
Bab.17.
Hari ini Dy sangat gembira, karena tugasnya akan selesai.
Mr.x sudah puas dengan pekerjaannya.
Sekarang tinggal menangkap pelaku.
Dan semua akan di serahkan ke Polisi karena data-data sudah lengkap.
Setelah tugasnya selesai Dy akan pergi dari rumah ini, kembali mencari tugas baru dengan nuansa yang berbeda.
" Bi Ijah nanti sama Aku bersih-bersih ya".
Kata Dy ketika berada di Dapur.
" Ya, Bibi tunggu ". Sahut Bi Ijah.
" Sekarang sudah selesai semua, sudah boleh bawa ke ruang makan". Kata Bi Narti memandang Dy.
Dy lalu menyiapkan sarapan untuk Nyonya Ida dan Putranya.
Gama yang biasanya ramah dan agak genit sekarang jadi pendiam.
Tapi kadang-kadang matanya menatap Dy yang melayani Mereka.
Yang paling misterius adalah tatapan Aby yang selalu penuh arti, dasar si tukang ngambek.
Dy cuek saja dengan tingkah Mereka berdua.
Nyonya masuk ke ruang makan dengan wajah kusut.
" Pagi Nyonya, silahkan...". Kata Dy mempersilahkan Nyonya Ida sarapan.
" Pagi....". Sahut Nyonya Ida pendek. Dy menduga pasti Nyonya Ida sudah di kasi tahu oleh Pak Burhan tentang pemanggilan pertama dari ke Polisian.
Setelah Mereka sarapan Dy kembali ke Dapur.
" Bi Saya mungkin mau berhenti bekerja disini, Saya mau pulang kampung". Kata Dy membuat ketiga Bibi kaget.
" Kenapa begitu Dy, apa Kita ini ada salah sama Dy??, atau Tuan Gama yang salah?". Sahut Bi Narti sedih.
" Bibi...kalian semua baik sama Saya, memang Saya yang mau berhenti, Saya mau pulang". Ucap Dy, ada perasaan berat meninggalkan keluarga ini.
" Kapan Dy akan berhenti?" Tanya Bi ijah.
" Mungkin Minggu depan ". Sahut Dy menatap Mereka.
Dy keluar dari Dapur menuju Garasi. Dan memanasi Mobiinya.
Nyonya Ida datang beserta Gama. Tidak ada Aby bersama Mereka.
Dy membuka pintu untuk Nyonya Ida, tapi ke duluan Gama.
" Tuan Aby tidak ikut Nyonya?". Tanya Dy menoleh Kepada Nyonya Ida yang duduk menunduk.
Nyonya Ida cuma menggeleng.
Mobil melaju sedang menembus pagi yang cerah.
Dy sesekali melihat ke kaca spion dan matanya bertemu dengan tatapan Gama.
Kesunyian di dalam Mobil membuat khayalan Dy berkembang.
Dy berpikir tentang Pak Burhan sebagai tersangka Utama atas penggelapan lahan milik Keluarga Romero.
Dan tuduhan itu berdasar atas penyelidikan yang di lakukannya.
" Stop Dy !!". Seru Gama. Hampir saja Dy ke kebablasan melewati Butik.
__ADS_1
Mobil sedikit mundur lalu belok ke Butik Nyonya Ida.
Gama turun membukakan pintu untuk Mamanya.
" Hati-hati Ma". Kata Gama membantu Nyonya Ida turun dari mobil.
Dy sangat terkesan dengan tingkah Gama yang selalu perhatian terhadap Mamanya.
Padahal Mamanya telah menyakitinya.
Mobil kembali melaju mengantarkan Gama ke tempat kerja.
" Gam Kamu sudah lama kerja di Hotel ini,". Kata Dy memecah keheningan.
" Baru setahun". Jawab Gama pendek.
" Sebagai apa Kamu disini??".
" Accounting ". Jawab Gama lagi.
Dy berhenti bertanya, Dy tahu Gama ogah menjawab.
Lebih jelasnya Gama malas ngomong dengan Dy.
Dy memasuki kawasan The UVASSA Hotel Luxury bintang 5.
Gama turun dari Mobil begitu saja, tidak ada senyum atau basa basi seperti biasanya.
Bagi Dy semua tingkah keluarga Romero tidak berpengaruh dengan perasaannya.
Yang penting tugasnya cepat selesai.
Tugasnya yang terakhir, bertemu lagi sekali dengan Mr.x dan mengambil barang-barang yang Dy pasang di rumah Nyonya Ida.
Kecuali ada masalah yang membutuhkan penanganan serius, disitu baru Dy akan bertindak sesuai kesepakatan kerja.
Bertemu Vivi.
Ketika sampai di Rumah Nyonya Romero Dy melihat Mobil Expander terpakir di garasi.
Dy masuk ke Dapur mencari Bi Ijah.
" Bi Ijah, jadi gak bersih-bersih". Kata Dy.
" Dy makan dulu, Bibi melihat Dy jarang makan, walaupun makan pasti makan Roti dan Telor dadar". Kata Bi Ijah.
" Nanti Saya makan siang Bi ". Sahut Dy lalu mengajak Bi Ijah kedalam untuk bersih-bersih.
Aby dan Vivi ada di ruang Tamu lagi berbincang-bincang.
Akhir-akhir ini Vivi merasa Aby sering menolak kalau di ajak bertemu, ada saja alasannya
Tapi untunglah hari ini Aby mau bertemu setelah Vivi mengatakan bahwa Papanya ada masalah.
Dy pura-pura tidak melihat keberadaan Aby dan Vivi, Dy langsung naik ke Kamar Aby. Sepintas Dy mendengar pertanyaan Vivi yang menanyakan tentang keberadaannya di rumah Aby.
" Siapa itu Sayank ". Tanya Vivi ketika melihat Dy.
" Sopir Mamaku ". Jawab Aby singkat, matanya menatap Dy yang tanpa mengacuhkan ke beradaannya.
" Sopir saja sombong, apalagi sudah menjadi Bos ". Kata Vivi merasa tidak senang.
Ingin rasa nya Dy menendang mulut lamis Vivi, tapi Dy berusaha sabar, karena Dy masih berpredikat Sopir.
Dy membagi tugas dengan Bibi, Dy membersihkan Kamar Aby dan Bibi membersihkan Kamar Gama.
Dy bersin-bersin ketika membuka Sepray.
" Kenapa tidak memakai masker". Kata Aby tiba-tiba sudah berada di Kamar.
__ADS_1
" Malas ". Sahut Dy pendek.
Aby membantu Dy memasang sepray.
" Gak usah bantu, ladeni pacarmu saja". Kata Dy memandang Aby.
Mereka saling pandang.
" Aku lebih senang membantumu.". Sahut Aby pelan, tapi Aby terpaksa turun karena Vivi memanggilnya.
"Tuh ..ladeni calon istrimu ". Kata Dy sambil membanting Bantal.
Aby mendekati Dy, tapi Dy menjauh.
Vivi terus memanggil di bawah.
Satu-satu Dy mengambil kancing Magnetic nya dan di masukin Kantong.
Di atas sudah selesai, tinggal sekarang di bawah.
Dy dan Bi Ijah masuk ke Kamar Nyonya Ida, tanpa sengaja Dy menjatuhkan sebuah Lukisan.
Suara pecahan kaca terdengar keras.
Dy kaget, replek tangannya memegang lukisan. Telunjuknya berdarah kena kaca. Aby lari kedalam.
" Dy tanganmu berdarah". Kata Aby memegang tangan Dy dan mengisap darah yang berada di telunjuk Dy.
Vivi, Dy dan Bi Ijah kaget melihat spontanitas Aby.
" Yank...apa-apaan Kamu ". Teriak Vivi.
Aby tidak menggubris ucapan Vivi, Aby terus mengambil Tensoplast dan membungkus jari tangan Dy.
Vivi dengan kasar menarik Aby.
Matanya melotot kepada Dy.
"Dasar Sopir tidak tahu diri, kata Vivi marah besar.
Dy membiarkan Vivi marah-marah tidak keruan.
" Sopir, jangan sok ganjen. Pikirin dulu bingkai Lukisannya.... bisa tidak Kamu ganti. Itu bukan Lukisan sembarangan".
Kata Vivi kembali masuk ke ruang Nyonya Ida.
Dy tidak meladeni Vivi, matanya tertuju kepada pintu Brankas yang berada
Di balik Lukisan.
Bi Ijah sampai ke takutan mendengar Vivi marah-marah. Katanya kasar-kasar dan sangat menghina Dy.
Dy membawa keluar Lukisan yang sudah di bersihin Bi Ijah.
Dan menaruhnya di atas meja di depan Aby duduk.
" Biarin nanti Aku yang membikin bingkai ".
Kata Aby bangun dari sofa.
" Yank.. maksudmu apa, ada hubungan apa kalian berdua ". Kata Vivi marah.
" Kau ingin tahu?, inilah hubungan Kami".
Sahut Dy dengan secepat kilat memeluk Aby dan mengecup bibir Aby.
Tentu saja Aby kaget bukan kepalang mendapat serangan mesra mendadak.
Vivi langsung menyerang Dy membabi buta. Teriakannya seperti orang kesurupan.
__ADS_1
Apa yang ada di ruang tamu Dia lempar ke tubuh Dy. Sayang sekali tidak ada yang mengena.
*******