
Abra kembali harus menelan kekecewaan saat meninggalkan rumah sederhana milik Bu Marni yang kini sudah berbeda kepemilikan itu.
"Kami tinggal disini sudah dua bulan tuan. Dan pemilik sebelum nya sudah pindah keluar kota. Namun pindahnya kemana, saya juga tidak tahu karena kebetulan saya orang bari di kota ini,"
Penjelasan dari si pemilik rumah baru itu membuat pikiran Abra semakin kalut. Belum lagi rasa khawatirnya pada keadaan Namira saat ini.
Perjuangan nya saat melahirkan tidaklah mudah dan harus dilalui dengan penuh kesabaran. Belum lagi dengan rasa sakit yang harus dia terima berjam jam lamanya hingga akhirnya bayi mereka bisa lahir kedunia dengan selamat dan sehat.
"Kenapa kamu pergi begitu saja? Bahkan saat kondisimu belum pulih seutuhnya. Kamu kemana Namira?kenapa langsung pergi sebelum aku menjelaskan rencanaku kedepan nya akan seperti apa," gumam Abra dalam hatinya.
Merasa jika tubuhnya sudah terlalu lelah, Abra pun akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah sakit dan menginap disana bersama dengan putranya.
Rasa lelah dan juga kalutnya karena kehilangan ibu dari bayi itu seketika hilang saat memandangi wajah dirinya dalam versi mini.
"Kenapa ibumu begitu tega meninggalkan mu seperti ini. Bahkan disaat dia belum melihat bagaimana rupamu Nak," gumam Abra lagi saat memandangi wajah mungil itu.
Abra kembali teringat dengan kata kata yang di ucapkan oleh Namira yang dia tulis dalam secarik kertas yang dia tinggalkan tadi.
["Aku sudah memehuni kewajibanku tuan. Dan kini aku akan pergi sesuai dengan kontrak kerja sama kita."]
Sebuah kata kata yang teramat sangat ganjil untuk sebuah pesan yang ditinggalkan oleh seorang ibu yang akan meninggalkan anak yang baru saja dia lahirkan.
Namun Abra tidak mau memikirkan itu. Saat ini, fokusnya hanya pada bayi itu saja. Bayi yang selama bertahun tahun dia dan keluarga besarnya tunggu tunggu.
***
__ADS_1
***
Sementara Namira sendiri saat ini sudah berada disebuah kereta yang menuju ke kota Bandung untuk menyusul sang ibu yang sudah lebih dulu pindah kesana.
Dua bulan lalu, rumah yang selama ini dia tinggali bersama dengan sang ibu dan mendiang ayahnya terpaksa dijual karena masih ada rentenir yang menagih hutang mendiang ayahnya.
Meski berat melepaskan rumah penuh dengan kenangan itu, namun pada akhirnya rumah itu dijual juga demi menutupi hutang hutang sang ayah.
Namira sendiri bukan nya tidak memiliki uang untuk melunasi semua hutang itu. Namun demi menjaga agar sang ibu tidak mencurigai dari mana sumber uang itu.
Namira pun harus pura pura belum memiliki uang dan terpaksa menyetujui saran sang ibu untuk menjual rumah itu.
Namira pun menyaran kan untuk Bu Marni pindah ke Bandung. Dimana disana ada sebuah rumah uang bisa ditinggali oleh mereka berdua nanti.
Dan lagi lagi, Namira harus kembali berbohong saat sang ibu menanyakan prihal status rumah itu.
Meski benar itu rumah teman nya, namun Namira membelinya saat Namira mengetahui prihal itu dari grup sekolah yang mengabarkan jika salah satu teman mereka akan menjual rumah di Bandung.
Dengan cepat Namira pun segera menghubungi sang teman untuk menanyakan prihal penjualan rumah tersebut dan langsung memproses jual beli rumah itu setelah teman nya mengabarkan jika rumah itu belum ada yang membeli.
Namira pun berjanji akan mengurus dokumen nya nanti setelah masa kontrak kerjanya selesai dan pulang dari luar kota dimana dia bekerja saat ini.
Dan sang teman pun tidak merasa keberatan. Dan kini dirinya tengah dalam perjalanan menuju kekota dimana dirinya akan memulai hidup baru dengan sang ibu.
"Semoga kamu selalu dalam lindungan Allah Nak. Dan semoga kedua orang tuamu memberikan kasih sayang nya kepadamu. Maafkan Mamah Nak, maafkan Mamah karena tidak bisa menyertai dalam tumbuh kembangmu." lirih Namira menatap hamparan tanah pesawahan yang dilaluinya saat ini.
__ADS_1
Namira pun hanya bisa menangis dalam diam, meratapi kemalangan nasibnya yang harus rela meninggalkan putranya disaat dirinya belum melihat wajah mungil itu.
Namun apa boleh dikata, semua itu harus dilakukan nya demi sebuah tanggung jawab yang harus dia penuhi.
***
***
Sementara ditempat lain...
Abra menatap penuh haru wajah tampan yang begitu mirip dengan dirinya itu. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika dirinya akan memiliki seorang anak juga setelah Alma kehilangan rahimnya karena penyakit kista yang tak kunjung sembuh.
Hingga keputusan akhir pun di ambil dengan mengangkat rahim wanita itu agar terbebas dari kista yang selama bertahun tahun menyerang rahimnya.
Meski rasa bahagia itu begitu dirasakan oleh Abra. Namun tidak dipungkiri ada satu perasaan cemas dan juga khawatir saat ingatan nya kembali pada sosok yang sudah memberikan nya seorang penerus itu.
Dimana hingga saat ini, Abra masih belum menemukan kabar tentang nya.
.
[*Flash Back off*]
.
******
__ADS_1
["Kita sudahi kisah masa lalu sampai disini ya...Insya Allah setelah lebaran akan kita lanjut dengan kisah masa kini Namira,Abra dan juga si kecil Darren.
Bagimana perjuangan seorang ibu yang ingin mendapatkan kembali putranya saat mendapati jika putranya tidak mendapatkan kasih sayang seperti yang di harapkan selama ini."]