AGENT 06

AGENT 06
Tidur berdua.


__ADS_3

Bab.34.


Aby dulu dan sekarang sangat berbeda.


Perasaan Dy juga berbeda.


Kalau Aby yang dulu Dy merasa masih ada perasaan waspada, tidur dengan Aby yang sekarang Dy tidak khawatir.


Tidak ada bantal penyekat di antara Mereka. Tidak ada yang usil dan pura-pura bermimpi supaya bisa menyentuh Dy.


" Yank..minum obat dulu ". Kata Dy mendekati Aby.


" Ya ". Jawab Aby pendek.


Dy mengajak Aby kedalam Kamar.


Menyuruh Aby tidur.


Sebelum tidur Dy berdoa supaya Aby cepat sembuh dan mengenal dirinya.


Dy mengecup kening Aby, Pipinya dan bibirnya. Setelah itu Dy mematikan lampu Kamar dengan lampu Tidur.


Bed ini berukuran king size sangat jumbo.


Aby tidur jauh di Kiri dan Dy di sebelah Kanan.


Zaman dulu kalau pagi burung-burung akan berkicau ceria.


Tapi sekarang bukan suara burung terdengar tapi suara ombak yang menderu


Karena di bawah Suite Room adalah Lautan biru nan cantik.


Sepanjang mata memandang adalah Lautan Biru.


Sudah pukul 09.15 pagi, Dy masih tidur lelap. Aby memandang wajah cantik itu penuh arti.


Kemudian Aby berdiri kembali ke Kichen melanjutkan tugasnya, membuat dua gelas Cappucino panas dan


Dua porsi Sandwhich.


Aby membawa sarapan sederhana itu ke meja makan.


Dy bangun dengan kaget mendapati Aby tidak ada di tempat tidur.


Pertama yang di periksa kamar mandi. Kosong!!.


Dy lari keluar dan merasa lega, Dy melihat Aby duduk di meja makan.


" Sayank...Aku takut Kamu hilang.


Apakah Kamu sudah sadar?, apa Kamu ingat siapa Aku?". Tanya Dy berharap.


Aby akhirnya mengangguk.


" Syukurlah Aku sangat gembira, akhirnya Kamu ingat siapa Aku ". Kata Dy langsung memeluk Aby.


" Aku mau mandi dulu ". Sambung Dy lalu masuk kedalam. Aby tersenyum tipis.


Tidak berapa lama Dy sudah keluar dengan rambut dikuncir kuda dan daster mini dari katun.


Aby tahu Dy pasti cepat-cepat berdandan.


" Kamu membuat Aku sangat bahagia hari ini. Kamu adalah teman sejatiku". Kata Dy memandang Aby.


" Coba Kamu katakan siapa diriku ". Ujar Dy mendekati Aby.


" Kamu adalah istriku". Degg!! Jantung Dy seolah meloncat.


Mulut Dy menganga.


"Sayank, Kamu bercanda khan?". Tanya Dy dengan mata membulat. Dy ingat, tadi baru bangun badannya berada ditempat Aby tidur. Harusnya Dy dipinggir sebelah kanan. Jangan-jangan Aby sempat meraba-raba badannya.


Dy langsung meriang.

__ADS_1


"Bukankah Kamu memanggilku Sayank, selalu mengecupku dan membisikan kata cinta di telingaku, itu tandanya Aku adalah Suamimu". Kata Aby.


" Tapi..tapi...". Dy tidak jadi melanjutkan bicaranya. Semua kata-kata yang Dy ucapkan selama ini adalah bohong, karena Dy ingin supaya Aby cepat sembuh.


" Apakah Kamu berdusta padaku?". Tanya Aby sedih.


" Bukan..bukan... Kamu suamiku, Aku sangat ..sangat...sayang padamu". Kata Dy cepat.


" Cuma sayang?, Kamu tidak Cinta padaku seperti kata mu setiap hari".


" Tentu...Aku cinta padamu". Sahut Dy jengah. Busyet dah!!, Aku kena batunya. Pikir Dy.


Aby tersenyum lalu menyuruh Dy menghabiskan sarapannya.


Ingin rasanya Dy kabur dari hadapan Aby.


Dy memutar otak, supaya Aby tidak menganggap Dy istrinya.


Istri itu artiannya sangat luas, bagaimana kalau malam nanti Aby minta jatah??


Waduuhh....Seketika kepala Dy nyut-nyutan.


"Sayang, nanti malam Aku tidur di Sofa, Aku takut mengganggu tidurmu". Kata Dy cepat berusaha menenangkan hatinya.


" Kita adalah suami istri, tidak boleh pisah tidurnya ". Sahut Aby kalem.


Busyettt.... bagaimana ini. Matilah Awak!!.


Kepala Dy tambah puyeng.


Dy duduk sambil memikirkan solusi yang terbaik.


Hanya satu solusinya Aby harus sembuh.


Pikir Dy.


Bingung.


Dua Orang Cleaning Service datang untuk membersihkan Kamar.


Mereka menyambung percakapan tadi yang terputus. Dy masih berpikir keras untuk menghindar dari tidur bersama.


"Sepertinya kalau Kita duduk di Pantai sampai pagi pasti enak ya". Kata Dy berusaha mencari ide lain, supaya lepas dari tidur bersama.


" Enak sekali, Kita begadang sampai pagi, besoknya Kita tidur di Kamar sampai malam". Sahut Aby.


Dy bergidik...siasatnya kurang jitu.


" Yank , kenapa sekarang bicaramu lancar, apa pertanda Kamu mau sembuh". Kata Dy menatap Aby.


" Setelah Aku tahu Kamu istriku, Aku langsung sembuh". Sahut Aby.


Dy langsung duduk lemas, tulangnya terasa semua rontok.


Dy berusaha menenangkan dirinya.


untuk sementara Dy akan bertahan.


Pasti akan ada solusinya.


Yang penting Aby cepat sembuh. Pikir Dy.


Setelah Cleaning Service pergi Dy lalu masuk kedalam meninggalkan Aby duduk sendiri.


Dy mencari Ponselnya lalu menghubungi Papanya.


Beck tidak bisa di hubungi. Sibuk..terus sibuk...sibuk...


Kemudian Dy duduk di sofa Chatting lewat WA.


" Paa...Aby tambah parah, Dy sudah menganggap Aku istrinya". 😣Kirim...


" Ya...". πŸ‘Balas Beck.

__ADS_1


" Paa..koq jempol?".πŸ˜₯


" Oke..". 😁


" Aku harus berbuat apa?".😭


" Terima dulu, Papa sibuk belum bisa ngasi solusi".πŸ’—


" Tapi Aku jadi risih, was-was....".😒 Kirim...


Tidak dibalas...tunggu, mungkin Beck lagi sibuk.1menit 10 menit 15 menit...100menit... akhirnya Dy menutup Ponselnya.


Dy sudah putus asa.


Gama mulai bekerja seperti biasa, tidak ada yang tahu kenapa Gama lama cuti.


Semenjak kasus yang menimpa keluarganya, Gama menjadi pribadi yang berbeda. Tidak seperti biasanya, humoris dan tebar pesona.


Gama duduk termenung memikirkan Mamanya yang Dia sayangi berada dalam tekanan, Gama tidak pernah menyangka akan begini jadinya.


Gara-gara Pak Burhan Mamanya menjadi pesakitan...


Gama juga memikirkan Aby yang tidak berdaya, kemalangan ini menumpuk membebani pikiran Gama...


dan terakhir Gama memikirkan Dy....


Dy yang terlambat Dia dekati,


Dy yang membuatnya patah hati...


Dy yang memilih Aby dari pada dirinya.


Dy yang cantik, dengan pesona yang mengagumkan, menebar gairah, membuat hasrat memuncak...


Aahhh....Gama menarik nafas panjang...


Umurnya sekarang sudah 24 tahun, sudah sepantasnya Dia punya pacar yang serius untuk sekedar membagi cerita lewat WA atau Instagram.


Tapi kenyataannya, Gama tetap sendiri.


Bukan tidak laku, karena Gama banyak bermain


Ponselnya berbunyi, Vivi mengontaknya.


" Gam.. jam berapa ke Polda?". Suara Vivi terdengar di seberang sana.


" Sepertinya Aku tidak bisa pergi, pekerjaanku banyak". Jawab Aby pelan.


" Kalau begitu Aku berangkat sendiri, nanti Aku khabari Kamu kalau ada perkembangan selanjutnya".


" Oke..trimakasih Vi ". Kata Gama lalu menutup Ponselnya.


Gama kembali melamun.


" Pak ini ada beberapa tagihan dari Suplayer....". Kata Mila bagian Processing membuyarkan lamunan Gama.


" Ya, Trimakasih Mil ". Jawab Gama pendek. Mila menaruh maap itu diatas meja dan permisi tanpa respon dari Gama.


Mila heran Gama tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum ceria dari Gama, atau rayuan gombal dari Gama.


Ada apa gerangan?.


Ingin rasanya Mila ikut lebur dalam masalah yang Gama hadapi.


Membantunya dengan tulus atau sekedar mendengar keluhan-keluhan yang keluar dari mulut Gama.


Tapi mungkinkah itu?


Sebenarnya Mila sudah lama menaruh hati sama Gama, tapi Gama kelihatan kurang serius menanggapi.


Apa karena Mila kurang cantik?


Ntahlah...karena kecantikan relatif, tergantung orang yang memandangnya.

__ADS_1


*******


__ADS_2