AGENT 06

AGENT 06
Mulai beraksi.


__ADS_3

Bab.3.


Bibi sangat antusias mendengar penjelasan Dy. Selama ini Mereka selalu mengurus sendiri, Nyonya tidak pernah ikut campur.


Kadang-kadang seharian Nyonya Ida dan Putranya tidak makan.


Makanan sering terbuang sia-sia.


" Kamu pintar Dy ". Kata Bi Inah, Bibi sangat berterimakasih padamu.


" Ya soalnya di rumah begitu ".


Uup...Dy langsung tutup mulut karena keceplosan. Semua Bibi memandangnya.


" Maksudnya rumah tetangga ". Kata Dy meralat ucapannya.


" Biasanya Nyonya dan Putranya sarapan apa Bi ". Tanya Dy lagi.


" Apa saja, tapi seringan tidak sarapan. Mungkin karena masakan kemarin Kita hidangin lagi". Sahut Bi Narti tersenyum.


" Kalau sisa Nasi banyak, besoknya Kita bikin nasi goreng". Kata Dy.


" Itu sudah sering, tapi jarang di makan".


Sahut Bi Narti.


" Caranya, malamnya Bibi sudah bikin Ayam filet potong kotak-kotak bumbu pedas manis.


Besoknya bikin Omelet, tambah Krupuk, sambal dan Mentimun.


Ayam filet pedas manis di hangatin.


Pasti laku ". Jelas Dy lagi. Bibi mengangguk-angguk tanda mengerti.


" Mumpung belum terlanjur masak, Kita siapin mulai sekarang untuk makan malam ". Kata Bi Inah.


" Yaya... mari Kita mulai". Kata Bi Narti bersemangat.


Dy juga ikut menbantu memberi arahan saja, karena Dy tidak tahu masalah masak memasak. Dy cuma tahu menu gara-gara Beck sering mengajaknya ke Restoran atau melihat Mbok di rumahnya masak.


" Kalau untuk malam nanti apa yang paling cocok di hidangkan?". Tanya Bi Ijah kepada Dy.


" Mereka bertiga khan lagi Diet, jangan sekali-kali bikin masakan yang bersantan.


Kalau masak Ayam buang kulitnya, kalau masak daging gajihnya dibuang.


Bila perlu bikin masakan yang di rebus atau di kukus". Jelas Dy.


" Kalau nanti malam Kita bikin Ikan bakar, Sup Asparagus, Tempe, Tahu, Sambal uleg, Kerupuk.


Untuk disimpan bikin ayam bacem, Tempe bacem, besok tinggal tambahin perkedel kentang dan sayur pecel, jangan lupa kerupuk ". Sambung Dy, ingat masakan Mbok di rumahnya.


Dy akhirnya membuat menu diet untuk sebulan.


Kemudian Dy tempel ditembok pakai Double Tape plester.


Sementara Bibi sibuk mempersiapkan menu di Dapur, Dy diam-diam masuk kekamar Nyonya Ida.


Pelan-pelan Dy membuka Filling Cabinet. Dy mencari sesuatu yang mencurigakan, kemudian merekamnya.


Dy keluar dari kamar terus melompat ringan kebawah, tampa melalui anak tangga.


Kemudian Dy masuk kamarnya dan menaruh rekaman itu dengan rapi di selipan tas.


Tas gendong ini dirancang sedemikian rupa. Ada beberapa selipan untuk menyimpan senjata-senjata Agen.


Dan tas ini hanya bisa dibuka melalui sidik jari Dy.


Sepertinya di Bali cepat sekali Sore.


Sudah waktunya menjemput Nyonya Ida.


Dy permisi kepada Bibi dan mulai mengeluarkan Mobil.

__ADS_1


Mobil Pajero melaju agak kencang, tapi kalau bersama Nyonya, Dy berusaha menjalankan mobil sedang-sedang saja.


Dy sekarang mengerti kenapa Beck selalu membelikan Dy mobil Sport.


Pertama Dy harus terbiasa ngebut, Kedua karena Rivalnya biasanya memakai mobil super canggih.


Sampai di Butik, Nyonya Ida sudah siap Pulang.


Melihat Dy datang Nyonya Ida tersenyum.


" Kamu tepat waktu, tidak macet di jalan?,


biasanya jam segini macet banget".


" Tidak Nyonya jalanan tadi sepi". Sahut Dy bohong, padahal tadi Dy ngebut.


Dy membukakan pintu mobil untuk Nyonya Ida.


Mobil melaju sedang menyusuri jalan Iman Bonjol. Nyonya Ida kedengaran mengeluh karena macet.


"Dy. Kamu belum cuci mobil ya?". Tanya Nyonya Ida mengagetkan Dy.


" Maaf Nyonya, tadi Saya membantu Bibi, besok pasti Saya cuci". Sahut Dy merasa lalai. Harusnya Aku tahu bahwa sopir itu tugasnya juga mencuci mobil. Bathin Dy.


" Tidak apa-apa, Saya cuma ngengingatkan. Kamu juga harus sering Cek Oli atas Oli bawah dan kapan harus nyervis dan nyamsat ". Jelas Nyonya Ida.


" Ya Nyonya itu pasti Saya ingat ". Sahut Dy. Besok Aku langsung bawa ketukang cuci mobil dan bengkel. Bhatin Dy.


Ternyata sopir banyak juga kerjanya.


Kenapa Beck tidak bilang ya. Pikir Dy.


Sepertinya Beck sengaja menyuruh Dy sengsara.


Cowok nyebelin.


Sore terus beranjak, matahari memerah.


Kadang-kadang Dy sangat kasihan dengan Beck yang sudah semakin tua.


Walaupun masih gagah tapi Beck sudah kelihatan lamban.


Dy akui Beck adalah orang yang jenius dan sangat disiplin.


" Kamu bisa naik motor Ninja, kalau bisa Kamu boleh bawa motor Ninja yang ada di rumah". Kata Nyonya Ida lagi membuyarkan lamunan Dy.


" Ya Nyonya trimakasih, tapi motornya tidak dipakai oleh Putra Nyonya?".


Sahut Dy menatap Nyonya Ida dari kaca sepion.


" Tidak, Mereka sudah bawa mobil ".


Kata Nyonya Ida.


Sekitar pukul 17.45 baru Mereka sampai di rumah. Lama banget.


Ternyata di Bali macet sekitar jam empat ke atas. Berarti Dy harus mencari jalan alternatif kalau pulang.


" Dy mau langsung pulang?". Tanya Nyonya Ida setelah Mereka turun dari mobil.


" Ya Nyonya ". Sahut Dy cepet.


" Tunggu dulu, Saya WA Abi Dulu supaya kunci motornya di bawa turun". Kata Nyonya Ida menahan Dy..


Tidak berapa lama datang seorang Pemuda ganteng menyerahkan kunci kepada Nyonya Ida.


" Dy kenalin, ini anak Saya yang pertama". Kata Nyonya Ida. Dy mengulurkan tangannya.


Aby cuek, jangankan berkenalan menolehpun tidak mau.


Dasar sombong Kutendang Kau sampai ke Solo!!. Bhatin Dy kesal.


" Saya permisi Nyonya ". Kata Dy mohon pamit. Dy tidak peduli dengan Tuan Muda yang angkuh itu.

__ADS_1


Dy menaiki Motor Ninja Aby dengan tenang. Pikirannya melayang kepada Aby, didalam Biodata Aby, Dia sudah punya calon istri yang bernama Vivi.


Tapi Aby adalah korban perjodohan yang tidak pernah di sukai dan tidak berani menolak ke putusan Nyonya Ida.


Dasar Banci!!. Gerutu Dy sibuk memikirkan Aby.


Dy kemudian membelokkan Motornya ke Restoran cepat saji. Drive Thru.


Pilihannya jatuh pada Paket Hebat, terdiri dari Buger, kentang dan Minum.


Antriannya cukup panjang, Dy melirik kedalam, banyak Bule yang makan.


Perasaan banyak sekali Bule di Bali.


Sekitar 10 menit Dy baru mendapat pesanannya.


Dy mengambil Makanannya dan terus meluncur menuju Home Stay.


Sampai di Rumah Dy langsung menaruh Makanannya.


Kemudian Dy masuk kekamar dan menaruh Tas nya.


Ponselnya berbunyi, Beck menelponnya.


" Gimana tugasmu di Rumah Nyonya Ida, apa Mereka terlalu menuntutmu".


Tanya Beck, terdengar suaranya cemas.


" Nyonya Ida baik dan Bibi semua baik, yang sombong ...". Dy tidak meneruskan bicaranya.


" Yang sombong Anaknya?, Mereka tidak sombong tapi Mereka cuek.


Maklumlah Mereka orang Kaya mana peduli dengan Sopir". Sahut Beck bijak.


" Paa.. Aku kangen, Aku sepi disini". Kata Dy mulai merajuk.


" Kamu jangan cengeng, mana ada Intelijen cengengesan". Sahut Beck membuat Dy diam.


" Tapi Aku merasa sedih kalau di Bali, beda sekali dengan Pulau lain.


Disini Aku merasa Sentimentil...". Jelas Dy merasa sedih. Dy tidak mengerti.


Setiap Dy ke Bali pasti perasaan sedih itu merasuk jiwanya.


Cuma Dy tidak pernah mengutarakan masalah itu kepada Beck.


Disamping itu Beck selalu menemaninya.


Tapi sekarang Dy harus sendiri, karena tugas.


" Sabar... nanti juga bakalan hilang perasaan itu. Makanya Papa menaruh Mobil disitu supaya Kamu bisa main keliling, hati-hati saja bergaul ". Kata Beck berusaha menghibur Dy.


" Ya Paa, sepertinya Aku tidak sempat memakai Mobilnya karena Aku capek sekali kalau datang dari kerja ".kata Dy pelan. Beck diam.


" Tapi Aku akan terbiasa, jangan Papa khawatir Aku pasti bisa". Lanjut Dy berusaha membuat suaranya ceria.


" Ya Sayank, semoga Kamu bisa melaluinya". Sahut Beck.


" Oke Paa...I Love You, Aku sayang Papa".


Kata Dy mengakhiri pembicaraannya dengan Beck.


Dy merasa Beck sangat perhatian dan sering menelponnya.


Biasanya Beck tidak pernah menelponnya kalau lagi tugas.


Biasanya Ponsel pribadi disimpan, Dy hanya boleh berkomunikasi memakai GSM atau Ponsel Agen.


Sekarang malah Beck membebaskan Dy memakai Ponsel dan memberikan Mobil untuk bersantai.


Dy tidak mengerti apa maksud dibalik semua itu. Mungkin juga pekerjaannya tidak berbahaya dan cenderung sangat ringan.


*******

__ADS_1


__ADS_2