AGENT 06

AGENT 06
Sampai di Markas.


__ADS_3

Bab.43.


Beck dan Gama menatap bengong gerombolan pengacau yang selama ini membuat rusuh.


Selama menjadi Intelijen belum pernah ada kejadian selucu ini.


Beck menyuruh Dilan melepas Bom yang berada di Tubuh laki-laki itu.


" Apa mau Sampeyan yang sebenarnya, sampai berani menyewa pembunuh bayaran". Tanya Beck kepada Ibu tua itu, yang tidak lain adalah Ibu kandung Vivi.


Atau Nyonya Jubaedah.


" Aku hanya ingin membebaskan Burhan dan mengambil hak-hak yang seharusnya di dapat oleh Gama. Karena Gama adalah anak Burhan ".


" Semua masalah ini Aku akan serahkan ke Polisi, Sampeyan tidak bisa mengerti kalau di ajak ngomong ". Sahut Beck tegas. Capek Beck menjelaskan bahwa keinginan Mereka itu salah, tindakan Mereka itu salah.


" Kau benci sama Kami, karena Kau punya niat busuk akan menjodohkan Anakmu dengan Aby. Padahal Vivi sudah menjadi calon istri Aby". Suara wanita itu meninggi, mukanya merah saking marahnya. Dari dulu Beck selalu menjadi penghalang kalau Dia mempunyai maksud tertentu dengan keluarga Romero


Beck marah Dy ikut disentil, Dia langsung berdiri dan menelepon Polisi.


Sumpah serapah yang Beck terima dari Nyonya Jubaedah membuat Beck semakin mantap untuk menjebloskannya ke Penjara. VIvi hanya bisa menangis, Dia ikut terciduk gara-gara termakan rencana Ibunya.


" Maaf Vi, Aku tidak bisa berbuat apa.


Semua yang kalian kerjakan memang salah, dan Aku hampir ikut terjerumus gara-gara kalian, untung Beck cepat menyadarkanku". Sahut Gama ketika Vivi minta tolong supaya membantunya.


" Aku tidak ada bukti mengambil Surat-surat kalian, karena kalian memberi surat palsu ". Kata Nyonya Jubaedah lantang.


" Sampeyan cari pengacara, keluarkan semua Argument kalian di Pengadilan nanti ". Kata Beck lalu berdiri.


Satuan Polisi sudah menjemput Mereka.


Beck bebincang-bincang sebentar dengan Polisi dan memperlihatkan Kartu Identitasnya.


Setelah Mereka pergi Beck duduk termenung dengan anak buahnya.


Hanya karena harta membuat Manusia itu lupa akan hakekat hidupnya.


" Aku tidak menyangka lawan Kita ternyata Nenek-nenek tua, tahu gitu Kita tidak usah susah payah menyikat Bom ditubuh orang itu". Kata Fery membuyarkan lamunan Beck.


" Tidak usah sulit-sulit lewat belakang, mana Sensorku jatuh waktu loncat tembok". Sahut Dilan.


" Besok Kita kesana mencari Alat Sensor nya dan menitipkan Anjingnya ke Petshop.


Kemudian mengunci pintu gerbangnya" .


Kata Fery.


" Bila perlu nyapu, ngepel dan masak ". Sahut Agung merasa geli.


Mereka akhirnya tertawa, karena terpedaya dengan Imajinasi yang terlampau Extrime.


Ternyata seorang Intelijen pernah juga salah di dalam memprediksi lawan.


Tidak semua persis seperti di Film ada hal-hal lucu yang kadang-kadang membuat Mereka tertawa.


" Aku baru merasa lapar setelah 25tahun menjadi Intelijen". Kata Beck langsung menyuruh Dilan memesan makanan lewat Ojol.

__ADS_1


" Aku juga mendadak lapar " Sahut Mereka hampir bersamaan.


Gama mendekati Beck dan duduk di sampingnya.


" Om Aku besok ikut Om ke Hotel, Aku mau minta maaf ke Aby".


Kata Gama membuka percakapan.


" Ya... Kita akan ke Hotel besok ". Sahut Beck merasa kasihan dengan Gama.


" Om mungkin Aku akan mengundurkan diri dari Uvassa, Aku akan mencoba bisnis". Ucap Gama lagi.


" Kamu akan bisnis apa?". Tanya Beck pelan. Gama menunduk. Ingat akan Mamanya dan Pak Burhan di Penjara.


Mungkin Vivi dan Nyonya Jubaedah akan menyusul. Pikir Gama.


" Belum tahu Om ". Sahut Gama lirih.


" Hubungi Om kalau Kamu butuh bantuan, siapa tahu Om bisa menolong. Apapun bisnismu yang penting di tekuni pasti berhasil". Kata Beck.


Gama banyak mendengar nasehat dari Beck. Pikirannya mulai terbuka dan menerima masalah ini dengan lapang dada.


Suite Room


Aby termenung lesu menganggap bicara Dy sangat menyakiti perasaannya.


Tidak sepantasnya Dy membandingkan dirinya dengan Dilan.


Sebagai seorang lelaki Aby merasa sangat di rendahan oleh Dy.


Salahkah Dia kalau takut dengan kekerasan yang menimpa dirinya ??.


Aby bangun dan mengganti bajunya, hari ini Dia mau bekerja, Dia sudah sangat tersinggung.


Dia juga tidak takut kalau ada yang membunuhnya di life atau di lorong Hotel.


Lebih baik mati dari pada mendengar hinaan Dy. Gerutu Aby.


" Yank. Kamu mau kerja? ". Tanya Dy menatap Aby heran.


Aby diam ... perempuan apa itu, tidak pernah merasa bersalah sehabis ngomong. Apa Dia mengira Aku patung yang tidak bisa sakit hati. Bhatin Aby.


" Yank... Kamu kenapa?". Dy mendekati Aby. Bau tubuh Dy sehabis mandi membuat Aby terbius sesat, kemudian Aby menepis perasaan sukanya.


" Ya Aku mau kerja, sudah bosan disini". Sahut Aby kesal.


" Aku akan menemanimu....".


" Tidak usah!!". Sahut Aby ketus.


" Yank, ada apa? Perasaan Kamu marah padaku ". Tanya Dy memegang tangan Aby. Aby langsung menepis tangan Dy.


Dy kaget melihat sikap Aby dan mundur duduk di Sofa. Dy tidak mengerti kenapa tiba-tiba Aby marah.


Aby keluar Kamar tanpa menoleh, Dy diam terpaku tidak berusaha melarang Aby. Dy merasa selalu salah di mata Aby, padahal Dy sudah berusaha terus terang apa yang Dy pikirkan atau apa yang Dy lakukan. Dy bukanlah seorang perayu yang pintar mencari muka, di hati A diluar B. Atau mungkin karena Dy selalu terus terang membuat Aby marah. Pikir Dy.


Apa Dy harus mengatakan sebaliknya, misalnya..

__ADS_1


.Aby Kamu perkasa bisa melawan penjahat, padahal Aby penakut.


Atau...Dilan jelek, pengecut...padahal Dilan ganteng dan gentlemen.


Aahhh....Dy jadi pusing.


Dy Tidak berselera untuk membuat sarapan, buat apa?? Aby sudah kerja, pastilah Aby breakfest di Restoran.


Biarin Dy gak peduli.


Dy duduk di Sofa menonton TV.


Tangannya terus mengganti Channel, Dy tidak bisa konsentrasi menonton, seperti ada yang kurang. Dy mematikan TV .


alu mmengambil Ponselnya dan mengecek Instagram, Twitter, WA...tapi Dy tidak ingin membalas DM apapun...


Dy melangkah ke dalam Kamar, tidur-tiduran. Bau badan Aby masih tersisa.


Tadi malam Aby tumben rapi tidurnya, tidak menyentuhnya sama sekali.


Dy juga jadi heran.


Ponselnya berbunyi, ternyata Papanya.


" Papa mau ke Suite Room, Kamu nitip apa?".


" Roti dan Buah ". Sahut Dy senang.


" Tunggu ya Sayank..." Beck lalu menutup Ponselnya.


Dy keluar Kamar, duduk di Sofa sambil mendengarkan lagu dari Playlist.


Pintu masuk sengaja tidak di kunci.


Beck datang bersama Dilan dan Gama, Dy heran mengapa Gama ikut.


Matanya menatap Gama penuh selidik.


Dilan langsung ke meja makan dan menaruh belanjaannya. Sedangkan Gama langsung ikut duduk di sofa.


" Paa... ". Dy memeluk Beck.


" Dimana Aby?". Tanya Beck duduk di Sofa.


" Sudah mulai kerja". Sahut Dy lalu pergi ke mini Bar.


" Dilan, Gama, kalian ambil minuman sendiri ". Kata Dy mengambil minuman ringan untuk Beck.


" Gam..koq bisa ikut Papa gimana ceritanya?". Tanya Dy penasaran.


" Panjang ceritanya. Aku minta maaf kepadamu karena selama ini Aku telah menyusahkanmu ".


"Bukankah Kamu yang menginginkan kematian Aby, apakah sekarang Kamu sadar atau terpaksa sadar karena ada Papaku, nanti setelah Papaku pergi Kamu tusuk Aby ". Muka Gama merah mendengar kata-kata Aby.


" Maaf Dy...Aku ....". Gama tidak bisa melanjutkan kata-kata.


" Sayank, Gama waktu ini tidak mengerti apa yang Dia lakukan. Papa harap Kamu bisa memaafkan Gama, Kita ini saudara tidak boleh saling mendendam bla...bla...bla...".Dy hanya mengangguk, tidak konsentrasi dengan omongan Beck yang panjang lebar.

__ADS_1


Dy gelisah karena sudah jam 12siang Aby belum juga datang.


*******


__ADS_2