
Bab.14.
Dy merasa ada yang memeluknya, Dy membuka matanya dan Dy kaget, Aby memeluknya dan Dy juga memeluk Aby.
Dy menggeser tangan Aby pelan takut Aby bangun.
" Jangan tinggalin Aku ". Dy kaget mendengar suara Aby. Dadanya berdebar, terpaksa Dy diam membiarkan Aby kembali memeluknya. Kaki Aby seolah menjepitnya.
Duhh gimana ini. Pikir Dy berusaha tenang, perasaan aneh menggodanya.
Dy berusaha mencari celah untuk bebas dari pelukan Aby, tapi tidak bisa.
Setiap Dy berusaha, semakin erat pelukan Aby. Sekarang pipi Aby malah menempel ke pipinya. Dy akhirnya pasrah membiarkan situasi ini terjadi asal Aby tidak berbuat yang tidak-tidak.
Akhirnya Dy kembali tidur.
Dy dan Aby kaget, Mereka cepat-cepat bangun. Untung baru pukul 07.15 pagi. Dy mengambil Tas nya di Balcon.
Mereka balapan ke Kamar mandi.
Tapi akhirnya Dy menang.
Dy mengeluarkan baju ganti dan segala perlengkapan mandi dari Tas.
Aby tersenyum tipis membayangkan tubuh Dy yang Dia peluk sepanjang malam.
Tentu saja Aby tadi malam pura-pura tidur, supaya Dy tidak kabur. Tapi akhirnya Aby ketiduran juga.
Dy keluar dari Kamar mandi sudah berganti Pakaian, hanya celana pajangnya tidak diganti.
Dy salah tingkah, ketika Aby terus menatapnya. Dy pura-pura acuh dan duduk di Sofa sambil menyisir rambutnya.
Dy membiarkan Aby memandangi dirinya dari ujung Rambut sampai ke ujung Kaki.
Supaya Aby puas!!.
" Aby...mandi donk, sudah siang ". Kata Dy pelan. Aby beranjak bangun langsung ke Kamar mandi.
Di Kamar mandi Aby membayangi tubuh Dy yang Sexy, bibir ranum Dy yang menggoda. Aby terus mengkhayal dan menuntaskan asratnya yang terpendam.
Aby keluar dari Kamar mandi dengan perasaan kecewa. Dy tidak ada lagi di Kamarnya.
Aby menghirup bekas bau wangi farfum Dy yang memenuhi ruangan.
Mungkin sekarang Dy di Dapur. Pikir Aby.
Hari ini sangat menyenangkan, Aby turun menuju Meja makan. Dia membiarkan Gama mencerca Dy supaya mengaku dimana Dy tadi malam, kenapa tidak membawa Motor dan bla..bla..bla..
Banyak sekali pertanyaan Gama yang malas di jawab oleh Dy.
Dy menata makanan pagi ini yang terdiri dari Bubur Menado, Ayam sisit pedas dan krupuk. Simpel banget.
Sesekali Aby melirik Dy yang tetap diam melayani Gama yang cerewet.
Mulut Gama terpaksa diam ketika Nyonya Ida masuk ke Ruang makan.
" Pagi Nyonya...". Sapa Dy santun.
"Pagi semuanya, tadi malam kenapa Dy tidak membawa Motor?". Tanya Nyonya Ida memandang Dy.
" Saya pulang di jemput teman Nyonya ". Jawab Dy enteng.
Dasar ngibul. Bhatin Aby melirik Dy.
__ADS_1
" Ow..begitu, nanti pakai Motor Gama saja kalau pulang ".
" Ya Nyonya, trimakasih". Sahut Dy terus keluar dari Ruangan makan.
Sebenarnya banyak kata-kata yang Dy mau lempar kepada Gama, tapi Dy menahan diri. Dy akan mencari kesempatan supaya bisa berdua dengan Gama.
Dy harus mendekati Gama supaya bisa mengorek keterangan tentang kematian Ayahnya.
Memang kegiatan Klandestin sangat perlu mempelajari tehnik Elisitasi.
Dy akan memakai cara Elisitasi
Untuk membongkar kasus ini.
Dy akan mulai dari Gama. Perkembangan penyelidikan ini terasa Alot karena Dy harus menjaga Aby yang menjadi Target.
Untung Beck memaklumi dan tidak bermasalah kalau Dy tersita waktunya untuk Aby.
Mereka semua sudah bersiap mau berangkat kerja. Dy merasa Bibi memasang jarak dengan dirinya, tapi tetap saja Dy betusaha santun sama Bibi semuanya
Dy menuju ke garasi dan memanaskan Mobil. Sekarang Dy tidak akan menungguin aby di Kantor, Dy mau pulang mengambil pakaian ganti dan mengirim data-data.
Mobil Jazz itu melaju sedang menyusuri jalan Teuku Umar menuju Sunset Road.
Tidak ada pembicaraan berarti dari Nyonya Ida kepada Putranya.
Mereka ngobrol sekitar perkembangan Hotel Romero.
Dan harga Saham per Lot.
Teman tugas.
Hujan sudah turun rintik-rintik ketika Dy menyusuri jalan pulang.
Dy mengencangkan gas motornya, jalanan agak sepi.
Sampai di Home Stay hujan sudah deras.
Dy mengelap Motor Gama seadanya untung warnanya merah, kalau hijau seperti Motor Aby, Dy mungkin menolak membawanya.
Sekitar pukul. 21.15 hujan masih lebat.
Dy akan menyusup ke perusahan Pak Burhan, Dy akan di bantu oleh Dina, Agen XP.17 seorang gadis cantik dari Bandung.
Dy janjian ketemuan di depan Toko Alam Raya.
Dy terpaksa membawa Mobil karena hujan, sebenarnya Dy lebih senang membawa Motor kalau lagi tugas.
Mobil Lambhorgini Aventador itu menembus lebatnya hujan.
Setelah dekat Toko Alam Raya Dy memberi Lampu Dim kepada Mobil Taxi yang ada di depan Toko.
Dy mendekati Mobilnya dengan Taxi didepannya.
Seorang Gadis cantik keluar berlari ke Mobil Dy.
" Sorry.. gue sedikit basah". Kata Dina lalu duduk di Mobil.
" Tidak masalah ". Sahut Dy sambil tersenyum.
Dy menyetel Ac Mobil menjadi hangat.
" Loe sudah siap?". Tanya Dy ingin tahu.
__ADS_1
Temannya ini sering Dy ajak kerja.
Dina belum berani mengambil tugas yang besar, karena belum mahir mempergunakan senjata rahasia.
" Gue mah siap terus, masalah rayu merayu gue jagonya". Sahut Dina meyakinkan Dy.
" Oke...Kita goo..". Kata Dy tertawa.
Mobil melaju menuju Perusahan Pak Burhan.
Setelah dekat dengan Perusahan Pak Burhan, Dy mematikan mesin Mobilnya, tapi tidak di rem, Dy membiarkan Mobil melaju pelan sampai di depan gardu Satpam.
PT. Angin Ribut, sebuah Real Estate yang menaungi Prusahan Pak Burhan dan Koleganya.
" Din, Loe keluar duluan ". Perintah Dy.
Dina lari keluar menemui Satpam, hujan sudah agak reda.
Rencananya Dina merayu Satpam supaya Pak Satpam mau membuka Pintu masuk ke PT.
Setelah itu Dy masuk ke dalam PT dan mengambil semua data-data dari Laptopnya Pak Burhan.
Juga memasang alat-alat perekam di beberapa titik.
" Mat malam Pak ". Sapa Dina sampai di Gardu. Pak Gadon adalah Satpamnya Pak Burhan.
" Malam Non.". Jawab Pak Gadon, memandang cewek di depannya dengan mata genit.
Jangankan Pak Gadon, nyamuk yang lewat saja akan ngiler melihat Body Dina yang Bahenol.
Makanya tugas Dina dari dulu hanya seputar rayu merayu.
" Maaf Pak, kalau Ke Sanur lewat mana Pak, soalnya Saya tumben ke Bali ". Kata Dina mengelus tangan Pak Gadon.
Pak Gadon tersenyum simpul dan memasang tampang ganteng.
" Jalan ini terus di ikuti Non, lampu merah belok kiri dan kenceng sampai lampu merah berikutnya.....
sulit menjelaskan soalnya jauh sekali Sanur dari sini. coba Saya tidak tugas langsung Saya antar Non ". Ucap Pak Gadon membiarkan tangannya di elus-elus Dina.
" OW ..gitu ya Pak, berarti masih jauh donk". Sahut Dina.
" Ya Non...masih jauh ". Kata Pak Gadon membalas elusan tangan Dina.
"Pak ada kamar kecil??". Tanya Dina
memepetkan badannya.
" Ada...tapi jauh di dalam Non". Sahut Pak Gadon. Nafasnya memburu.
" Anterin donk Pak ". Kata Dina menarik tangan Pak Gadon.
Tanpa banyak cingcong Pak Gadon membuka Pintu gerbang sedikit dan mengajak Dina kedalam ruangan.
Mungkin sudah sepaneng Pak Gadon langsung mendorong Dina ketembok dan dengan garangnya mencium Dina membabi buta.
Semua di luar Sekrenario. Terpaksa Dina memukul tengkuk Pak Gadon.
Dina kaget melihat Pak Gadon tersungkur langsung pingsan.
Gimana ini......
*******
__ADS_1