
Hari ini, Bimo sedang libur. Setelah berkunjung dari bengkel bekas tempatnya bekerja dulu, dia pulang. Dirumah sepi karena Heni sudah mulai bekerja ditempat barunya. Dia berniat membersihkan rumah karena bosan menonton televisi yang menyajikan acara itu-itu saja. Disapunya lantai mulai dari ruang tamu, ruang kamar sampai dapur. Saat didalam kamar, tanpa sengaja dia menatap kresek yang menyembul dibawah kasur. Dia curiga, benda apa itu? apakah istrinya menyimpan sesuatu?
Dia menarik kresek hitam kecil itu. Dia segera membukanya. Alangkah terkejutnya dia melihat sebuah tes kehamilan. Dua garis merah nampak dengan jelas, menyatakan positif. Dia mulai menduga, siapakah pemilik alat ini? apakah istrinya? mengingat hanya mereka berdua saja pemilik ruangan itu.
Bimo mulai marah, ini pasti ada hubungannya dengan Tama. Memang sudah sejak lama Bimo menaruh curiga terhadap lelaki itu. Dia mulai menghubungkan istrinya dengan benda kecil temuannya. Entah kapan persisnya, istrinya memang berubah. Dia tidak mau disentuh sama sekali. Setiap Bimo mendaratkan ciuman dibibir dan meminta haknya, Heni selalu beralasan halangan. Tapi masa iya halangan hampir sebulan lebih? Apakah ada hubungannya dengan ini? Apakah istriku benar-benar hamil? Siapa yang telah melakukannya?
Perasaan Bimo mulai tidak karuan. Dia mulai marah karena terbakar api cemburu. Istrinya telah mengkhianatinya. Mengkhianati janji suci mereka sehidup semati. Dimasukkannya alat itu ke dalam saku celananya. Dia akan menanyakannya langsung karena sebentar lagi Heni pulang. Dia membuang sapunya dan duduk mengisap rokoknya di ruang tamu.
Beberapa jam dia menunggu sampai menghabiskan satu bungkus rokok karena emosi, akhirnya Heni pulang. Istrinya terkejut melihat puntung rokok memenuhi asbak dimeja. Saat hendak bertanya Bimo berdiri dan melayangkan sebuah tamparan dipipinya. Heni terkesiap, dia meringis dan memegang pipinya. Dia mundur karena ketakutan, sementara suaminya mulai melangkahkan kaki untuk mendekati.
" Apa ini? " tanyanya dengan geram. Heni terbelalak karena benda yang lupa dibuangnya itu telah ditemukan oleh suaminya. Jantung Heni berdegup kencang, dia menjawab dengan gugup. Kedua telapak tangannya mulai berkeringat.
" Itu,, aku bisa menjelaskannya, " ujar Heni terbata-bata. Bimo terus mendekatinya, tangannya meraih kemoceng diatas kursi yang mungkin telah disiapkan untuk memukulnya. Heni bergidik ngeri jika suaminya benar-benar melakukan hal itu. Heni mencoba untuk mencari alasan.
" Itu punya temanku, " ujar Heni. Tangannya terus kedepan menahan jika Bimo mengibaskan kemoceng tanpa terduga.
" Bohong, kau membohongiku. Sudah kuduga. Kau benar-benar berselingkuh dibelakangku selama ini, " tuduhnya. Dia sudah tidak mau dibohongi lagi.
__ADS_1
Kedua mata Bimo nampak memerah, rahangnya mengetat. Dia benar-benar dipuncak amarah. Heni terus mundur sampai punggungnya menyentuh tembok. Itu berarti dia sudah tidak bisa kemana-mana. Sementara pintu rumah sudah dikunci oleh Bimo.
" Mas, tolong redakan amarahmu. Kita bicara baik-baik, " Heni masih berusaha menenangkan suaminya yang mulai kalap. Sebuah pukulan dari kemoceng mendarat dilengannya. Heni meringis dan memegang lengannya.
" Ampun mas, tolong jangan pukul aku, " pinta Heni. Dia ketakutan, airmatanya berlinang. Dia tidak mengira, suaminya menampakkan kemarahannya yang hebat. Mungkin inilah balasan yang patut aku terima, batin Heni.
" Jawab jujur, kau berselingkuh dengan Tama, bukan??? " tanya Bimo dengan nada tinggi. Kemoceng terangkat lagi ke udara hendak mengenai wajahnya, dengan sigap Heni menyilangkan kedua tangannya untuk melindunginya.
" Hentikan, cukup mas. Aku mohon, " pinta Heni dengan terisak. Tapi Bimo sudah tidak peduli dengan isakan itu. Bimo diam, menatap jijik istrinya. Dia menarik lengan Heni untuk mendekatkan ke dirinya.
" Aku tidak bisa mas. Aku halangan, " alasannya lagi. Bimo menatap nanar istrinya. Dengan kuat ditariknya rok sang istri, dibukanya segitiga yang melindungi bagian kewanitaan Heni. Dan Bimo tersenyum menyeringai. Tidak ada tampon atau sebangsa dengan itu di underwar sang istri, maupun noda merah yang nampak.
" Halangan? jadi benar kau hamil saat ini?! " Heni menarik selimut menutupi bagian bawahnya, masih mencoba menghindari sentuhan Bimo. Bimo menarik lengannya untuk mendekat ke dirinya lagi. Sungguh Heni benar-benar ketakutan, sepertinya suaminya hendak berniat mengakhiri hidupnya dengan terus menyiksanya tanpa usai. Dan dugaannya benar, Bimo mulai berusaha mencekik istrinya dengan kedua tangannya. Senyum puas terlihat diwajah Bimo. Heni berusaha meronta, dia memukul dada suaminya. Tapi sia-sia belaka, cengkraman Bimo malah semakin erat dilehernya.
" Mas, a... a...ku me....me...mang berse....ling..kuh. Am...pu..pu...ni... a... ak..ku. Ta..tap...pi to...to..long ja...ja...ngan men...ca...ca...but hi...du..dup ba...ba...yi ini, " ujarnya terbata-bata. Dia merasa sangat sesak, napasnya tinggal satu satu. Sebentar lagi mungkin dia akan berpindah ke dunia lain dalam hitungan menit.
Bimo tersadar, dia melepas cengkramannya dileher Heni. Dia juga sangat menginginkan seorang bayi, tapi bukan dengan cara seperti ini. Apalagi bayi itu berasal dari lelaki lain? Istrinya telah tersentuh pria lain. Dia terduduk menunduk dibawah ranjang. Heni terbatuk-batuk, dia segera menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya. Dia bersyukur dalam hati. Nyawanya tidak jadi tercabut. Dia diam dengan masih ketakutan menatap suaminya yang duduk dilantai.
__ADS_1
" Pergi dari sini, cepat. Aku tidak mau melihatmu lagi!!! '' teriak Bimo. Heni segera mengambil roknya dan berlari keluar dari kamar. Dia meraih tasnya yang teronggok dibawah, dan segera meninggalkan rumah. Entah tujuannya kemana, terpenting dia pergi dari tempat itu. Dan dari penyiksaan suaminya.
Bimo masih mematung. Emosinya sudah mereda, dia menangis terisak-isak. Betapa kejam istrinya melakukan perbuatan itu. Kecurigaannya sudah hadir sejak awal berjumpa dengan Tama. Tapi selalu dipatahkan dengan dalih kepercayaannya terhadap sang istri begitu besar. Dia sangat kecewa. Ternyata mereka bermain api.
Puas menangis merutuki nasib rumah tangganya karena perselingkuhan sang istri, Bimo berjalan ke ruang tamu. Dilemparkannya semua barang-barang ditempat itu. Dia masih melampiaskan kekecewaannya yang belum sirna. Kedua netranya melihat sebuah silet dijendela tidak jauh darinya. Lantas diraihnya, dia mendengar sebuah bisikan untuk menggoreskan benda itu dipergelangan tangannya. Sesaat Bimo seperti tersihir, dia mencoba melakukan adegan orang yang sudah sangat putus asa. Tetapi sebuah teriakan memanggilnya...
" Bimo apa yang kau lakukan? " tanya orang itu dan meraih silet ditangan kanan temannya. Bimo tersadar, dia menoleh menatap temannya yang tidak lain adalah Zidan.
Zidan terkejut melihat ekspresi lain diwajah temannya itu. Dia mendudukkan Bimo ke kursi, mengambilkan segelas air. Minum dulu, ujarnya. Bimo patuh.
" Apa yang terjadi? kenapa rumahmu berantakan seperti ini? mana istrimu? " tanyanya seakan menginterogasinya. Bimo diam, pandangannya seperti ditempat lain.
" Bimo, " panggil Zidan. Dia menepuk-nepuk bahu Bimo. Bimo gelagapan, saat netranya beradu pada Zidan dia menangis pilu.
" Hidupku sudah hancur, dan. " ujarnya. Zidan mengernyit bingung. Betapa membingungkan. Pagi tadi Bimo biasa saja saat menemuinya di bengkel. Tapi dalam beberapa jam kemudian seperti orang linglung. Zidan masih menatapnya menunggu penjelasan dari Bimo.
" Kau benar istriku telah berselingkuh, " terangnya. Zidan langsung ikut naik pitam.
__ADS_1