
Bab.33.
Dengan persetujuan Gama akhirnya Aby tinggal di Suite Room. Walaupun ada perdebatan sedikit dengan Vivi, karena Vivi merasa menjadi pacarnya.
Tapi akhirnya Vivi terpaksa bungkam karena Beck mengeluarkan kartu As, sebuah Vidio mini dimana Aby mengakui bahwa Aby tidak mencintai Vivi, karena Aby dipaksa oleh Nyonya Ida dan Pak Burhan.
" Kau bukan mencintai Aby, tapi Kau cuma mengincar Hartanya saja!!". Bentak Beck kepada Vivi.
" Kau siapa, tidak usah ikut campur dengan urusanku". Teriak Vivi tanpa terkendali. Gama menenangkan Vivi.
" Sabar Vi, Kita ada di Rumah Sakit jangan ribut ". Kata Gama mengingatkan Vivi.
" Harta yang Bapakmu rebut itu adalah hartaku juga, karena Aku sama Ricardo satu". Jelas Beck menahan emosi.
Vivi akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan Aby.
Sumpah serapahnya terdengar dari mulutnya yang monyong sepanjang lorong Rumah Sakit.
Dy kaget mendengar Beck mempunyai harta di Keluarga Romero.
Beck memang selalu bikin Dy terkaget-kaget.
Banyak hal yang Dy belum tahu mengenai Beck. Gama diam saja karena Gama sudah tahu siapa Beck dan bagaimana hubungan Papanya dengan Beck, hanya Gama belum tahu Dy adalah anaknya Beck.
Beck memang sering ke Bali bersama Dy, tapi Beck sengaja menutup akses pertemuan Dy dengan keluarga romero.
Banyak kisah yang akan menyakitkan apabila Dy masuk ke Keluarga Romero.
Sebelum Beck memberi tugas Dy ke Keluarga Romero, Beck sudah berpikir panjang akibat dari tindakannya itu.
Tapi semua harus dilakukan demi kebaikan semuanya dan memang harus ada korban.
Gama membantu Aby turun dari Mobil di bantu oleh Beck.
Dilan menurunkan koper Aby serta barang-barang yang lain.
Mereka menuju life ke lantai 3 Kamar Suite Room.
Dy berjalan duluan untuk membuka pintu.
Perasaan Dy sangat senang, karena Aby bisa Dy rawat. Bagaimanapun Dy merasa punya andil dalam kecelakaan Aby. Mungkin kalau Dy tidak marah-marah
Aby tidak celaka.
" Paa...Aku tidur dimana?". Tanya Dy baru sadar, karena Bed cuma satu.
" Disini dengan Aby, toh Aby lagi sakit". Sahut Beck enteng.
" Kamu khan punya ilmu bela diri, kalau Aby macam-macam tinggal Kamu tendang saja". Kata Gama tertawa.
" Tapi kalau Aby tiba-tiba sadar ...". Sahut Dilan pelan sambil tersenyum.
" Kalian ini banyak nonton Sinetron jadinya terus mengkhayal". Tungkas Beck membersihkan tangan di Wastafel.
" Ayo siapa yang mau ngopi angkat tangan, mumpung Aku sekarang baik hati dan tidak sombong". Kata Dilan menuju Coffe maker.
" Bikin tiga saja ". Sahut Gama menuju ruang tamu. Mereka bertiga duduk di Sofa.
Dua orang Room Service masuk membawa pesanan menu makan siang.
Selagi Mereka menata makanan di meja makan Beck menanyakan Gama tentang beberapa hal yang menyangkut Accounting.
Selesai merapikan baju Aby di Almari, Dy langsung duduk dipinggir tempat tidur.
Banyak rencana di otak Dy yang telah tersusun.
Ingin mengajak Aby ke SPA yang ada di Hotel, ingin mengajak Nge gym, ingin mengajak berenang, ingin mengajak ke Pantai. Tapi keinginannya itu tidak disambut baik oleh Aby, semua ditolak.
__ADS_1
" Aku tidak butuh". Jawab Aby singkat ketika Dy membeberkan rencananya.
Yach...apa boleh buat, Dy harus sabar karena Aby masih labil.
Aby keluar dari kamar mandi sudah rapi, kemudian Dia ikut duduk disamping Dy.
Dy memandang Aby sambil tersenyum.
" Kita akan makan siang bersama ". Kata Dy mengajak Aby keluar.
" Aku ingin sendiri ". Sahut Aby pendek.
Dy diam. Tidak tahu harus ngomong apa.
Masalahnya Aby banyakan diam kalau bicara cuma sepotong.
" Sayank, apakah Kamu sudah ingat siapa Aku?". Tanya Dy untuk ke sekian kalinya.
Dy berharap Aby ingat, tapi jawaban Aby selalu menggeleng.
" Dy ajak Aby makan". Gama datang menghampiri mereka.
" Aby tidak mau, biarin nanti Aku yang nemani Aby makan".
Sahut Dy beranjak dari duduknya.
Makan berdua.
Dy bergabung di meja makan.
Menu hari ini terdiri dari Nasi liwet, Ikan bakar, Udang bakar, Kerang bakar, Cumi bakar dan Pelecing Sayur pucuk labu dan Terancam. Makanan yang menaikan Kolesterol.
" Aku sama Aby makan Burger aja ".
Kata Dy memasukkan Roti gandum ke. Microwave.
Mudah-mudahan Aby mau makan, setidaknya Dy sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk Aby.
Dilan dan Gama diam-diam memperhatikan Dy dari meja makan.
Gerak gerik Mereka berdua tidak lepas dari pantauan Beck.
" Gama, besok-besok kalau Kamu kesini telepon Dy dulu, kalau Kamu tidak di ijinkan masuk jangan memaksa. Mungkin Aby butuh sendiri ". Kata Beck mengingatkan Gama.
" Ya Om, Aku juga masih sibuk di Kantor ". Sahut Gama tenang.
" Dilan, Kamu ke Jakarta denganku". Kata Beck sekarang dengan Dilan.
" Ya Pak, tapi Dy bagaimana?". Kilah Dilan berusaha menolak ajakan Beck.
Dilan tahu kalau di Jakarta Beck akan memberi Dia tugas keluar Negeri, yang seharusnya Dy dan Dia yang mengambil tugas itu.
" Dy menjaga Aby dulu". Sahut Beck.
enak sekali jadi Aby. Pikir Dilan.
" Kapan Kita balik ke Jakarta?". Tanya Dilan.
" Sore ini..". Sahut Beck pendek.
Dilan sudah tidak bisa berkata apapun.
Kesempatan bertemu Dy sudah putus.
Tapi Dilan tetap bersyukur karena bisa
Bertemu muka dengan Dy, ngobrol, berenang berdua di Raja Ampat, bagi Dilan sungguh mengesankan. Selama menjadi bayangan Dy, Dilan sudah merasa sesuatu...
__ADS_1
Seperti Pungguk merindukan Bulan, begitulah keadaan Dilan.
" Sayank, Aku bawa Burger dan Root Beer kesukaanmu ". Kata Dy menghampiri Aby yang tetap duduk di pinggir tempat tidur.
Aby menatap Dy dengan wajah sayu.
" Yang kenapa Kamu menatapku begitu?,
apa Kamu sudah ingat Aku? ". Tanya Dy merasa aneh.
Aby cuma tersenyum tanpa menjawab, selalu begitu. Dy menarik tangan Aby
berusaha membujuk Aby supaya mau makan.
Perlahan Aby bangun mengikuti Dy.
Mereka duduk di Sofa berdua, sambil makan Burger dan Minum Root Beer.
Dy mulai mengoceh berusaha berceritera membangun ingatan Aby.
Tapi Aby tetap melempem, tidak bergairah. Cuma tersenyum sayu dan menggeleng.
Beck datang ikut duduk disamping Aby.
Berusaha nimbrung dengan beberapa joke-joke yang garing.
Tapi Gama dan Dilan tertawa.
Dy merasa ada sesuatu yang menyebabkan Aby begini.
Sesuatu sebelum Dy kecelakaan.
"Kamu Anak Om yang kuat, kamu pasti bisa melewati, Om selalu ada di belakangmu". Kata Beck menepuk punggung Aby.
Aby cuma menunduk, ntah Dia mengerti atau tidak ucapan Beck, yang jelas ada reaksi yang tidak kentara dari Aby.
Hanya Beck yang jeli.
" Paa...kurasa Aby harus di bawa ke Singapore berobat". Kata Dy memandang Beck.
" Tidak usah Dy, Kata Dokter ini akan bisa sembuh dengan berjalannya waktu. Disamping itu Kamu harus telaten merawat Aby ". Gama ikut menimpali.
" Benar Kata Gama, Kita tunggu reaksi dari obat yang Aby minum sekarang. Nanti kalau tidak ada perubahan baru Kita membawa Aby ke Singapore".
Sahut Beck.
Hari semakin Sore, Beck dan Dilan harus kembali Ke jakarta, Gama juga pergi.
" Jaga Aby baik-baik, jangan suka berantem ". Pesan Beck kepada Dy.
" jadi Aku bebas dari tugas?". Tanya Dy senang. Beck tertawa.
" Tugasmu akan diambil Dilan ". Sahut Beck. Dilan langsung manyun.
Beck memeluk Dy dan mengecup kening Dy. Dilan juga pamit, tidak lupa Dilan berbisik di kuping Dy...
" Ku tunggu Jandamu ".
Dy tertawa geli mendengar bisikan Dilan.
" Ku tunggu dudamu ". Dy juga berbisik.
Mereka tertawa geli. Gama juga ikut-ikutan tertawa, walaupun Dia tidak tahu apa penyebabnya.
Setelah kepergian Mereka Dy merasa sepi.
Dy ingin Papanya menemaninya mengurus Aby.
__ADS_1
********