AGENT 06

AGENT 06
Menyusup.


__ADS_3

Bab.15.


Dy masuk kedalam Ruangan kerja Pak Burhan.


Keadaan gelap.


Pintu Ruangan Pak Burham terkunci, Dy mengambil kawat magnet memasukan kedalam lobang kunci.


Pintu terbuka,


Dengan cepat Dy memasukan Flashdisk nya ke Laptop Pak Burhan.


Tidak lupa Dy memasang kancing Manegtik nya di ruangan Pak Burhan dan di ruangan yang lain.


Beberapa file di Brankas Dy foto.


Dina dan Dy cepat-cepat keluar, membiarkan Pak Gadon masih tergeletak.


" Sorry Dy, gue terpaksa bikin Pak Gadon Keok. Tidak sesuai rencana...". Kata Dina setelah Mereka menyusuri jalan pulang.


Dina sebenarnya ciut dengan Dy yang anak Boss nya.


" Harusnya tadi Loe jangan pukul Dia, cukup di rayu tarik ulur saja.


Kalau sudah begini Dia bisa lapor Polisi, ada sidik jari Loe disitu.


Tapi mudah-mudahan masalah ini tidak sampai ke Polisi, Dia juga pasti malu karena Dia ada niat busuk ke Loe". Jelas Dy panjang lebar.


" Tadi gue jijik banget, itu tadi spontan,


Hampir Anunya gue keprett ". Sahut Dina tertawa.


" Ya semoga tidak ada masalah, tapi besok-besok Loe gak boleh begitu.


Kita boleh cepat bertindak kalau masalah yang Kita hadapi sangat berbahaya atau Kita dalam keadaan terdesak".


" Ya Dy...gue selalu bikin runyam saja".


" Harus banyak belajar, karena pekerjaan ini taruhannya Nyawa. Ini pekerjaan bukan kaleng-kaleng". Kata Dy selanjutnya.


" Ya.. gue akan ingat selalu, Loe jangan kapok mengajak gue, kalau ada kerjaan". Sahut Dina.


"Gimana Beck semenjak gue tinggalin?, khan loe yang paling dekat sama Babe gue". Dy mengalihkan pembicaraan.


" Gue kasihan sama Beck, sepertinya Dia banyak pikiran. Tumben gue lihat Dia sering termenung semenjak Loe ke Bali".


Jelas Dina.


" Mungkin Beck tidak menyangka tugas gue tambah berat, karena terus ada percobaan pembunuhan terhadap Anak Bos gue".


" Loe harus hati-hati Dy, gue dengar Pak Burhan ini suka memakai pembunuh bayaran ".


Kata Dina selanjutnya.


" Gue rasa emang begitu. Tapi yang gue heranin kenapa anak nomor satu yang di incar, sedangkan anak nomor dua melenggang ".


" Mungkin anak nomor dua ikut andil" . Sahut Dina.


" Gue akan selidiki ". Jawab Dy singkat.


" Gue rasa ada campur tangan Pak Burhan di kematian Pak Romero". Sahut Dy kemudian.


" Siapa Pak Burhan?".


" Target pertama gue ". Sahut Dy.


Mobil memasuki Home Stay. Hujan sudah reda.


Malam ini Dina akan menginap disini, besok pagi Dy akan mengantarnya ke Bandara.


Dy ijin sehari kepada Nyonya Ida.

__ADS_1


Besok Dy tidak bisa kerja.


Banyak hal harus Dy kerjakan sebelum menyerahkan data-data kepada Mr. X.


Dina duduk di sofa menemani Dy memasukkan data-data ke flasdisk.


" Dy, Loe gak ingin pacaran". Tiba-tiba ucapan Dina mengagetkan Dy.


" Loe tahu sendiri, setiap gue dekat ma Cowok, besoknya cowok itu udah babak belur, gue udah kapok".


" Kalau gitu Loe cari cewek, daripada bibir Loe di anggurin". Sahut Dy tertawa.


" Amit-amit, jangan sampai deh ". Kata Dy merinding.


" Loe sendiri gimana?, udah ada calon gak?". Dy balik bertanya.


" Gue sial terus, waktu ini gue ada dekat ma orang, setelah Dia tahu kerjaan gue dia langsung Cabut".


" lho!! apa salahnya kerjaan Loe, dasar aja cowok lue kurang di tinju. Seenaknya ninggalin orang. Kalah Bandar donk loe....". Kata Dy ikut emosi.


" Ya!! gue banyak habis ". Sahut Dina kesal ingat dengan Cowok yang meninggalkannya.


" Makanya gue takut nyari cowok, karena takut tersakiti ". Kata Dy ngeles, padahal memang belum ada yang Sreg dihatinya.


Ke Bandara.


Untung hari ini tidak hujan, Dy mau mengantar Dina ke Airport, setelah itu Dy mau bertemu dengan Mr.x.


Dy memakai Outfit agak Casual, Celana pendek macan tutul, di padukan You Can See hitam polos dan sepatu sandal bertali.


Rambutnya Dy biarkan tergerai panjang.


Tidak lupa kaca mata hitam mempercantik penampilannya.


" Kita sarapan cepat saji saja ". Kata Dy setelah Dina naik ke Motor.


" Gue paling tidak nyaman di bonceng pakai Ninja". Gerutu Dina.


Ninja merah itu menelusuri jalanan yang sudah mulai padat.


" Kita Drive Thru saja supaya cepat ". Kata Dy memasuki Restoran cepat saji.


Dina mau protes tapi gak jadi.


Malas Dina berdebat dengan Anak Bosnya.


Berdebat sama saja bunuh diri, siapa tidak kenal Beck quay, pendiri XPostOne yang banyak menelorkan Intelejen swasta yang mumpuni.


Salah ngomong nyawa taruhannya.


Motor Ninja merah itu keluar dari Restoran cepat saji, kembali menyusuri Jalan I gusti Ngurah Rai.


Tanpa di sadari sebuah Mobil Porsche membuntuti dari belakang.


Aby dengan sigap mengikuti Dy.


Kadang-kadang Aby tertinggal jauh.


Motor Ninja itu disamping larinya kencang juga suka nyalip.


Tapi di perempatan lampu merah Aby bisa mensejajarkan Mobilnya dengan Motor Dy.


Aby mengeluarkan Ponselnya dan mengambil gambar Dy dari samping.


Di otak Aby, sudah ada rencana.


Aby membiarkan Motor Dy melaju kencang dan mengambil jalan ke Bandara.


Sedangkan Aby melanjutkan perjalanan menuju Nusa Dua.


Aby sungguh tidak mengerti akan keberadaan Dy.

__ADS_1


Kalau Dy anak haram Papanya, mengapa Dy mau menyamar menjadi Sopir, langsung saja datang ke Mamanya dan mengaku sebagai anak Papanya.


Aby bingung juga mikirin.


Yang jelas saat ini Aby sudah merasa jatuh cinta dengan Dy. Tidak ada alasan apapun untuk merubah pendiriannya.


Siapapun Dy, Aby tidak peduli.


Sama dengan ketidak pedulinya dengan Vivi.


Ponsel Aby berbunyi, panggilan dari Vivi.


Aby mematikan Ponselnya, akhir-akhir ini Dia tidak berselera menanggapi pembicaraan dari Vivi.


Vivi terlalu manja dan tidak Natural.


Semua yang ada di tubuhnya berkat Operasi, tidak seperti Dy yang Natural.


dan selalu wangi.


Tidak terasa Aby sering membandingkan Dy dan Vivi.


Berkali-kali Ponsel Aby berbunyi dan berkali-kali juga Aby matiin.


aby tahu Vivi pasti kesal.


Sampai di Hotel Aby langsung mengontak Dy dan menyuruh datang ke Hotel.


" Aku sudah minta ijin sehari tidak kerja ". Sahut Dy memperlambat jalan Motornya.


" Kamu harus datang, Aku ada masalah". Kata Aby memaksa.


Dy tahu pasti ini akal-akalan Aby, karena tadi malam Dy tidak datang ke Kamar Aby.


" Ya tunggu, Aku mengantar teman ke Bandara dulu ". Kata Dy lewat


Bluetooth headset.


" Ya Aku tunggu ".


Dy ngebut menuju Nusa Dua setelah mengantar Dina sampai Bandara pemberangkatan.


Sampai di Hotel Romero Dy langsung ke Basement.


Dy memarkir motornya dan menggantung helmnya.


Dy naik ke atas mau masuk lewat Lobby.


Pagi ini Dy mau Breakfest di Restoran.


Banyak mata memandangnya dan ada yang bisik-bisik mengatakan bahwa Dy pengawal Aby.


" Siapa yang tidak mau di kawal cewek Cantik, Aku juga mau ". Bisik Mereka, yang rata-rata sekelas Manager dan Asmen ( Asisten Manager).


Dy diam saja tidak mau peduli, Aby terus menghubunginya.


Sehabis Sarapan Dy keluar dari Restoran dan menuju Ruang JM.


Muka Aby sudah cemberut ketika Dy masuk. Dy langsung duduk di Sofa dan membuka kaca matanya.


" Lama sekali ". Gerutu Aby duduk disamping Dy.


" Belum ada dua Jam ". Sahut Dy tersenyum.


" Aku tidak mau tahu, nanti malan Kamu harus ke Kamarku ". Kata Aby menatap Dy


" Gak bisa, Aku bisa mati kalau ketahuan" .


Nah mulai dah Aby cemberut, mungkin ini senjata ampuh Aby untuk memaksa Dy.


Tapi Dy memang tidak datang karena harus bertemu dengan Mr.x untuk memberi laporan.

__ADS_1


*****


__ADS_2