
Bab.42.
Beck membawa sebungkus nasi padang dan menyuruh pemuda itu makan.
Ingatannya ke Ricardo, teman baik yang tidak ada duanya.
Beck menarik nafas kasar dan membuangnya....
Matanya sedih melihat pemuda itu yang tidak lain Gama.
Ya Gama....
Dia sekarang tinggal sama Beck, minta perlindungan karena Gama di tekan oleh suruhan Burhan untuk mencari surat-surat yang di bawa oleh Aby.
" Makanlah Gam...
" Ya Om Trimakasih ".
" Om bagaimana Aby ?". Sambung Gama
Sedih. Beck tersenyum dan medekati Gama.
" Semua baik-baik saja, Kamu tidak usah khawatir. Om akan mengurus semuanya.
Om minta Kamu jangan takut kepada Burhan, walaupun Dia Papamu sekarang".
Kata Beck sambil menyeret kursi didepan Gama. Beck kemudian duduk sambil tetap membawa GSMnya untuk memantau anak buahnya.
"Kamu harus ingat bahwa Ricardo yang membesarkanmu dengan kasih sayang.
Dia Papa sejatimu. Bukan Burhan yang tega membunuh Ricardo dan mengancam Kamu akan di bunuh demi harta.
Jadi Kamu harus mengerti, tidak ada orang yang mau membunuh anaknya karena masalah harta". Kata Beck menasehati Gama
" Ya Om...semoga semuanya cepat berakhir, dan Aku bisa bertemu dengan Aby ". Sahut Gama pelan.
Dia harus bertemu Aby yang telah di ancamnya sewaktu Mereka berada di Restoran Uvassa.
Gama ingin minta maaf sama Aby.
" Sekarang makanlah, Om mau ke ruangan sebelah". Kata Beck lalu berdiri.
" Ya Om...". Sahut Aby sambil mendengarkan lagu Deserve Ti Be My Wife dari DJ Tonjelava Hawillian.
Lagu ini mengingatkan Gama sewaktu Dia dan Dy mencuci mobil ke Wash Car Robotic.
Dy sangat senang dengan lagu ini.
Ingat Dy mata Gama berkaca-kaca.
Hanya Dy yang membuat Gama bersemangat hidup, walaupun Gama tahu
Beck sudah memilih Aby menjadi Calon suami Dy. Tapi sepanjang Dy belum tahu masalah perjodohan itu, Gama masih punya kesempatan masuk.
Mobil Alpard itu sudah memasuki daerah dingin Kitamani. Menurut laki-laki itu Rumah Target ada di bawah dekat Danau.
Mereka parkir dipinggir jalan raya diatas. Kebetulan jam sembilan malam keadaan sudah sepi.
Mereka lupa mempertimbangkan Hawa disini sangat dingin dan penerangan jalan di bawah hampir tidak ada.
Dilan, Boncu dan laki-laki itu turun kebawah. Sedangkan Agung dan Fery Standby di Mobil.
"Kita harus berjalan sekitar 1km Pak, kenapa tidak naik Mobil". Kata laki-laki itu.
" Jalan dibawah terjal dan hanya untuk satu Mobil. takutnya ada Mobil lain, Kita bisa terjebak ". Sahut Dilan mulai menuruni jalan yang terjal.
__ADS_1
Laki-laki itu terpaksa mengikuti dari pada Dia mati. Beck telah memasang Bom di badannya, sekali Dy lari atau membantah badannya pasti hancur.
Mereka telah sampai di dekat Rumah Target.
Dilan tidak menyangka ada sebuah Istana tersembunyi yang di kelilingi Pohon Pinus.
Rumah ini ber lantai dua dan ada pagar tinggi mengitari Rumah ini.
"Kamu masuk dari depan dan Kita semua akan berpencar ". Perintah Dilan.
Laki-laki itu menuju ke Rumah besar itu.
Ada dua orang Satpam menahannya.
Terlihat Satpam itu mengijinkan Laki-laki itu masuk.
Dilan dan Fery meloncat lewat kebun belakang. Suasana sangat gelap. Dilan merasa Sensor nya jatuh. Pasti Beck tidak akan bisa melihat, karena Dilan tidak bisa merekam. Tapi Dilan dan Fery tetap maju.
Dengan cepat turun menyusuri pinggir tembok, melewati kolam renang.
Busyet!! Suara Anjing PitBul membuat Dilan kaget.
Untunglah bukan Dia yang di gonggong.
Mungkin laki-laki tadi itu.
Dilan dan Fery langsung menuju belakang Rumah. masuk kedalam, lewat Ruang santai.
Dan melangkah pelan melewati beberapa Kamar. Dilan terpaksa sembunyi di lekukan tembok karena ada seorang gadis menuju ke depan.
Kembali Dilan melangkah maju memasuki Ruangan besar, mungkin ini Ruang keluarga. pikir Dilan.
Anjing tetap menggonggong gaduh, padahal tidak ada Orang yang di lihat. Mungkin juga Anjing itu penciumannya tajam.
Dilan dan Fery terus maju kedepan sampai, terdengar ada suara ribut di dalam.
Siapakah perempuan itu??
Terciduk.
Dilan dan Fery melihat ada 5orang di dalam Ruangan itu.
Wanita setengah abad ada satu, mungkin umurnya sudah mencapai 50tahun.
Seorang gadis umurnya sekitar 24tahun dan seorang laki-laki tua yang tadi membentak Anjingnya menyuruh diam.
Yang lagi satu adalah laki-laki yang membawa Bom.
Dilan dan Fery mau tertawa, ternyata lawan tidak sebanding.
" Kamu goblog, ini tidak asli. Semua Surat ini sudah di salin. Mereka licik.
Dikira Aku bisa di bohongi ". Teriak perempuan itu marah.
" Maaf kak hanya itu yang di kasi". Sahut laki-laki itu.
" Kamu ambil dari siapa ini, Aby atau Dy?". Tanya perempuan itu lagi.
" Bapaknya, Beck...".
.
" Kurang ajar, beraninya Dia ikut campur urusanku ". Sahut prempuan itu marah.
" Mama sabar, jangan terlalu emosi, nanti kolesterol Mama kumat". Terdengar gadis itu menenangkan Mamanya.
__ADS_1
Dilan dan Fery saling memberi kode mau masuk ke dalam.
Tapi tiba-tiba ada seorang laki-laki botak masuk kedalam.
" Bagaimana? Sudah dapat surat-suratnya?". Kata laki-laki itu kepada perempuan itu.
" Maaf Pak, ternyata Mereka hanya memberi ini". Kata perempuan itu menyodorkan Surat-surat itu kepada Laki botak.
" Ini tidak bisa, ini bukan aslinya.
Aku tidak bisa menerima ini ".
" Ya Pak, Saya akan iberusaha lagi, tolong bapak mengerti ".
" Tidak bisa begitu Bu, Saya kasi waktu seminggu ini, kalau tidak bisa terpaksa Saya menjadi saksi kunci atas kematian Ricardo ".
" Sabar dulu Pak, Kami akan berusaha ".
Sahut perempuan itu meyakinkan laki-laki botak itu.
Akhirnya laki-laki itu pergi.
Dilan dan Fery sengaja membiarkan Laki-laki botak itu pergi.
Toh Dia akan muncul ke permukaan, kalau perempuan itu tidak bisa memenuhi permintaannya. Pikir Dilan.
" Dasar goblog ". Bentak perempuan itu melempar semua surat itu ke muka laki-laki yang ada bom nya itu.
" Angkat tangan ". Bentak Dilan masuk kedalam. Semua kaget mendengar teriakan Dilan. Fery cepat masuk kedalam dan menodongkan pistolnya.
" Mama, ampun..ampun...". Gadis itu langsung berteriak dan menangis.
Dilan cepat menodongkan pistol di pelipis perempuan tua itu, Dia tahu pasti satpam akan datang karena mendengar suara teriakan gadis itu.
" Jatuhkan senjata dan angkat tangan, semua kumpul disini ". Bentak Fery mendorong kedua Satpam itu.
Kemudian Fery mengeluarkan Borgol dan Lakban.
" Saya tidak bersalah, jangan menembak Saya ". Kata Satpam itu memohon.
" Jangan coba-coba bergerak, semua diam ". Kata Dilan keras.
" Kamu mau merampok Kami atau mau apa ". Kata Perempuan tua itu sangat berani. Sebelum bacotnya merocos Fery sudah menutup mulutny dengan Lakban.
Dilan mengontak Agung supaya Mobil di bawa turun.
Agung dengan pelan menyusuri jalan turun. Mungkin karena longsor jalanan nya menjadi semakin sempit dan sangat berbahaya.
Bersyukur tidak ada Mobil dari lawan arah.
Dan yang membikin lebih mengerikan adalah jurang dangkal di kanan kiri jalan. Salah membelok sedikit mobil bisa terperosok jatuh.
Fery lari keluar Rumah untuk memastikan supaya Mobil tidak lewat.
Setelah Mobil dekat Feri menyuruh masuk kedalam.
Mereka duduk saling berdesakan. Laki-laki yang membawa bom duduk di depan disamping Agung.
Mobil keluar rumah dan mulai menanjak, mengikuti jalan yang gelap.
Dilan merasa lega, karena tugas sudah selesai tanpa perlu ada korban.
Setelah ini Dilan ingin minta cuti dan mengajak Dy pergi ke Raja Ampat.
Dilan sudah berjanji akan pergi ke Telaga Bintang.
__ADS_1
********