
Bab.30.
Bandar Udara Domine Eduard Osok menyambut kedatangannya.
Beberapa Bule mendekatinya mengajak berjalan bersama, karena tujuan Mereka sama.
Tapi sepertinya Dy memilih Teman duduk di Pesawat. Namanya Dilan, seorang Adventure sejati.
Kebetulan hobby Mereka sama, sehingga pembicaraan selalu nyambung.
Disini tidak sulit mencari Resort atau Hotel.
Resort ini terletak di Wairo, hanya 10 menit
Menggunakan kendaraan dari Waisai menuju Resort ini.
Dy memilih Resort dengan konsep Floating Cottage atau penginapan diatas laut.
"Aku juga akan mengajakmu ke pianemo dan Telaga Bintang yang airnya Biru Tosca.". Kata Dilan sewaktu Mereka menyantap Lobster di Warung Makan Seafood yang bertebaran di Raja Ampat.
Seharian Mereka berdua menikmati Alam Laut yang mungkin tidak ada duanya di Dunia. Begitu Indah, seperti Dy berada di Dunia lain.
Lautnya yang biru dan bening membuat Dy betah berlama-lama menyelam.
Kulitnya tambah Coklat membuat penampilannya tambah Exotic.
" Berapa hari rencanamu akan tinggal disini ?". Tanya Dilan membuka pembicaraan pada malam kedua Dy menginap di Resort.
" Mungkin seminggu paling lama". Sahut Dy memandang Dilan.
" Kalau begitu besok Aku akan mengantarmu ke Telaga Bintang ". Kata Dilan. Dy sangat senang berteman dengan Dilan.
Mereka lalu berbincang-bincang membahas tentang Snorkling, Mendaki gunung, Whusu..
Sampai Dilan mohon diri, karena sudah malam.
Dilan kemudian kembali ke Biliknya.
Malam ini Dy sangat puas sekali.
Dy merasa bebas dari Beck, karena semua alat Agennya Dy simpan di Filling Cabinet di Hotel.
Beck tidak bisa menghubunginya.
Dy juga selalu memposting kegiatannya di Status WA dan IG nya. Tidak lupa juga Dy memunculkan sosok Dilan yang ganteng. Lengkap sudah kegembiraan Dy.
Adakah orang yang bersedih atas perilaku Dy??, tidak ada.
Kenapa??, karena Aby sudah tidak sadar dalam dua hari ini.
Pada saat Aby keluar dari Suite Room Aby mengendarai Mobil sudah tidak konsentrasi.
Pikirannya kalut, membuat Aby tidak sadar ketika ada sebuah Motor keluar dari Gang dan langsung nyelonong di depannya.
Aby banting Stir kekiri dan Mobilnya menghantam tiang listrik.
Sudah jatuh di timpa tangga lagi.
Begitulah pepatah mengatakan.
Tidur Dy sangat nyenyak, Dy merasa badannya bugar.
Hari ini Dy dan Dilan akan ke Telaga Bintang. Nanti Dy akan menyewa peralatan Snorkling dekat-dekat sana.
Dy berjalan keluar Resort mau menemui Dilan. Kata Dilan Dia menginap di sebuah bilik Nelayan yang berjejer di sekitar sana.
Dy ingat Kamar Dilan nomor 12.
" Dilan ... Aku datang...". Kata Dy mengetuk pintu.
__ADS_1
Tidak ada Sahutan dari Kamar Dilan, tapi pintu sudah terbuka.
Dy terus memanggil sambil masuk kedalam. Kamar Dilan gelap padahal sudah pagi.
Ujung Revolver terasa menyentuh punggung Dy.
" Jangan bergerak ". Suara laki-laki yang tak asing di telinga Dy terdengar mengagetkan Dy.
Mulut Dy seketika terkunci, Dy membiarkan tangannya di borgol.
Beck menarik Dy keluar, ada satu orang Cowok yang ikut dengan Beck.
Brengsek!!. Maki Dy dalam hati.
Ternyata Dilan adalah anak buah Beck. Pantas Dilan sopan banget.
Dy langsung memasang muka tidak suka, sepanjang perjalanan menuju Helikopter mulutnya manyun.
Hatinya kesel banget sama Dilan.
Tahu gitu Dy bersama Bule-bule yang pertama menawarkan diri mengajak Dy ikut Snorkling.
" Sudah puas mainnya " goda Beck memeluk anaknya. Tangan Dy yang terborgol Beck lepaskan.
Beck sengaja menyewa Helikopter untuk menjemput Dy.
" Aku tidak mau pulang, Aku tidak mau ketemu siapapun ". Saut Dy lantang.
" Tapi apakah Kamu tidak mau menemui orang ini?". Kata Beck memperlihatkan Vidio Aby yang berada di Rumah Sakit.
Kerumah Sakit.
Badan Dy langsung lemas, air matanya jatuh. Dy menyesal sekali marah dengan Aby.
" Papaa..ajak Aku menemuinya". Kata Dy lirih memeluk Beck.
Dy tidak tahu harus ngomong apa, air matanya sudah tidak bisa di bendung.
Dilan ikut prihatin. Matanya tidak pernah lepas dari Dy. Dilan sangat mengagumi anak Bos nya ini. Dy adalah contoh perempuan yang sempurna dan mahal.
Seandainya Kamu bukan anaknya Beck, Aku pasti akan menikahimu. Bisik Dilan dalam hati.
"Kamu harus tenang dan kuat, Kita akan kesana sekarang". Ucap Beck membelai rambut Dy.
Ingin rasanya Dy terbang supaya cepat sampai di Rumah Sakit.
Tidak habis-habisnya Dy menyesali dirinya yang pergi meninggalkan Bali.
penyesalan selalu datangnya belakangan.
Setelah sampai di Bali Mereka langsung kerumah sakit dengan Taxi.
Sampai di Rumah Sakit Dy menuju Ruangan ICU.
Terlihat Gama dan Vivi duduk diluar.
" Bagaimana keadaan Aby Gam?". Tanya Beck menghampiri Gama.
Muka Vivi terlihat marah, tapi Dia tidak berani berkata apapun karena ada Beck.
" Belum sadar Om". Sahut Gama sambil melirik Dy.
" Apa boleh masuk?". Tanya Beck lagi.
" Boleh, tapi cuma satu orang saja". Jawab Gama.
Beck membisikan Dy supaya masuk kedalam, kemudian Beck dan Dilan duduk dengan Gama sambil berbincang-bincang. Vivi berdiri dengan muka kesal dan duduk menjauh.
Kebenciannya dengan Beck dan Dy sudah menjadi dendam kesumat.
__ADS_1
Gara-gara Beck dan Dy Papanya dan Nyonya Ida menjadi tersangka.
Kalau Vivi bisa membunuh, mungkin saat ini Dia sudah menembak kedua orang itu.
Sayangnya Vivi bukanlah seperti Dy yang dengan hati dingin bisa memuntahkan pelurunya kepada gembong Narkoba.
Atau tanpa berperasaan melempar pisaunya kejantung lawan.
Itulah tugas Intelijen, siapapun yang salah harus terima hukuman, tidak ada kompromi. Yang Ada Dy yang mati atau lawan yang mati.
Intelijen Lawannya adalah penjahat Negara dan Mafia yang merajalela di muka Bumi ini.
Dy masuk keruangan ICU lengkap dengan pakaian yang telah tersedia.
duduk di kursi disamping Aby.
Hatinya hancur melihat keadaan Aby yang terbujur dengan Kepala terbungkus perban.
Selang infus menancap di langan Aby. Ada goresan merah di pipi sebelah kanan. Mungkin kena pecahan kaca Mobil.
" Aby... ini Aku, maafkan Aku..." hanya itu keluar dari mulutnya, Dy tidak tahu harus ngomong apa.
Dadanya sesak menahan sedih.
Perlahan air matanya jatuh
Jari tangan Aby Dy genggam lembut.
Kemudian Dy mencium pipi Aby dan membisikan kalimat yang belum pernah keluar dari mulut seorang Dy.
" Aku mencintaimu Sayank, cepatlah sembuh ". Kata Dy di kuping Aby.
Dy menghapus air matanya dan berusaha menenangkan diri.
Kemudian Dy memegang tangan Aby dan mendekapnya di dada.
Dy mulai berdoa, memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan Aby.
Bagi Dy hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan Aby.
Dy menyudahi Doanya, bibirnya dengan lembut kembali mengecup pipi Aby.
Hatinya terasa berat harus meninggalkan Aby. Tapi Dy harus keluar, karena bergantian masuk.
Ketika Dy mau meletakkan tangan Aby, Dy merasa tangannya di genggam Aby.
" Aby apakah kamu mendengarku?". Kata Dy pelan. Perlahan tapi pasti Aby membuka matanya.
Tanpa sadar Dy memeluk Aby, sambil terisak. Beck yang dari tadi memperhatikan Dy lewat Kaca pengintai cepat-cepat memanggil Dokter.
Keadaan berubah menjadi ramai.
Semua berebut masuk untuk melihat Aby.
Dokter tergesa-gesa datang dan mengusir
Mereka semua.
Dy duduk disamping Beck dengan gelisah. Dy takut Aby mendengar pernyataan cintanya yang spontan keluar.
Dy tadi ngomong tanpa berpikir, karena bingung harus ngomong apa.
Gama datang mendekati Dy tapi tidak bicara apapun
Dy melihat wajah Gama agak tirus, badannya lebih kurus.
Dy membiarkan tangan Gama menggemgamnya dalam situasi begini tidak elok rasanya kalau tiba-tiba Dy menepis tangan Gama.
********
__ADS_1