
Heni berjalan dengan gontai. Tanah yang diinjaknya seakan mau runtuh. pikirannya menerawang jauh memikirkan bagaimana dirinya selanjutnya. Sakit diperutnya terasa setiap beberapa menit sekali, dia meringis sembari memegangnya. Langit yang sudah mulai melukis senja menjadi saksi dirinya menangis terduduk kebingungan disebuah pohon rindang dipinggir jalan.
Ucapan dari dokter terngiang-ngiang ditelinganya, dia positif hamil? Meski kehamilan adalah hal yang dinantikannya selama ini, tapi dia ketakutan. Hatinya bahagia ada janin yang tumbuh dan sedang berkembang dirahimnya. Dia akan menjadi seorang ibu, karena memang dia tidak mandul. Tapi disatu sisi lain hatinya terasa perih karena telah menghancurkan rumah tangganya sendiri.
Saat melewati sebuah warung, langkahnya terhenti. Dia terus menatap aneka hidangan dietalase kaca. Mualnya datang lagi. Karena dia mencium aroma yang sangat menyengat, dia mau muntah. Heni segera meninggalkan tempat itu.
Maafkan aku mas Bimo. Aku telah mengkhianatimu karena kebencianku pada ibumu. Aku sudah banyak berkorban selama ini. Aku tidak pantas untukmu. Jika terjadi perpisahan diantara kita, salahkan aku. Aku pantas mendapatkan itu. Aku wanita tak bermoral.
Heni terus melangkah tanpa arah, pikirannya benar-benar kalut. Dia takut menghadapi Bimo dan ibunya yang selalu ikut campur dan mengejeknya. Wanita yang dulu selalu dianggap sebagai ibu keduanya itu, namun tidak pernah menghargainya sama sekali. Karena lelah berjalan, dia duduk dikursi dibawah lampu pinggir jalan. Matanya lurus menatap didepan. Didepannya lurus ada taman kota terpisah jalan raya dengan ribuan lampu menghiasi, tempat para muda-mudi bercengkrama. Airmatanya menetes teringat Tama. Dia menangis tergugu,
Tama aku merindukanmu, meski rasa ini salah. Aku ingin bertemu denganmu. Sekali saja. Jika bertemu denganmu dulu adalah sebuah kesalahan, mungkin inilah balasan untukku. Aku berjanji akan menjaga bayi ini, bayi kita. Meski mungkin tanpa dirimu disisiku. Semoga kau bahagia dimanapun kau berada.
Heni terus menangis ditemani bisingnya deru kendaraan yang lalu lalang dijalan raya. Dia sudah tidak peduli senja telah berganti dengan malam. Dia terus menangisi kekhilafannya yang telah diperbuatnya. Dia menyesal.
" Heni, sayang. Kenapa kau ada disini? " tanya seseorang sembari memeluknya. Heni menatap lekat-lekat, dia menghapus airmatanya. Senyum mengembang diwajahnya yang sendu saat melihat wanita yang telah melahirkannya berdiri disisinya.
" Aku tidak apa-apa ma, " jawab Heni dengan suara tertahan. Dia ingin menangis lagi tapi ditahannya sekuat tenaga. Lambat laun pertahanannya runtuh, dia memeluk erat mamanya dan menangis menumpahkan segala kegetiran hidupnya.
" Tidak apa-apa menangislah agar kau tenang, " ujar nyonya Alwan.
__ADS_1
........
Heni terbangun diruangan yang nampak lain. Dia mengumpulkan kesadarannya dan pandangannya menyapu disekeliling. Kamar ini adalah kamarnya dirumah orangtuanya. Heni bangkit, dia langsung mengusap perutnya. Ada kebahagiaan tersendiri saat melakukannya. Tangannya refleks meski belum membesar perutnya. Ya dia hamil. Dia sudah mulai menerima keadaan dirinya. Dia berjalan keluar menemui ibunya yang mungkin berada didapur.
Semalam setelah memeluk nyonya Alwan, sang ibu mengajaknya pulang. Entah apa yang terjadi kepada putrinya beliau tidak memaksa untuk menjawabnya. Yang nyonya Alwan tahu, putrinya butuh menenangkan diri dan segera beristirahat.
Dilihatnya sang ibu tengah membuat sereal kesukaannya. Heni mendekatinya, tiba-tiba keinginannya muntah datang. Dia langsung berlari ke kamar mandi, membuat nyonya Alwan bertanya-tanya.
" Ada apa? kau sakit sayang? " tanya nyonya Alwan lembut. Heni mengusap mulutnya yang masih basah terkena air. Dia menggeleng. Lantas nyonya Alwan memintanya untuk segera sarapan. Heni berjalan dengan ragu ke tempat makan. Dia takut bau yang berasal dari makanan yang tersaji dimeja membuatnya mual. Nyonya Alwan masih terus memperhatikannya dengan seksama.
" Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Hen? " tanya nyonya Alwan. Heni menggeleng. Dia memaksakan diri untuk makan dan menunjukkan dia baik-baik saja.
" Aku sudah menghubungi Bimo, dan memberitahukan bahwa kau berada disini, " ujarnya. Wajahnya nampak menua termakan usia. Namun masih terlihat gurat ketampanan sang ayah yang masih tersisa.
" Mungkin nanti dia akan menyusulmu, " terang tuan Alwan kepada Heni.
Heni memalingkan wajah ke arah lain. Dia menyembunyikan kesedihan yang masih tergambar jelas diwajah bulatnya. Dia takut orangtuanya akan menanyainya meski tidak mungkin. Karena mereka selalu menunggu Heni berbicara dulu.
Heni terus makan dengan pandangan dari kedua orangtuanya. Mereka tidak melewatkan kesempatan berharga bersama Heni yang jarang mereka dapatkan. Karena selama ini Heni selalu sibuk dengan pekerjaannya yang menyita waktu. Juga karena Bimo yang malas datang untuk berkunjung.
__ADS_1
Selesai makan, Heni menawarkan diri untuk melakukan pekerjaan rumah yang masih terbengkalai. Nyonya Alwan heran dengan sikap yang tidak biasa Heni tunjukkan. Dia berpikir anaknya sedang tidak baik-baik saja dan tengah menyembunyikan sesuatu. Nyonya Alwan memintanya untuk membantu pekerjaan simbok di dapur, tapi Heni menolak. Menurutnya bau dapur membuatnya mual. Alasan yang aneh karena Heni termasuk senang jika berada didapur. Buktinya dia piawai membuat berbagai masakan. Nyonya Alwan mengambil kesimpulan sendiri,
" Apa kau hamil? " tanya nyonya Alwan. Heni tidak menjawab, dia mengalihkan topik pembicaraan. Saat nyonya Alwan lengah dia segera menghindar darinya.
Heni melangkah menuju ke kolam renang yang berada disamping rumah. Suasana melankolis kembali menyergap dirinya saat sendiri. Dia teringat mendiang kakaknya. Dia jadi rindu.
" Kau disini rupanya? Bimo menunggumu diruang tamu, " ujar nyonya Alwan. Heni panik, tangannya meremas ujung pakaiannya.
" Ada apa? kau takut dengan suamimu? " tanya nyonya Alwan. Wanita itu sudah paham Heni luar dalam. Anaknya selalu berbuat demikian karena ketakutan akan sesuatu. Nyonya Alwan mendekatinya,
" Mama tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? tapi mama harap kau bisa menyelesaikannya sendiri, jika kau butuh bantuan mama. Mama siap nak, " ujar nyonya Alwan. Heni menoleh, dia menggeleng kuat-kuat. Firasatmu terlalu kuat ma, aku tidak apa-apa. Heni terus meyakinkan diri dan melangkah menuju ke ruang tamu untuk menemui suaminya.
Bimo langsung berdiri saat Heni menemuinya. Dia mengatur emosinya yang sebenarnya sudah diubun-ubun karena Heni pulang ke rumah orangtuanya tanpa meminta ijin.
" Maaf mas, " ujar Heni perlahan setengah berbisik. Dia tidak kuasa menatap wajah sang suami. Netranya tertunduk menghitung susunan marmer dilantai yang terpasang diruang tamu rumah kedua orangtuanya.
" Mari kita pulang dan selesaikan masalah kita dirumah, " ujarnya tegas. Heni bergidik takut. Dia takut Bimo akan mengetahui perselingkuhannya selama ini sampai dia mengandung benih cinta dari Tama.
" Ayo, " Bimo mengulurkan tangan. Dengan ragu dan gemetar, Heni meraihnya. Mereka bergenggaman tangan erat sampai menaiki motor matic yang dibawa Bimo untuk menjemput sang istri. Heni pun naik dan motor segera melaju diiringi tatapan nyonya Alwan dari balik tirai kaca ruang tamu.
__ADS_1
Semoga kau baik-baik saja anakku. Ya tuhan lindungilah putriku, doa nyonya Alwan.