AGENT 06

AGENT 06
Perubahan sikap Aby.


__ADS_3

Bab.12.


Aby mengganti bajunya dengan Pakaian Kantor. Matanya selalu melirik Dy yang duduk terpekur.


Kemudian Dy berdiri menjawab beberapa panggilan yang kesemuanya memakai bahasa Asing.


Aby memencet Intercom, menyuruh Managernya memimpin Morning Briefing, Menggantikan dirinya.


Aby juga menyuruh mengantarkan Breakfest ke Ruangannya.


Dy langsung menuju ke Sofa dan duduk bersandar. Kaca matanya Dy buka.


Ingatannya kembali kepada XP.12. Walaupun Dy tidak begitu mengenalnya tapi rasa persahabatan dalam satu wadah XPostOne membuat perasaan Dy sedih.


Seorang Waiter datang membawa pesanan Aby.


" Sarapan dulu ". Kata Aby setelah Waiter itu pergi. Aby duduk disamping Dy.


" Makasi " sahut Dy pendek. Mereka mulai sarapan. Dy cuma mengambil Sandwich dan secangkir Teh hangat.


" Mengapa Kamu tidak membangunkan Aku tadi malam?". Tanya Aby.


" Karena Kamu sudah ngorok". Jawab Dy bohong.


" Bohong .... Kamu selalu bohong ". Sahut Aby mukanya berubah kecut.


" Ya Aku bohong. Kalau Aku bangunin, Pagi ini Kamu tidak akan bisa kerja, karena ngantuk ". Jawab Dy cepat, takut Aby kembali ngambek.


" Nanti malam Kamu datang lagi khan?".


Tanya Aby menatap Dy.


" Tidak..". Jawab Dy pendek. Muka Aby terus berubah sedih.


" Kita akan menginap disini ". Bisik Dy tersenyum.


" Aku sangat senang mendengarnya ". Sahut Aby. Mata Aby bersinar.


" Katakan kepada Gama bahwa Kamu akan menginap di Rumah teman".


" Aku akan katakan Kita menginap berdua di Hotel ". Kata Aby.


" Jangan, Mamamu akan marah, panjang urusannya nanti ".


" Yaya.....". Sahut Aby pendek.


Kemudian Aby diam. Dy memandang Aby.


Orang ini cepat sekali ngambek, padahal orangnya ganteng banget. Bhatin Dy. Kalau bukan karena nyawanya dalam bahaya Dy mungkin sudah membiarkan Aby melanjutkan ngambeknya sampai sebulan, bila perlu Setahun.


" Kenapa Kamu tahu Aku datang tadi malam?". Kata Dy pelan mencairkan suasana.


" Karena Topimu dan bau badanmu di Sofa ". Sahut Aby acuh.


" Gitu ya, berarti Kamu hafal bau badanku donk".


" Ya lah, siapa yang tidak hafal bau badanmu, Gama juga hafal". Saut Aby ketus. Nah mulai lagi. Pikir Dy.


Ruangan JM persis seperti Kamar Hotel, lengkap dengan Sofa panjang tempat istirahat. Hanya tempat tidur saja tidak ada, di ganti dengan Meja kerja dan peralatan Kantor.


Dy berdiri menuju Sofa panjang dan merebahkan tubuhnya. Aby heran karena Dy tetap memakai sepatu.


Sekarang Dy memakai baju kaos hitam agak ketat dan celana panjang Tactical dan sepatu boots hitam.


Sungguh menawan, seperti Tentara. Bisik Aby mengagumi penampilan Dy.

__ADS_1


" Aby Aku mau tidur ". Kata Dy memejamkan matanya.


" Yeahh...tidurlah". Sahut Aby senang.


Aby memandang Dy yang cepat sekali tidurnya. Untung Dia minta diantar Dy Tadi, kalau tidak, Dy bisa tidur di tempat Gama.


Aku harus tiap hari minta diantar. Kata Aby dalam hati.


Dia juga ingat Dimas yang selalu menanyakan khabar Dy.


Bagaimana Aby tidak esmoni, kalau semuanya balapan mencari perhatian Dy.


Kalau Dimas, bisa Aby sisihkan, tapi Gama?, Dy sangat akrab dengan Gama.


Dan Mereka kelihatan nyambung.


Aby kembali ke Mejanya dan mulai bekerja.


Sesekali matanya melirik ke Dy.


Hatinya merasa nyaman kalau Dy sudah ada di dekatnya. Tidak perlu Aby berpikir keberadaan Dy.


Aby merasa aneh, siapa sebenarnya Dy dan untuk apa Dy menjadi Sopir.


Ingin rasanya Aby mengungkap siapa Dy, tapi bagaimana caranya?.


Dy kadang-kadang baik dan kadang galak tergantung Angin Mamiri...


Rindu dengan Beck.


Mobil itu menyusuri Tol Bali Mandara, perasaan Dy terhibur melihat pemandangan yang indah.


Pikiran Dy melayang jauh mengingat Beck Ayah angkatnya.


Beck pasti merasa kehilangan.


Dy tidak mengerti kenapa Beck tidak mau menikah di saat umurnya dulu masih muda, kini usianya sudah 60 tahun.


Tentu kesempatan menikah tipis.


Dy ingin Beck ada yang mengurus di hari tuanya.


Dy sendiri jarang di Rumah karena Beck sangat getol memberi tugas.


Padahal di hati kecil nya, dy tidak ingin menjadi Intelijen.


Sebagai perempuan Dy ingin pekerjaan yang menetap dan nyaman.


Pekerjaan ini sangat berbahaya, selalu mempertaruhkan nyawa.


Enaknya Dy bisa keliling Dunia dan uangnya sangat besar.


Mobil memasuki Garasi dengan mulus.


Dy langsung turun menuju Dapur.


Bi ijah memandang Dy dengan mata yang berbeda.


" Kenapa Bi?". Tanya Dy menghampiri Bi ijah.


" Tidak apa-apa ". Sahut Bi ijah melengos.


Dy akhirnya pergi ke Kamar, duduk di pinggir tempat tidur.


Untung cuaca mendung, jadi kamar ini tidak begitu panas.

__ADS_1


Dy membuka Ponselnya, ada beberapa panggilan dan DM dari teman-temannya yang tersebar di seluruh Dunia.


Memang sengaja Dy menjalin pertemanan dengan orang asing sekalian mencari informasi keadaan Negaranya.


15 panggilan dari jannet, teman nya waktu Dy sempat tugas di Australia.


Dy kemudian menghubungi Jannet lewat Ponselnya.


"Jan ada apa menelponku ". Kata Dy dalam bahasa Inggris.


" Dy Aku sekarang ada di Bali, Kamu bisa nemani Aku?, Aku datang ke Bali sendiri".


Sahut Jannet.


" Aku ada di Jakarta, kalau Aku ke Bali pasti memakan waktu lama ". Ucap Dy berusaha mengelak. Dy ingin fokus dengan tugasnya. Tapi Dy juga kasihan dengan Jannet yang baru datang dari Aussie.


" Please Dy, Aku baru pertama kali ke Bali, Aku ingin ketemu Kamu". Kata Jannet memohon.


" Oke.. Aku akan datang nanti malam.


Dimana posisimu?". Sahut Dy mengalah.


" Hotel Romero kamar nomor 320 ". Kata Jannet kegirangan.


Dy menutup Ponselnya dengan malas.


Badannya terasa lemas.


Pikirannya jauh, tadi Dy tidak konsentrasi apa yang Jannet bilang. Tapi Dy ingat nomor Kamar Jannet di Hotel.


Nanti Sore Dy juga menjemput Aby kesana, apa tidak sebaiknya Dy sekarang kesana, jadi tidak bolak balik. Pikirnya.


Setelah istirahat sekitar dua jam Dy kembali menuju Dapur.


Pikirannya gelisah, Dy menarik kursi dapur dan duduk dengan kaki menyilang.


Bi Narti dan Bi Ijah saling pandang. Mereka tidak berani menyapa Dy.


Dy mengeluarkan Ponsel dari tasnya mulai mengontak Jannet.


" Jannet, Aku akan datang sekarang. Kamu tunggu Aku di Lobby ". Kata Dy memakai bahasa Inggris.


Kedua Bibi saling mengangguk dan berusaha tidak berisik.


Mereka selalu heran melihat Dy bicara dengan memakai bahasa yang Mereka tidak mengerti.


Tapi Mereka sepakat tidak akan mengganggu Dy.


"Pukul berapa pesawatmu datang??". Sahut Jannet.


Dia baru ingat, tadi pagi Dy bohong mengatakan dirinya masih di Jakarta.


" Aku Tidak bisa memastikan, karena kadang-kadang Pesawat Deley.


Nanti setelah Aku sampai, Aku akan telepon Kamu". Kata Dy.


Kemudian Dy berdiri dan keluar dari Dapur.


Bibi Narti dan Bi Inah baru bisa menarik nafas ketika Dy sudah keluar. Mereka mulai bergosip.


" Sekarang Dy berbeda ya, agak angker". Kata Bi Narti pelan.


" Seperti orang lain ya, jangan-jangan Dy itu Anak haram Tuan, yang menyamar menjadi Sopir". Sahut Bi Ijah.


" Mosok Sopir baunya wangi sekali.

__ADS_1


Kuku-kukunya bersih rapi, wajahnya Cantik seperti Artis Televisi". Ucap Bi Narti. Bi Ijah mengangguk tanda setuju.


*******


__ADS_2