
Bab.8.
Mobil Pajero itu memasuki Garasi.
Dy langsung ke Dapur datang dari mengantar Nyonya Ida dan Tuan Gama.
" Dy sarapan dulu, nanti Bibi mau ajak bersih-bersih ". Kata Bi Ijah.
" Ya Bi ". Sahut Dy langsung mengambil roti tawar dua lapis, di atasnya diisi telor dadar dan sambal botol.
" Kamu tidak makan nasi Dy??". Kata Bi Narti heran.
" Aku diet Bi ". Sahut Dy tersenyum.
" Bi, Aku duluan naik ke kamar Tuan, mana alat perangnya..... ". Kata Dy tertawa.
Bi Ijah memberikan Dy kemoceng dan sapu. Dy naik keatas, mencari kamar Aby. Pintu tidak di kunci, Dy langsung masuk ke kamar Aby.
Kaca mata dan maskernya Dy taruh di atas meja.
" Capeekk..." Dy setengah teriak.
Dengan kasar Dy merebahkan setengah badannya di tempat tidur Aby, kedua kakinya masih menjuntai.
Dy mulai memejamkan matanya.
Memikirkan cara yang paling praktis untuk mendekati Pak Burhan.
Dy kaget merasa ada yang melempar handuk ke wajahnya.
" Bibik...". Teriak Dy melompat bangun.
Dy tambah kaget karena Aby berada di kamar. Rupanya Aby tadi mandi.
" Maaf Tuan..". Kata Dy cepat keluar, Dy tidak berani memandang Aby yang telanjang dada.
Aby sudah yakin bahwa Sopir ini sama
dengan Cewek yang meringkus penjambret.
Aku akan terus memata-mataimu sampai Kamu tertangkap basah- bisik Aby dalam hati.
Dy berdiri di depan pintu menunggu Bibi naik. Bi Ijah naik pelan-pelan, karena lututnya sakit. Kata Bibi Dia punya penyakit Asam Urat.
Aby keluar dari Kamar berhenti di depan Bibi.
" Bi ganti sepraynya, tadi di tiduri Kucing ".
Kata Aby melirik ke Dy.
Muka Dy merah, Dy di samakan dengan kucing. Hatinya langsung panas.
Dasar manusia sombong, Aku urug Kamu dengan Spray. Gerutunya.
Dy kembali masuk ke Kamar Aby.
Dengan kesal Dy menendang tempat tidur Aby yang tidak bersalah.
Dy tersenyum memandang Laptop Aby yang lupa di bawa.
Tidak butuh waktu lama semua data dari Laptop Aby sudah berpindah ke Flashdisk Agen.
****** loe...manusia sombong. Gerutu Dy.
" Dy ganti spray nya". Kata Bibi masuk ke Kamar Aby. Bibi menyerahkan Spray kepada Dy.
Dy mulai bersin-bersin ketika membuka sepray.
" Duuhhh...joroknya yang punya Kamar, dasar manusia Kardus".
Oceh Dy terus bersin-bersin.
Aby tertegun mendengar kata-kata Dy.
Dia kembali karena mau mengambil Laptopnya yang ketinggalan.
" Gak usah di bersihin, itu tugas bibi, makanya jangan menyamar jadi pembantu". Kata Aby mengambil Laptopnya.
Dy kaget mendengar omongan Aby.
__ADS_1
" Siapa yang menyamar?". Tanya Dy pura-pura tidak mengerti. Matanya menatap Aby.
":Kamu, apa hubunganmu dengan Papaku?". Tanya aby tidak senang.
" Aku tidak mengerti omonganmu, Aku juga tidak kenal dengan Papamu ". Sahut Dy merasa lega, ternyata cuma salah sangka.
" Jangan bohong, Kamu kesini mengincar harta Papa khan ". Kata Abi memojokan Dy.
" Jangan menuduh sembarangan. Apa maksud perkataanmu". Dy menggali emosi Aby.
Aby diam, Dia merasa kesal karena Dy tidak mengaku.
" Jangan sok munafik, ngaku sajalah ".
Kata Aby.
" Eh..Tuan Aby yang terhormat, Aku tidak menginginkan secuilpun hartamu. Jangan sewenang-wenang menuduhku, mentang-mentang Aku seorang Sopir". Sahut Dy mendekati Aby.
Secara otomatis Aby mundur mepet ketembok, Aby merasa ngeri ingat Dy memukuli penjambret.
" Heh..Kamu mau apa, jangan coba-coba memukulku ". Seru Aby.
" Jelaskan mengapa Kamu menuduhku".
Kata Dy pelan, jarak badan Dy sejengkal dengan Aby.
" Karena Kamu tidak cocok menjadi Sopir".
Kata Aby ragu, Dia tidak berusaha mendorong tubuh Dy.
" Aku tidak percaya, Aku minta penjelasanmu". Sahut Dy memepetkan badannya ke Badan Aby.
Hati Aby berdesir mesra merasakan tekanan dari badan Dy.
Bau wangi tubuh Dy membuat Aby terbuai.
Ingin rasanya Aby mencium bibir Dy yang berada beberapa senti dari bibirnya.
Tapi asrat Aby terhempas bersama hempasan tubuh Aby yang terlempar ke tempat tidur.
Augghhh.....Aby kaget.
Aby sakit.
Aby dengan susah payah bangun dari tempat tidur. Kepalanya terasa pening.
Hari ini Aby Off sehari.
Tadi malam Dia tidak bisa tidur, wajah Dy selalu terlintas dalam pikirannya.
Aby sangat terkesan akan tingkah Dy yang tegas sedikit maskulin.
Ponsel Aby berbunyi,.Suara Dimas terdengar di seberang sana.
"Aby Aku akan kerumahmu ".
" Aku baru bangun, belum mandi". Sahut Aby serak.
" Ya mandilah dulu ". Kata Dimas langsung menutup Ponselnya.
Kepalanya betul-betul sakit. Aby melihat Ponselnya, ternyata sudah pukul 10.15 menit..Cepat-cepat Aby mandi, Dimas akan datang.
Habis mandi Aby tidak kuat, badannya terasa menggigil, kembali Aby berbaring.
Mobil Dimas masuk ke pekarangan, Bi Inah menghampiri Dimas.
" Bi Aby ada? ". Kata Dimas sopan.
" Belum bangun Tuan ".
" Belum ada turun Bik?". Tanya Dimas.
" Belum ada sarapan ". Sahut Bibik mengantar Dimas ke dalam.
Mata Dimas jelalatan, berusaha mencari sosok Dy. Tapi yang di cari tidak ada, karena saat ini Dy nangkring di atas pohon mangga di kebun belakang.
Sudah tiga hari Dy bekerja disini, tapi belum menemukan apa yang dicari.
Kemudian Dy meloncat turun karena mendengar Bibi memanggil namanya.
__ADS_1
"Ada apa Bi.....". Tanya Dy santai.
" Dy cepat, Tuan Aby sakit". Teriak Bibi.
Dy kaget dan melompat langsung ke lantai dua.
Semua Bibi kaget melihat Dy terbang.
Dy setengah berlari ke Kamar Aby.
Dimas kaget melihat kehadiran Dy, cepat Dimas menyingkir.
" Siapa Kau ". Tanya Dy kepada Dimas tanpa menoleh.
" Aku Dimas teman Aby ". Sahut Dimas grogi. Dia ingat pristiwa penjambretan.
Dy tidak menjawab dan langsung memeriksa Aby.
Dy keluar dari kamar dan menghubungi Beck. Seorang Dokter akan memeriksa Aby. Kata Beck singkat.
Dy memperhatikan wajah Aby dan memeriksa tangan Aby.
Mungkin karena Dy seorang Intelijen, Dy sangat teliti dan serius memeriksa Aby, takut Aby di racun mengingat Aby adalah target yang akan di bunuh.
" Apa tidak sebaiknya di obati, di panggilin Dokter, dari pada Kamu mondar mandir memeriksa seluruh tubuh Aby ". Akhiri Dimas berkomentar.
Seorang Dokter tiba-tiba datang. Dy kaget.
" Pagi, Saya di suruh memeriksa Tuan Aby. Saya mohon semua keluar". Perintah Dokter itu. Rahang Dy tiba-tiba mengeras.
Dimas sudah mau keluar tapi tidak jadi, karena ada Dokter lain masuk.
" Maaf Dok, ini Dokter yang saya panggil ". Kata Dy berusaha bersabar. Dokter dari XPostOne kemudian masuk kedalam cepat menangani Aby.
" Kamu siapa jangan gegabah. Saya di printah langsung dari Calon Mertua Aby".
Bentak Dokter itu tidak terima.
" Kamu yang keluar ". Dy balik membentak.
" Kalian ini siapa". Teriak Dokter itu lalu mengeluarkan senjata. Tapi kalah cepat dengan kaki Dy yang langsung menendang tangan Dokter itu.
Dimas teriak dan ngumpet disamping Almari.
Belum sempat Dokter itu berpikir Dy
sudah menodongkan pistol ke pelipisnya.
Dokter dari XPostOne melempar borgol ke Dy. Kemudian Dy memberi kode.
Permainan berakhir. Dua orang berpakaian hitam-hitam meloncat keatas dan membawa Dokter itu pergi
Dy menyimpan pistolnya dipinggang.
Aby masih belum membuka matanya, tapi panasnya sudah turun.
Dy mendekati Dimas yang wajahnya pucat.
" Katakan Kamu tidak melihat apa-apa". Kata Dy mengangkat kerah baju Dimas.
" Aku tidak melihat apa-apa". Sahut Dimas gugup. Dy melepaskan cengkramannya.
Dan memeriksa Aby.
Bagaimana caranya melindungi Aby, pikir Dy. Masalahnya sudah semakin jelas.
Sepertinya Pak Burhan buru-buru ingin menyelesaikan semuanya.
Dy bangun kembali memeriksa Aby, kemudian keluar dan melompat turun.
" Bibi ... tidak boleh ada yang mengadu kepada siapapun, apa yang bibi lihat". Kata Dy sampai di Dapur .
" Yaya Dy... ". Sahut Mereka serentak dengan gugup. Kemudian Dy menyuruh Bibi menyiapkan makanan untuk Aby.
" Bi Saya mau pulang, tolong Tuan Aby dijaga". Kata Dy kepada Bibi.
Mereka cuma mengangguk.
*******
__ADS_1