
Tama dan Heni masak berdua ala masakan rumahan. Mereka bercanda sampai beberapa masakan yang dibuat telah jadi. Heni menyajikannya dimeja makan minimalis antara ruang keluarga dan dapur. Tangannya melambai ke arah Tama yang sedang menyalakan televisi untuk segera datang. Mereka pun menikmati makan malam berdua. Suasana sangat romantis dengan tayangan yang tak kalah menawan, sebuah acara percintaan dengan adegan menggugah perasaan yang mendalam.
" Aku bahagia kau bersamaku, " ujar Tama. Heni tersenyum, dia juga mengakui sedikit cinta yang tumbuh dihatinyalah yang membuatnya masih bertahan. Entah sampai kapan?
Usai makan malam, Heni pamit untuk pulang. Saat tangannya memegang ponsel untuk memesan taksi online, Tama memeluknya. Lelaki itu juga menciumnya bertubi-tubi. Heni terkesiap,
" Aku ingin malam ini bersamamu sayang, " bisik Tama membuat Heni menurut. Dia biarkan saja tangan Tama bergerak ke dalam gaunnya. Jantungnya berdegup kencang. Tama menarik resleting gaun kekasihnya. Dia ingin menyalurkan hasrat cintanya yang menggebu malam ini. Dia sudah tidak peduli dengan batasan yang dibuat oleh Heni.
Tama mengecup bibir Heni, ******* dan menggigitnya. Kedua matanya terpejam menikmati bibir kekasihnya yang membuatnya candu. Heni mendesah . Dia memegang erat jemari Tama. Mendapat reaksi tak terduga dari Heni membuatnya diatas awan, langsung dia membopong tubuh Heni membaringkannya diranjang. Mereka saling bertatapan, menyalurkan cinta yang mendalam. Tama menelan saliva saat melihat kedua puncak dada kekasihnya terlihat jelas dihadapannya. Dengan segera dia mengecup dan mengi*** nya. Heni masih memejamkan mata merasakan sensasi di dalam tubuhnya atas apa yang dilakukan oleh Tama. Heni memasrahkan diri.
Tama semakin menampakkan kelaki-lakiannya kepada Heni. Dia melupakan semua keresahan dihatinya. Malam ini adalah puncak kebahagiaannya bersama Heni. Dia terus memainkan peran diatas tubuh kekasihnya sampai ada bagian dibawahnya yang menegang. Tama menatap dalam kedua netra Heni meminta izin. Heni mengangguk, dia sadar batasan yang dibuatnya telah terlanggar. Aku juga mencintaimu, Tama.
........
" Apa hubunganmu dengannya, Heni? " tanya Bimo. Heni masih memainkan ponselnya. Dia terlihat dingin dari luar tapi pikirannya gundah gulana. Suaminya masih mencecarnya.
" Jawab Heni! " desak Bimo. Heni bangkit, dia mulai merasakan ketakutan.
__ADS_1
" Dia bukan siapa-siapa. Jangan membahas dia, mas, " pinta Heni. Seketika dia teringat malam terakhir saat dia bersama dengan lelaki itu.Kedua tangannya sontak menutup wajahnya menutupi kebohongan yang tercetak disana.
Heni pergi meninggalkan Bimo tanpa menjelaskan apa pun. Baginya Tama adalah bayangan meski dia juga mencintainya. Bimo tetaplah suami sahnya. Dia selalu tersadar saat dirumah.
" Kalau kau tidak mau menjawabnya, aku akan mencari tahunya sendiri, " ujar Bimo dengan amarah yang ditekan. Dia keluar membanting pintu membuat Heni terkejut bukan kepalang.
Maafkan aku mas, aku mencintainya. Dan saat ini aku sedang patah hati. Tama sudah bertunangan dengan Mona. Aku hanya ingin menata serpihan hatiku yang hancur oleh cinta sesaatku.
Heni tertidur setelah menangis hampir satu jam mengingat Tama. Lelaki tampan yang selalu mengusiknya hingga membuatnya jatuh cinta telah meresmikan pertunangannya dengan Mona di sebuah hotel berbintang diluar kota. Tujuannya agar dia tidak datang untuk mengacau. Tama juga tidak pernah menghubunginya. Dia seperti hilang ditelan bumi.
Diruangannya Heni termenung. Nampak kekecewaan di wajahnya. Sella tidak bisa dibohongi sebab mata sembab itu menunjukkan betapa Heni mencintai Tama. Meski rekannya itu selalu menunjukkan gengsi yang tinggi melampaui tingginya langit.
Tama sudah tidak lagi bekerja dirumah sakit. Heni jadi merindukan saat-saat dimana dia datang mengganggu. Menurut cerita Sella, lelaki itu diminta tuan Hendri untuk menangani bisnis lainnya selain dirumah sakit. Semua paham dengan jelas, bahwa dengan demikian Tama bisa segera melupakan Heni dan menikahi Mona.
" Aku akan mengundurkan diri saja, " ujar Heni. Dia menulis surat pengunduran dirinya diawasi oleh Sella. Matanya terus berlinang saat menulis surat itu. Dia sudah mantap, jika masih berada ditempat ini hatinya semakin terluka.
" Kau yakin? " tanya Sella. Dia sangat menyayangkan keputusan Heni, yang mencampurkan adukkan urusan pribadinya.
__ADS_1
Heni mengangguk mantap, dia juga ingin melupakan lelaki tampan itu. Dia ingin lebih fokus kepada Bimo, suami sahnya. Mungkin alam semesta tidak berpihak kepada kekeliruannya selama ini. Tama orang baik dan masih muda. Kehadirannya sebagai istri orang sangatlah tidak wajar. Juga bagaimana persepsi khalayak sampai mengetahui hubungan langka itu?
Setelah menyerahkan surat pengunduran diri, dia melajukan motornya ke panti. Dia ingin mengajak Adel dan beberapa anak panti lainnya. Rencana yang seharusnya masih beberapa hari lagi ke depan. Tapi lebih cepat juga lebih baik bukan?
Pemilik panti langsung menyetujui ajakan Heni. Beruntung anak panti sedang tidak ada kegiatan. Semua yang ditunjuk bergegas berganti pakaian untuk turut serta. Mungkin dengan cara ini dia bisa melupakan kesedihannya. Segera mereka berangkat menuju ke taman hiburan indoor dikota dengan menyewa mini bus. Jalanan juga tidak begitu padat, sehingga mini bus melenggang dengan mulus.
Beberapa lama kemudian, rombongan kecil mereka telah sampai di tempat yang dituju. Heni membayar tiket dan para anak panti bermain aneka permainan yang telah tersedia. Hal yang jarang mereka dapatkan. Mereka nampak gembira sampai ada yang berebutan. Heni berusaha melerai serta mendamaikannya. Dia yang belum pernah merawat dan mengasuh seorang anak, sosok keibu-ibuannya muncul karena situasi. Heni tersenyum melihat kepolosan anak-anak yang masih berumur dibawah sepuluh tahun itu. Tawa, canda mereka sedikit banyak mengobati kesedihan hatinya. Ibarat healing kecil-kecilan bersama anak-anak. Meski diluar sana mungkin berbeda dengannya?
" Kak, aku lapar, " rengek seorang anak kepadanya. Heni terkejut, dia menatap anak itu dengan mengelus rambutnya lembut.
" Ya sudah mari kita makan, " ajak Heni. Dengan sedikit isyarat, mereka sudah berkumpul melingkari Heni.
" Berarti sudah puas mainnya? " tanya Heni meyakinkan. Mereka mengangguk hampir bersamaan.
Mereka berjalan menuju ke tempat makan terdekat ditaman hiburan indoor itu. Disebuah tempat makan, mereka berhenti dan masuk atas ajakan Heni. Para anak panti mengambil tempat duduk dengan tenang, sangat disiplin tanpa membuat kegaduhan. Lagi-lagi Heni tersenyum, dia pun duduk bersama dengan yang lain setelah memesan makanan. Ponselnya berdering, nampak sebuah nama memanggil,
" Ya, halo...." sapa Heni lalu asyik berbicara dengan si penelepon. Meski sibuk dengan ponsel, dia masih terus mengawasi anak-anak yang mulai menyantap makanan karena pesanan telah disajikan dimeja mereka.
__ADS_1
Heni menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas. Lalu menyantap makanannya. Siang itu sangat terik. Tapi dia masih bersemangat karena selepas dari tempat ini, Heni berniat mengajak mereka semua untuk berenang. Semua juga sudah sepakat sebelum berangkat. Tas yang mereka bawa berisi pakaian ganti.