
Bab.2.
Pagi ini Dy akan membiasakan dirinya menjadi seorang gadis sederhana dengan Outfit yang murah.
Hanya satu kebiasaan Dy yang tidak bisa ditinggalkannya, yaitu memakai Minyak Wangi.
Dy merasa tidak percaya diri kalau tidak memakai Minyak Wangi.
" Ini kamar untuk Nona istirahat, Nona boleh tinggal disini atau pulang". Kata Bibi tersenyum.
" Panggil Saya Dy Bi ". Sahut Dy tersenyum.
Bibi membereskan kamar Dy, mengganti spraynya.
" Bibi sudah membersihkan rumah?".
" Belum, itu tugas Bi ijah". Sahut Bi Inah.
" Kalau mau bersih-bersih rumah, Saya mau bantu". Kata Dy membuat Bibi bengong. Tumben ada sopir mau bantu bersih-bersih.
" Rumah ini luas sekali, biasanya kalau bersih-bersih bisa sampai jam 1 sore. Makanya Kita sering cicil ngerjainnya, apa Dy masih mau bantu?". Sahut Bi Inah tersenyum.
Sekarang Dy yang bengong.
Dy ingat rumahnya di Jakarta juga segede ini, berarti selama ini PRT nya kewalahan kalau bersih-bersih.
" Berapa ada PRT disini Bi ".
" Satu untuk bersih-bersih, dua tukang masak, satu tukang kebun Berapa jadinya...".
" Empat Bi ". Sahut Dy tersenyum.
" Pulang dari mengantar Nyonya, Saya akan bantu bersih-bersih ". Kata Dy yakin.
Dy juga tidak tahu berapa di rumahnya ada tukang bersih-bersih, karena semuanya Beck quay yang mengurus.
Dy kerjanya belajar, minta sangu dan latihan. Kadang-kadang ke salon Manicure Pedicure atau ke Spa.
Walaupun Dy jebolan Sekolah Tinggi Intelijen, Black quay tetap melatih Dy di rumahnya dengan tehnik-tehnik rahasia.
Sudah pukul 09.00, Dy harus mengantar Nyonya ke Butik.
Dy menuju ke garasi mobil, disini ada 4 mobil, Pajero Sport, Porsche , Ferarri portofino, Jazz dan 2 motor Ninja.
Dy mengeluarkan Pajero dari garasi, sebenarnya Dy belum pernah menaiki Pajero.
Dy ingat di ulang tahun ke 17 Beck quay memberikan Dy hadiah sebuah mobil Porsche 959, umur 18 tahun Dy diberi hadiah Lamborghini Aventandor dan terakhir Dy ulang tahun umur 20 tahun Beck memberikan Dy mobil Bugatti Veyron.
Dy sempat marah kepada Beck setelah tahu harga-harga mobil itu.
Tapi Beck tidak peduli, apa yang Beck ingini itu harus di turuti oleh Dy.
" Aku lebih senang punya Hotel dari pada punya mobil ". Kata Dy waktu itu.
" Aku sudah membelikanmu Hotel di Bali". Ucap Back kaku.
Karena ngambek, Dy tidak bertanya lebih lanjut tentang Hotel yang Beck beli.
Dy juga tidak mau tahu apa yang Beck bilang selanjutnya.
Dy juga marah karena Beck terlalu Ambisius membentuk dirinya supaya bisa menjadi Intelijen tanpa memikirkan resiko yang Dy hadapi.
Marahnya Dy melebar kemana-mana, membuat Beck diam.
Ntah apa yang Beck pikirkan.
"Kamu membesarkanku supaya bisa membunuhku, Kamu tidak menyayangiku". Teriak Dy kalau Mereka lagi selisih paham.
__ADS_1
Beck akan diam kalau Dy sudah marah dan Dy akan ngambek beberapa hari sampai Beck minta maaf, walaupun yang salah kadang-kadang Dy.
Hari ini pertama kalinya Dy mengantar Nyonya Ida.
Dy merasa aneh naik Pajero karena mobil ini agak tinggi.
" Saya harap Dy betah kerja disini " kata
Nyonya Ida setelah Mereka menyusuri jalan Sunset Road.
" Pasti Nyonya ". Sahut Dy pendek.
" Dy dulu sekolah dimana?".
" SMA Nyonya ". Jawab Dy bohong. Tidak mungkin Dy bilang bahwa dirinya adalah jebolan Sekolah Tinggi Intelijen Negara.
Nyonya Ida langsung diam.
Dy merasa lega, Dy malas menjawab kalau Nyonya Ida terus mengulik Identitasnya.
" Stop! Didepan ini Butik Saya". Kata Nyonya Ida.
Mobil memasuki halaman Butik.
Dy turun lalu membukakan pintu mobil untuk Nyonya Ida.
" Kamu boleh langsung pulang, Jam empat Kamu jemput Saya ". Kata Nyonya Ida langsung masuk kedalam.
" Ya Nyonya, Saya permisi pulang". Sahut Dy langsung naik ke Mobil.
Mobil Pajero itu melaju menyusuri jalanan yang ramai.
BERBAUR
Dalam perjalanan pulang sehabis mengantar Nyonya Ida, Dy sengaja memperlambat jalan Mobilnya.
Angan nya kemana-mana, suatu hari nanti Dy ingin pergi ke Pantai Kuta atau ke ubud.
Dy memasuki rumah Nyonya Ida dan langsung ke Garasi.
Bibi menghampiri Dy yang baru datang.
" Dy....Saya Bi Ijah, jadi bersih-bersih gak?". Tanya Bi Ijah.
Rupanya Bi Ijah menunggunya dari tadi.
" Ya Bi, tunggu Saya ke Kamar dulu ". Sahut Dy, lalu lari ke kamar mengambil beberapa Kancing Manegtik dari Tas nya.
Dy memasukan Kancing itu ke kantong celana.
Bi Ijah menyerahkan sapu kepada Dy.
" Kita akan bersih-bersih mulai dari kamar Tuan muda ". Kata Bi Ijah lalu naik ke lantai dua. Dy mengikuti dari belakang.
" Ini kamar Tuan ". Kata Bi Ijah.
Kamar ini cukup luas, dan bersih.
Diatas meja ada foto close up penghuninya.
Lumayan ganteng. Pikir Dy.
" Jangan pegang-pegang, itu foto Tuan muda ". Kata Bibi mengagetkan Dy.
" Semenjak Papanya meninggal Tuan muda kelihatan sangat sedih.
Dia sering mengurung diri kalau datang dari kerja". Kata Bi Ijah.
__ADS_1
" Semua orang akan sedih Bi, kalau ditinggal orang yang Kita sayangi ". Sahut Dy diplomatis, lalu diam-diam menempelkan kancing Manegtik dibawah meja Tuan muda.
" Dy, Kamu mau bantuin bersih-bersih atau cuma mau dengarin cerita Bibi". Kata Bibi membuat Dy langsung menggerakan sapunya.
Di rumahnya Dy tidak pernah menyapu, jadi gerakan sapunya agak kaku.
" Dia kalau mau bersih-bersih, bersihin dulu dari atas.
Meja di lap, semua di lap, atau bisa juga pakai kemoceng, karena tidak terlalu kotor. Kemudian ganti spray.
Setelah itu sapu bawahnya, terakhir baru ngepel ". Jelas Bibi.
Mendengar penjelasan Bibi Dy langsung mual.
Pekerjaan ini Lebih ruwet dari mengerjakan Matematika. Pikir Dy.
Tapi Dy harus sabar, Dy harus bisa memasang kancing Manegtik di setiap kamar dan di setiap ruangan.
Keringat membasahi baju Dy, walaupun AC nya hidup tapi tetap saja badannya berkeringat.
Setiap Dy membantu Bibi mengganti sepray, Dy langsung bersin-bersin.
Dy heran, Bibi sangat santai melakukan semua pekerjaan itu. Mungkin karena sudah biasa atau terpaksa.
" Dy mari ke dapur". Ajak Bibi.
" Apa lagi Bi, Aku sudah mau mati". Sahut Dy langsung duduk di sofa.
" Jangan duduk disitu, itu tempat untuk Tamu. Kita ini hanya boleh duduk di kursi luar ". Kata Bi Ijah.
Dy kaget, langsung berdiri. Dy lupa sekarang perannya menjadi sopir.
Matilah awak!! Bathin Dy mengikuti Bibi ke dapur.
" Minum dulu ". Kata Bi Ijah menyodorkan gelas kepada Dy.
Dy mengambil gelas itu, dy ingat pesan Beck tidak boleh sembarang minum atau makan, karena pekerjaannya sangat riskan.
Tapi disini Dy harus membiasakan diri melakukan sesuatu sesuai peran yang Dy lakukan.
Bi narti dan Bi Inah sibuk di Dapur.
" Bi kenapa banyak masak ". Dy heran melihat ada banyak bahan masakan.
" Kita disini berbanyak, Nyonya sama Tuan muda bertiga dan Kita ber empat, jadi kita disini ber tujuh". Kata Bi Narti.
" Tapi Nyonya dan Putranya tidak makan siang dirumah, yang makan cuma Kita-kita doank " sahut Dy.
Mereka saling pandang- pandangan.
" Benar juga, mengapa Kita sibuk setiap hari ngurusi masak, seharusnya Kita masak sore saja. Dan Kita cukup makan seadanya, daripada makanan terbuang-buang ". Kata Bi Inah. Mereka baru menyadari.
" Terus kalau Nyonya dan Tuan sarapan pagi Kita kasi apa?". Potong Bi Ijah.
" Begini saja....
Sore Bibi masak lebih banyak menu. Jangan semua menu di keluarin, sisain satu menu untuk sarapan pagi supaya Mereka tidak bosan.
Misalnya malamnya Bibi sudah ungkep Ayam , tempe, tahu, terus Bibi taruh di kulkas.
Besok pagi Bibi goreng itu semua dan tambahin pecel, kerupuk dan sambal.
Menu yang di sisain juga jangan sembarangan, misalnya ayam kecap, ayam sisit bumbu balado, rendang, daging lada hitam atau apa sajalah.
Jelas Dy panjang lebar.
*******
__ADS_1