Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
kebahagiaan


__ADS_3

Tama mengangkat Tania dari dalam stroller. Dia tak peduli meski nyonya Alwan mencegahnya karena mengganggu tidur nyenyaknya. Benar saja bayi itu menangis karena merasa terganggu. Tama malah tersenyum mendengar tangisan dari bayi yang ternyata adalah darah dagingnya itu. Nyonya Alwan panik lalu mengambil botol susu dari dalam tas yang dibawanya. Tama pun memberikannya kepada si bayi. Bayi itu menyusu sembari membuka mata.


" Tania...daddy disini, " ujarnya. Dadanya membuncah gembira mendengar kata yang diucapkannya. Untuk kali kedua kata daddy disematkannya kepada bayi itu dan sah menjadi miliknya semata.


Lambat laun bayi itu tertidur lagi karena merasa nyaman. Tama menggendong dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya kekanan-kiri. Bayi mungil nan cantik itu merasa seperti di ayunan. Nyonya Alwan dan baby sitter menghidu latte mereka karena telah datang dan tersaji. Setelah Tama mulai tenang dan duduk, nyonya Alwan kembali memasang mimik serius.


" Jadi bagaimana? Apa kau bersedia menikahi anakku? " tanyanya lagi meyakinkan lelaki muda itu. Nalurinya merasa terancam jika lelaki itu tak segera menikahi sang anak. Semua kriteria suami idaman melekat sempurna dalam dirinya. Dia takut lelaki itu berpaling ke lain hati jika Heni terus mengulur waktu.


" Bersedia tante, " jawabnya mantap.


Tama memberanikan diri untuk bertanya kepada wanita itu suatu hal yang membuatnya penasaran setengah mati hingga kini. Sebuah tanda tanya besar yang masih menjadi misteri untuknya. Yang hanya bisa dijawab oleh nyonya Alwan dan Heni dan juga untuk meyakinkan lagi bayi itu adalah darah dagingnya.


" Untuk sekali lagi, jadi ini bukan bayi Bimo? " tanyanya. Wajah wanita itu mendadak sendu. Dia memalingkan muka teringat mantan menantu malangnya itu karena cintanya dibagi oleh anak perempuannya. Padahal dia tahu betul lelaki itu sangat mencintai sang anak sejak Heni masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Terlepas dari kekurangannya, Bimo sangat tulus tanpa embel-embel minta dikasihani oleh mertuanya dari segi financial.


" Dia tak bisa punya keturunan. Dan saat tahu bahwa Heni hamil, dia memutuskan untuk bercerai. Itu adalah kesalahan fatal yang dilakukan oleh Heni. Dan kuharap...." ucapan wanita itu terputus, tatapannya tajam ke arah Tama seakan ingin menguliti kulitnya saat ini.


" Iya tante? " tanya Tama. Dia sangat penasaran karena kalimatnya tergantung.


" Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan dan berjanjilah untuk tidak menyakitinya seumur hidupmu, " tegasnya.

__ADS_1


" Maafkan aku tante. Seandainya aku tahu lebih awal, aku pasti dengan senang hati akan bertanggung jawab dengan segenap jiwa ragaku, " ujarnya parau. Dia sangat menyayangkan kebungkaman Heni saat terakhir kalinya bertemu. Bahkan pujaan hatinya itu malah memalingkan muka?


" Jadi kau tidak tahu Heni mengandung anakmu. Dan dia pernah hampir kehilangan nyawanya karena tertabrak, " terangnya lagi.


" Benarkah itu tante? " tanyanya. Tanpa sadar tangan satunya mengepal ke udara menyesalkan tindakan si penabrak.


..........


Setelah pulang dari kafe dan mengetahui bahwa bayi yang mencuri pikirannya selama ini adalah anak kandungnya, Tama nampak berpikir tentang kilas balik perjalanan cintanya dengan Heni. Dia tersenyum mengingat apa yang pernah dilakukannya di apartemen kepada Heni, ternyata membuahkan hasil dengan kehadiran bayi itu.


Dia sama sekali tak menyangka jika perpisahan antara Heni dan Bimo karena bayi cantik itu. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur masih diberi usia panjang meski berulang kali mencoba mengakhiri hidupnya karena frustasi. Tania seakan memberinya harapan baru. Harapan untuk terus berjuang meniti hidup baik senang maupun sedih sekalipun. Bayi itu pembakar jiwanya yang hampa karena penolakan Heni. Dia tatap bekas goresan dipergelangan tangannya.


Alangkah bodohnya aku melakukan hal rugi ini.


" Ada apa? ada kesulitankah? " tanyanya dengan sangat hati-hati. Tama menoleh dan tersenyum.


" Aku sangat bahagia mi, " jawabnya datar.


Madam Roxanne terus menatap sang putra menunggu ucapan yang akan membuatnya juga terkejut.

__ADS_1


" Aku sudah punya anak mi. Bodohnya aku tak tahu sama sekali, " ujarnya. Kedua matanya mengerjap dan terus menyunggingkan senyum membayangkan bersama dengan Heni dan Tania berada dalam sebuah rumah. Mendengar tangisan Tania yang memenuhi segenap ruangan. Lalu Heni yang tengah sibuk didapur memasak dan melayaninya sebagai suaminya. Itu semua membuatnya sangat bahagia. Dia menggeleng-geleng ingin cepat mempersunting wanita itu yang kini sedang berada diluar kota.


Lain halnya dengan sang ibu, pikiran wanita itu mulai mengembara ke segala penjuru memorinya. Semua gadis yang dekat dengan sang anak mulai ditebaknya. Hanya dua orang, Mona dan Heni. Karena sang anak tak pernah mau dekat dengan lainnya. Mona, tidak mungkin dia memberikan anak untuk Tama. Terakhir mereka masih melakukan olahraga ekstrim disebuah gym. Tak mungkin jika gadis itu sedang mengandung. Pikirannya lalu mengarah kepada Heni, dia merutuk dalam hati. Kenapa Tama belum bisa menghilangkan jejak wanita itu. Apakah saat tertabrak dulu dia masih selamat dengan bayinya? lalu mendatangi Tama meminta pertanggung jawabannya? Kenapa dia masih bersikeras mendekati putra kebanggaannya?


" Oh, " ujarnya tanpa sadar. Tapi Tama kecewa mendengar tanggapan dari sang ibu yang menganggapnya biasa saja dan tak perlu berlebihan. Ekspresi apa itu? tak tahukah dia, jika saat ini Tama ingin segera membawa pulang Tania dan memberitahukannya ke seluruh dunia bahwa itu adalah putri cantiknya.


" Ada apa mi? apa mami sudah tahu? " cecar Tama. Lelaki itu sangat kecewa. Rupanya berita itu tak membahagiakan ibunya sama sekali. Malah wajahnya terlihat menekuk.


" Mami tak suka? Tak apalah terpenting aku bahagia saat ini. Jangan rusak suasana hatiku dengan sikapmu mi, " ujar Tama mengingatkan.


" Terus mami harus gimana? salto? merangkak ke dinding? " tanyanya. Ada nada emosi dibaliknya, karena dia sudah paham sang anak akan mengarah kemana.


" Tunggu, sepertinya mami tahu aku mendapatkan anak dari siapa? bukankah begitu? apa mami banyak menyimpan sesuatu yang tak aku ketahui sama sekali selama ini? " cecarnya lagi.


Jiwa detektifnya naik ke permukaan karena tanggapan maminya yang seolah mengaburkan suatu hal yang berkaitan dengannya. Wanita itu selalu menutupi sesuatu agar tama hanya fokus dengan tujuan yang diinginkannya saja sejak dulu. Dan sepertinya sifatnya itu belum berubah. Sangat egois.


Madam Roxanne mulai panik. Dia menata semua penampilannya mulai dari rambut sampai tumit yang sama sekali tak berantakan guna menutupi kepanikannya. Akan tetapi Tama tahu perubahan sikap sang ibu yang selalu paripurna itu. Wanita itu kelihatan gugup, karena dia ingat terakhir kali saat mobilnya menabrak wanita itu.


" Ada apa mi, benar bukan mami menyembunyikan sesuatu dariku? " cecar Tama lagi. Karena kesal madam Roxanne segera beranjak meninggalkan Tama menuju ke lantai dua. Dia tak menjawab maupun menoleh sedikit pun.

__ADS_1


Jadi benar Heni masih selamat. Bagaimana nasib bayi itu? apakah selamat tanpa mengalami cacat? bagaimana rupanya? bagaimana jika Heni tahu bahwa pelakunya adalah aku? dan bagaimana aku menghadapi mereka jika suatu saat Tama membawanya kemari?


Perasaan bersalah menyelimuti pikirannya. Dia menutup pintu kamar membenamkan diri di bantal.


__ADS_2