AGENT 06

AGENT 06
Malam pertama.


__ADS_3

Bab.35.


Setelah capek berdebat dan mencari siasat untuk menghindari pemikiran egois Aby yang mengira dirinya adalah istrinya, Dy malam ini malah tertidur lelap dibawah dekapan Aby.


Kenapa begitu ?, bukankah semua omongan Dy tentang cinta hanya gombal belaka?, tapi kenapa malam ini bisa luluh di dekap oleh Aby?.


Siapakah yang lebih licik?, seorang Intelijen pemula yang baru berumur 20tahun, atau seorang JM genius yang berumur 26 tahun?.


Keduanya tidak termasuk hitungan licik, karena Mereka berdua tertidur dalam pengaruh obat tidur.


Bayangan itu melompat ringan ke suite Room, tidak melalui jalan biasa.


Tapi melalui pantai, kemudian merayap ke tebing. Melempar tali di atas teralis Living Room. Sempurna!!.


Kemudian dengan ringan melangkah ke kamar melewati ruang tamu yang sepi dan masuk dengan gampang, mencari koper Aby.


Mengacak-acak dan tidak satupun hasil yang di dapat. Semua nihil!!.


Bayangan itu melangkah ke Almari ke pakaian Aby, mencari sesuatu, tapi lagi nihil!!. Dan bayangan itu melompat dengan cepat, sebelum Dy bangun.


Pagi ini Aby berteriak kaget dan membuat Dy bangun.


Sesuatu telah terjadi.


Feeling Dy bergerak cepat. Dy menyadari terlelapnya Mereka berdua karena pengaruh obat tidur.


" Yank, katakan padaku apa yang Kamu sembunyikan". Kata Dy menatap bola mata Aby.


" Tidak ada, apa maksudmu?". Tanya Aby heran. Dy terhenyak, Dy baru sadar Aby masih Amnesia. Walaupun ada, pasti Dia tidak ingat.


Dy mengingat apa yang Dy minum sebelum tidur.


Yach...Dy ingat, seorang Waiter menambahkan Dessert nya dengan dua butir Coklat. Dy langsung melompat ke keranjang sampah.


Pembungkus itu....


" Yank, mau cari apa?". Tanya Aby tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Aby sudah rapi sehabis mandi.


" Yank, Kamu lihat bungkus Coklat yang dikasi Waiter tadi malam itu". Tanya Dy.


Aby mengangguk dan melangkah ke belakang TV.


Dua bekas bungkus Coklat yang bertuliskan "Alcatel " ada di tangan Aby.


" Trims sayank....". Dy mengambil bungkus Coklat itu dan tersenyum menatap Aby.


" I Love You ". Sambung Dy lalu masuk kedalam kamar. Aby mengikutinya dari belakang.


" Dy lalu merapikan koper Aby yang cuma berisi beberapa pakaian yang tersisa, karena sebagaian sudah di taruh di Almari.


Kemudian Dy merapikan isi Almari yang berantakan.


" Yank, Ponselmu.... mana Ponselmu...". Tanya Dy menoleh kepada Aby.


Aby menggeleng. Dy yakin semua kejadian ini ada hubungannya dengan Ponsel Aby.


Dy lalu mengambil Ponselnya.


Mencari kontak Gama.


" Halo Dy..". Sahut Gama diseberang sana.


" Pagi Gam...., Kamu ada melihat Ponsel Aby?? ". Kata Dy langsung ke pokok persoalan.

__ADS_1


" Tidak ada, waktu kecelakaan itu, orang lain yang membawa Aby ke Rumah Sakit.


Polisi yang menyerahkan barang-barangnya kepada Kita ". Sahut Gama.


" Dimana barang-barangnya itu?". Tanya Dy lagi.


" Barangnya semua ada di Kamarnu, tidak ada yang tersisa disini ".


Kata Gama kembali.


" Ya Gam...Trims ". Kata Dy menutup Ponselnya. Otak Dy berputar.


Dy memandang Aby dari ujung rambut


Sampai ujung kaki.


" Apakah Kamu ingin memakai Ponselku?". Tanya Dy menawarkan Ponselnya.


" Apakah Aku bisa meminjamnya?".


Aby balik bertanya. Dy tersenyum dan memberikan Ponselnya.


" Tidak bisa dibuka, pakai sandi ya". Tanya Aby. Dy mengangguk.


" Bukankah Kamu yang membuat Sandi di Ponselku". Kata Dia pura-pura sibuk membenahi koper Aby.


" Ow..Kukira Sandinya sudah berubah ".


Sahut Aby, tapi Dy duluan menyambar Ponselnya.


" Apa sih maksudmu?". Seru Aby kaget.


" Maaf... Aku lupa ngasi tahu Papaa, sebentar ya Sayank". Kata Dy keluar dari Kamar.


Bertemu Gama.


Ntah apa yang di cari.


Kemudian Dy pelan-pelan masuk, memperhatikan tingkah Aby.


Dy tersenyum.


Selesai mandi Dy tidak mendapatkan Aby di Kamar.


Pikiran Dy melayang ke sosok Waiter yang membawakan Dy Coklat.


Seorang gadis muda, dengan kulit putih dan muka bundar...


Dy melihat Ponselnya, baru pukul 09.45.


" Yank, mau kemana?". Tanya Aby memandang penampilan Dy yang Modis.


" Kita akan Breakfest di Restoran ". Sahut Dy. Menyuruh Aby mengganti baju.


Pagi ini sangat cerah, Dy memakai Skinny Jeans black dan T-Shirt putih.


Aby juga menyelaraskan penampilannya dengan Dy.


Body Aby yang atletis dengan wajah Macho membuat Karyawan Hotel semua melirik.


Dy membiarkan Aby menggandeng tangannya. Sesekali Aby memamerkan kemesraannya di depan Karyawan Hotel.


" Dy......". Panggil Gama ketika Dy menuju Restoran. Aby dan Dy menoleh.

__ADS_1


" Gama.... Kamu mau sarapan juga?". Tanya Dy memandang Gama, matanya melirik sekilas ke Aby. Terlihat raut wajah tidak suka dari muka Aby.


" Aku sekarang tidak pernah makan di Rumah. Bibi juga masih berdua saja, Bi Narti sudah berhenti". Jelas Gama tanpa di minta. Dy diam, perasaan kasihan muncul dari hatinya.


" Kalau Kamu mau, Kamu boleh sesekali ke Suite Room ". Sahut Dy.


" Tapi Kami jarang ada di tempat. Pastiin kalau mau datang telepon dulu. Jangan sembunyi-sembunyi.". Timpal Aby menatap kesal kepada Gama.


" Apa Aby sudah sadar Dy?". Tanya Gama spontan.


" Belum Gam....kalau sudah, pasti Dia menyapamu tadi". kata Dy.


Mereka bertiga berjalan berendeng menuju Restoran.


Tamu lumayan banyak.


Dy salah tingkah karena Gama terus memandangnya.


" Kenapa Gam?". Tanya Dy pelan.


" Aku ingin sakit seperti Aby, supaya bisa dekat denganmu ". Sahut Gama lirih.


Dy cuma tersenyum.


Dy merasa kasihan melihat Gama.


Pertama kali Dy menjadi sopir Gamalah yang sering membuatnya tertawa.


Gama juga sering membuatnya kesal, tapi Dy selalu akan tersenyum kalau Gama sudah minta maaf.


Sekarang keceriaan dan sifat humoris Gama hilang, Gama menjadi pendiam.


Setelah mengambil Makanan Mereka duduk satu meja bertiga.


Dy diam-diam mencubit Aby, supaya mulutnya tidak ikut berkomentar, saat Gama memohon supaya bisa bersama ikut di Suite Room.


Aby kelihatan sangat kesal.


" Untuk ikut menginap di Suite Room tidak bisa Gam, Aby akan marah terus karena Aby menganggapku sebagai istrinya.


Bisa-bisa Kamu cekcok tiap hari dengan Aby ". Kata Dy berusaha mencari alasan supaya Gama mengurungkan niatnya.


" Nasib Aby selalu lebih bagus dariku ". Sahut Gama kecewa.


" Jangan pesimis, hidup selalu berubah, kadang di atas, kadang di bawah.


Yang penting Kita tetap berusaha dan semangat. Jangan lupa berdoa". Kata Dy menatap Gama.


Dy menyudahi sarapannya pagi ini. Mereka lalu beranjak keluar dari Restoran.


Gama hampir tidak mau melepaskan tangan Dy, kalau Aby tidak protes.


"Lepaskan tangan istriku". Bentak Aby matanya melotot.


Dy hampir tertawa melihat tingkah Aby. Gama tersenyum kecut mendengar suara Aby yang membuat tamu-tamu yang lewat memandang Mereka.


Gama melepaskan tangan Dy, tapi mata Gama mengerdip sebelah kepada Dy.


Aby menarik tangan Dy dan memeluknya di depan Gama.


Gama geli melihat Aby yang cemburu.


Dasar orang gila. Umpat Gama dalam hati.

__ADS_1


*******


.


__ADS_2