AGENT 06

AGENT 06
Kehancuran hati Dy.


__ADS_3

Bab.29.


Pada saat Keluarga Romero dipanggil masuk oleh Polisi, Dy punya kesempatan WA Beck.


" Beck.. Aku ini siapa".😭


" Permata hatiku ".❤ balas Beck cepat.


" Aku anak ***** dan anak haram".🖤


Beck diam. Hatinya sedih. Cepat atau lambat Dy akan tahu, makanya Beck dari dulu tidak pernah mengajak Dy kerumah Ricardo Romero Kalau Mereka berlibur ke Bali.


" Mulut siapa yang berani berkata begitu?".👹


Akhirnya Beck melanjutkan membalas WA Dy.


" Mulut orang yang tahu siapa Ibuku. Tidak seperti Papa yang selalu menyembunyikan indetitas Ibuku". 😭Balas Dy sedih. Air matanya kembali turun.


" Papa sangat sayank kepadamu Nak". ❤


" Papa tidak sayang kepadaku, Papa hanya ingin menbalas demdam, Papa cuma ingin membunuhku".☠☠☠balas Dy mengakhiri WA nya, karena Aby keburu datang. Dy menghapus air matanya dan membiarkan tangan Aby memeluknya dan


mengajak Dy keluar dari Kantor Polisi.


" Kita pulang ". Bisik Aby mengecup kening Dy.


" Aku harus pamit". Sahut Dy serak.


" Aku sudah pamit, Kita pulang saja". Kata Aby menyeret tangan Dy keluar.


Mereka menuju tempat parkir.


Dy naik ke Mobil dengan perasaan tidak enak, karena Dy melihat rombongan istri Om Ricardo sudah keluar.


Dy membuang pikiran tidak enak setelah Aby memberi kode untuk berjalan.


Lambhorgini Aventandor itu meluncur cepat menyisakan rasa marah dan kagum dari dua kelompok Istri Pak Ricardo Romero.


Baru sampai di Hotel, belum sempat Aby mengganti baju, Beck sudah menghubunginya.


Ntah apa yang Mereka bicarakan, terdengar Aby beberapa kali minta maaf.


Dy mengambil dua botol air mineral di mini bar dan menyodorkan satu kepada Aby. Kemudian Dy duduk di Sofa disamping Aby.


Pikirannya kembali melayang ke Tante Ida.


Perkataan Tante Ida mengusik keingintahuannya tentang Ibunya, mengapa Tante Ida mengatakan Ibunya ***** atau mengatakan dirinya anak haram?.


Dy benci kepada Beck yang tidak mau memberitahu siapa sebenarnya dirinya.


Tidak tahu Dy harus berbuat apa atau bagaimana, pikirannya mumet seperti benang kusut.


Seandainya Dy sekarang berada di Jakarta pasti Dy akan ketempat latihan menembak. Dy akan menghabiskan peluru karetnya untuk menembak sasarannya atau Dy akan mengeluarkan isi Samsak tinjunya dengan pukulan mautnya.


Dy menarik nafas panjang dan membuangnya kasar...


Kemudian Dy keruang ganti, mengganti pakaiannya dengan Dress Sleepwear.


Hari ini Dy malas Chattingan dengan siapapun.


Dy ingin tidur-tiduran disamping Aby.

__ADS_1


Rasa sedihnya perlahan-lahan hilang kalau Dy dekat dengan Aby.


Belum pernah Dy mempunyai masalah yang membuat dirinya seolah-olah terjerembab jatuh ke jurang yang sangat dalam tampa penyelesaian.


Sebagai InteIijen tentu tidak baik memendam masalah karena akan berpengaruh dengan pekerjaan.


" Aku mau pulang untuk mendampingi Mama menghadapi masalah ini". Tiba-tiba Aby nyeletuk setelah lama diam.


Suaranya pelan hampir tidak terdengar.


Dy diam berusaha mengerti posisi Aby, tapi hatinya seolah tidak rela melepaskan Aby, baru rasanya Dy merasa nyaman disisi Aby, sekarang Aby mau pergi.


" Kamu pergi untuk Mamamu atau untuk Vivi?". Tanya Dy tidak tahan memendam pikirannya yang berkembang.


Aby diam. Tadi Beck menelponnya dan memarahinya, karena mengajak Dy menemui Mamanya.


Seperti kata Beck, Aby harus mendampingi Mamanya sampai masalah ini selesai.


Disamping itu, Aby juga harus lebih fokus dengan pekerjaannya.


Setelah masalah ini merebak mungkin akan ada penurunan harga saham atau


Mosi tidak percaya dari pengembang.


Maklumlah Romero Group bergerak di bidang Perhotelan, Villa sampai Beach Club yang tersebar di Bali.


Tidak bisa disalahkan juga kenapa Admesh dan Beck turun tangan untuk menyelidiki kasus ini karena Beck punya saham 25% di Romero Group.


Cuma Beck tidak ingin Dy tahu semua ini.


Beck ingin Dy tumbuh apa adanya.


Keputusan.


Ada perasaan sakit dihatinya.


Tapi perasaan itu harus Dy buang.


Aby adalah milik Keluarganya.


Dan saat ini pasti Keluarganya membutuhkan Aby.


Bagaimanapun perih hatinya meninggalkan Dy, Aby tetap berusaha setenang mungkin.


Beck telah marah dan mengusirnya dari Suite Room.


Beck tadi menelponnya dengan amarah besar. Aby sangat tahu watak Beck,


" Aku mencintainya Om, Aku sangat mencintai Dy....". Kata Aby di telepon berusaha supaya Beck mengubah keputusannya mengusir Aby.


" Setelah urusanmu selesai Kamu boleh kembali ke Hotel ". Akhirnya Aby mendengar juga suara Beck setelah lama Beck diam.


Beck tidak akan pernah lupa janjinya kepada Almarhum Pak Ricardo Romero untuk menjodohkan Dy dengan salah satu anaknya.


Tadinya Beck berencana akan menjodohkan Dy dengan Gama, makanya Gama di tempatkan di Hotel Uvassa sebagai Accounting, tapi Beck kecewa karena Gama sering terlibat dengan perempuan. Akhirnya Beck memilih Aby yang lebih serius dan lebih bertanggung jawab.


" Aku mau pergi ". Kata Aby menghampiri Dy yang duduk di Living Room


" Aku cuma pindah tidur saja, tapi Kita tetap akan berhubungan dan Aku akan selalu mendampingimu kalau Kamu mau pergi". Sambung Aby lagi.


Dy diam menolehpun tidak, Dy kesel karena Aby lebih memilih Vivi setelah Vivi mencaci maki dirinya di Kantor Polisi.

__ADS_1


" Dy... Aku...".


" Pergi saja tidak usah basa basi, Aku biasa sendiri. Jadi Kamu tidak usah susah payah menemaniku. Kita hanya teman, ini hal yang biasa". Potong Dy sebelum Aby menyelesaikan kata-katanya.


Dy lalu berdiri mau masuk kamar, tapi Aby cepat memeluknya.


Dy berontak, Aby lebih ketat memeluknya.


" Pukul Aku sampai Kamu puas, tapi Aku tidak akan melepasmu, Aku sangat mencintaimu..". Suara Aby terdengar serak.


Tapi Dy tidak peduli, sekali hentak Dy sudah bisa lepas dari pelukan Aby.


Dy cepat masuk Kamar dan mengunci pintu.


Sebelum perasaannya hanyut mendengar pernyataan Aby, Dy lebih baik menutup diri. Karena Dy tidak ingin perasaannya terbelah antara tugas dan cinta.


Pekerjaannya nyawa taruhannya, sedikit saja Dy lalai akan fatal akibatnya.


Aby tidak berusaha menanggil Dy atau sekedar mengetuk pintu, Aby lebih baik pergi. Aby tahu meladeni Dy akan menambah ke hancuran hatinya.


Dengan jalan gontai Aby pergi dari Suite Room.


Sebuah tawaran berlibur datang dari Beck.


Ke perancis, Maldives atau Thailand.


Dy tidak bereaksi atas tawaran baik dari Beck. Dy masih ngambek karena Beck tidak terus terang siapa dirinya.


Tapi bukan berarti Dy diam duduk manis begitu saja.


Dy memasukan beberapa pakaiannya ke koper. Hari ini Dy akan pergi ke Raja Ampat di Papua Barat.


Pertama kalinya Dy protes atas kebungkaman Beck atau protes atas tindakan Aby yang pergi dari Suite Room.


Apakah tindakannya benar atau tidak itu urusan nanti.


Selama ini Dy pergi di bawah Bendera XPostOne yang selalu membayangi kehidupannya.


Biasanya Dy pergi memakai Private Jet XPostOne, tapi hari ini Dy terpaksa merogoh koceknya membeli Tiket Bisnis Class menuju Sorong, pintu gerbangnya Raja Ampat.


Di dalam Pesawat Dy menjernihkan pikirannya. Otaknya tidak mau di bebani hal-hal yang absurd.


Dy mau menunjukkan kepada Beck bahwa dirinya protes dengan sikap Beck yang Sok baik kepadanya, padahal tujuan utamanya hanya untuk balas dendam.


Dy seharusnya ke Ubud menemui Tante Tami, supaya Dy tahu siapa sebenarnya dirinya.


" Hai sendiri ". Suara Cowok di sebelahnya membuyarkan lamunan Dy.


" Ya ". Sahut Dy pendek.


" Namaku Dilan ".


" Dy ".


Dilan tersenyum mendengar jawaban yang super pendek dari Dy.


Dalam perjalanan remajanya belum pernah Dilan mengalami perkenalan "Cuek".


" Mau kemana?". Tanya Dilan sopan.


Mata Dy membulat memandang Dilan yang cerewet dan ****. Sudah jelas pesawat ini mau ke Sorong lagi nanya.

__ADS_1


********


__ADS_2