AGENT 06

AGENT 06
Sudah sadar.


__ADS_3

Bab.31.


Perasaan Dy sangat senang karena Aby sudah sadar. Nanti kalau Aby sudah sembuh Dy mau mengajak tinggal di Suite Room, mungkin Dy akan mohon berhenti menjadi Intelijen dan fokus sama pekerjaan Hotel. Khayalan Dy melambung tinggi.


Dokter memanggil Keluarga Aby, Gama dan Vivi dengan cepat masuk kedalam.


Tidak berapa lama Gama keluar mengabarkan bahwa Aby walaupun sudah sadar tapi tidak ingat siapapun.


Aby Amnesia, Dy kembali sedih.


Dy ingin masuk kembali melihat Aby tapi Gama melarangnya karena ada Vivi di dalam.


" Kalau Om mau pulang, Om boleh pulang nanti Saya memberi info tentang keadaan Aby". Kata Gama kepada Beck.


Gama tidak senang kalau Dy terlalu memperhatikan Aby, bagaimanapun Gama masih mengharap Cintanya Dy.


" Kalau begitu Om pulang dulu, nanti Om datang lagi bersama Dy ". Kata Beck mengajak Dy pulang.


Sebenarnya Dy enggan pulang tapi Dy harus pulang karena Mereka baru datang dari Raja Ampat, tidak enak juga dengan anak buah Beck yang lama menunggu.


Sepanjang perjalanan ke Hotel Uvassa Mereka semua diam.


Taxi membelok melewati Scurity dan berhenti di Lobby.


Semua Karyawan Hotel kaget karena Bos besar Mereka tiba-tiba sudah ada di Lobby.


Dua orang Bell Boy dengan sigap mengambil koper Mereka.


Kesibukan terjadi sesat, terutama yang ada di Kichen.


Beck merasa bangga karena tamu Hotel hampir mencapai 90%.


Dy memasukan Kartu Chipnya dan Mereka mulai masuk.


Dy langsung masuk ke Kamar.


Dilan duduk di Living Room.


Di temani Beck.


Dua orang Waiter menyuguhkan kopi, Cake dan Pastry.


Kemudian Mereka menanyakan apa Beck akan Lunch ala carte atau buffet.


"Aku makan siang di Rentoran ". Kata Beck sambil melihat Jam tangannya.


Baru Pukul 11.00 Wib. Waktu Jakarta, berarti di Bali sudah pukul 12.00 pikir Beck.


Dua Orang Cleaning Service datang mulai membersihan ruangan.


Dy keluar menemui Beck di Living Room


Bau harum tubuh Dy membuat Dilan menelan salivanya.


Dy langsung duduk di paha Beck dan mulai bermanja-manja.


Dy tidak menoleh pada Dilan yang menatap dirinya.


" Aku mau ke Rumah Sakit ". Bisik Dy di kuping Beck.


" Nanti Sore, Kita kesana ". Sahut Beck membuat Dy kecewa.


" Nanti Kita nginap disana, sekarang Kita ke Restoran, kasihan Dilan dari pagi belum makan ". Kata Beck.


Dy turun dari pangkuan Beck.

__ADS_1


Ujung matanya mengerling Dilan yang sedang menatap Dy.


Dy masih kesal dengan Dilan yang menipunya.


Kenapa ketika pertama bertemu Dilan tidak mengatakan bahwa dirinya suruhan Papanya. Dasar penipu. gerutu Dy.


Beck menggandeng tangan Dy menuju life. Restoran ada di Lantai dua.


Kedatangan Mereka membuat sedikit heboh, karena tamu-tamu hotel yang sedang makan ikut memperhatikan Mereka dan ikut menganggukan kepala.


Walaupun umur Beck 60 tahun badannya masih kelihatan segar.


Body Beck tinggi besar. Kepalanya botak, wajahnya di tutupi jambang yang di cukur rapi. Mata Beck seperti mata Elang.


Keseluruhan Beck kelihatan sangat berwibawa, bahasa tubuhnya sangat Militer.


Beck dulu adalah Intelijen yang paling di takuti, karena sangat ahli mempergunakan semua senjata Agen.


Dia juga adalah sniper yang di perhitungkan, target berjarak 200meter gugur.


perlengkapan tempur Beck sebagai Sniper seperti pakaian anti peluru, senapan andalan Winchester M-70 yang sudah dilengkapi peredam, teleskop untuk keperluan tempur siang dan malam, peluru-peluru kaliber 7.62 mm yang dibuat khusus.


Membuat Beck waktu itu sangat ditakuti.


Itu masa lalu Beck yang mengesankan.


Beck duduk memisahkan diri karena JM Uvassa Mr Hendrigo mengundang Beck ke Mejanya. Sebagai pemilik Hotel Beck sangat loyal kepada bawahan.


" Kamu marah padaku?". Tanya Dilan setelah ada kesempatan ngomong.


" Ya..Aku kesal kepadamu, kenapa setelah di Raja Ampat Kamu baru buka topengmu.


Apa Kamu takut dengan tendanganku". Sahut Dy.


Dilan tersenyum melihat Dy marah.


Siang ini Dilan tidak mau merusak suasana makannya.


Kerestoran.


Balinese Buffet dengan berbagai menu.


Dy dan Dilan memilih nasi merah dengan sayur urap ala Bali, Ayam Betutu, sate lilit dan sambal Matah.


Mereka duduk berdua.


" Kodemu? ". Tanya Dy.


" XP.15. Post NTB ". Jawab Dilan.


" Kamu tahu donk Aku anak Beck".


" Aku yang ngurus Home Stay dan semuanya ". Sahut Dilan membuat Dy hampir tersedak.


" Apakah Kamu Sopir BMW yang menjemput ku dan mengajak ke Home Stay?".. Tanya Dy.


" Ya... dan Kamu tidak memberi Tip kepadaku sebagai Sopir ". Sahut Dilan tersenyum.


" Koq tidak menampakkan diri".


Kata Dy memandang Dilan.


" Peraturan khan tidak boleh". Jawab Dilan. Mereka mengakhiri makannya dengan perasaan puas.


" Kamu sudah nikah?". Tanya Dy ingin tahu.

__ADS_1


" Selalu tidak jadi, biasalah masalah cemburu. Serba salah". Sahut Dilan.


Dy tahu masalah itu, seorang Intelijen tidak boleh mengakui dirinya Intelijen dengan pacarnya atau dengan siapapun, kecuali dengan dirinya sendiri.


" Kamu bagaimana?". Tanya Dilan.


" Aku masih Abu-abu, masalahnya ada pada tugas ". Sahut Dy.


Dilan memandang Dy dengan prihatin.


" Cinta memang aneh. Kadang-kadang Cinta datang salah tempat.


Tidak sesuai dengan ke inginan Kita.


Orang yang Kita Cintai tidak mencintai Kita". Ucap Dilan menatap Dy.


" Makanya jangan mencintai Orang ". Dy menutup pembicaraan dengan jawaban yang tidak memuaskan, yang membuat Dilan gemess..gemess..


Beck masih mengobrol dengan Mr. Hendrigo memakai bahasa Inggris, ketika


Dy menghampirinya.


Mr Hendrigo sudah mengenal Dy, walaupun Mereka belum pernah bercakap-cakap.


"We can talk one day i admire you ". Kata Mr Hendrigo menyalami tangan Dy.


" Aku juga mengagumimu, thank you". Sahut Dy tersenyum.


" Papa mau ke Kantor dulu, kalian baliklah". Kata Dy membiarkan Dy dan Dilan balik ke Suite Room.


Badan Dilan yang tinggi tegap menarik perhatian Karyawan-karyawan perempuan.


Di bandingkan dengan Aby, Dilan lebih tegap dan berotot.


Tapi Aby orangnya ganteng banget.


Sulit ngebedain Mereka berdua, sama-sama punya nilai plus.


Dilan duduk di Sofa sambil menonton TV.


Dy menaruh Pastry dan dua botol minuman ringan diatas meja.


" Kamu sering Minum?". Tanya Dy lalu duduk di sebelah Dilan.


" Terpaksa, kalau ada tugas yang mengharuskan minum, tapi kalau sengaja minum gak pernah". Sahut Dilan menatap Dy. Memang kadang-kadang kalau meladeni target yang lagi minum, Kita terpaksa ikut minum. Tapi Agen sudah terlatih supaya tidak mabuk.


" Bagaimana hubunganmu dengan Aby".


Tanya Dilan tiba-tiba menyentuh perasaan Dy.


" Aku berteman dengan Aby, tapi Aku sering kasihan dengannya, karena Dy seperti rapuh atau begitulah...


Dia selalu membuat Aku ingin menolongnya, apalagi dengan adanya kasus percobaan pembunuhan terhadap dirinya ". Jelas Dy membuat Dilan merasa iri.


Aku juga bisa pura-pura rapuh dan lemah untuk mencari perhatianmu. Bhatin Dilan.


Tentu saja Aby akan berbuat apa saja demi Cintanya kepada Dy.


Siapa sih yang tidak tahu Aby, setaraf Manager pasti sudah mengenal Aby yang Jenius menangani masalah perkembangan Hotel.


Seperti sekarang, Semenjak ada Mosi tidak percaya dari semua pihak, menyangkut Kasus yang mencuat menimpa Mamanya. Aby langsung menggandeng Kakaknya Admesh untuk duduk sementara sebagai JM Romero.


Tentu saja permainan Aby membuat Saham Romero melonjak naik.


Yang tadinya anjlok, per lot 1.500rupiah menguat menjadi 3.000rupiah per lot.

__ADS_1


*******


__ADS_2