batang yang kini sudah penuh dengan cairan. Merapikan penampilannya lalu pergi meninggalkan Heni dirumah kosong itu sendiri dengan menguncinya dari luar.
Keesokan harinya, Heni merasakan rasa melilit diperutnya. Dia membuka mata, rasa sakit juga terasa diseluruh tubuhnya. Dia kumpulkan kesadarannya dan menjerit histeris saat menyadari keberadaannya yang kemarin dicambuk dan diperko** oleh suaminya. Dia hendak menutup tubuhnya dengan pakaiannya yang tergeletak dilantai. Saat hendak berdiri dia tersungkur. Sungguh tubuhnya terasa sakit dan sangat lemah. Akhirnya dia memakai pakaiannya dengan duduk. Dengan perlahan dia beringsut untuk mencari makanan dirumah itu.
Tak ada apa pun, lalu dengan sisa tenaga dia berusaha mencari tas yang berisi ponselnya untuk menghubungi seseorang guna meminta bantuan. Tapi saat benda itu tak diketemukannya, airmatanya pun meleleh kembali.
" Aku ingin pulang. Aku rindu Tania, "
.........
Di pengadilan sidang atas nama Heni dan Bimo akan segera digelar, tuan Alwan sangat gelisah karena dari kemarin anaknya tak kunjung pulang setelah pamit membeli suatu barang. Dia mencoba menghubungi nomornya tapi tetap tak ada jawaban. Netranya mengawasi disegala penjuru, Bimo juga tak nampak batang hidungnya. Sejam, dua jam,tiga jam sampai tiba gilirannya seorang petugas memanggilnya. Tuan Alwan mengedarkan lagi pandangannya lalu mengikuti petugas itu masuk.
" Apakah benar anda wali dari nyonya Heni Susmita Salam? " tanya hakim.
" Iya, saya adalah wali dan saksinya, " ujarnya.
Seorang petugas berbisik kepadanya, memberitahukan bahwa kedua pihak tidak hadir. Hakim itu mengangguk lalu menatap tuan Alwan kembali.
" Bagaimana ini pak? kedua pihak tidak hadir, kami ingin mengkonfirmasi dan menawarkan mediasi kepada keduanya sebelum perceraian ini diputuskan, " terangnya.
" Kenapa harus mediasi pak hakim? " tanyanya tidak mengerti.
__ADS_1
" Mediasi ini untuk mendamaikan kedua pihak. Diharapkan mereka bisa berdamai dan bersama kembali setelah mediasi, "
Tuan Alwan diam, dia berpikir lagi. Karena hakim melihat keraguan diwajahnya dengan lantang dia berujar,
" Sidang diundur sampai hari yang ditentukan, " ujarnya lalu mengetuk palu menandakan sidang pertama usai. Tuan alwan berjalan lesu keluar dari ruangan itu lalu kembali ke kantor.
Sore hari, Bimo pulang lalu segera mandi. Setelah berganti pakaian dia duduk untuk membuka nasi goreng yang dibelinya dari luar. Saat sesuap makanan masuk ke mulutnya, dia teringat Heni. Seketika rasa iba muncul dipikirannya yang sedang waras.
" Oh Tuhan, aku lupa. Dia belum makan apa pun sejak kemarin siang, " ujarnya sembari menepuk jidatnya. Dia bungkus kembali makanan itu lalu mengambil kunci menuju Heni berada dengan ngebut.
Beberapa menit dia sudah sampai didepan rumah terbengkalai milik seorang temannya itu. Dia memutar kunci dan melihat begaimana keadaan Heni yang disekapnya. Dia terkejut wanita yang dibencinya itu tergeletak diruang tamu. Segera ditepuk-tepuknya pipinya. Heni membuka mata,
" Bangun, makanlah ini, " tangannya menyodorkan bungkusan nasi goreng itu kepadanya. Heni menerima dengan ragu lalu membukanya sembari mencuri pandang kepadanya dengan takut. Dia pun makan dengan lahap karena kelaparan. Tak dipedulikannya Bimo terus menatapnya dengan intens. Tapi bukan tatapan cinta melainkan tatapan iba sebagai orang lain.
" Jika sudah, ini minumnya, " ujarnya. Dia melempar sebotol kecil air mineral kepadanya. Karena jatuh terlalu jauh, Heni beringsut untuk meraihnya.
Bimo menatapnya sekilas lalu membuang muka. Dia bangkit tapi bukan untuk mengambilnya melainkan menangkup rahang Heni untuk menatapnya.
" Tolong? apa aku tidak salah dengar? seorang Heni meminta tolong kepadaku? si miskin ini? " tanyanya.
" Mana kekasihmu? panggil dia, pasti dia akan menyelamatkanmu. Mana juga papamu? bukankah pria itu menyayangimu? " ujarnya dengan mencemooh.
Heni diam, kata tolong yang senang didengar banyak orang tapi tidak berlaku untuk pria ini. Heni menutup mata karena melihat sebuah pukulan tangan yang hendak melayang ke arah wajahnya.
Plak.....Bimo menamparnya hingga heni terjerembab. Dia mengusap pipinya, airmatanya kembali menetes.
__ADS_1
" Simpan airmatamu, aku tak butuh, "
Bimo bangkit lalu meninggalkannya sendiri lagi dirumah itu. Saat dirumah dia sempat khawatir tapi melihat wajahnya, hatinya kembali memanas. Lebih baik dia pergi.
Setelah kepergiannya, Heni beringsut mengambil minuman yang berada dibawah kursi dan meminumnya. Tenggorokannya yang kering sudah terbebas dengan tegukannya. Sungguh betapa getir hidupnya. Tatkala semua sudah usai dibenaknya ternyata tidak. Suaminya masih menyimpan dendam. Lalu dia kembali ke tempat nasi gorengnya tadi diletakkannya, dan menghabiskannya dengan terus menangis.
" Aku ingin pulang, " lirihnya.
Malam harinya tuan Alwan menyuruh sopir untuk mengantar ke rumah Bimo. Dia ingin mencari pria itu dan meminta keterangan perihal ketidakhadirannya disidang tadi. Dia sangat murka. Apakah dia sengaja? gerutunya.
Namun dia kecewa, rumah itu terkunci dari luar. Dia berjalan untuk bertanya kepada salah seorang tetangga. Tetangga itu juga tidak tahu keberadaannya karena memang Bimo tipe pria yang tertutup. Henilah yang ramah saat masih tinggal dirumah tersebut.
" Apakah anda papanya Heni? " tanyanya balik. Tuan Alwan tersenyum.
" Bagaimana kabarnya pak? suruh dia main kesini, " ujarnya. Tuan Alwan mengiyakan, lalu pamit untuk pulang.
Bagaimana pun mereka pernah bersama, tapi tak ada yang tahu jika akhirnya akan seperti ini. Bimo terus menatap foto antara dirinya dengan Heni yang tersimpan didompet. Dia harus merelakan wanita itu dan melupakannya. Bukankah sudah ada bu Rahma disampingnya kini? dia menatap wanita cantik yang usianya terpaut tiga tahun lebih tua darinya tengah duduk. Pandangannya terus terfokus kearah Bimo. Bimo menyadari jika Rahma sangat mencintainya. Dia rela melepas pekerjaannya ditempat yang sama dengan Bimo. Karena dia tahu pria itu tidak percaya diri menjalin hubungan dengannya. Tapi hatinya sudah mantap untuk bersamanya.
" Bagaimana kalau kau keluar dari tempat itu? " tanyanya memecah keheningan yang tercipta. Bimo menutup dompetnya lalu menyimpannya kembali disaku celananya. Dia tatap lekat-lekat wanita dihadapannya yang telah berstatus sebagai kekasihnya.
" Terus? " tanyanya.
" Kita buka sebuah restoran, " terangnya. Bimo tersenyum. Dia mengagumi wanita itu yang tengah berupaya untuk merebut hatinya dengan berbagai cara. Padahal sudah berulangkali penolakan didapat tapi wanita itu tak mudah menyerah. Cintanya yang tulus hanya diperuntukkan untuknya seorang saja tanpa memandang kesenjangan sosial.
" Tapi aku bukan pria yang sempurna Rahma, aku tidak bisa memberimu anak, " terangnya. Dia takut setelah menjalin hubungan akan berakhir seperti dirinya dengan Heni dimasa mendatang.
__ADS_1
" Kita bisa mengadopsi seorang bayi. Aku akan melakukan apa pun yang bisa membuatmu senang Bim, " jawabnya sembari mengusap punggung tangan Bimo. Wanita ini benar-benar membuatnya merasa dicintai setelah sekian lama hatinya membeku karena sebuah pengkhianatan.
" Terserah kau saja, " ujarnya mengakhiri pembicaraan itu dan menyantap pesanannya yang telah dingin. Rahma tersenyum. Malam itu dia bahagia, karena pria itu telah mau menerima cinta dan dirinya